Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Sentuhan, Batal Kata Isteri Tidak Batal Kata Suami Lalu Cerai | rumahfiqih.com

Sentuhan, Batal Kata Isteri Tidak Batal Kata Suami Lalu Cerai

Fri 3 November 2006 03:37 | Nikah | 5.389 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalammu Alaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz bagaimana hukum muhrim sebenarnya? Kami pernah mendengar ada suami isteri bercerai karena sang suami selalu menyentuh kulit dari isterinya selepas berwudhu sehingga sang isteri yang mempercayai bahwa suami bukan muhrimnya menjadi batal wudhunya. Dan bagaimana yang berfikir sebaliknya? Kemudian bagaimana bila itu terjadi di waktu ketika melakukan umroh atau haji?

Wassalam,

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kisah perceraian antara suami isteri seperti yang anda ceritakan itu seharusnya tidak perlu terjadi. Seandainya keduanya belajar ilmu fiqih dengan benar dan mendalam. Bukan sekedar sampai ke level rendah dan seadanya, lalu menyalahkan semua pendapat yang tidak sesuai dengan apa yang dipelajarinya.

Barangkali si isteri sejak kecil telah 'dicekoki' dengan pendapat fiqih yang mengatakan bahwa sentuhan kulit suami isteriitu membatalkan wudhu' secara mutlak. Baik sengaja atau tidak sengaja, tetap batal wudhu'. Bahkan pihak yang menyentuh dan yang disentuh, keduanya batal menurut pendapat ini. Meskipun keduanya adalah pasangan suami isteri. Pokoknya 'nyeggol' =batal, titik.

Pendapat seperti ini memang ada dan kita akui keberadaannya. Namun bukan berarti kebenaran pendapat ini mutlak dan hanya satu-satunya.

Dan barangkali juga pihak suami dididik dengan alur pendapat fiqh yang sebaliknya. Mungkin gurunya juga 'mencekokinya' dengan pendapat bahwa sentuhan kulit laki-laki dan wanita itu selamanya tidak pernah membatalkan wudhu'. Mungkin gurunya berpegang teguh kepada pendapat para ahli tafsir yang mengatakan bahwa lafadz au laamastumun-nisaa'a bermakna majazi. Bukan sekedar sentuhan kulit tetapi ungkapan dari jima' (hubungan seksual) suami isteri.

Sehingga bagi suami, sentuhan kulit laki-laki dan perempuan, tidak membatalkan wudhu'.

Pendapat seperti ini pun memang ada dan kita akui keberadaannya juga. Namun bukan berarti kebenaran pendapat ini mutlak dan hanya satu-satunya.

Seandainya pasangan suami isteri itu mengaji fiqih secara lebih dalam dan jauh, tidak hanya membenarkan pendapat sendiri atau ijtihad satu kelompok ulama saja, tentu tidak akan terjadi perceraian.

Mereka yang mengatakan sentuhan kulit itu mutlak membatalkan shalat, tidak akan pernah selamanya berpendapat demikian. Paling tidak, ketika thawaf di sekeliling ka'bah, pastilah mereka akan berpindah sementara kepada pendapat lainnya. Sebab boleh dibilang mustahil untuk tidak saling bersentuhan kulit dengan lawan jenis pada keadaan itu.

Sebaliknya, mereka yang mengatakan bahwa sentuhan kulit itu tidak membatalkan, juga bukan pada tempatnya untuk mengganggu keyakinan saudaranya, dengan cara mencolak-coleknya. Sebaiknya, meski tidak sepaham, bukan berarti kita boleh mengganggu saudara kita yang punya keyakinan fiqih berbeda. Sebaliknya, kita wajib menghormati apa yang menjadi keyakinannya.

Suami yang berpaham bahwa sentuhan kulit itu tidak membatalkan wudhu, tidak boleh 'melecehkan' isterinya yang berpaham bahwa sentuhan itu membatalkan. Toh, keduanya hasil ijtihad yang bisa benar atau bisa salah. Atau bahkan malah keduanya sama-sama benarnya.

Perbedaan ini sudah ada sejak turunnya wahyu dan sejak nabi masih hidup. Kalau para shahabat sendiri sudah berbeda pendapat, tetapi mereka saling menghormati sesamanya, bagaimana mungkin kita sekarang ini saling ejek dengan saudara kita sendiri atas masalah ini?

Alangkah indahnya bila para ustadz yang mengajar fiqih di masa globalisasi ini tidak selalu memberikan satu pendapat saja. Tetapi memberikan fiqih perbandingan antara mazhab, agar bisa mendekatkan berbagai perbedaan itu di tengah umat. Minimal tidak harus menyalahkan pendapat yang berbeda dengan pendapatnya secara tidak adil.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Apakah Menafkahi Orang Tua dan Adik-Adik Termasuk Zakat Mal?
2 November 2006, 03:17 | Zakat | 8.250 views
Puasa Ikut 29 Sholat 'Ied Ikut yang Puasanya 30
19 October 2006, 03:17 | Puasa | 6.615 views
Beda Dita'zir dengan Dicambuk
19 October 2006, 03:10 | Jinayat | 5.379 views
Lebih Baik Menjadi Muslim Miskin atau Kaya?
18 October 2006, 06:21 | Hadits | 6.177 views
1 Syawal, 23 atau 24 Oktober?
18 October 2006, 04:23 | Puasa | 4.914 views
Sholat Tarawih ketika I'tikaf
17 October 2006, 06:38 | Shalat | 6.078 views
Berdoa Harus dengan Lafadz dari Hadis?
17 October 2006, 06:07 | Hadits | 5.976 views
Minuman Green Sand Bebas Alkohol, Bolehkah Dikonsumsi?
17 October 2006, 06:01 | Kuliner | 20.408 views
Membaca Fatihah bagi Makmum
17 October 2006, 04:43 | Shalat | 6.486 views
Zakat Harta untuk Beli Tafsir/Al-Quran?
16 October 2006, 05:41 | Zakat | 4.632 views
Pengertian Dihapus Dosa
16 October 2006, 05:27 | Umum | 5.771 views
Belajar tentang Islam
16 October 2006, 04:08 | Aqidah | 6.064 views
Witir Ikut Jamaah Tarawih
13 October 2006, 02:36 | Shalat | 5.334 views
Nabi Pertama Bukan Adam?
13 October 2006, 02:30 | Aqidah | 6.559 views
Mimpi Didatangi Orang-Orang Sholeh
13 October 2006, 02:25 | Aqidah | 8.278 views
Belajar Agama Tanpa Guru
13 October 2006, 02:13 | Umum | 5.898 views
Tidak Perlu Syariat yang Wajib Prinsip Islam Saja, Benarkah?
13 October 2006, 01:56 | Negara | 5.032 views
Nuzulul Quran, setelah Pengajaran Iqro, Selanjutnya Nabi Bisa Baca?
13 October 2006, 01:31 | Quran | 7.946 views
Ustadz Keliling Meminta Zakat untuk Kepentingan Pribadi
12 October 2006, 01:47 | Zakat | 5.624 views
Hukum Darah Nifas
12 October 2006, 01:33 | Wanita | 6.592 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,794,023 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

25-8-2019
Subuh 04:39 | Zhuhur 11:56 | Ashar 15:16 | Maghrib 17:57 | Isya 19:05 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img