Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Sistem Penanggalan dan Penamaan Hari | rumahfiqih.com

Sistem Penanggalan dan Penamaan Hari

Sun 27 October 2013 08:44 | Umum | 9.319 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaykum Ustadz,

Saya mau bertanya tentang sistem penanggalan dan penamaan hari:

1. Umat Islam sekarang ini mengenal sistem penanggalan Masehi dan Hijriah. Sebenarnya dimana kah letak perbedaan antara penanggalan Masehi dengan penanggalan Hijriah tersebut?

2. Pada zaman Rasulullah masih hidup dulu apakah Rasulullah mengenal sistem kalender Masehi?

3. Bagaimana sikap kita sebagai umat Islam dalam menggunakan sistem penanggalan? Manakah yang sebaiknya kita pakai, Masehi-kah, atau Hijriah? Haramkah hukumnya memakai penanggalan Masehi yang notabene (setahu saya) adalah produk orang kafir?

4. Siapakah yang pertama kali memberi sebutan nama-nama hari dalam 1 pekan? Dasar apa yang dipakai untuk menentukan bahwa hari ini adalah hari Senin misalnya, atau hari ini hari Jumat? Apakah sama hari Jumat-nya menurut Masehi dengan hari Jumat-nya menurut Hijriah?

5. Berkaitan dengan pelaksanaan ibadah Sholat Jumat, adakah kemungkinan sekarang ini apabila kita melaksanakan Sholat Jumat, hari itu "sebenarnya" bukan hari Jumat? (Barangkali ada kesalahan dalam penghitungan hari, dan sebagainya). Bagaimana ini?

Mohon Penjelasan. Demikian pertanyaan dari saya. Jazakumulloh khoiron katsiro.

Wassalamu'alaykum.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Perbedaan Penanggalan Masehi dan Hijriyah

Ada beberapa perbedaan antara keduanya, yaitu sistemnya dan kapan mulai diberlakukannya.

a. Sistem

Penanggalan masehi dan hijriyah bisa kita bedakan berdasarkan dasar sistem perhitungannya. Penanggalan hijriyah berdasarkan peredaran bulan (qamariyah), sedangkan penanggalan masehi berdasarkan peredaran matahari (syamsiyah).

Dalam sistem penanggalan qamariyah, waktu diukur berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Satu kali putaran membutuhkan waktu antara 29 hingga 30 hari. Karena itulah maka disebut bahwa 29 atau 30 hari itu sebagai satu bulan.

Maka kalau kita bicara tentang perhitungan bulan, yang lebih tepat adalah sistem penanggalan qamariyah. Sebab satu bulan dalam penanggalan qamariyah adalah waktu yang dibutuhkan oleh bulan untuk mengelilingi bumi kita.

Menurut sistem qamariayah, setahun adalah terdiri dari 12 bulan, yang mana bulan pertama adalah Muharram dan bulan terakhir adalah Dzulhijjah.

Sedangkan dalam sistem penanggalan syamsiyah, waktu diukur berdasarkan lamanya bumi mengitari matahari. Lamanya 365 1/4 hari dalam satu kali putaran. Itulah yang disebut dengan satu tahun.

Kemudian, waktu satu tahun itu dibagi menjadi dua belas tanpa dasar apapun kecuali kebijakan saja. Sehingga usia bulan itu menjadi berlainan, kadang 31 hari, kadang 30 hari, kadang 29 hari dan bisa juga 28 hari. Siapa yang menentukan? Konon adalah para penguasa di masa Romawi kuno dahulu.

Oleh karena itu, satu tahun menurut sistem qamariyah berbeda dengan sistem syamsiah.

b. Waktu Pemberlakuannya 

Dari sisi kapan mulai berlakunya, kalender masehi dihitung mulai sejak tahun yang dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa alaihissalam. Sehingga sampai hari ini sudah berusia 2013 tahun.

Sedangkan kalender hijriyah mulai dihitung sejak tahun dimana Rasulullah SAW berangkat hijrah dari Mekkah ke Madinah. 

Namun jangan keliru, waktu hijrahnya bukan di bulan Muharram, melainkan di bulan Shafar, menurut kebanyaka ahli sejarah. Yang dijadikan patokan hitungan adalah tahunnya, bukan bulannya.

Sedangkan kapan mulai resmi digunakan, juga bukan pada waktu hijrah, melainkan di masa setelah Rasulullah SAW wafat, yaitu di masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu.

2. Kalender di Masa Rasulullah SAW

Di masa nabi SAW hidup, sudah dikenal sistem kalender masehi. Sebab usianya lebih tua dari perhitungan tahun kalender hijriyah yang resmi mewakili kebijakan politik umat Islam. Dan sebenarnya kedua sistem penanggalan ini sudah dikenal jauh sebelumnya. Orang Arab sejak dahulu sudah menggunakan sistem penanggalan qamariyah, sedangkan orang Eropa biasa menggunakan penanggalan syamsiyah.

Yang berlaku buat nabi dan umat Islam saat itu adalah sistem kalender qamariyah, yang kemudian dikenal dengan istilah hijriyah. Bahkan sistem qamariyah ini ditetapkan untuk menentukan waktu-waktu ibadah. Misalnya puasa diwajibkan di bulan Ramadhan. Puasa sunnah dilakukan tiap tanggal 11, 12 dan 13 menurut hitungan hijriyah. Ibadah Haji dilakukan di bulan Zulhijjah.

