Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Zakat Profesi Suami Isteri Bekerja | rumahfiqih.com

Zakat Profesi Suami Isteri Bekerja

Tue 10 October 2006 05:58 | Zakat | 5.229 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustadz yang dirahmati Allah, langsung saja ana sampaikan beberapa pertanyaan berkaitan tentang zakat profesi:

1. Bila suami dan isteri sama-sama bekerja, apakah suami saja yang berkewajiban membayar zakat profesi atau dua-duanya?

2. Prosentase zakat yang dikeluarkan apakah dari seluruh penghasilan yang kita dapat atau dari gaji pokok saja?

3. Prosentase dihitung dari penghasilan kita utuh atau setelah dikurangi kebutuhan misal bayar cicilan/utang dan kebutuhan yang lain.?

Mohon penjelasan ustadz, Jazakumullah khoiron katsiro.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Setiap orang yang bekerja mendapatkan peghasilan, maka menurut para ulama yang mendukung adanya zakat profesi, wajib untuk mengeluarkan zakat profesinya.

Sehingga meski suami isteri adalah satu kesatuan, namun karena masing-masing bekerja, maka masing-masing terkena kewajiban mengeluarkan zakat profesi.

Prinsipnya, siapa yang mendapatkan pemasukan, maka dia wajib mengeluarkan sebagian harta dari apa yang didapatnya.

2. Prosentasi zakat profesi adalah 2,5% dari gaji atau pemasukan. Bentuknya bisa berbentuk gaji, upah, honor, insentif, mukafaah, persen dan sebagainya. Baik sifatnya tetap dan rutin atau bersifat temporal atau sesekali.

Memang ada perbedaan pandangan para ulama, namun bukan pada masalah gaji pokok dan bonusnya, melainkan pada masalah penghasilan kotor atau penghasilan bersih. Apakah berdasarkan pemasukan kotor ataukah setelah dipotong dengan kebutuhan pokok?

Dalam hal ini ada dua kutub pendapat. Sebagian mendukung tentang pengeluaran dari pemasukan kotor dan sebagian lagi mendukung pengeluaran dari pemasukan yang sudah bersih dipotong dengan segala hajat dasar kebutuhan hidup.

Dalam kitab Fiqih Zakat, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menyebutkan bahwa untuk mereka yang berpenghasilan tinggi dan terpenuhi kebutuhannya serta memang memiliki uang berlebih, lebih bijaksana bila membayar zakat dari penghasilan kotor sebelum dikurangi dengan kebutuhan pokok.

Misalnya seseorang bergaji 200 juta setahun, sedangkan kebutuhan pokok anda perbulannya sekitar 2 juta atau setahun 24 juta. Maka ketika menghitung pengeluaran zakat, hendaknya dari penghasilan kotor itu dikalikan 2,5%.

Namun masih menurut Al-Qaradhawi, bila anda termasuk orang yang bergaji pas-pasan bahkan kurang memenuhi standar kehidupan, kalaupun anda diwajibkan zakat, maka penghitungannya diambil dari penghasilan bersih setelah dikurangi hutang dan kebutuhan pokok lainnya. Bila sisa penghasilan anda itu jumlahnya mencapai nisab dalam setahun (Rp 1.300.000,-), barulah anda wajib mengeluarkan zakat sebesr 2,5% dari penghasilan bersih itu.

Nampaknya jalan tengah yang diambil Al-Qaradhawi ini lumayan bijaksana, karena tidak memberatkan semua pihak. Dan masing-masing akan merasakan keadilan dalam syariat Islam. Yang penghasilan pas-pasan, membayar zakatnya tidak terlalu besr. Dan yang penghasilannya besar, wajar bila membayar zakat lebih besar, toh semuanya akan kembali.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hukum Air WWTP
10 October 2006, 05:41 | Thaharah | 6.273 views
Doa Kamilin Bertentangan dengan Al-Quran?
10 October 2006, 05:37 | Aqidah | 9.318 views
Tarawih Berjama'ah Cepat v.s. Munfarid Khusyu'
9 October 2006, 01:42 | Shalat | 6.532 views
Negara Islam Indonesia
9 October 2006, 01:39 | Negara | 5.669 views
Pengelompokan Ayat-Ayat dalam Al-Qur'an
9 October 2006, 01:30 | Quran | 6.567 views
Muntah atau Sengaja Muntah, Batalkah Puasa?
5 October 2006, 03:14 | Puasa | 6.310 views
Zakat Mal untuk Pegawai dengan Penghasilan Tetap
5 October 2006, 03:06 | Zakat | 6.095 views
Duda Menikahi Janda tanpa Wali
5 October 2006, 02:17 | Nikah | 9.100 views
Berkumur Waktu Wudhu Saat Puasa, Mungkinkah Air Tidak Tertelan?
4 October 2006, 09:14 | Puasa | 33.695 views
Minum Air Dijampi Kiyai, Apakah Saya Syirik kepada Allah?
4 October 2006, 05:33 | Aqidah | 10.826 views
MTQ atau Perlombaan Islami Lainnya Judikah?
4 October 2006, 01:54 | Kontemporer | 5.368 views
Dzikir Al-Ma'surat Secara Berjamaah
4 October 2006, 01:40 | Kontemporer | 7.698 views
Situs Penyedia Hadits
4 October 2006, 01:40 | Hadits | 6.660 views
Dalil Shalat Tarawih Berjamaah Kuatkah?
3 October 2006, 05:57 | Shalat | 6.891 views
Status Puasa Ketika dalam Pesawat 18 Jam Perjalanan
3 October 2006, 04:23 | Puasa | 5.916 views
Batasan Hubungan dengan Tetangga yang Beragama Lain
3 October 2006, 04:20 | Zakat | 5.660 views
Zakat Mal Dibayarkan Setiap Tahun?
3 October 2006, 04:03 | Zakat | 6.527 views
Kisah Sahabat, Berhubungan Saat Puasa Ramadhan, Tidak Jadi Kena Kafarat Malah Dapat Kurma
2 October 2006, 02:27 | Puasa | 7.543 views
Apakah Ibu Tiri Mendapat Warisan dari Ayah?
2 October 2006, 02:11 | Mawaris | 5.394 views
Kapan Batas untuk Berhenti Makan dan Minum Saat Shaum?
29 September 2006, 09:11 | Puasa | 7.821 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 37,158,726 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-10-2019
Subuh 04:12 | Zhuhur 11:39 | Ashar 14:49 | Maghrib 17:49 | Isya 18:58 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img