Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hak Waris Cucu dari Anak Perempuan | rumahfiqih.com

Hak Waris Cucu dari Anak Perempuan

Wed 14 March 2007 04:08 | Mawaris | 6.306 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum wr wb.

Kami terdiri dari 5 bersaudara (1 laki-laki dan 4 perempuan) Ibu kami telah meninggal dunia tahun 2000 dan mempunyai 2 orang kakak laki-laki (paman kami), pada tahun 2005 dan 2006 kedua kakek dan nenek kami meninggal dunia dan mewariskan sebuah rumah.

Bagaimanakah pembagian hak waris Ibu kami, apakah kami sebagai cucunya juga mendapatkan hak atas hak waris Almarhum Ibu kami karena menurut Paman kami, kami tidak berhak mendapatkan warisan sedangkan kami sangat membutuhkan.

Sebelumnya kami ucapkan terima kasih,

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam hukum waris secara Islam, memang dikenal sebuah aturan hijab. Hijab artinya penutup. Maksudnya bahwa seorang yang termasuk dalam daftar ahli waris tertutup haknya -baik semua atau sebagian- dari harta yang diwariskan.

Sehingga orang yang terhijab ini bisa berkurang haknya atau malah sama sekali tidak mendapatkan harta warisan. Kalau hanya berkurang, disebut dengan istilah hijab nuqshan. Sedangkan kalau hilang 100%, disebut dengan istilah hijab hirman.

Yang menyebabkan adanya seorang ahli waris terhijab adalah keberadaan ahli waris yang lebih dekat kepada almarhum. Dan contoh yang paling nyata adalah kasus anda. Ketika seorang meninggal dunia dan meninggalkan anak dan cucu, maka yang mendapat warisan hanya anak saja, sedangkan cucu tidak mendapat warisan. Karena kedudukan cucu lebih jauh dari kedudukan anak. Atau boeh dibilang, keberadaan anak akan menghijab cucu dari hak menerima warisan.

Dan dalam contoh ini, hijab yang berlaku memang hijab hirman, yaitu hijab yang membuat si cucu menjadi kehilangan haknya 100% dari harta warisan.

Ada dua ilustrasi yang mungkin bisa membantu pemahaman ini. Ilustrasi pertama, mungkin anda bisa memahaminya dengan mudah. Tapi yang sering kurang dipahami adalah ilustrasi kedua, karena agak aneh namun memang demikian aturannya.

Pada diagram sebelah kiri, ktia dapati ilustrasi pertama. Seorang almarhum yang wafat, maka anaknya akan mendapat warisan. Namun cucunya yang posisinya ada di bawahnya, jelas tidak akan dapat warisan. Karena antara cucu dengan almarhum, dihijab oleh anak.

Pada diagram yang di sebelah kanan, almarhum punya 2 orang anak, anak 1 dan anak 2.Anak 2 punya anak lagi dan kita sebut cucu [anak2]. Seandainya anak 2 wafat lebih dahulu dari almarhum, maka cucu [anak2] tidak mendapat warisan.

Mengapa?

Karena almarhum masih punya anak 1, maka anak 1 ini akan menghijab cucu [anak 2]. Sehingga warisan hanya diterima oleh anak 1 sedangkan cucu [anak2] tidak mendapat warisan. Dia terhijab oleh pamannya, yaitu anak 1.

Walaupun dalam diagram itu, tidak ada penghalang antara cucu dengan almarhum, namun keberadaan anak akan menghijab cucu, meski cucu itu bukan anak langsung dari anak.

Hukum Waris Tidak Adil?

Kalau memang demikian ketentuannya, mungkin yang terbetik di kepala kita adalah tuduhan bahwa hukum waris Islam tidak adil. Sebab cucu yang miskin tidak dapat warisan dari kakeknya, sementara paman yang mungkin berada dan kaya, malah dapat warisan.

Masalah ini kemudian dijawab, bahwa di luar aturan hijab menghijab, masih ada aturan bagi waris lain yang akan menambal kekurangan masalah ini.

Di antaranya adalah adanya wasiat wajibah.

