Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Halalkah Bekerja di Media Televisi? (Pertanyaan Lanjutan) | rumahfiqih.com

Halalkah Bekerja di Media Televisi? (Pertanyaan Lanjutan)

Mon 27 November 2006 04:27 | Muamalat | 5.646 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Ustadz yang dirahmati Allah SWT, sebelumnya saya mengucapkan terima kasih atas jawaban pertanyaan yang saya ajukan sebelumnya. Setelah saya membaca, di situ ustadz mengatakan bahwa tidak semua acara di televisi 100% maksiat semua, ok saya setuju dengan pendapat itu. Yang ingin saya tanyakan adalah:

1. Berarti pendapatan stasiun televisi itu tidak 100% halal semua, begitu juga tidak 100% haram semua?
2. Sementara dari pendapatan stasiun televisi itu di antaranya dipakai untuk membayar gaji karyawannya, bagaimana kita bisa tahu berapa persentase gaji kita yang halal dan berapa persen yang haram?
3. Apakah perlu kita pilah-pilah dengan asumsi persentase seperti saya sebutkan pada pertanyaan no. 2, karena kita ingin menghindari yang haramnya dan berusaha bersikap wara' misalnya?

Demikian pertanyaan lanjutan dari saya, mohon maaf kalau terlalu kepanjangan, karena saya jadi ikut memikirkan akan kebimbangan kakak saya dalam melangkah ke kehidupan selanjutnya yang jadi agak terhambat dengan adanya masalah ini di antaranya dia jadi ragu-ragu untuk menikah dengan bekerja di stasiun televisi itu.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. Mohon pencerahannya.

Wassalam,

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bersikap wara' memang baik, tetapi juga harus diimbangi dengan ilmu. Sebab bila tidak, sikap wara' malah akan menjerumuskan dan membuat kita tidak bisa hidup tenang.

Kalau kita bicara secara ilmu halal dan haram, maka pada dasarnya selam kita tidak terlibat secara langsung dengan transaksi yang haram, maka kita tidak akan terkena keharamannya.

Contoh mudahnya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, beliau berjualan dan makan rizqidan mengambil keuntungan bertransaksi dengan orang yahudi. Padahal para yahudi ini makan riba, suka memeras, menipu dan punya sumber-sumber pemasukan yang tidak halal lainnya. Tapi Rasulullah SAW tidak memutuskan kontak bisnis dengan mereka. Bahkan seringkali kita dapati beliau menggadaikan hartanya kepada yahudi.

Kalau kita pakai logika wara' yang ekstrim, maka seharusnya Rasulullah SAW berlepas diri dari makan rizqikarena berbisnis dengan yahudi, yang terkenal suka makan harta yang haram. Tetapi realitasnya, beliau SAW telah melakukannya. Sementara urusan halal dan haram dalam Islam ditetapkan berdasarkan apa yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh beliau SAW.

Kami ingin memberi sedikit contoh perbandingan, untuk sekedar memberi ruang buat anda agarmengambil kesimpulan sendiri.

Di negeri kita ini ada jutaan pegawai negeri yang bekerja setiap hari. Ada yang kerja di kantor, ada yang jadi guru, ada yang jadi petugas di kelurahan, kecamatan, bahkan ada juga yang menjadi petugas Kantor Urusan Agama. Menurut anda, kira-kira gaji yang tiap bulan mereka terima itu halal atau tidak?

Sebelum anda menjawab gaji mereka halal atau tidak, mari kita lihat realitanya dulu:

  1. Bukankah negara kita ini menggaji pegawai negeri dari APBN? Dan bukankah APBN kita ini sebagiannya di dalam dari hutang luar negeri? Bukankah sistem pinjamannya menggunakan sistem riba? Berarti kalau menggunakan logika anda, sekian persen dari keuangan negara kita ini ada haramnya. Jadi negara kita menyelenggarakan keuangan yang bersifat ribawi. Padahal seringan-ringannya dosa riba itu sama seperti menikahi ibu kandung sendiri. Apakah anda ingin mengatakan bahwa gaji pegawai negeri itu halal atau haram?
  2. Ditambah lagi, bank-bank konvensional di negeri ini diberikan 'nafas buatan' oleh negara. Berarti keuangan negara ini tidak lepas dari sistem ribawi juga kan?
  3. Kemudian, ketika gaji kepada pegawai negeri diberikan, mereka menerimanya lewat bank-bank konvensional.

