Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hukum Tinggal di Hotel Milik Orang Kafir di Mekkah Madinah | rumahfiqih.com

Hukum Tinggal di Hotel Milik Orang Kafir di Mekkah Madinah

Sun 24 March 2013 19:24 | Muamalat | 8.350 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustadz yang dirahmati Alloh swt, mudah-mudahan ustadz selalu sehat.

Salah satu hal yang miris di hati saat tiba di tanah haram adalah menyaksikan hotel-hotel merk internasional yang menguasai ring 1 Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Walaupun ada yang dinamakan dengan nama Islam seperti Dar Attauhid, dan lain-lain, bukankah ada sistem kepemilikan franchise? Sehingga jika hotel-hotel tersebut memakai merk Hilton, Intercontinental, Oberoi, Le Meridien, dan lain-lain tentunya harus membayar kepada yang memiliki merk, yang notabene orang-orang non muslim.

Pertanyaan saya, bagaimana hukum menginap di hotel-hotel tersebut? Bagaimana pula jika ternyata orang-orang yang memiliki saham hotel-hotel internasional tersebut ternyata orang-orang Yahudi, yang membunuhi orang-orang Palestina dan Lebanon?

Mohon pencerahannya, Ustadz. Terima kasih atas jawabannya.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarkatuh,

Kasus bertaburannya perusahaan yang nota bene milik non muslim di dunia Arab, termasuk di Makkah dan Madinah, adalah sebuah hal yang memang membuat kita miris. Bahkan fenomena itu masih ditambah bukan hanya hotel, tetapi sampai kepada makanan dan minuman sekalipun, ternyata sangat didominasi oleh perusahaan barat.

Mc Donnald dan Pepsi Cola adalah makanan paling favorit di kedua tanah suci itu. Bahkan mesin minumannya tersebar di mana-mana.

Tetapi lepas dari semua itu, kita harus paham bahwa kebijakan pemerintah Arb Saudi sendiri memang tidak selalu sejalan dengan pemikiran para ulama. Sebagaimana kita tahu bahwa sebagian ulama di Timur Tengah mengkampanyekan boikot terhadap semua produk Yahudi.

Tetapi kampanye itu sayangnya tidak didukung oleh kebijakan resmi dari pemerintahnya. Entah apa motivasinya, takut atau memang kurang tahu masalah, yang jelas nyaris semua produk milik barat ada di tanah suci. Dan dari sana kita segera menemukan titik pangkal masalahnya. Yaitu para penguasa negeri muslim memang kurang responsif terhadapa permasahalan umat. Termasuk umat Islamnya juga

Bukankah Mesir sejak tahun 1976 sudah berjabat tangan dengan Yahudi lewat Perjanjian Camp David? Sekarang kedua negara itu malah sudah punya kedutaan besar di masing-masing negara mereka.

Padahal sebelumnya, Mesir adalah negeri terkuat di Timur Tengah, di belakangnya, negara-negara Arab berkumpul untuk mendukungnya. Namun ketika Yahudi mengembalikan Gurun Sinai yang sebelumnya dicaplok Yahudi, Mesir pun berhenti dari peperangan. Otomatis, semua negeri Arab yang di belakangnya pun ikut-ikutan berhenti. Bahkan banyak yang membuka kantor Kedutaan Besar Israel di negeri mereka.

Maka wajar ketika Hamas di Palestina dan Hizbullah di Lebanon dihujani bom Israel, nyaris semua negara Arab diam seribu bahasa. Takut, bingung, merasa diri lemah, inferior, semua bercampur jadi satu. Mereka tidak pernah jadi 'laki-laki', walau sebentar saja.

Maka upaya para ulama untuk memboikot produk yahudi, nyaris seperti sia-sia. Alih-alih perusahaan mereka runtuh, justru semakin banyak saja anak perusahaannya yang berinvestasi di dunia Arab, termasuk di Saudi Arabia sendiri.

Semua ini betul-betul seperti lingkaran setan, yang tidak terlalu mudah untuk mencari jalan keluarnya. Bukankah ponsel anda pun produk mereka juga? Bahkan kalau bukan handsetnya, operatornya pun telah dimiliki saham-sahamnya oleh mereka?

