Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Cara Niat Puasa | rumahfiqih.com

Cara Niat Puasa

Wed 27 September 2006 08:20 | Puasa | 6.415 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr. wb.

Pak ustadz, langsung saja, saya mau tanya bagaimana cara berniat puasa yang benar? Apakah harus kita lafazkan atau dengan kita sengaja berpuasa secara otomatis kita telah berniat untuk puasa? Saya pernah dengar niat itu artinya sengaja jadi kalau kita sengaja melakukan puasa berarti sudah berniat tanpa harus dilafazkan. Mohon dijelaskan.

Assalamualai kum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Niat adalah syarat sah semua ibadah. Tanpa niat maka semua jenis ibadah tidak sah dilakukan.

Misalnya seorang yang melakukan puasa di bulan Ramadhan, tapi dia tidak meniatkannya sejak malam (tabyiitunniyah), maka dia tetap haram makan dan minum di siang hari, namun puasanya tidak sah. Di hari lain, dia wajib mengganti puasanya yang tidak dilandasi niat sebelumnya.

Namun niat melakukan ibadah berbeda dengan melafadzkan niat. Lafadz nawaitu shauma ghadin... bukanlah niat itu sendiri, melainkan hanya merupakan lafadz dari niat. Niat itu sendiri adanya di dalam hati.

Ketika seseorang berpuasa dan menyengaja di dalam hatinya bahwa dirinya akan melakukan puasa, itu namanya niat. Sebaliknya, seorang yang melafazkan lafadz niat, belum tentu di dalam hatinya berniat melakukan puasa.

Misalnya, seorang guru TK sedangkan mengajarkan lafadz itu di depan murid-muridnya, meski dia mengulang-ulang lafadz itu belasan kali, tetapi kita tidak mengatakan bahwa ibu guru TK itu sedang berniat untuk puasa esok harinya. Dia hanya melafadzkannya saja, tanpa meniatkannya di dalam hati.

Demikian juga seorang dubber (pengisi suara) yang sedang rekaman. Meski dia merekam suara yang melafazkan niat puasa, belum tentu di dalam hatinya dia berniat untuk puasa esok harinya.

Sebaliknya, seseorang mungkin saja berniat untuk puasa esok harinya, meski lidahnya tidak melafadzkan apapun. Sebab tempat niat itu memang bukan di lidah, melainkan apa yang terbersit di hati.

Sebagian ulama yang terlalu berhati-hati dengan masalah niat ini, sehingga saking tingginya kehati-hatiannya, sampai-sampai mereka menganjurkan untuk melafadzkan saja niat itu dengan lisan. Mungkin maksudnya, bisa lebih pasti dan lebih mantap, paling tidak bisa menjamin bahwa dirinya sudah berniat. Meski mereka tidak mewajibkannya, namun mereka menganjurkannya.

Sebagian kalangan lainnya mengatakan bahwa melafadzkan niat itu tidak menjadi kewajiban, syarat atau apapun. Bahkan kalau sampai ke tingkat keyakinan bahwa melafazkan niat itu suatu keharusan, sudah termasuk mengada-adakan perkara baru di dalam agama, padahal tidak diperintahkan dan tidak juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Tentu saja masalah ini sangat panjang diperdebatkan oleh para ulama, mulai dari yang menganjurkan sampai kepada yang membid'ahkannya. Semua tentu berangkat dari ingin mencapai kesempurnaan dalam beribadah kepada Allah SWT. Bahwa di tengah jalan mereka berbeda pandangan, hal itu sangat wajar dan manusia, bahkan sejarah khilaf fiqih sudah dimulai sejak nabi masih hidup. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selama kita tetap saling santun kepada sesama.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Cara Bayar Fidyah
27 September 2006, 04:52 | Puasa | 18.419 views
Adakah Shalat Sunnah
27 September 2006, 02:13 | Shalat | 5.592 views
Shalat Tarawih 11 Rakaat, Haram?
26 September 2006, 08:32 | Shalat | 8.917 views
Ijtihad yang Mendasari Zakat Profesi
26 September 2006, 07:21 | Zakat | 7.376 views
Berjualan Rokok, Haramkah?
26 September 2006, 07:03 | Muamalat | 5.546 views
Imam Tarawih dan Penceramah Menerima Harta Zakat?
25 September 2006, 05:37 | Zakat | 5.928 views
Mengamalkan Hadis Dhaif
25 September 2006, 05:33 | Hadits | 8.420 views
Memakai Jam Tangan di Pergelangan Tangan Kiri, Tasyabbuhkah?
25 September 2006, 04:58 | Aqidah | 7.356 views
Hukum Bersetubuh di Waktu Sahur
25 September 2006, 04:58 | Puasa | 10.157 views
Bercampur Mazhab
21 September 2006, 23:42 | Ushul Fiqih | 7.324 views
Al-Quran Terkena Najis
21 September 2006, 23:36 | Quran | 5.332 views
Tetap Syirikkah Orang Kafir setelah Mendapat Hidayah Allah?
21 September 2006, 23:32 | Aqidah | 5.484 views
Hukum Minum Sambil Berdiri, Bolehkah?
21 September 2006, 23:30 | Kuliner | 7.885 views
Ramadhan Vs. Syaithan Laknatullah
21 September 2006, 01:41 | Puasa | 5.054 views
Setelah Pecah Ketuban Apakah Masih Harus Shalat?
21 September 2006, 01:30 | Wanita | 6.005 views
Apakah Hubungan Keluarga Juga Ada di Akhirat?
21 September 2006, 01:21 | Aqidah | 8.163 views
Keharaman Makanan di Negara Minoritas Muslim
21 September 2006, 01:18 | Kuliner | 6.336 views
Pakaian Terkena Najis
20 September 2006, 03:35 | Thaharah | 6.307 views
Definisi Luar Kota dalam Syarat Menjama' Sholat
19 September 2006, 03:25 | Shalat | 5.149 views
Sistem Bagi Hasil
18 September 2006, 22:57 | Muamalat | 5.673 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 34,956,719 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

16-7-2019
Subuh 04:44 | Zhuhur 12:00 | Ashar 15:22 | Maghrib 17:56 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img