Sekarang silahkan jawab, apakah gaji pegawai negeri itu haram hukumnya? Atau setengah haram? atau bagaimana?

Mari kita lihat lagi contoh lain dan lebih mudah, bukankah anda tiap hari menggunakan listrik, telepon, air dan lainnya. Bukankah semua itu disediakan oleh perusahaan negara (BUMN) atau swasta yang juga tidak lepas dengan sistem ribawi? Kalau menggunakan logika anda, berarti kita semua ini menikmati fasilitas yang beraroma ribawi juga.

Dan yang terakhir, uang kertas dan logam yang ada di saku kita, bukankah itu dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) yang menggunakan sistem ribawi? Berarti setiap orang yang memegang uang tunai tidak lepas dari aroma ribawi.

Karena itu, berdasarkan interaksi bisnis Rasulullah SAW dengan orang kafir dan terutama yahudi, ada semacam garis batas antara hasil keringat langsung yang halal, dengan harta milik orang lain tempat kita menimba nafkah. Keduanya tidak bisa dicampur-aduk begitu saja.

Kecuali bila kita bekerja di tempat yang 100% haram, seperti tempat pelacuran, mafia kejahatan, atau industri obat terlarang, minuman keras dan sejenisnya. Dan kondisi itu, barulah hukumnya haram.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hadits yang Mengharamkan Seseorang Berpuasa
24 November 2006, 10:03 | Hadits | 5.010 views
Dosa Onani Saat Puasa, Bagaimana Membayarnya?
24 November 2006, 09:58 | Puasa | 19.228 views
Halalkah Bekerja di Media Televisi?
23 November 2006, 09:13 | Muamalat | 5.147 views
Nikah Tanpa Wali dan Saksi, Bagaimana Caranya Pisah?
23 November 2006, 06:55 | Nikah | 5.593 views
Kenapa Imam Syafii Menjadikan Qunut Rukun Shalat Shubuh?
23 November 2006, 04:49 | Shalat | 9.766 views
Pernikahan Tanpa Wali Pengantin Pria
20 November 2006, 04:19 | Nikah | 5.054 views
Hukuman Bagi Pemerkosa
20 November 2006, 04:14 | Jinayat | 6.928 views
Hukum Software Bajakan
20 November 2006, 03:43 | Kontemporer | 7.149 views
Ribakah Royalti?
17 November 2006, 02:45 | Kontemporer | 5.046 views
Hukum Kuis Superdeal Milyaran
17 November 2006, 02:41 | Muamalat | 5.259 views
Mendoakan Orang Kena Musibah Agar Sadar
17 November 2006, 02:25 | Umum | 6.053 views
Wali Hakim untuk Janda dan Masa 'Iddah
16 November 2006, 00:09 | Nikah | 6.621 views
Tidak Punya Anak, Ingin Transfer Janin
16 November 2006, 00:04 | Kontemporer | 5.797 views
Cara Menebus Dosa Korban Pemaksaan Homoseks
15 November 2006, 23:59 | Jinayat | 5.038 views
Hadits tentang Tidak Makan Kecuali Lapar
15 November 2006, 23:55 | Hadits | 6.214 views
Shalat Subuh Disaksikan Para Malaikat, Maksudnya?
15 November 2006, 01:14 | Shalat | 8.186 views
Nifas Sudah Selesai, tapi Masih Keluar Darah
14 November 2006, 07:32 | Thaharah | 6.316 views
Menyikapi Orang yang Tidak Ikut Perintah Rasul
14 November 2006, 04:27 | Aqidah | 6.288 views
Makhluk Pertama yang Diciptakan Allah Versi Tasawuf
14 November 2006, 03:49 | Aqidah | 9.645 views
Kenapa al-Quran itu Harus Berbahasa Arab?
10 November 2006, 05:45 | Quran | 6.424 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 37,062,100 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

18-10-2019
Subuh 04:13 | Zhuhur 11:39 | Ashar 14:48 | Maghrib 17:49 | Isya 18:58 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img