Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Kisah Sahabat, Berhubungan Saat Puasa Ramadhan, Tidak Jadi Kena Kafarat Malah Dapat Kurma | rumahfiqih.com

Kisah Sahabat, Berhubungan Saat Puasa Ramadhan, Tidak Jadi Kena Kafarat Malah Dapat Kurma

Mon 2 October 2006 02:27 | Puasa | 7.476 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak Ustadz yang dirahmati Allah, kita tahu ada hadits dari Abi Hurairah ra. tentang seseorang mendatangi Nabi dan melaporkan bahwa dia telah celaka, menyetubuhi isterinya saat puasa Ramadhan kemudian oleh nabi orang tersebut diberi denda kaffarat namun karena ketidakmampuannya akhirnya Nabi memberinya kurma untuk dibagikan kepada keluarganya. Pertanyaan saya adalah:

  1. Bagaimana bila kondisi orang tersebut terjadi di zaman sekarang? Apakah kita boleh melaporkan kondisi kita kepada seorang ulama/umaroh dan melalui dialog seperti hadits tersebut akhirnya ulama itu memberi kita kurma/roti? Ataukah dalam hal ini yang berhak memberi keringanan hanya Nabi, sehingga tidak berlaku lagi sesudah peristiwa itu.
  2. Bagaimana pula jika hal ini terjadi di luar puasa Ramadhan (misal puasa Senin-Kamis) apa juga ada kaffaratnya?

Mohon penjelasan.

Jazakallohu khoiron katsiron.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada banyak perbedaan pandangan di kalangan ulama tentang kesimpulan hukum dari hadits ini. Bahkan di dalam kitab syarah hadits Bukhari, Fathul-bari, disebutkan bahwa ada ulama yang sampai menulis dua jilid buku yang isinya khusus membahas hadits tentang kaffarat berjima' pada bulan Ramadhan ini. Di dalamnya terdapat hingga 1001 faedah yang terkait.

Nash hadits itu sendiri adalah:

Dari Abi Hurairah ra, bahwa seseorang mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, ”Celaka aku ya Rasulullah.” “Apa yang membuatmu celaka?“ Aku berhubungan seksual dengan isteriku di bulan Ramadhan.” Nabi bertanya, ”Apakah kamu punya uang untuk membebaskan budak? “ “Aku tidak punya.” “Apakah kamu sanggup puasa 2 bulan berturut-turut?””Tidak.” “Apakah kamu bisa memberi makan 60 orang fakir miskin?“”Tidak.” Kemudian duduk. Lalu dibawakan kepada Nabi sekeranjang kurma maka Nabi berkata, ”Ambillah kurma ini untuk kamu sedekahkan.” Orang itu menjawab lagi, ”Adakah orang yang lebih miskin dariku? Tidak lagi orang yang lebih membutuhkan di barat atau timur kecuali aku.” Maka Nabi SAW tertawa hingga terlihat giginya lalu bersabda, ”Bawalah kurma ini dan beri makan keluargamu.” (HR Bukhari: 1936, Muslim: 1111, Abu Daud 2390, Tirmizy 724, An-Nasai 3115 dan Ibnu Majah 1671).

Memang benar bahwa ada pendapat yang mengatakan bahwa keringanan itu hanya secara khusus dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sehingga orang lain tidak boleh memberikan keringangan seperti itu.

Namun pendapat ini dibantah dengan beberapa hal. Misalnya, bahwa secara baku setiap dalil itu berlaku untuk umum, kecuali ada illat tertentunya yang menjadikannya khusus.

Lagi pula kalau kita mengacu kepada hadits ini dengan riwayat yang shahih, nyata benar bahwa keringanan ini bukan bersifat tawar-menawar antara nabi SAW dengan shahabat itu.

Sebab Rasulullah SAW tidak dalam posisi menawarkan mau hukuman kaffarat yang mana. Namun beliau menanyakan kemampuan real shahahatnya itu. Sebab tidak mungkin membebani seorang yang miskin dengan kewajiban membebaskan budak. Sementara boleh jadi pelakunya sediri adalah budak.

