Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Penemuan Benda/Uang | rumahfiqih.com

Penemuan Benda/Uang

Fri 15 September 2006 00:09 | Muamalat | 5.331 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya ingin menanyakan kejelasan hukumnya secara syariah bila kita menemukan barang/uang di suatu tempat. Sedangkan barang/uang tersebut sulit untuk kita ketahui siapa pemiliknya. Saya mendengar dari seorang Ustadz bahwa haram hukumnya bila kita mengambil barang/uang tersebut. Bolehkah bila barang/uang tersebut kita ambil tetapi disalurkan kepada Yayasan Anak Yatim atau lainnya, karena kalau tidak kita manfaatkan akan diambil oleh orang lain yang mungkin akan digunakan untuk perbuatan yang tidak baik.

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menyerahkan uang temuan kepada yatim piatu bukan solusi yang benar. Sebab biar bagaimana pun, pasti ada seseorang yang sedang kesusuhan gara-gara kehilangan uang.

Yang benar justru bagaimana cara kita bisa mengembalikan uang itu kepada yang empunya. Atau minimal mengamankannya dengan cara menyerahkannya kepada yang berwajib.

Di masa Rasulullah SAW, seorang yang menemukan barang hilang di tengah jalan misalnya, harus mengumumkannya di pintu-pintu masjid kepada khalayak. Tujuannya agar pemiliknya bisa mendapatkan kembali barangnya yang hilang tercecer. Hal itu berdasarkan perintah Rasulullah SAW

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani berata bahwa seseorang datang kepada nabi menanyakan tentang barang temuan (luqathah). Beliau menjawab, "Umumkan ciri kantungnya, kemudian umumkanlah selama masa waktu setahun. Kalau pemiliknya datang, berikanlah. Kalau tidak maka terserah kamu." (HR Bukhari dan Muslim)

Namun para ulama berbeda pendapat tentang sikap yang seharusnya dilakukan manakala kita tiba-tiba mengetahui ada barang yang tercecer. Apakah kita harus mengambilnya untuk mengembalikannya, ataukah kita biarkan saja. Beberapa ulama mazhab telah memberikan pendapat mereka masing-masing, sebagai berikut:

a. Al-Hanafiyah mengatakan disunnahkan untuk menyimpannya barang itu bilang barang itu diyakini akan aman bila di tangan anda untuk nantinya diserahkan kepada pemiliknya. Tapi bila tidak akan aman, maka sebaiknya tidak diambil. Sedangkan bila mengambilnya dengan niat untuk dimiliki sendiri, maka hukumnya haram.

b. Al-Malikiyah mengatakan bila seseorang tahu bahwa dirinya suka berkhianat atas harta orang yang ada padanya, maka haram baginya untuk menyimpannya.

c. Asy-Syafi`iyyah berkata bahwa bila dirinya adalah orang yang amanah, maka disunnahkan untuk menyimpannya untuk dikembalikan kepada pemiliknya. Karena dengan menyimpannya berarti ikut menjaganya dari kehilangan.

d. Sedangkan Imam Ahmad bin Hanbal ra. mengatakan bahwa yang utama adalah meninggalkan harta itu dan tidak menyimpannya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Mengapa Orang Kafir lebih Maju daripada Muslim?
15 September 2006, 00:00 | Aqidah | 6.430 views
Pernikahan Sesama Saudara Sepupu, Bolehkah?
14 September 2006, 09:45 | Nikah | 6.681 views
Demam MP3 Player, Musik Haramkah?
14 September 2006, 07:17 | Umum | 6.481 views
Jual Beli Anjing, Bolehkah?
14 September 2006, 05:36 | Muamalat | 5.815 views
Ahli Sunnah wal Jamaah, yang Mana?
12 September 2006, 07:27 | Aqidah | 6.627 views
Dengan Mesin Waktu Kembali ke Masa Lampau, Benarkah?
12 September 2006, 07:23 | Kontemporer | 6.142 views
Sholat Iedul Fithri, di Masjid atau di Lapangan?
12 September 2006, 03:07 | Shalat | 5.706 views
Roh Saja atau Roh dan Jasad yang di-Isra mirajkan
12 September 2006, 02:56 | Aqidah | 5.964 views
Haramkah KB Suntik dan Pil?
11 September 2006, 02:26 | Wanita | 5.836 views
Tulisan Basmalah pada Rumah Fir'aun Menunda Murka Allah?
8 September 2006, 04:15 | Aqidah | 6.712 views
Tafsir Al-Anbiya Ayat 7
8 September 2006, 04:11 | Quran | 6.086 views
Puasa yang Diharamkan
7 September 2006, 02:46 | Puasa | 6.088 views
Siapakah yang Menikahkan Anak Perempuan Hasil Zina atau Perkosaan?
7 September 2006, 02:37 | Nikah | 6.717 views
Hutang Puasa Bisakah Dibayar setelah Ramadhan Berikutnya?
7 September 2006, 00:00 | Puasa | 5.558 views
Islam Tanpa Syariat Versi Islam Liberal, Oriantalis, dan Mu'tazillah
6 September 2006, 01:04 | Kontemporer | 5.534 views
Menikah tanpa Ridha Orang Tua
6 September 2006, 00:55 | Nikah | 5.395 views
Pakaian Bidan
6 September 2006, 00:53 | Wanita | 5.111 views
Status Harta Warisan
6 September 2006, 00:47 | Mawaris | 5.132 views
Cara Menguburkan Tembuni (Ari-Ari) secara Syar'i
6 September 2006, 00:41 | Kontemporer | 8.792 views
Masih Haramkah Poliandri Setelah Ditemukannya Test DNA?
6 September 2006, 00:39 | Nikah | 5.428 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 34,427,922 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-6-2018 :
Subuh 04:39 | Zhuhur 11:55 | Ashar 15:17 | Maghrib 17:50 | Isya 19:03 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img