Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Puasa yang Diharamkan | rumahfiqih.com

Puasa yang Diharamkan

Thu 7 September 2006 02:46 | Puasa | 6.026 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak ustadz, saya mau bertanya. Saya punya teman anak kiai dia juga sudah lulus dari pesantren dan sekarang sedang kuliah di IAIN. Waktu malam acara Agustusan saya ngobrol dengan dia tentang puasa tiga hari tiga malam tidak haram. Argumen dia kalau kita menderita dengan puasa tersebut doanya cepat terkabul. Terus tentang wapak/isim/rajah katanya tidak syirik (haram) asal yang buatnya dilihat dari keturunan/silsilahnya contohnya habib gitu. Juga tentang pengisian ilmu tenaga dalam seperti gerak sendiri, auman macan, silat katanya itu semua sudah dibeli dengan cara puasa jadi itu tidak syirik (haram) katanya.

Bapaknya juga sering kedatangan banyak tamu yang bermobil mewah. Setahu saya banyak yang minta biar naik pangkat, usahanya lancar, dan lain-lain. Juga dia suka ngasih isim, air putih dan wiridan (amalan) dari ayat suci yang harus diwirid sewaktu puasa. Menurut pak ustadz apakah kiai itu benar/kiai dukun.

Mohon penjelasan dari pak ustadz biar akidah saya jadi bertambah dan kuat.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatuhhali wabarakatuh,

a. Haramnya Puasa Tiga Hari Tiga Malam

Rasulullah SAW telah melarang umatnya berpuasa wishal, yaitu puasa yang bersambung tanpa berbuka pada waktunya harus berbuka. Seharusnya, begitu masuk waktu maghrib, wajib hukumnya untuk berbuka dan membatalkan puasa.

Kalau sampai berpuasa tiga hari berturut-turut, maka hukumnya haram, karena melanggar aturan syariat yang telah ditetapkan oleh beliau SAW.

Dalilnya adalah hadits berikut ini:

Dari Abi Hurairah ra. berkata bahwa Rasulullah SAW telah melarang puasa wishal (bersambung). Maka seseorang dari umat Islam bertanya, "Namun Anda sendiri puasa wishal, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Kalian tidak sama dengan saya, sebab saya diberi makan dn minum oleh tuhan saya." (HR Bukhari Muslim)

Masalah haramnya puasa wishal ini tidak ditetapkan oleh anak kiyai atau oleh lulusan IAIN, tetapi ditetapkan langsung oleh baginda nabi sendiri. Karena itu jangan silau dengan siapa yang mengatakannya, tetapi kembalikan semua kepada penjelasan dan keterangan dari nabi SAW.

b. Tentang wafak, isim, rajah dan sejenisnya

Letak keharamannya pada ketergantugan kita kepada selain Allah SWT, tetapi malah kepada benda-benda itu.

Wafak, isim, rajah dan benda-benda sejenisnya, sekilas memang menyiratkan hal-hal yang berbau agama. Kadang bertuliskan huruf-huruf arab, atau bahkan malah potongan ayat-ayat Al-Quran.

Lepas dari masalah perbedaan pendapat tentang hukum menuliskannya, tetapi manakala benda-benda itu dipercaya akan membawa keberuntungan, keajaiban, energi tertentu, kekuatan batin, atau hal-hal ghaib lainnya, ketahuilah bahwa pada saat itu pelakunya telah menduakan Allah SWT.

Karena telah mempercayai dan menggantungkan diri kepada selain Allah SWT.

Di sisi lain, terkadang kepercayaan itu memang terbukti. Orang yang membawa benda-benda itu seringkali mendapatkan apa yang mereka yakini. Seperti tidak mempan dibacok, bisa makan beling, kebal, punya energi berbeda dan seterusnya. Lantas dari mana semua keajaiban itu?

Meski Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Kuasa dan berkuasa untuk memberikan kelebihan pada hamba-Nya, tetapi pemberian-Nya secara umum terbagi dua.

Ada pemberian yang diiringi dengan keridhaan, tapi ada juga yang justru diiringi dengan murka. Yang diiringi dengan keridhaan misalna mukjizat para nabi atau karamah para wali. Sedangkan yang diiringi dengan murka adalah sihir, ramal, teluh, jampi-jampi, serta hal-hal yang sejenisnya.

Yang membedakan antara keduanya bukan pada bentuknya yang bertuliskan huruf arab, atau ada potongan ayat tertentu, tetapi yang membedakan adalah orangnya.

Kalau seorang nabi atau wali Allah, sudah jelas mereka adalah orang yang beriman secara murni kepada Allah, taat menjalankan hukum dan aturan dari-Nya, setia kepada syariat-Nya. Ciri lainnya adalah bahwa para nabi dan wali itu sama sekali tidak punya kuasa atas semua keajaiban itu, sebab datangnya tiba-tiba begitu saja tanpa diminta. Sehingga tidak pernah seorang nabi berpraktek secara khusus menawarkan kemukjizatan, demikian pula dengan para wali-Nya.