Wasiat wajibah adalah wasiat yang diwajibkan oleh penguasa kepada kakek untuk disampaikan, di mana isinya sang kakek harus berwasiat untuk memberi sebagian dari hartanya kepada si cucu yang terhijab. Dan wasiat itu harus dilakukan sejak sang kakek masih hidup, terhitung sejak ayah dari cucu itu meninggal dunia.

Agar jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di atas, yaitu cucu tidak mendapat warisan dan semua warisan dimakan oleh paman-pamannya.

Sistem ini sudah berlaku di Mesir khususnya pada kasus yang seperti anda alami sekarang ini.

Seandainya tidak ada wasiat wajibah, cara lain yang bisa digunakan adalah dengan meminta kepada para paman itu untuk memberi sebagain dari harta yang mereka dapat dari warisan. Hak ini ditetapkan oleh Al-Quran sendiri, sehingga para paman itu tidak bisa menolak.

Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.(QS. An-Nisa': 8)

Ada kewajiban di pundak para paman itu untuk memberi sebagian harta yang mereka terima dari warisan itu kepada keponakannya yang terhijab. Para keponakan itu akan mendapat sebagian harta itu dengan tiga posisi sekaligus, yaitu sebagai:

  1. Kerabat
  2. Anak Yatim (terutama kalau masih kecil-kecil)
  3. Orang miskin (terutama kalau memang miskin)

Jadi secara realitanya, meski tidak mendapatkan harta secara bagi waris, tetapi dipastikan akan mendapat harta secara wasiat oleh almarhum atau pemberian langsung oleh para paman. Dan kedua cara itu didasari juga oleh dalil-dalil syar'i.Hanya saja tidak ada ketentuan tentang besarannya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Ribakah Simpanan di Koperasi
14 March 2007, 02:31 | Muamalat | 6.868 views
Fiqih Lintas Agama Cak Nur
13 March 2007, 04:27 | Kontemporer | 10.323 views
Shalat Jum'at Harus 40 Orang?
13 March 2007, 03:11 | Shalat | 9.626 views
Wajibkah Kita Menjadi Jamaah Suatu Kelompok?
13 March 2007, 02:32 | Dakwah | 6.430 views
Definisi Madzhab
12 March 2007, 00:39 | Ushul Fiqih | 6.576 views
Khatib Jumat Grogi, Jamaah Tertawa
12 March 2007, 00:35 | Shalat | 6.968 views
Al-Quran Membolehkan Menyetubuhi Budak?
12 March 2007, 00:10 | Quran | 7.344 views
Benarkah Tape Sama dengan Khamar?
9 March 2007, 03:06 | Kuliner | 6.834 views
Dokter Memegang Aurat Pasien Wanita Bukan Mukhrim
9 March 2007, 00:51 | Wanita | 6.733 views
Hikmah di Balik Jatuhnya Garuda
8 March 2007, 03:44 | Kontemporer | 4.977 views
Yahudi dan Invasinya
8 March 2007, 03:25 | Umum | 5.277 views
Larangan Lewat di Depan Orang yang Sedang Sholat
7 March 2007, 03:34 | Shalat | 7.195 views
Haramkah Berpartai?
6 March 2007, 23:43 | Negara | 5.411 views
Qaul Qadim dan Qaul Jadid
6 March 2007, 01:17 | Ushul Fiqih | 10.819 views
Masalah Shalat Akhwat
5 March 2007, 22:52 | Hadits | 5.780 views
Hoka-Hoka Bento Halal?
5 March 2007, 22:10 | Kuliner | 5.809 views
Hijab Walimah
5 March 2007, 04:03 | Nikah | 5.431 views
Tawaf di Kubur Imam Asy-Syafi'i
4 March 2007, 23:56 | Aqidah | 6.351 views
Celana atau Sarung Menutup Sampai Mata Kaki
4 March 2007, 23:55 | Hadits | 7.582 views
Daging Anjing
2 March 2007, 04:08 | Kuliner | 5.261 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,406,797 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

14-12-2019
Subuh 04:09 | Zhuhur 11:49 | Ashar 15:16 | Maghrib 18:06 | Isya 19:20 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img