Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Mendoakan Orang Kena Musibah Agar Sadar | rumahfiqih.com

Mendoakan Orang Kena Musibah Agar Sadar

Fri 17 November 2006 02:25 | Umum | 5.862 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualikum wr. wb.

Saya ada pertanyaan kepada Ustaz. Adapun pertanyaannya yaitu jika kita memohon kepadaNya untuk menyadarkan seseorang namun dengan memohon dengan jalan yang tidak baik dengan maksud agar orang sadar, apakah itu dosa? dan jika dilaksanakan apa akibatnya bagi yang melakukannya? Mohon penjelasannya.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Umumnya lafadz teks doa nabi Muhammad SAW berisi permintaan atas hal-hal yang baik. Atau minta dihindarkan dari hal-hal yang tidak baik.

Kalau pun beliau SAW pernah mendoakan yang tidak baik, hanya pada kasus tertentu yang dirasa memang sudah tidak ada harapan lagi. Misalnya dalam doa nazilah, beliau meminta kepada Allah SWT agar musuh-musuhnya yang kafir harbi itu dihancurkan, diporak-porandakan dan dilumat sehabis-habisnya.

Namun kalau kita perhatikan, doa yang meminta ditimpakan bala dan azab itu hanya terbatas kepada orang kafir harbi yang dianggap kelewat batas. Di mana batas-batas kesabaran manusiawi sudah terlewati jauh.

Namun tidak semua orang kafir pernah didoakan Rasulullah SAW agar diazab oleh Allah. Misalnya Umar bin Al-Khattab ketika masih jahiliyah. Meski dianggap musuh besar dan berbahaya, Rasulullah SAW justru berdoa agar Islam dikuatkan dengan sadarnya Umar.

Atau ketika beliau dilempar dengan kotoran unta, dianiyaya, disakiti, bahkan hingga luka-luka, beliau tetap tidak mau berdoa agar turun azab. Sebaliknya, seringkali kita dapat riwayat yang menyebutkan beliau mendoakan mereka agar mendapat hidayah dari Allah. Allahummahdi qaumi fainnahum laa ya'lamun. Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, karena mereka tidak tahu.

Ketika babak belur dilempari batu oleh anak-anak di kota Thaif, di dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa ada malaikat yang menawarkan diri untuk menurunkan azab kepada penduduk kota itu, namun beliau SAW tidak berkenan menerima tawaran itu. Beliau masih banyak berharap anak keturunan penduduk kota itu nantinya akan sadar dan menjadi muslim yang baik.

Karena itu menurut hemat kami, ketika kita ingin mendoakan saudara kita yang muslim, doakan saja yang baik-baik. Tidak usah kita sampai mengatur-atur Allah SWT dalam bentuk pemberian hidayah. Semua kita serahkan kepada Allah saja, apakah hidayah akan diberikan atau tidak. Dan kalau memang mau diberikan, bagaimana teknisnya juga kita serahkan kepada Allah. Tugas kita hanya memperingatkannya, lalu berdoa kepada Allah SWT agar dapat hidayah. Cepat atau lambat terkabulnya doa kita, semua urusan Allah.

Adapun doa kita kepada orang kafir yang sudah kelewat batas dalam memusuhi, membunuh, membantai dan mencelakakan umat Islam, boleh saja kita mintakan agar Allah SWT menurunkan azab atasnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Tetapi kalau seandainya orang itu masuk Islam misalnya, lalu punya manfaat besar buat kemajuan Islam, mengapa tidak kita doakan saja dia sadar dan mendapat hidayah dari Allah?

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Wali Hakim untuk Janda dan Masa 'Iddah
16 November 2006, 00:09 | Nikah | 5.980 views
Tidak Punya Anak, Ingin Transfer Janin
16 November 2006, 00:04 | Kontemporer | 5.610 views
Cara Menebus Dosa Korban Pemaksaan Homoseks
15 November 2006, 23:59 | Jinayat | 4.903 views
Hadits tentang Tidak Makan Kecuali Lapar
15 November 2006, 23:55 | Hadits | 6.007 views
Shalat Subuh Disaksikan Para Malaikat, Maksudnya?
15 November 2006, 01:14 | Shalat | 7.684 views
Nifas Sudah Selesai, tapi Masih Keluar Darah
14 November 2006, 07:32 | Thaharah | 6.104 views
Menyikapi Orang yang Tidak Ikut Perintah Rasul
14 November 2006, 04:27 | Aqidah | 6.012 views
Makhluk Pertama yang Diciptakan Allah Versi Tasawuf
14 November 2006, 03:49 | Aqidah | 9.172 views
Kenapa al-Quran itu Harus Berbahasa Arab?
10 November 2006, 05:45 | Quran | 6.096 views
Lupa Minum Waktu Puasa Syawal
10 November 2006, 03:16 | Puasa | 5.201 views
Menyentuh Quran Terjemahan Tanpa Wudhu
10 November 2006, 02:14 | Quran | 21.138 views
Bolehkah Menikah Lagi dengan Sepupu Isteri?
9 November 2006, 04:00 | Nikah | 5.041 views
Mengapa Harus Salafi?
9 November 2006, 02:54 | Umum | 11.262 views
Apa Arti Empat Bulan Haram?
9 November 2006, 00:53 | Quran | 5.659 views
Cara Bersuci setelah Terkena Tinta, Tip-ex, atau Cat
7 November 2006, 22:43 | Thaharah | 6.525 views
Asal Muasal Ka'bah
7 November 2006, 22:29 | Haji | 6.398 views
Sikap Menghadapi Adat Istiadat di Sekitar Kita
7 November 2006, 03:49 | Aqidah | 7.868 views
Jika Ada yang Masbuk dalam Shalat Ied
7 November 2006, 03:44 | Shalat | 5.068 views
Cukup Menerima Dalil dari Ulama Zaman Dahulu?
6 November 2006, 05:21 | Hadits | 6.443 views
Ketaatan Kepada Penguasa, Adakah Batasnya?
6 November 2006, 05:11 | Negara | 6.101 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,142,683 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

23-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img