Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Apakah Ber-KB Itu Dosa? | rumahfiqih.com

Apakah Ber-KB Itu Dosa?

Wed 28 February 2007 08:35 | Kontemporer | 6.047 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamualaikum wr wb...

Ustad yang dirahmati Allah,

Saya mau tanya masalah keluarga Berencana (KB).Ada yang bilang kalau KB itu tidak boleh, karena mengurangi jumlah umat Islam. Dalil mereka bahwa rasulullah SAW senang dengan umat yang banyak. Seingat saya dalam Islam ada bentuk KB yang namanya uzl, sementara sekarang ini ada alamat kontrasepsi.

Bagaimana hukumnyaber-KB dengan mengunakan alamat tersebut, apakah dosa kalau gunakan salah satu alat tersebut, bagaimana solusi biar tidak dosa tapi kita bisa juga menjaga jarak antara satu anak dengan anak yang lain?

Atas jawaban ustad makasih.

Wassalamualaikum wr wb

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Memang benar bahwa Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk memiliki keturunan yang banyak. Namun tentunya bukan asal banyak, tetapi berkualitas. Sehingga perlu dididik dengan baik sehingga mengisi alam semesta ini dengan manusia yang shalih dan beriman.

Sejak dari memilih calon isteri, Rasulullah SAW mengisyaratkan untuk mendapatkan isteri yang punya potensi untuk memiliki anak.

Nikahilah wanita yang banyak anaknya karena aku (Rasulullah SAW) berlomba dengan umat lainnya dalam banyaknya umat pada hari qiyamat (HR Ahmad dan Ibnu Hibban).

Namun perintah memilih wanita yang subur sebanding dengan perintah untuk memilih wanita yang shalihah dan baik keIslamannya.

Dunia itu adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangan adalah wanita yang shalihah.

Dalam hadits lain disebutkan:

Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena agamanya, nasabnya, hartanya dan kecantikannya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat.

Dalam pandangan Islam, anak merupakan karunia dan rezeki sekaligus yang harus disyukuri dan disiapkan dengan sebaik-baiknya.

Namun hal itu tidak berarti kerja orang tua hanya sekedar memproduksi anak saja. Masih ada kewajiban lainnya terhadap antara lain mendidiknya dan membekalinya dengan beragam ilmu dan hikmah.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa: 9)

Mengatur Jarak Kelahiran

Selain menganjurkan memperbanyak anak, Islam juga memerintahkan untuk memperhatikan kualitas pendidikan anak itu sendiri. Dan di antara metode untuk mengotimalkan pendidikan anak adalah dengan mengatur jarak kelahiran anak.

Hal ini penting mengingat bila setiap tahun melahirkan anak, akan membuat sang ibu tidak punya kesempatan untuk memberikan perhatian kepada anaknya. Bahkan bukan perhatian yang berkurang, nutrisi dalam bentuk ASI yang sangat dibutuhkan pun akan berkurang. Padahal secara alamiyah, seorang bayi idealnya menyusu kepada ibunya selama dua tahun meski bukan sebuah kewajiban.

Dan Kami perintahkan kepada manusia kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.(QS. Luqman: 14)

Inilah motivasi yang paling bisa diterima oleh syariat berkaitan dengan pencegahan sementara atas kehamilan. Sedangkan pencegahan kehamilan karena motivasi karena takut miskin atau takut tidak mendapatkan rezeki akibat persaingan hidup yang semakin ketat, tidak bisa diterima oleh Islam.

Karena ketakutan itu sama sekali tidak berdasar dan hanya hembusan dan syetan atau oang-orang kafir yang tidak punya iman di dalam dada.
Karena jauh sebelum bumi ini dihuni oleh manusia, Allah sudah menyiapkan semua sarana penunjang kehidupan. Hewan dan tumbuhan sudah disiapkan untuk menjadi rezeki bagi manusia. Allah sudah menjamin ketersediaan makanan dan minuman serta semua sarana penunjang kehidupan lainnya di bumi ini.

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (QS. Huud: 6).

Dan berapa banyak binatang yang tidak membawa rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Ankabut: 60)

Sehingga membunuh anak karena motivasi takut lapar dan tidak mendapat rizki adalah perkara yang diharamkan oleh Islam.

