Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Waktu Terlarang untuk Jima | rumahfiqih.com

Waktu Terlarang untuk Jima

Wed 24 January 2007 23:24 | Nikah | 8.238 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum wr. wb

Mohon maaf pak ustadz. Sebagai pengantin baru, saya ingin bertanya sesuatu yang bersifat agak pribadi.

Pertanyaan saya adalah: Kapankah berhubungan suami isteri itu dilarang? Adakah hari-hari atau tanggal tertentu, atau jam-jam tertentu, yang kita dilarang melakukannya?

Kemudian, berapa kali batas minimal dan maksimal kita dibolehkan melakukannya? Mohon maaf pak ustadz kalau pertanyaan saya ini kurang sopan. Tetapi betul-betul karena saya takut seandainya melanggar larangan Allah.

Atas kesediaan pak ustadz menjawab pertanyaan saya yang 'aneh' ini, saya ucapkan banyak terima kasih.

Wassalam wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pada dasarnya, pasangan suami isteri dibolehkan melakukan hubungan seksual kapan saja. Tidak ada aturan tertentu yang melarang untuk melakukannya. Boleh dilakukan malam hari atau pun siang hari. Bahkan termasuk juga pagi dan petang.

Juga tidak ada larangan untuk melakukannya beberapa kali dalam sehari. Semua tergantung kebutuhan dari kedua belah pihak.

Asalkan bukan saat harus melakukan shalat wajib yang dikhawatirkan waktu akan habis. Atau dilakukan terlalu sering sehingga sampai meninggalkan kewajiban dan pekerjaan yang lebih penting dan bermanfaat.

Yang terakhir ini, tidak berlaku buat pengantin baru. Karena umumnya pengantin baru memang memerlukan waktu yang lebih intensif untuk berbulan madu.

Bahkan ada larangan bila melakukannya terlalu jarang, sebab sebagai manusia, punya fitrah kebutuhan biologis yang tidak bisa dinafikan begitu saja. Dan untuk itu Allah SWT mensyariatkan nikah. Salah satunya untuk menyalurkan kebutuhan paling asasi bukan spisies bernama manusia.

Bahkan para isteri pasukan yang sedang perang diberi hak oleh khalifah Umar untuk mendapatkan layanan suaminya. Maka diperintahkan kepada pasukan untuk pulang dari medan perang dan tidak terlalu lama meninggalkan isteri mereka.

Adapun waktu khusus yang di dalamnya diharamkan hubungan suami isteri, hanya ada beberapa saja, antara lain:

1. Saat Isteri Sedang Haidh

Diharamkan bagi suami melakukan hubungan suami isteri pada saat isteri sedang haidh. Dan serupa dengan haidh adalah nifas, menurut sebagian ulama.

Dalilnya adalah firman Allah SWT:

Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah, "Haidh itu adalah suatu kotoran." Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah: 222)

Ayat ini jelas sekali menerangkan haramnya bersetubuh dengan isteri saat sedang mendapat haidh. Yang dilarang sebenarnya jima', bukan sekedar bercumbu. Percumbuan dengan isteri pada saat haidh, diboleh. Asalkan tidak sampai jima'.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW:

Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa orang-orang Yahudi bila isteri mereka mendapat haidh tidak memberinya makan. Sedangkan Rasulullah SAW bersabda, "Lakukan segala sesuatu dengan isterimu (yang sedang haidh) kecuali jima'. (HR Muslim)

Bukan hanya membolehkan mencumbu isteri saat sedang haidh, namun beliau SAW sendiri juga telah melakukannya dengan Aisyah ra saat sedang mendapat haidh. Namun beliau SAW memerintahkan Aisyah mengenakan sarung saat bercumbu dengannya.

Dari Aisyah ra berkata, "Rasulullah SAW meminta aku memakai sarung, lalu beliau mencumbu diriku, padahal Aku dengan haidh. (HR Bukhari dan Muslim)

2. Saat Sedang Berpuasa Ramadhan

Puasa Ramadhan hukumnya wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun wanita. Di antara larangan ketika sedang berpuasa Ramadhan adalah melakukan hubungan suami isteri pada siang hari.

Dalilnya adalah firman Allah SWT:

Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam, janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 287)

Allah menegaskan di dalam ayat ini bahwa berhubungan suami isteri di siang hari bulan Ramadhan adalah pelanggaran terhadap hudud dari Allah. Biasanya, kalau Allah mengancam seseorang dengan dosa hudud, berarti dosa itu termasuk kabair, yaitu dosa besar.

Buktinya, pelanggaran itu mewajibkan pelakunya membayar denda kaffarah yang teramat berat.

3. Saat Sedang Ihram

Pada saat sedang ihram baik untuk umrah atau pun untuk haji, seseorang diharamkan melakukan hubungan seksual dengan isterinya.

Dalilnya adalah firman Allah SWT:

Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (QS. Al-Baqarah: 197)

Demikianlah beberapa momentum yang kita dilarang Allah SWT untuk melakukan jima' (persetubuhan).

Wallahu a'lam bishshawab, Wasalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Wajibkah Beasiswa Dizakatkan?
24 January 2007, 23:22 | Zakat | 5.591 views
Berzina Adalah Dosa Besar Apakah Dapat Terampuni?
23 January 2007, 23:40 | Jinayat | 6.742 views
Sholat Jum'at Kurang dari 40 Orang
23 January 2007, 23:39 | Shalat | 8.964 views
"Kamu Mirip Ibumu", Apakah Termasuk Zihar?
23 January 2007, 23:35 | Nikah | 6.994 views
Hari-Hari Haram Berpuasa Sunnah
23 January 2007, 23:28 | Puasa | 6.386 views
Kenapa Ada Perbudakan Pada Masa Kerasulan?
23 January 2007, 02:11 | Umum | 6.119 views
Ingin Tahu Tentang Tasawuf
23 January 2007, 00:08 | Aqidah | 9.882 views
Hukum Meminjam Uang di Koperasi Simpan Pinjam
23 January 2007, 00:07 | Muamalat | 7.297 views
Apakah Agama Ilmu Eksak atau Bukan
22 January 2007, 04:28 | Aqidah | 4.794 views
Bolehkah Seorang PNS Buka Usaha?
22 January 2007, 04:17 | Negara | 4.810 views
Kenapa Al-Quran Ada Dua?
22 January 2007, 04:14 | Quran | 6.298 views
Mengapa Ada Hadits Qudsi, Kan Sudah Ada Al-Quran?
18 January 2007, 23:12 | Hadits | 7.252 views
Bagaimana Mendapat Jawaban Shalat Istikharah?
18 January 2007, 23:11 | Shalat | 6.704 views
Sejarah Islam Terkontaminasi
18 January 2007, 06:18 | Umum | 5.824 views
Ibnu Taimiyah Apakah Termasuk Mujtahid Mutlak
18 January 2007, 04:55 | Ushul Fiqih | 7.808 views
Merayakan Hari Ulang Tahun atau Kelahiran
18 January 2007, 02:53 | Kontemporer | 6.284 views
Adakah Dalil Shahih Qunut Subuh?
17 January 2007, 10:21 | Shalat | 6.955 views
Pengajian dengan Memakai Musik
17 January 2007, 10:13 | Dakwah | 7.621 views
Shahabat Nabi Saling Berbunuhan: Bagaimana Posisi Kita?
15 January 2007, 23:50 | Aqidah | 6.332 views
Hukum Air Liur dan Sholat
15 January 2007, 23:47 | Thaharah | 6.835 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,078,166 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img