Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Menikah dalam Kondisi Hamil | rumahfiqih.com

Menikah dalam Kondisi Hamil

Mon 7 January 2013 22:12 | Nikah | 12.009 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalam'mualaikum wr. wb.

Ustaz yang saya hormati, saya mau tanya, apa hukumnya kalau saya menikah dengan isteri saya dalam keadaan sedang hamil? Apakah saya harus menikah ulang setelah isteri saya melahirkan? Bagaimana caranya membuat keluarga supaya menjadi keluarga yang sakinah? Apa yang harus saya lakukan apabila isteri saya suka berbohong/berselingkuh?

Saya sangat mengharapkan jawaban pak ustaz. Saya ucapkan banyak terima kasih atas saran-sarannya.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Haram hukumnya seorang laki-laki menikahi seorang wanita yang sedang mengandung anak dari orang lain. Karena hal itu akan mengakibatkan rancunya nasab anak tersebut.

Dalilnya adalah beberapa nash berikut ini:

Nabi SAW bersabda, "Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan." (HR Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Hakim)

Nabi SAW bersabda, "Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain." (HR Abu Daud dan Tirmizy)

Adapun bila wanita yang hamil itu diniakhi oleh laki-laki yang menghamilinya di luar nikah, maka umumnya para ulama membolehkannya, dengan beberapa varisasi detail pendapat:

1. Pendapat Imam Abu Hanifah

Imam Abu Hanifah menyebutkan bahwa bila yang menikahi wanita hamil itu adalah laki-laki yang menghamilinya, hukumnya boleh. Sedangkan kalau yang menikahinya itu bukan laki-laki yang menghamilinya, maka laki-laki itu tidak boleh menggaulinya hingga melahirkan.

2. Pendapat Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan laki-laki yang tidak menghamili tidak boleh mengawini wanita yang hamil. Kecuali setelah wanita hamil itu melahirkan dan telah habis masa 'iddahnya.

Imam Ahmad menambahkan satu syarat lagi, yaitu wanita tersebut harus sudah tobat dari dosa zinanya. Jika belum bertobat dari dosa zina, maka dia masih boleh menikah dengan siapa pun. Demikian disebutkan di dalam kitab Al-Majmu' Syarah Al-Muhazzab karya Al-Imam An-Nawawi, jus XVI halaman 253.

3. Pendapat Imam Asy-Syafi'i

Adapun Al-Imam Asy-syafi'i, pendapat beliau adalah bahwa baik laki-laki yang menghamili atau pun yang tidak menghamili, dibolehkan menikahinya. Sebagaimana tercantum di dalam kitab Al-Muhazzab karya Abu Ishaq Asy-Syairazi juz II halaman 43.

4. Undang-undang Perkawinan RI

Dalam Kompilasi Hukum Islam dengan instruksi presiden RI no. 1 tahun 1991 tanggal 10 Juni 1991, yang pelaksanaannya diatur sesuai dengan keputusan Menteri Agama RI no. 154 tahun 1991 telah disebutkan hal-hal berikut:

  • Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.
  • Perkawinan dengan wanita hamil yang disebut pada ayat (1) dpat dilangsungkan tanpa menunggu lebih duhulu kelahiran anaknya.
  • Dengan dilangsungkannya perkawinan pada saat wanita hamil, tidak diperlukan perkawinan ulang setelah anak yang dikandung lahir.

Semua pendapat yang menghalalkan wanita hamil di luar nikah dikawinkan dengan laki-laki yang menghamilinya, berangkat dari beberapa nash berikut ini

Dari Aisyah ra berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR Tabarany dan Daruquthuny).

Juga dengan hadits berikut ini:

Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Isteriku ini seorang yang suka berzina`. Beliau menjawab,`Ceraikan dia`. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. `Kalau begitu mut`ahilah dia`. (HR Abu Daud dan An-Nasa`i)

Tidak Perlu Nikah Ulang

Ketika seorang laki-laki menikah dengan wanita yang terlanjur dihamilinya, maka akad nikahnya itu sudah sah. Sehingga tidak perlu diulangi lagi, karena akad nikah cukup sekali saja. Kalau sudah sah, maka tidak perlu ada pengulangan.

