Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hukum Kuis Berhadiah dan Kontestannya | rumahfiqih.com

Hukum Kuis Berhadiah dan Kontestannya

Thu 21 February 2013 00:28 | Muamalat | 7.241 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Afwan, langsung saja ustadz pertanyaan saya:

1. Saya mau tanya hukum acara kuis seperti kuis Superdeal di salah satu stasiun TV swasta, masuk syubhat, mubah, atau haram hadiah dari acara tersebut?

2. Juga bagaimana dengan para pesertanya yang saya lihat banyak orang Islam yang ikut serta di dalamnya bila acara itu syubhat atau malah haram hukumnya?

3. Sebab kalo lihat kok jadi seperti mengundi nasib dengan anak panah (maaf kalo salah), dan ada yang berpendapat asalkan tidak pakai modal dan tidak merugikan orang lain bukan judi, nah batasan perbuatan yang termasuk judi itu apa saja?

Jazakallah.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tidak semua kuis itu haram dan juga tidak semua undian itu haram. Yang haram hanya apabila ada unsur judinya, di mana syarat-syarat sebuah perjudian terjadi.

Sedangkan kuis dan undian yang tidak terpenuhi syarat judi di dalamnya, tidak haram. Bahkan Rasulullah SAW seringkali mengundi para isterinya untuk ikut dalam peperangan. Padahal dengan undian itu, nasib mereka seperti sedang diperjudikan. Akan tetapi karena syarat terjadinya perjudian tidak tercukupi, undian itu buka judi.

Di antara syarat terjadinya perjudian adalah:

1. Yang diperjudikan adalah sesuatu yang bersifat harta atau bernilai harta. Baik berupa uang atau pun benda-benda lain. Sedangkan bila yang diundi tidak ada kaitannya dengan masalah harta dan keuangan, maka bukan termasuk perjudian.

2. Para peserta undian itu harus menyetorkan sejumlah harta. Baik bersifat langsung atau tidak langsung.

Yang dimaksud dengan menyetorkan harta secara langsung seperti umumnya orang main judi, di mana masing-masing mengeluarkan uang taruhan diletakkan di atas meja. Siapa yang keluar sebagai pemenang dalam permainan, maka dia berhak atas uang yang terkumpul dari para peserta judi.

Sedangkan menyetorkan uang secara tidak langsung adalah masing-masing peserta tidak perlu mengeluarkan uangnya terlebih dahulu. Tapi siapa yang kalah dalam suatu permainan, akan dihukum untuk mengeluarkan uang buat pemain lainnya. Misal yang paling sederhana adalah latihan main badminton yang tidak pakai duit. Tetapi siapa yang kalah harus mentraktir yang menang.

Uang yang digunakan untuk mentraktir itu sebenarnya adalah uang pasangan/uang taruhan, tetapi tidak dikeluarkan atau diperlihatkan terlebih dahulu. Tetapi keduanya tetap sama saja, sama-sama judi yang diharamkan.

Tetapi kalau peserta tidak harus mengeluarkan uang, baik di awal atau di akhir, maka tidak termasuk judi. Misalnya seorang ayah menantang anaknya, kalau anaknya bisa menghafal juz 'Amma, akan membelikan sepeda. Lalu anaknya berhasil menghafal, maka ayahnya mengeluarkan uang untuk membeli sepeda. Praktek ini meski agak mirip dengan judi, tapi bukan judi. Sebab yang mengeluarkan uang taruhan bukan kedua belah pihak, melainkan hanya satu pihak saja. Dan yang begini hukumnya boleh.

Seandainya si anak tidak berhasil menghafal, dia kalah dengan cara tidak mendapat apa-apa. Tapi tidak ada kewajiban baginya untuk mengeluarkan harta tertentu. Seandainya di dalam kesepakatan antara ayah dan anak itu ada ketentuan bahwa kalau berhasil si anak dibelikan sepeda, tapi kalau tidak berhasil si anak harus membayar uang tertentu, maka praktek itu adalah judi. Meski yang dilombakan masalah menghafal Al-Quran.

Berangkat dari ketentuan ini, seandainya di dalam satu kelompok pengajian ada ketentuan untuk menghafal quran, kalau ada yang tidak menghafal dihukum denda, maka sebenarnya sudah sangat dekat dengan judi. Yaitu apabila uang denda itu dikembalikan kepada semua peserta pegajian, misalnya untuk membeli makanan dan sejenisnya. Praktek ini sama saja mereka bertaruh, yang kalau harus membayar kepada peserta lain. Tetapi seandainya uang denda itu tidak dikembalikan kepada peserta lain, tentu bukan termasuk judi.

Karena itu untuk amannya, sebaiknya hukuman dengan membayar denda sebaiknya dijauhkan, kecuali terkait dengan pelanggaran hukum negara. Sedangkan pelanggaran kecil dan yang terkait dengan kedisiplinan, sebaiknya digunakan hukuman yang tidak terkait dengan harta/ materi.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Sudah Ngaji 15 Tahun Belum Jadi Ahli Syariah
19 February 2013, 02:28 | Ushul Fiqih | 8.505 views
Cara Menyikapi Khilafiyah dalam Jamaah
18 February 2013, 23:59 | Dakwah | 10.601 views
Ribut Dengan Ibu Tiri Gara-gara Harta Waris
18 February 2013, 23:37 | Mawaris | 11.359 views
Apakah Saudara Non Muslim Berhak sebagai Ahli Waris?
18 February 2013, 10:31 | Mawaris | 8.009 views
Cara Ziarah Qubur Biar Tidak Syirik
18 February 2013, 10:26 | Aqidah | 16.604 views
Tidak Menyebutkan Istri Kedua, Apakah Termasuk Talaq?
18 February 2013, 01:56 | Nikah | 6.571 views
Hukum Menjual Alat Musik
14 February 2013, 23:14 | Muamalat | 10.810 views
Perlukah Para Ulama Disertifikasi?
14 February 2013, 01:43 | Ushul Fiqih | 7.460 views
Pembagian Waris Setelah Istri Meninggal
14 February 2013, 00:09 | Mawaris | 79.922 views
Mahar Dihutang Tapi Akadnya Tunai
12 February 2013, 08:58 | Nikah | 7.857 views
Bolehkah Membuat Merek Makanan Dengan Nama Orang?
11 February 2013, 20:07 | Muamalat | 6.959 views
Saya Sedang di Iran, Halalkah Sembelihan Mereka?
11 February 2013, 02:43 | Umum | 12.236 views
Hukum Perayaan Empat dan Tujuh Bulanan Kehamilan
10 February 2013, 21:36 | Kontemporer | 24.380 views
Kafirkah Orang Yang Meninggalkan Shalat?
10 February 2013, 11:15 | Shalat | 11.047 views
Ya Rabbi bil Musthafa, Apa Hukumnya?
10 February 2013, 11:14 | Aqidah | 12.885 views
Berkampanye untuk Meraih Jabatan
8 February 2013, 21:58 | Negara | 6.483 views
Bagaimana Menghadapi Krisis Ulama di Akhir Zaman
8 February 2013, 03:03 | Ushul Fiqih | 9.375 views
Apakah Kitab Barzanji Syirik dan Bidah?
7 February 2013, 07:34 | Aqidah | 56.392 views
Tata Cara dan Bacaan Sujud Sahwi
6 February 2013, 00:16 | Shalat | 67.935 views
Benarkah Menuduh Orang Berzina Dicambuk 80 Kali?
5 February 2013, 01:00 | Jinayat | 21.713 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,143,720 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

24-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img