Dalam hal ini siapa pun selain Rasulullah SAW bisa saja menjalankan pilihan-pilihan ini. Tidak dengan memulai dari yang paling ringan tentu saja, tetapi dari yang palin berat. Kalau faktanya yang bersangkutan memang tidak mampu, tentu tidak bisa dipaksakan.

Demikian juga dengan kaffarat berpuasa 2 bulan berturut-turut yang ternyata tidak mampu dilakukan, ternyata bukan pilihan melainkan kenyataan. Kenyataannya shahabat itu memang tidak mampu mengerjakannya, bukan karena malas atau ogah-ogahan.

Termasuk ketika tidak mampu juga untuk memberi makan 60 fakir miskin, itu bukan pilihan tetapi kenyataannya memang demikian. Bahkan tidak ada orang yang lebih miskin di Madinah dari shahabat tersebut.

Pada prinsipnya syariat Islam tidak akan membebani seseorang bila orang itu berada di luar kemampuan. Orang yang tidak punya harta, bagaimana mungkin diwajibkan bayar uang seharga budak? Bagaimana mungkin diminta untuk puasa 2 bulan berturut-turut, padahal dia memang nyata tidak mampu? Bagaimana mungkin diwajibkan memberi makan 60 fakir miskin, sementara dia adalah orang paling miskin di Madinah.

Dan di hari ini, bila memang terdapat kasus seperti di atas, tidak perlu sosok Rasulullah SAW untuk memutuskan, cukup para pewaris nabi yaitu para ulama yang mengajarkan. Dan aturannya sudah jelas sekali.

Kalau seseorang punya keluasan harta, dia tidak boleh memilih memberi makan 60 fakir miskin, tapi dia harus membebaskan budak. Bahkan kalau dia sangat kaya dan untuknya membebaskan budak hanya perkara sepele, maka dia harus berpuasa 2 bulan berturut-turut.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Apakah Ibu Tiri Mendapat Warisan dari Ayah?
2 October 2006, 02:11 | Mawaris | 5.325 views
Kapan Batas untuk Berhenti Makan dan Minum Saat Shaum?
29 September 2006, 09:11 | Puasa | 7.733 views
Zakat Mal Kapan Dibayarkan?
29 September 2006, 05:47 | Zakat | 16.331 views
Asal-Usul Perang Badar
29 September 2006, 01:19 | Umum | 6.166 views
Imam Tarawih tanpa Baca Shalawat, Sahkah?
28 September 2006, 04:12 | Shalat | 7.591 views
Cara Niat Puasa
27 September 2006, 08:20 | Puasa | 6.532 views
Cara Bayar Fidyah
27 September 2006, 04:52 | Puasa | 18.664 views
Adakah Shalat Sunnah
27 September 2006, 02:13 | Shalat | 5.722 views
Shalat Tarawih 11 Rakaat, Haram?
26 September 2006, 08:32 | Shalat | 9.082 views
Ijtihad yang Mendasari Zakat Profesi
26 September 2006, 07:21 | Zakat | 7.513 views
Berjualan Rokok, Haramkah?
26 September 2006, 07:03 | Muamalat | 5.650 views
Imam Tarawih dan Penceramah Menerima Harta Zakat?
25 September 2006, 05:37 | Zakat | 6.056 views
Mengamalkan Hadis Dhaif
25 September 2006, 05:33 | Hadits | 8.709 views
Memakai Jam Tangan di Pergelangan Tangan Kiri, Tasyabbuhkah?
25 September 2006, 04:58 | Aqidah | 7.495 views
Hukum Bersetubuh di Waktu Sahur
25 September 2006, 04:58 | Puasa | 10.355 views
Bercampur Mazhab
21 September 2006, 23:42 | Ushul Fiqih | 7.466 views
Al-Quran Terkena Najis
21 September 2006, 23:36 | Quran | 5.450 views
Tetap Syirikkah Orang Kafir setelah Mendapat Hidayah Allah?
21 September 2006, 23:32 | Aqidah | 5.609 views
Hukum Minum Sambil Berdiri, Bolehkah?
21 September 2006, 23:30 | Kuliner | 8.269 views
Ramadhan Vs. Syaithan Laknatullah
21 September 2006, 01:41 | Puasa | 5.138 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,346,052 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-9-2019
Subuh 04:28 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:00 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img