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka(QS. Al-An`am: 151)

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar.(QS. Al-Isra: 31)

Syarat Dibolehkannnya Penggunaan Alat Pencegah Kehamilan
Secara umum pencegahan kehamilan itu hukum dibolehkan, asal memenuhi dua persyaratan utama:

1. Motivasi
Motivasi yang melatar-belakanginya bukan karena takut tidak mendapat rezeki. Yang dibenarkan adalah mencegah sementara kehamilan untuk mengatur jarak kelahiran itu sendiri.

Atau karena pertimbangan medis berdasarkan penelitian ahli medis berkaitan dengan keselamatan nyawa manusia bila harus mengandung anak. Dalam kasus tertentu, seorangwanita bila hamil bisa membahayakan nyawanya sendiri atau nyawa anak yang dikandungnya. Dengan demikian maka dharar itu harus ditolak.

2. Metode atau alat pencegah kehamilan
Metode pencegah kehamilan serta alat-alat yang digunakan haruslah yang sejalan dengan syariat Islam. Ada metode yang secara langsung pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW dan para shahabat dan ada juga yang memang diserahkan kepada dunia medis dengan syarat tidak melanggar norma dan etika serta prinsip umum ketentuan Islam.

Contoh metode pencegah kehamilan yang pernah dilakukan di zaman Rasulullah SAW adalah 'azl.

Dari Jabir berkata:` Kami melakukan `azl di masa Nabi saw sedang Al-Qur`an turun (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir berkata: `Kami melakukan `azl di masa Rasulullah saw, dan Rasul mendengarnya tetapi tidak melarangnya` (HR muslim).

Sedangkan metode di zaman ini yang tentunya belum pernah dilakukan di zaman Rasulullah SAW membutuhkan kajian yang mendalam dan melibat para ahli medis dalam menentukan kebolehan atau keharamannya.

Wallahu 'alam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Mengapa Harus Memilih Islam?
28 February 2007, 07:50 | Aqidah | 5.661 views
Asuransi Kesehatan Konvensional, Haramkah?
28 February 2007, 04:14 | Muamalat | 5.861 views
Menghilangkan Tradisi Kejawen
27 February 2007, 07:51 | Kontemporer | 6.160 views
Jika Anak Bertanya Tuhan Ada di Mana?
27 February 2007, 01:07 | Aqidah | 8.213 views
Berdosakah Imam Malik Saat Mengatakan Qunut Subuh Bid'ah
27 February 2007, 00:13 | Shalat | 7.760 views
Muamalah Gadai Dalam Islam
26 February 2007, 23:44 | Muamalat | 9.869 views
Sikap yang Terbaik Masalah Perbedaan Qunut
26 February 2007, 00:19 | Shalat | 6.448 views
Terlambat Shalat Jumat, Harus Bagaimana?
23 February 2007, 08:09 | Shalat | 6.237 views
Mas Kawin Tidak Sama dengan yang Diucapkan Dalam Akad
23 February 2007, 03:46 | Nikah | 5.546 views
Apakah Hukumnya Musik Menurut Islam?
22 February 2007, 07:39 | Umum | 24.751 views
Bid'ah di Tengah Kita
22 February 2007, 03:58 | Umum | 7.113 views
Berwudhu' Tanpa Melepas Sepatu
21 February 2007, 06:43 | Thaharah | 7.132 views
Syarat Sebuah Hadits Shahih
20 February 2007, 02:39 | Hadits | 5.771 views
Al-Quran Bukan Berbahasa Arab, Benarkah?
20 February 2007, 01:54 | Quran | 6.421 views
Hukum Mengubur Ari-Ari Bayi
18 February 2007, 23:34 | Umum | 28.618 views
Adakah Keharusan Mengikuti Salah Satu Mazhab?
16 February 2007, 00:53 | Ushul Fiqih | 7.117 views
Kriteria Miskin
16 February 2007, 00:40 | Zakat | 7.851 views
Bagaimana Membedakan Magis dan Ilmu Pengetahuan?
15 February 2007, 03:44 | Aqidah | 5.896 views
Pakaian Celana Panjang untuk Laki-Laki
15 February 2007, 02:52 | Umum | 7.357 views
Partai Politik dan Perdebatan
14 February 2007, 09:38 | Negara | 5.289 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,359,122 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-9-2019
Subuh 04:27 | Zhuhur 11:47 | Ashar 14:59 | Maghrib 17:52 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img