Isteri Suka Berbohong dan Selingkuh

Suami punya kewajiban untuk mengajarkan nilai-nilai yang baik kepada isterinya. Karena itu sejak mulai dari mencari calon isteri, carilah yang sudah baik. Jangan ambil resiko menikahi wanita yang kurang baik, karena hanya membuat anda punya beban yang lebih berat.

Selain itu, pastikan isteri anda bergaul dengan teman yang baik-baik. Karena perilaku seseorang akan sangat dipengaruhi oleh teman pergaulannya. Kalau anda membiarkan isteri anda punya teman yang berakhlak buruk, jangan berharap isteri anda akan jadi isteri yang shalehah.

Selain itu, anda juga wajib menjadi teladan dan contoh hidup buat isteri. Jangan berharap isteri anda shalat dengan baik, bilamana anda sendiri tiak pernah mencontohkannya atau mempeloporinya.

Dan terakhir jangan pernah lupa mendoakan isteri anda agar menjadi isteri shalehah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Imam Membaca Surat Pendek Makmum Membaca Al-Fatihah
6 January 2013, 22:23 | Shalat | 79.618 views
Harta Istri dan Suami Apabila Cerai
6 January 2013, 20:47 | Nikah | 31.208 views
Kalung Emas Tidak Dizakati Selama 20 Tahun
5 January 2013, 21:23 | Zakat | 8.910 views
Keluar dari Suatu Jamaah, Murtadkah Saya?
4 January 2013, 15:08 | Dakwah | 10.200 views
Benarkah Pemeluk Madzhab Syafi'i Ahli Bid'ah?
4 January 2013, 02:00 | Ushul Fiqih | 17.793 views
Talfiq Antar Mazhab, Apa Maksud dan Pengertiannya
4 January 2013, 01:22 | Ushul Fiqih | 24.623 views
Istri Menikah Lagi Sebelum Habis Masa 'Iddah
4 January 2013, 00:47 | Nikah | 9.578 views
Perbedaan Antara Syariah dan Fiqih
3 January 2013, 02:50 | Ushul Fiqih | 49.052 views
Jawaban Shalat Istikharah Apakah Harus Mimpi?
3 January 2013, 01:05 | Shalat | 25.128 views
Haruskah Memilih Satu Jama'ah Tertentu?
3 January 2013, 00:46 | Dakwah | 10.075 views
Shalat Jama' Qasar dan Batasan Luar Kota
2 January 2013, 03:44 | Shalat | 34.075 views
Nabi dan Rasul Selain Muhammad SAW Beragama Apa Ya?
1 January 2013, 23:55 | Aqidah | 10.997 views
Adakah 'Bidadara' di Surga Nanti?
1 January 2013, 23:47 | Aqidah | 12.922 views
Apakah Uang Kertas Haram?
1 January 2013, 04:14 | Muamalat | 12.180 views
Hukum Mawaris dan Konsep Keluarga Dalam Islam
1 January 2013, 02:58 | Mawaris | 6.772 views
Khawatir Dzikir Bersama Malam Tahun Baru Jadi Budaya
31 December 2012, 12:25 | Kontemporer | 9.223 views
Berteman tapi Mesra
31 December 2012, 12:05 | Kontemporer | 10.324 views
Cara Elegan Dalam Menghadapi Pemikiran Liberal
31 December 2012, 02:12 | Umum | 9.616 views
Hubungan Fiqih dan Etika
29 December 2012, 04:37 | Ushul Fiqih | 7.300 views
Merry Christmas BUKAN Merry X'Mas
29 December 2012, 03:23 | Aqidah | 10.943 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,143,627 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

24-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img