Sedangkan yang berupa sihir dengan segala variannya, diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang kufur dan ingkar. Misalnya iblis, syetan dan jin. Atau bahkan manusia yang telah kufur karena mempelajari ilmu sihir. Kekuatan itu sebenarnya dari Allah SWT juga, tetapi didapat dengan jalan sesat dan mungkar.

Ciri utamanya, para pelakunya seolah memang punya kekuasaan untuk mengkatifkan kekuatannya. Seolah dia punya remote control yang bisa dipijit kapan saja di mana saja. Sehingga mereka pun sampai berani buka praktek melayani permintaan manusia, tetapi dengan imbalan jatuh ke lembah hitam.

Karena istilah sihir sudah sangat terkenal dengan keharamannya, banyak orang yang tidak mau mendekatinya. Akhirnya syetan putar otak, bagaimana caranya agar kalangan muslim yang agamis bisa tetap terjebak dengan sihir tanpa mereka sadari. Maka dikemaslah sihir dengan kemasan-kemasan yang akrab di mata awam sebagai simbol-simbol berbau agama.

Misalnya rajah, wafak, isim dan sejenisnya. Secara penampilan, sangat mempesona lantaran berbentuk huruf arab, bahkan terkadang potongan ayat Al-Quran. Orang awam tentu akan menyangka kalau benda-benda ini berbau Islam, minimal ada potongan ayat quran. Padahal benda-benda itu tidak lain media sihir yang nyata serta bernilai syirik di sisi Allah SWT.

Sebagai muslim, kita wajib menghindarkan diri dari penggunaan benda-benda yang hanya akan membaca kita ke jurang kemusyrikan. Dan tidak ada bedanya antara keturunan habib atau bukan, karena di mata Allah, setiap manusia sama rata seperti gerigi pada sisir.

Bahkan seharusnya para keturunan habib itu malu kalau mengajarkan hal-hal yang bersifat syirik. Karena secara 'anak keturunan' nabi SAW sesuai pengakuan mereka, seharusnya mereka berada pada garis terdepan dalam rangka menghancurkan kepercayaan seperti itu, bukannya malah mencoreng kehormatan keluarga nabi.

Bukankah nabi SAW datang untuk menghancurkan 360 berhala yang disembah di sekeliling ka'bah? Mengapa sekarang justru 'anak keturunannya' malah mengajarkan kembali paham jahilayah abad ketujuh itu? Sungguh memalukan...

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatuhhali wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Siapakah yang Menikahkan Anak Perempuan Hasil Zina atau Perkosaan?
7 September 2006, 02:37 | Nikah | 6.630 views
Hutang Puasa Bisakah Dibayar setelah Ramadhan Berikutnya?
7 September 2006, 00:00 | Puasa | 5.497 views
Islam Tanpa Syariat Versi Islam Liberal, Oriantalis, dan Mu'tazillah
6 September 2006, 01:04 | Kontemporer | 5.486 views
Menikah tanpa Ridha Orang Tua
6 September 2006, 00:55 | Nikah | 5.333 views
Pakaian Bidan
6 September 2006, 00:53 | Wanita | 5.076 views
Status Harta Warisan
6 September 2006, 00:47 | Mawaris | 5.090 views
Cara Menguburkan Tembuni (Ari-Ari) secara Syar'i
6 September 2006, 00:41 | Kontemporer | 8.240 views
Masih Haramkah Poliandri Setelah Ditemukannya Test DNA?
6 September 2006, 00:39 | Nikah | 5.319 views
Keluarkah Saya dari Islam?
5 September 2006, 04:59 | Aqidah | 5.415 views
Sebenarnya Dimana Allah Itu?
5 September 2006, 04:57 | Aqidah | 12.177 views
Islam Keturunan, Haruskah Syahadat?
4 September 2006, 07:27 | Aqidah | 8.101 views
Kenapa Syiah yang Paling Berani Menentang Israel?
1 September 2006, 04:33 | Umum | 9.189 views
Masuk Surgakah, Cak Nur?
1 September 2006, 04:25 | Aqidah | 7.001 views
Posisi Keponakan sebagai Ahli Waris
31 August 2006, 07:19 | Mawaris | 4.785 views
Sejarah Perang Antar Shahabat Nabi, Bagamana Kita Memandangnya?
30 August 2006, 03:33 | Umum | 5.472 views
Ritual Shalat, Apa Arti dan Maknanya
30 August 2006, 03:23 | Shalat | 8.566 views
Hukuman Buat Orang Murtad
29 August 2006, 09:35 | Kontemporer | 5.429 views
Sikap Umat Islam terhadap Perang Melawan Zionis dan Kapitalis
29 August 2006, 09:13 | Aqidah | 5.811 views
Syeikh Al-Albani dan Sifat Shalat Nabi
29 August 2006, 01:13 | Shalat | 7.046 views
Berpindah-Pindah Madzhab
28 August 2006, 00:16 | Ushul Fiqih | 7.316 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 33,818,363 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

24-5-2018 :
Subuh 04:35 | Zhuhur 11:51 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:47 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img