Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Duda Menikahi Janda tanpa Wali | rumahfiqih.com

Duda Menikahi Janda tanpa Wali

Thu 5 October 2006 02:17 | Nikah | 8.625 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Ass. wr. wb.

Ustadz, saya ingin menanyakan syahkah hukumnya ijab kabul antara duda dan janda tanpa dihadiri oleh wali atau siapapun? Ijab kabul hanya dilafazkan oleh duda tersebut saja dan diucapkan di depan calon isterinya (janda tersebut). Apakah hukumnya syah menurut agama, karena katanya dulu juga pernah ada ijab kabul semacam ini di zaman Rasulullah. Benar atau tidak? Seorang janda dan duda apabila menikah tidak perlu ada wali lagi, benarkah?

Syukron,

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dari semua imam mazhab, hanya satu saja yang membolehkan wanita yang janda menikah tanpa wali. Yaitu pendapat kalangan Al-Hanafiyah.

Di antara salah satu alasannya adalah karena wanita yang sudah janda boleh menjadi wakil dari walinya sendiri. Sehingga walinya tidak perlu hadir. Atau bahkan disebutkan bahwa seorang janda itu lebih memiliki dirinya ketimbang walinya.

Namun pendapat ini adalah pendapat menyendiri, berbeda jauh dengan pendapat kebanyakan ulama. Apalagi mengingat dalil-dalil nash memang menunjukkan keharusan mutlak adanya wali.

Bahkan istilah ijab dan kabul itu sendiri sudah mencerminkan keharusan adanya wali nikah. Ijab itu akad yang diikrarkan oleh seorang wali, isinya bahwa sebagai wali, dirinya akan menikahkan seorang laki-laki dengan wanita yang diwalikannya.Sedangkan qabul adalah jawaban dari pihak calon suami yang intinya menyepakati isi materi ijab.

Kalau tidak ada walinya, lalu siapa yang mengucapkan ijab? Tidak mungkin yang mengucapkan ijab itu suami. Sebab suami berada pada posisi menyetujui atau mengucapkan qabul. Apakah calon isteri yang mengikrarkan ijab?

Juga lebih tidak mungkin lagi. Masak seorang wanita berkata, "Aku nikahkan kamu Fulan bin Fulan dengan diriku sendiri, Fulanah binti Fulan dengan mas kawin emas 20 gram tunai." Ah... sebuah ijab qabul yang aneh, bukan?

Padahal ijab qabul itu punya konsekuensi hukum teramat berat. Di antaranya, halalnya faraj seorang wanita. Juga adanya kewajiban nafqah suami kepada isteri. Bila salah satu meninggal dunia, mereka saling mewarisi harta pasangannya.

Oleh karena itu, maka seorang wanita meski sudah pernah punya suami, menurut pandangan jumhur ulama tetap saja tidak bisa menikahkan diri sendiri semaunya. Sebab kalau demikian, lalu apa bedanya dengan zina?

Bukankah pasangan zina yang haram itu bisa saja mencari dalih yang membolehkan, sebelum berzina mereka bikin akad dulu sebentar, paling hanya satu menit saja, lalu mereka tiba-tiba jadi halal melakukan hubungan seksual layaknya suami isteri. Tentu akan terlalu banyak madharat yang akan timbul dengan cara seperti ini.

Jumhur ulama berpendapat bahwa dalil tentang seorang janda lebih memiliki dirinya sendiri ketimbang walinya, harus dipahami bahwa walinya tidak terlalu berhak lagi untuk mengatur-atur hidupnya, termasuk jodohnya. Namun untuk urusan menikah lagi, tetap saja kedudukan wali tidak tergantikan selamanya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Berkumur Waktu Wudhu Saat Puasa, Mungkinkah Air Tidak Tertelan?
4 October 2006, 09:14 | Puasa | 33.500 views
Minum Air Dijampi Kiyai, Apakah Saya Syirik kepada Allah?
4 October 2006, 05:33 | Aqidah | 9.978 views
MTQ atau Perlombaan Islami Lainnya Judikah?
4 October 2006, 01:54 | Kontemporer | 5.321 views
Dzikir Al-Ma'surat Secara Berjamaah
4 October 2006, 01:40 | Kontemporer | 7.549 views
Situs Penyedia Hadits
4 October 2006, 01:40 | Hadits | 6.544 views
Dalil Shalat Tarawih Berjamaah Kuatkah?
3 October 2006, 05:57 | Shalat | 6.841 views
Status Puasa Ketika dalam Pesawat 18 Jam Perjalanan
3 October 2006, 04:23 | Puasa | 5.870 views
Batasan Hubungan dengan Tetangga yang Beragama Lain
3 October 2006, 04:20 | Zakat | 5.610 views
Zakat Mal Dibayarkan Setiap Tahun?
3 October 2006, 04:03 | Zakat | 6.465 views
Kisah Sahabat, Berhubungan Saat Puasa Ramadhan, Tidak Jadi Kena Kafarat Malah Dapat Kurma
2 October 2006, 02:27 | Puasa | 7.483 views
Apakah Ibu Tiri Mendapat Warisan dari Ayah?
2 October 2006, 02:11 | Mawaris | 5.332 views
Kapan Batas untuk Berhenti Makan dan Minum Saat Shaum?
29 September 2006, 09:11 | Puasa | 7.741 views
Zakat Mal Kapan Dibayarkan?
29 September 2006, 05:47 | Zakat | 16.373 views
Asal-Usul Perang Badar
29 September 2006, 01:19 | Umum | 6.171 views
Imam Tarawih tanpa Baca Shalawat, Sahkah?
28 September 2006, 04:12 | Shalat | 7.598 views
Cara Niat Puasa
27 September 2006, 08:20 | Puasa | 6.537 views
Cara Bayar Fidyah
27 September 2006, 04:52 | Puasa | 18.671 views
Adakah Shalat Sunnah
27 September 2006, 02:13 | Shalat | 5.727 views
Shalat Tarawih 11 Rakaat, Haram?
26 September 2006, 08:32 | Shalat | 9.089 views
Ijtihad yang Mendasari Zakat Profesi
26 September 2006, 07:21 | Zakat | 7.522 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,395,624 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

23-9-2019
Subuh 04:26 | Zhuhur 11:47 | Ashar 14:57 | Maghrib 17:52 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img