Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA I'tikaf Sambil Bekerja Bolehkah? | rumahfiqih.com

I'tikaf Sambil Bekerja Bolehkah?

Fri 5 July 2013 00:00 | Puasa | 12.882 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak ustadz, singkat saja, saya mau tanya, boleh apa tidak kita i'tikaf sambil bekerja? Misal siang kita bekerja pulang kerja kita langsung ke masjid. Sedangkan Rasul saja menyisir rambut dilakukan oleh isterinya. Terima kasih.

Wassalam,

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebagaimana kita ketahui bahwa i'tikaf itu adalah ibadah berbentuk taqarrub kepada Allah yang dilakukan di dalam masjid. Esensinya justru keberadaan kita di dalam masjid itu sendiri.

Sehingga bila kita lakukan ibadah taqarrub itu di luar masjid, misalnya shalat, baca Quran, zikir dan doa di rumah atau di kantor, tentu istilah i'tikafnya sudah tidak lagi lekat di dalamnya. Pahalanya tetap kita terima, tapi namanya bukan lagi i'tikaf.

Tapi kalau pertanyaannya, bolehkah kita tidak sepenuhnya beri'tikaf di 10 hari terakhir Ramdhan, tapi sebagian waktunya untuk bekerja di kantor, maka jawabnya tentu saja boleh. Sebab syarat dan rukun i'tikaf tidak harus dilakukan selama 10 hari 10 malam. Yang penting sejenak saja kita berada di dalam masjid, asalkan diniatkan untuk beri'tikaf, sudah bisa dianggap sebagai i'tikaf.

Tentu pahalanya berbeda antara i'tikaf satu jam dengan 10 hari. Tetapi prinsipnya, bila kita tidak bisa melakukan seluruhnya sesempurna yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, bukan berarti kita harus tinggalkan semuanya.

Benar bahwa Rasulullah SAW SAW selalu melakukan i'tikaf 10 hari terakhir tiap tahun di bulan Ramadhan. Cara i'tikaf itu adalah cara i'tikaf yang paling ideal.

Namun seluruh ulama sepakat bahwa syarat sah i'tikaf itu tidak harus dilakuan sepanjang 10 hari. Dan beliau SAW sendiri tidak pernah mewajibkan i'tikaf 10 hari kepada umatnya. Artinya, secara syar'i, hukumnya tidak wajib. Dan orang yang tidak i'tikaf di bulan Ramadhan tidak menanggung dosa apa pun.

Tetapi kalau kita bicara dari sudut pandang lain, misalnya dari segi keutamaan ibadah, tentunya mengikuti i'tikaf itu sangat diutamakan dan dianjurkan. Mengingat besarnya pahala yang dijanjikan, serta contoh praktek nabi SAW atasnya.

Yang paling utama adalah beri'tikaf dengan sempurna, 10 hari 10 malam tanpa keluar sekalipun dari masjid. Namun bila keadaan seseorang tidak bisa demikian, karena misalnya masih ada kewajiban dari kantor atau tempat kerjanya, tentu tidak ada keharusan untuk bolos atau mangkir dari kerja.

Toh meski tidak bisa siang malam terus terusan, kita boleh saja ikut i'tikaf sebagiannya. Misalnya hanya malam hari saja, tapi siangnya kembali ke rumah atau ke kantor.

Dan pahala i'tikaf itu tidak gugur total bila keluar dari masjid. Tidak seperti orang bayar puasa kaffarat yang harus 2 bulan berturut-turut, bila sekali saja tidak puasa meski sudah hari ke 59, maka puasa selama 59 hari itu dianggap gugur.

Nah, i'tikaf tidak demikian peraturannya. Bila memang masih ada udzur atau keperluan manusiawi lalu seseorang tidak bisa lengkap 10 hari 10 malam, boleh saja dia menyelesaikan dulu urusannya. Biar saja ada bolong-bolongnya, toh tidak menggugurkan pahala i'tikaf lainnya yang sudah dikerjakan. Meski bila bisa melakukannya dengan sempurna, tentu pahalanya lebih besar.

Bahkan Asy-Syafi'i puya pendapat, sesebentar apa pun kita masuk masjid, asal diniatkan beri'tikaf, kita sudah dapat pahalanya. Tentu tidak sama dengan pahala yang 10 hari 10 malam itu.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Haramkah Jadi Golput?
2 July 2013, 21:50 | Negara | 8.868 views
Wajibkah Wanita Memakai Cadar?
1 July 2013, 04:19 | Wanita | 12.145 views
Tata Cara Talaq Sesuai Syariah
28 June 2013, 03:15 | Nikah | 10.408 views
Penetapan Awal Ramadhan, Kenapa Sering Berbeda?
25 June 2013, 20:37 | Puasa | 12.488 views
Mohon Maaf Menjelang Ramadhan, Bid'ahkah?
24 June 2013, 22:53 | Puasa | 17.208 views
Nenek Ingin Puasa
21 June 2013, 18:37 | Puasa | 5.687 views
Puasa untuk Ibu yang Sedang Menyusui
21 June 2013, 01:22 | Puasa | 9.341 views
Pulang Pergi Jakarta Bogor, Bolehkah Menjama' Shalat?
20 June 2013, 00:28 | Shalat | 18.151 views
Shalat Sendirian Lalu Ditepuk Bahunya
19 June 2013, 02:45 | Shalat | 119.981 views
Sikat Gigi Memakai Pasta Gigi Apa Membatalkan Puasa?
17 June 2013, 02:21 | Puasa | 22.865 views
Zakat Mobil Sewa
15 June 2013, 03:06 | Zakat | 7.331 views
Mengapa Abu Hurairah Lebih Banyak Meriwayatkan Hadits?
14 June 2013, 00:34 | Hadits | 21.685 views
Bolehkah Anak Laki-laki Jadi Wali Nikah Ibunya Sendiri?
11 June 2013, 01:34 | Nikah | 26.536 views
Mensucikan Najis Dengan Kain Pel dan Pengharum
10 June 2013, 00:34 | Thaharah | 14.809 views
Bagaimana Menentukan Keshahihan Hadits?
8 June 2013, 00:05 | Hadits | 8.986 views
Mewarnai Rambut dan Batasan Pendeknya Rambut bagi Akhwat
4 June 2013, 00:31 | Wanita | 12.211 views
Bolehkah Laki-Laki Memanjangkan Rambut?
3 June 2013, 23:55 | Hadits | 10.688 views
Pernikahan Anak Perempuan Adopsi
2 June 2013, 21:39 | Nikah | 6.974 views
Tidak Ada Label Halalnya, Haramkah?
29 May 2013, 23:48 | Kuliner | 9.491 views
Bolehkah Menghapus Tanda Hitam di Dahi
27 May 2013, 22:29 | Shalat | 50.354 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 29,962,463 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema