Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Tidak Punya Anak, Ingin Transfer Janin | rumahfiqih.com

Tidak Punya Anak, Ingin Transfer Janin

Thu 16 November 2006 00:04 | Kontemporer | 5.802 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr. wb.

Saya telah berkeluarga selama 4 tahun dan hingga saat ini belum dikaruniai anak. Belum lama ada orang yang menawarkan kepada kami untuk transfer janin dari rahim wanita lain dengan syarat seizin wanita yang hamil tersebut dan dengan usia kandungan di bawah 2 bulan. Katanya sih kalau masih di bawah 2 bulan, gen akan mengikuti orang tua yang baru.

Saya beserta suami sudah sepakat untuk tidak melakukannya. Namun keluarga besar menyarankan untuk mencobanya.

Yang ingin saya tanyakan:

Apakah hukumnya transfer janin dari seorang wanita hamil kepada wanita lain dengan izin wanita yang hamil tersebut? Apakah tidak dilarang dalam agama?

Terima kasih sebelumnya pak ustad.

Wassalam,

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah yang anda tanyakan ini termasuk ke dalam bab fiqih kontemporer, sebuah kajian fiqih yang sedikit rumit, lantaran belum pernah terjadi di masa lampau. Sehingga para ulama di masa lalu tidak pernah menulisannya.

Untuk itu diperlukan ijtihad yang bersifat komprehensif, aktual serta tingkat kefaqihan yang mumpuni untuk menjawabnya. Untuk itu kami akan kutipkan saja dari para ulama kontemporer serta fatwa-fatwa dari Majelis Ulama, semoga bisa dijadikan sebagai referensi.

Transfer janin yang anda maksudnya itu sebenarnya merupakan tindakan yang bermasalah dari segi nasab anak tersebut. Mungkin sebagian gen-nya akan mengikuti gen wanita yang mengandungnya, namun bahan dasar janin itu tetaplah milik orang lain.

Sehingga dalam hal ini yang jadi masalah adalah masalah nasab anak tersebut. Sebab dalam hukum Islam telah jelas bahwa yang dimaksud dengan nasab seorang anak bukan semata-mata benih dari ayah dan ibu, namun termasuk juga oleh siapa anak itu dikandung dan dilahirkan.

Meski dimungkinkan secara teknologi bahkan telah lahir begitu banyak bayi lewat proses semacam ini, namun para ulama sepakat mengharamkanya. Misalnya dalam kasus bayi tabung di mana yang jadi masalah adalah nasab anak tersebut.

Fatwa Al-Azhar, Mahmud Syaltut, mantan Syekh Al-Azhar, Syakh Sya’rawi dan lain-lain, bahwa bayi tabung dari suami isteri, dititip pada rahim perempuan lain, statusnya sama dengan anak hasil zina.

Kecuali proses bayi tabung yang tidak melibatkan pihak ketiga, hanya sekedar membutuhkan tabung untuk proses pembuahan awal, setelah itu zygot yang mulai tumbuh itu dikembalikan lagi ke rahim ibunya yang asli.

Dalam pertanyaan yang anda sampaikan, yang kami pahami dari transfer janin adalah anda hamil tanpa melalui proses hubungan suami isteri dengan suami, namun suami melakukannya dengan wanita lain, setelah terjadi pembuahan, maka janinnya dipindahkan ke rahim anda.

Cara ini termasuk cara yang diharamkan, karena benih anak itu bukan dari anda sebagai ibunya. Melainkan dari wanita lain. Bahkan meski wanita lain itu adalah isteri suami anda sendiri, misalnya sebagai isteri kedua. Memang ketika suami anda berhubungan dengan wanita itu hukumnya halal, karena wanita itu isterinya sendiri.

Namun ketika janin yang mulai terbentuk dipindahkan ke rahim anda, hukum anak itu tetap diharamkan oleh ulama, karena masalah kerancuan nasab. Dan dalam fatwanya tanggal 13 Juni 1979, Majelis Ulama Indonesia telah secara tegas melarangnya. Berikut adalah kutipannya pada nomor 2 (http://mui.or.id/mui_in/fatwa.php?id=78):

Bayi tabung dari pasangan suami-isteri dengan titipan rahim isteri yang lain (misalnya dari isteri kedua dititipkan pada isteri pertama) hukumnya haram beraasarkan kaidah Sadd az-zari'ah (), sebab hal ini akan menimbulkan masalah yang rumit dalam kaitannya dengan masalah warisan (khususnya antara anak yang dilahirkan dengan ibu yang mempunyai ovum dan ibu yang mengandung kemudian melahirkannya, dan sebaliknya).