3. Mana Yang Harus Kita Pakai?

Mustahil umat Islam meninggalkan sistem penanggalan hijriyah, sebab nyaris semua ibadah dalam Islam ditetapkan waktunya berdarkan sistem penanggalan hijriyah. Meninggalkan sistem penanggalan hijriyah berarti meninggalkan agama Islam.

Tetapi bukan berarti umat Islam tidak boleh menggunakan kalender Masehi. Walau pun kalender itu dibuat oleh bangsa yang bukan muslim, tetapi kita tidak berada pada posisi untuk mengharamkannya.

Bahkan ukuran waktu berdasarkan matahari sebenarnya juga kita gunakan juga dalam ibadah. Misalnya dalam menetapan waktu-waktu shalat, kita juga menggunakan matahari.

Jadi paling jauh, umat Islam menggunakan kedua sistem penganggalan ini sekaligus. Dan biasanya, hanya negeri Islam yang pernah dijajah Eropa saja yang menggunakan kedua sistem penanggalan itu. Tentunya dengan penjajahan yang sangat parah, sehingga sekedar menghitung hari pun harus memakai penanggalan bangsa penjajahnya.

4. Kalau kemungkinan manusia sedunia pernah mengalami salah hitung hari yang jumlahnya cuma 7 itu, agaknya terlalu mengada-ada. Sebab jumlah hari dalam seminggu ada 7 itu disepakati nyaris oleh seluruh peradaban manusia.

Meski nama-nama hari yang tujuh itu berbeda-beda di tiap bahasa, tapi pada hakekatnya sama saja. Hari Jumatnya penanggalan masehi dengan penanggalan hijriyah juga sama, tidak ada bedanya.

5. Kekhawatiran seperti itu mustahil. Lagi pula kita menentukan sebuah hari apakah hari jumat atau bukan, tidak perlu mengurutkan ke zaman nabi Adam, cukup ke zaman nabi Muhammad SAW.

Dan anda tidak mungkin mengatakan bahwa nabi Muhammad SAW salah menetapkan hari Jumat di masanya. Pasti langsung turun teguran dari langit berupa wahyu.

Nah, rasanya tidak sulit memastikan dan mengurutkan hari sejak masa Rasulullah SAW hingga hari ini. Toh baru bertaut 15 abad saja, sementara semua dokumen dan perhitungan mundur juga tepat dan akurat.

Maksudnya begini, misalnya kita mendapat sebuah riwayat hadits yang menyebutkan suatu kejadian terjadi pada tanggal tertentu dan jatuh pada hari tertentu, lalu dengan perhitungan mundur kita bisa hitung ke belakang hingga ke masa nabi. Hasilnya, tanggal dan harinya jatuh pada hari yang sama.

Ini membuktikan bahwa perhitungan hari di masa kita tidak salah atau menyalagi perhitungan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Apakah Shalat Isya Boleh Diakhirkan?
20 October 2013, 23:32 | Shalat | 16.502 views
Dokter Kandungan Laki Laki
20 October 2013, 15:15 | Wanita | 14.331 views
Hukum Rajam
17 October 2013, 23:21 | Jinayat | 12.736 views
Apakah Saya Berdosa Jika Tidak Berqurban
13 October 2013, 20:32 | Qurban Aqiqah | 8.659 views
Bolehkah Orang yang Berqurban Mendapat Bagian Daging Qurbannya?
12 October 2013, 00:12 | Qurban Aqiqah | 14.425 views
Bolehkah Membagi Daging Kurban Pada Non Muslim
11 October 2013, 04:07 | Qurban Aqiqah | 15.567 views
Masuk Saudi Harus Ada Mahram : Syariah Islam Atau Peraturan Negara?
10 October 2013, 01:47 | Haji | 11.511 views
Bagaimana Hukumnya Menikah Siri dengan Wali Hakim?
7 October 2013, 07:48 | Nikah | 14.953 views
Syarat Hewan Qurban
3 October 2013, 01:36 | Qurban Aqiqah | 8.521 views
Satu Sapi Buat Qurban dan Aqiqah, Bolehkah?
2 October 2013, 01:35 | Qurban Aqiqah | 8.628 views
Tidak Boleh Makan Daging Qurban Lewat Tiga Hari?
30 September 2013, 21:59 | Qurban Aqiqah | 9.312 views
Hukum Qurban Melalui Transfer Uang
29 September 2013, 23:00 | Qurban Aqiqah | 12.364 views
Bolehkah Sembelih Seekor Kambing Quran Untuk Satu Keluarga?
28 September 2013, 23:34 | Qurban Aqiqah | 18.543 views
Istri Ditinggal Mati Suami = Mantan Istri?
25 September 2013, 19:27 | Nikah | 79.044 views
Dua Qullah itu Berapa Liter?
25 September 2013, 12:39 | Thaharah | 64.851 views
Benarkah Kita Sendirian di Jagad Raya?
23 September 2013, 03:47 | Kontemporer | 9.679 views
Diminta Jadi Wakil Rakyat Demi Memperjuangkan Agama
19 September 2013, 22:08 | Dakwah | 7.301 views
Perbedaan Haji Qiran, Ifrad dan Tamattu : Mana Yang Lebih Afdhal
19 September 2013, 02:02 | Haji | 182.242 views
Cara Menentukan Arah Kiblat di Pesawat
17 September 2013, 22:36 | Shalat | 9.666 views
Halalkah Dana Talangan Haji Dari Bank Syariah?
16 September 2013, 21:54 | Haji | 27.358 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 38,368,259 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

18-11-2019
Subuh 04:04 | Zhuhur 11:39 | Ashar 15:02 | Maghrib 17:54 | Isya 19:06 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img