Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hoka-Hoka Bento Halal? | rumahfiqih.com

Hoka-Hoka Bento Halal?

Mon 5 March 2007 22:10 | Kuliner | 5.576 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Pa ustad, di tempat saya bekerja sering diadakan rapat membahas program kerja dan lainya, dan di setiap rapat itu pula selalu ada makan siang untuk peserta rapat.

Yang saya tanyakan apakah makanan bermerk "hoka-hoka bento" halal? Karena hampir menu ini dijadikan menu favorit para pimpinan (bos) di setiap rapat. Buat saya sangat dilematis, satu sisi memang waktu makan dan tidak ada makanan lain, sisi lain saya khawatir kalo yang saya makan tidak jelas halal haramnya (tidak terdapat logo halal di box/ kemasan).

Mohon bantuan jawabannya pa ustadz.

Jazakallah khoiron katsiron

Wassalmu'alaikum wr. Wb

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam masalah ini ada dua pendekatan. Pertama, pendekatan hukum fiqih. Kedua, pendekatan tasawuf.

1. Pendekatan Hukum Fiqih

Kalau kita menggunakan pendekatan hukum fiqih, maka status suatu makanan itu belum bisa berubah menjadi haram, kecuali ada ketetapan yang meyakinkan tentang keharamannya. Bila belum ada kepastian, maka hukumnya kembali kepada hukum asal, yaitu halal.

Sebab hukum segala sesuatu pada dasarnya halal, sebagaimana kaidah fiqih menyebutkan: al-ashlu fil asy-ya'i al-ibahah. Selama kita tidak melihat secara pisik adanya indikasi keharaman atau kenajisan, atau belum dibuktikan lewat pengujian ilmiyah secara langsung, maka kita tidak boleh 'main vonis' secara general.

Kisah yang kita dapat dari masa nabi SAW justru menguatkan hal-hal seperti ini. Pernah beliau ditanya oleh para shahabat tentang kebolehan memakan daging pemberian suatu kaum. Para shahabat agak ragu tentang kehalalannya, persi seperti yang sedang anda alami sekarang ini. Maka beliau SAW memerintahkan untuk membaca basmalah sebelum memerintahkan untuk menyantapnya.

Kalau kita pahami dari kisah ini, seolah beliau SAW menghalalkan hal-hal yang sebelumnya telah diragukan oleh para shahabat. Namun sesuai dengan logika fiqih, keraguan itu tidak bisa atau belum bisa dijadikan alasan untuk mengubah status hukum.

Dalam kaidah fiqhiyah yang kita pelajari, ada disebutkan: al-yaqinu la yazuulu bisy-syakki. Suatu hukum yang telah ditetapkan berdasarkan sesuatu yang yakin, tidak bisa hilang hukumnya hanya karena sesuatu yang bersifat syak wasangka.

Maka makanan yang beredar di tengah umat Islam, meski tidak ada pengesahan dari suatu lembaga tertentu tentang kehalalannya, tidak bisa divonis hukumnya menjadi haram, tanpa ada penelitian khusus yang bisa meyakinkan munculya keharaman.

Pendekatan kedua, pendekatan tasawuf. Disebut dengan tasawuf maksudnya karena lebih menekankan sikap di dalam hati, berupa kehati-hatian dan wara'. Pendekatan ini jauh dari masalah hukum.

Adalah hak setiap muslim untuk menjaga diri dari hal-hal yang meragukan hatinya. Apabila seseorang kurang yakin atas kehalalan suatu makanan, meski tidak ada fatwa yang mengharamkannya, tidak mengapa bila dia tidak menyantap makanan itu, sebagai sebuah sikap wara' (hati-hati) dari terkena kemungkinan jatuh kepada yang haram.

Di dalam dunia tasawuf, pendekatan ini sangat diutamakan, meski mereka pun sadar bahwa keraguan tidak bisa mengubah status hukum suatu hal. Sehingga, para pelaksana tasawuf memang tidak pernah mengharamkan sesuatu buat orang lain, kecuali hanya berlaku untuk diri sendiri. Dan sikap seperti ini pada batas-batas tertentu memang sangat dianjurkan.