Umat Islam sendiri tidak pernah punya vendor untuk ponsel, tidak handsetnya, tidak juga operatornya. Bahkan kalau mau diperluas, umat Islam tidak punya apa-apa. Semua kebutuhan hidupnya diproduksi oleh musuh-musuhnya. Apa yang kita makan, apa yang kita minum, apa yang kita pakai, apa yang kita kendarai, rumah dan hotel yang kita tempati, semua buatan musuh kita. Umat kita ini jadi bergantung kehidupannya dari irama yang dimainkan oleh musuh-musuhnya sendiri.

Keadaan itu mirip dengan gambaran Rasulullah SAW 14 abad yang lalu:

Nyaris kalian akan dikerubuti oleh umat-umat lain sebagaimana hewan-hewan mengerubuti mangsanya. Seorang shahabat bertanya, "Apakah karena jumlah umat Islam sedikit, ya Rasulallah SAW?" "Tidak, jumlah kalian saat itu banyak. Tetapi tidak ubahnya seperti buih di lautan. Allah akan mencabut rasa takut (gentar) kepadamu dari hati musuh-musuhmu dan memasukkan ke dalam hatimu wahan.""Apakah wahan itu ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Cinta dunia dan takut mati."

Maka sekedar mengeluarkan fatwa yang mengharamkan produk ini dan produk itu, nampaknya belum berimbang dengan realitas kebutuhan kita sendiri. Sebab kalau kita mau mengharamkan makanan produk musuh kita, tentunya tidak pilih kasih. Semua yang berbau produk atau bersumber dari musuh, harusnya diharamkan.

Tetapi, bukankah negara kita pun berhutang kepada musuh dengan sistem ribawi? Kalau pemerintah kita membangun jalan, listrik, air, fasilitas pendidikan, dan seluruhnya, bukankah itu milik musuh kita juga?

Ngomong-ngomong, saat berangkat ke tanah suci, anda menumpang Boing atau Airbus?

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarkatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Wali Salah Mengucapkan Nama Ayah Saat Ijab-Qabul
22 March 2013, 18:52 | Nikah | 23.203 views
Korupsi Halal Karena Termasuk Rampasan Perang?
22 March 2013, 00:56 | Kontemporer | 8.396 views
Haramkah Menghias Masjid
20 March 2013, 02:59 | Shalat | 7.108 views
Mengapa Umat Islam Sulit untuk Bersatu?
19 March 2013, 00:01 | Kontemporer | 10.158 views
Benarkah Ada Ayat-ayat Yang Saling Kontradiktif
18 March 2013, 02:00 | Quran | 8.724 views
Bolehkah Wanita Jadi Saksi Dalam Pernikahan
17 March 2013, 23:33 | Nikah | 8.666 views
Apakah Kita Baca Al-Fatihah Ketika Shalat di Belakang Imam?
16 March 2013, 23:38 | Shalat | 19.078 views
Yahudi, Kristen dan Islam : Apakah Tuhannya Sama?
16 March 2013, 00:30 | Aqidah | 24.514 views
Tidak Berhukum dengan Hukum Allah: Kafir?
16 March 2013, 00:23 | Negara | 8.911 views
Bolehkah Nikah Tapi Sudah Niat Segera Mentalak?
15 March 2013, 01:18 | Nikah | 7.236 views
Bolehkah Membatalkan Niat Haji Kedua?
13 March 2013, 01:35 | Haji | 6.635 views
Hukum Sunat bagi Perempuan
13 March 2013, 00:56 | Wanita | 11.224 views
Bolehkah Menyembelih Hewan Tanpa Baca Bismillah?
12 March 2013, 00:16 | Qurban Aqiqah | 9.198 views
Hukum Barang Temuan Jam Tangan Di Mall
11 March 2013, 00:34 | Muamalat | 7.218 views
Perempuan Nikah Lagi Sebelum Resmi Cerai
10 March 2013, 11:51 | Nikah | 17.071 views
Satu Dari Empat Penduduk Dunia Adalah Muslim?
8 March 2013, 02:14 | Kontemporer | 6.992 views
Ayah Saya Non Muslim, Lalu Siapa Yang Jadi Wali Saya?
8 March 2013, 00:32 | Nikah | 12.847 views
Hukum Menerima Uang PILKADES
6 March 2013, 22:34 | Muamalat | 25.882 views
Apa Batasan Haramnya Tasyabbuh Dengan Non Muslim?
6 March 2013, 10:05 | Ushul Fiqih | 17.150 views
Panduan Agar Pengobatan Alternatif Tidak Melanggar Syariah
5 March 2013, 23:46 | Umum | 10.110 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 33,879,073 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

25-5-2018 :
Subuh 04:35 | Zhuhur 11:51 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:47 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img