Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Menikah Lagi dengan Sepupu Isteri? | rumahfiqih.com

Bolehkah Menikah Lagi dengan Sepupu Isteri?

Thu 9 November 2006 04:00 | Nikah | 4.982 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pak Ustadz, saya ingin bertanya, apakah boleh seseorang menikah lagi dengan sepupu isterinya (anak dari adiknya ayah isteri) walaupun isterinya masih ada (hidup)? Terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Menduakan isteri di dalam Islam dibolehkan, selama memang terpenuhi syaratnya. Sebagaimana firman Allah SWT:

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisa': 3)

Namun ada larangan tegas untuk memadu dua wanita yang masih bersaudara langsung. Kecuali bila salah satunya sudah dicerai atau sudah meninggal dunia.

Adalah khalifah Utsman bin Al-Affan radhiyallahu anhu dijuluki Dzun-Nurain. Artinya orang yang punya dua cahaya. Dua cahaya itu tidak lain adalah dua puteri Rasulullah SAW yang menjadi isteri-isteri beliau.

Namun kedua puteri Rasulullah SAW tidak dinikahinya dalam satu masa, melainkan pada dua zaman yang berbeda. Karena salah satunya sudah wafat, beliau menikahi saudari isterinya.

Sedangkan bila dinikahi dalam kurun waktu yang sama, hukumnya haram. Sebagaimana firman Allah SWT:

Diharamkan atas kamu (untuk menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu isterimu, anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu, maka tidak berdosa kamu mengawininya, isteri-isteri anak kandungmu dan menghimpunkan dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nisa': 23)

Demikian juga menikahi bibi dari isteri, termasuk hal yang ikut diharamkan juga. Sebagaimana hadits berikut ini:

Dari Abi Hurairah ra. bahwa nabi SAW bersabda, "Janganlah dimadu antara seorang wanita dengan ammahnya (bibi dari pihak ayahnya) atau khalahnya (bibi dari pihak ibunya). (HR. Muttafaq 'alaihi)

Menikahi Sepupu Isteri

Saudara sepupu isteri memang masih terbilang famili juga, namun oleh syariah Islam dianggap sudah agak jauh hubungannya bila dibandingkan dengan saudara kandung isteri atau bibi dari isteri. Sehingga pada dasarnya tidak ada larangan bila seorang suami memadu isterinya dengan saudara sepupu isterinya itu dalam waktu yang bersamaan.

Meski secara psikologis mungkin kita merasa hubungan sepupu masih terlalu dekat, namun ukuran halal haram itu bukan didasarkan pada perasaan, melainkan pada ketentuan dari langit.

Betapa banyak orang-orang yang telah terlanjur menganggap sepupunya yang perempuan sebagai adik sendiri, sehingga dibolehkan saja berduaan tanpa mahram, bahkan bepergian bersama sampai menginap dan seterusnya.

Padahal dari sudut pandang syairah, laki-laki dan wanita yang sepupuan itu tetap bukan mahram, sehingga haram berkhalawat. Dan konsekuensi terbaliknya, justru mereka berdua dihalalkan untuk menikah menjadi sepasang suami isteri.

Ini menunjukkan bahwa hubungan sepupu adalah 'saudara jauh', maka wajar pula bila memadu dua wanita yang bersepupuan itu tidak dilarang dalam syariah.

Namun sesuatu yang hukumnya halal jangan dipelintir menjadi wajib. Halal adalah sekedar boleh, bukan sebuah keharusan.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Mengapa Harus Salafi?
9 November 2006, 02:54 | Umum | 10.987 views
Apa Arti Empat Bulan Haram?
9 November 2006, 00:53 | Quran | 5.559 views
Cara Bersuci setelah Terkena Tinta, Tip-ex, atau Cat
7 November 2006, 22:43 | Thaharah | 6.405 views
Asal Muasal Ka'bah
7 November 2006, 22:29 | Haji | 6.251 views
Sikap Menghadapi Adat Istiadat di Sekitar Kita
7 November 2006, 03:49 | Aqidah | 7.724 views
Jika Ada yang Masbuk dalam Shalat Ied
7 November 2006, 03:44 | Shalat | 5.018 views
Cukup Menerima Dalil dari Ulama Zaman Dahulu?
6 November 2006, 05:21 | Hadits | 6.349 views
Ketaatan Kepada Penguasa, Adakah Batasnya?
6 November 2006, 05:11 | Negara | 6.006 views
Beberapa Hukum dalam Ibadah Haji
3 November 2006, 07:31 | Haji | 5.647 views
Saat Haidh Darah Terhenti 2 Hari Lalu Keluar Lagi, Hukumnya?
3 November 2006, 07:26 | Thaharah | 5.893 views
Tindak Anarkis Buat Aliran Sesat
3 November 2006, 07:17 | Aqidah | 5.068 views
Hukum Memakai Parfum Beralkohol
3 November 2006, 07:02 | Thaharah | 9.350 views
Sentuhan, Batal Kata Isteri Tidak Batal Kata Suami Lalu Cerai
3 November 2006, 03:37 | Nikah | 5.250 views
Apakah Menafkahi Orang Tua dan Adik-Adik Termasuk Zakat Mal?
2 November 2006, 03:17 | Zakat | 7.981 views
Puasa Ikut 29 Sholat 'Ied Ikut yang Puasanya 30
19 October 2006, 03:17 | Puasa | 6.469 views
Beda Dita'zir dengan Dicambuk
19 October 2006, 03:10 | Jinayat | 5.277 views
Lebih Baik Menjadi Muslim Miskin atau Kaya?
18 October 2006, 06:21 | Hadits | 6.040 views
1 Syawal, 23 atau 24 Oktober?
18 October 2006, 04:23 | Puasa | 4.836 views
Sholat Tarawih ketika I'tikaf
17 October 2006, 06:38 | Shalat | 5.968 views
Berdoa Harus dengan Lafadz dari Hadis?
17 October 2006, 06:07 | Hadits | 5.830 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 34,428,072 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-6-2018 :
Subuh 04:39 | Zhuhur 11:55 | Ashar 15:17 | Maghrib 17:50 | Isya 19:03 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img