Apalagi bila janin yang ditransfer ke rahim anda itu sama sekali bukan benih dari suami anda sendiri, tapi dari benih laki-laki lain, maka para ulama sedunia ini sepakat atas keharamannya. Masih dalam fatwa MUI yang sama disebutkan pada poin nomor 4 sebagai berikut:

Bayi tabung yang sperma dan ovumnya diambil dari selain pasangan suami isteri yang sah hukumnya haram, karena itu statusnya sama dengan hubungan kelamin antar lawan jenis di luar pernikahan yang sah (zina), dan berdasarkan kaidah Sadd az-zari'ah, yaitu untuk menghindarkan terjadinya perbuatan zina sesungguhnya.

Satunya-satunya yang halal hanyalah bila benih janin itu berasal dari benih anda dan suami anda, lalu dibuahi di laboratorium karena suatu alasan teknis, kemudian dikembalikan lagi ke dalam rahim anda. Sebgaimana juga telah dibenarkan oleh Fatwa MUI dalam fatwa nomor 1:

Bayi tabung dengan sperma clan ovum dari pasangan suami isteri yang sah hukumnya mubah (boleh), sebab hak ini termasuk ikhiar berdasarkan kaidahkaidah agama.

Cara yang terakhir inipun masih sedikit dipermasalahkan oleh sebagian ulama, lantaran semua proses itu mengharuskan terbukanya aurat anda di hadapan para dokter yang bukan mahram. Yang jadi bahan perdebatan adalah tingkat kedaruratannya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Cara Menebus Dosa Korban Pemaksaan Homoseks
15 November 2006, 23:59 | Jinayat | 5.039 views
Hadits tentang Tidak Makan Kecuali Lapar
15 November 2006, 23:55 | Hadits | 6.219 views
Shalat Subuh Disaksikan Para Malaikat, Maksudnya?
15 November 2006, 01:14 | Shalat | 8.203 views
Nifas Sudah Selesai, tapi Masih Keluar Darah
14 November 2006, 07:32 | Thaharah | 6.318 views
Menyikapi Orang yang Tidak Ikut Perintah Rasul
14 November 2006, 04:27 | Aqidah | 6.295 views
Makhluk Pertama yang Diciptakan Allah Versi Tasawuf
14 November 2006, 03:49 | Aqidah | 9.656 views
Kenapa al-Quran itu Harus Berbahasa Arab?
10 November 2006, 05:45 | Quran | 6.435 views
Lupa Minum Waktu Puasa Syawal
10 November 2006, 03:16 | Puasa | 5.314 views
Menyentuh Quran Terjemahan Tanpa Wudhu
10 November 2006, 02:14 | Quran | 21.728 views
Bolehkah Menikah Lagi dengan Sepupu Isteri?
9 November 2006, 04:00 | Nikah | 5.190 views
Mengapa Harus Salafi?
9 November 2006, 02:54 | Umum | 11.877 views
Apa Arti Empat Bulan Haram?
9 November 2006, 00:53 | Quran | 5.857 views
Cara Bersuci setelah Terkena Tinta, Tip-ex, atau Cat
7 November 2006, 22:43 | Thaharah | 6.856 views
Asal Muasal Ka'bah
7 November 2006, 22:29 | Haji | 6.819 views
Sikap Menghadapi Adat Istiadat di Sekitar Kita
7 November 2006, 03:49 | Aqidah | 8.611 views
Jika Ada yang Masbuk dalam Shalat Ied
7 November 2006, 03:44 | Shalat | 5.228 views
Cukup Menerima Dalil dari Ulama Zaman Dahulu?
6 November 2006, 05:21 | Hadits | 6.597 views
Ketaatan Kepada Penguasa, Adakah Batasnya?
6 November 2006, 05:11 | Negara | 6.383 views
Beberapa Hukum dalam Ibadah Haji
3 November 2006, 07:31 | Haji | 5.956 views
Saat Haidh Darah Terhenti 2 Hari Lalu Keluar Lagi, Hukumnya?
3 November 2006, 07:26 | Thaharah | 6.237 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 37,150,088 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-10-2019
Subuh 04:12 | Zhuhur 11:39 | Ashar 14:48 | Maghrib 17:49 | Isya 18:58 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img