Bila anda tertarik menggunakan pendekatan ini, silahkan tinggalkan makan makanan seperti itu. Misalnya, anda tetapkan hanya untuk diri anda sendiri bahwa semua makanan bermerek yang tidak ada label halalnya, tidak akan anda santap. Kalau anda tetapkan untuk diri sendiri karena berangkat dari sikap kehati-hatian, sungguh merupakan sebuah ibadah dengan nilai tersendiri.

Mengapa ibadah tersendiri? Sebab anda rela tidak makan dan menahan lapar, demi sekedar menjaga diri dari kemunkginan makan makanan yang anda kurang tahu hukumnya.Ketika anda direpotkan membawa nasi bungkus dari rumah, atau keluar cari warteg dengan biaya sendiri, tentu ada nilai tersendiri di sisi Allah.

Namun anda tidak punya hak dan otoritas untuk memaksakan sikap subjektif anda kepada orang lain, karena pendekatan anda hanyalah sebuah pendekatan pribadi yang bersifat kebersihan individual. Secara hukum fiqih, biar bagaimana pun tetap dibutuhkan penelitian ilmiyah secara langsung atas makanan tersebut, sampai bisa dikeluarkan fatwa keharamannya. Dan selama belum ada fatwa tentang keharamannya, kita tidak mungkin memvonisnya sebagai haram. Maka hukumnya kembali kepada hukum asal segala sesuatu.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hijab Walimah
5 March 2007, 04:03 | Nikah | 5.248 views
Tawaf di Kubur Imam Asy-Syafi'i
4 March 2007, 23:56 | Aqidah | 6.110 views
Celana atau Sarung Menutup Sampai Mata Kaki
4 March 2007, 23:55 | Hadits | 7.252 views
Daging Anjing
2 March 2007, 04:08 | Kuliner | 5.053 views
Keaslian Al-Qur'an Secara Logika
2 March 2007, 01:57 | Umum | 5.297 views
Hukum Nikah Jarak Jauh
1 March 2007, 04:06 | Nikah | 5.604 views
Apakah Ber-KB Itu Dosa?
28 February 2007, 08:35 | Kontemporer | 5.973 views
Mengapa Harus Memilih Islam?
28 February 2007, 07:50 | Aqidah | 5.580 views
Asuransi Kesehatan Konvensional, Haramkah?
28 February 2007, 04:14 | Muamalat | 5.802 views
Menghilangkan Tradisi Kejawen
27 February 2007, 07:51 | Kontemporer | 6.097 views
Jika Anak Bertanya Tuhan Ada di Mana?
27 February 2007, 01:07 | Aqidah | 8.061 views
Berdosakah Imam Malik Saat Mengatakan Qunut Subuh Bid'ah
27 February 2007, 00:13 | Shalat | 7.645 views
Muamalah Gadai Dalam Islam
26 February 2007, 23:44 | Muamalat | 9.758 views
Sikap yang Terbaik Masalah Perbedaan Qunut
26 February 2007, 00:19 | Shalat | 6.397 views
Terlambat Shalat Jumat, Harus Bagaimana?
23 February 2007, 08:09 | Shalat | 6.178 views
Mas Kawin Tidak Sama dengan yang Diucapkan Dalam Akad
23 February 2007, 03:46 | Nikah | 5.507 views
Apakah Hukumnya Musik Menurut Islam?
22 February 2007, 07:39 | Umum | 24.344 views
Bid'ah di Tengah Kita
22 February 2007, 03:58 | Umum | 7.019 views
Berwudhu' Tanpa Melepas Sepatu
21 February 2007, 06:43 | Thaharah | 7.012 views
Syarat Sebuah Hadits Shahih
20 February 2007, 02:39 | Hadits | 5.713 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,716,565 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-8-2019
Subuh 04:41 | Zhuhur 11:57 | Ashar 15:18 | Maghrib 17:58 | Isya 19:06 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img