Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Orang Tua Jualan Rokok | rumahfiqih.com

Orang Tua Jualan Rokok

Sat 24 March 2007 11:17 | Kontemporer | 5.625 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum ustadz,

Berhubungan dengan masalah tanya jawab mengenai haramnya rokok, saya termasuk yang mengikuti fatwa haramya rokok, sementara orang tua saya barangkali yang taqlid dan mencontoh para kyai mereka yang tidak mengharamkan rokok.

Saat ini Ortu saya berjualan rokok di rumah, meski pada saat mau berjualn saya sudah mengingatkan secara halus dan menyampaikan mudhorot -mudhorotnya(tidak mengatakan secara tegas haramnya rokok) maupunsaya sampaikan secara tegas adanya fatwa haram.

Sampai saat isteri saya hampir melahirkan, saya jadikan kelahiran anak kami sebagai alasan untuk tidak lagi berjualan rokok bila cucu beliau lahir kelak. Tapi tetap saja mereka berjualan.

Pertanyaan saya, bagaimana hukumnya saya memakan makan mereka di rumah mereka, sementara bisa jadi uang yang digunakan untuk membeli makan itu tercampur dari hasil berjualan rokok, sementara saya mengharamkan rokok.?

Jazzakallah khoir.

Wasalamu'alaikum..

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Kalau anda termasuk orang yang berpendapat bahwa rokok itu haram, maka seharusnya anda juga konsekuen dengan variannya. Bukan hanya rokok yang haram, tetapi jual beli rokok juga haram bagi anda. Dan keuntungan dari menjual rokok itu haram juga, tapi hanya khusus berlaku buat anda. Tidak berlaku buat orang tua anda, karena tidak termasuk yang mengharamkannya.

Sebenarnya di sinilah letak titik masalahnya. Janganlah kita terlalu mudah menjatuhkan vonis haram atas suatu hal. Sebab mengharamkan sesuatu, selain harus punya dalil yang qath'i, juga punya banyak konsekuensi.

Ketika anda sampai pada kesimpulan bahwa rokok itu haram, tentu anda harus siap dengan semua konsekuensinya. Maka anda diharamkan untuk memakan harta dari hasil penjualan rokok orang tua anda. Itu adalah resiko yang harus anda terima. Jangan bersikap mencla-mencle, apalagi mudah ikut-ikutan.

Fatwa haramnya rokok tidak disepakati oleh semua ulama, karena itu tidak ada kewajiban bagi anda untuk latah ikut-ikutan mengharamkannya. Biarkanlah para ulama mengharamkannya, anda sebenarnya tidak perlu sampai mengharamkannya.

Bahwa anda memilih untuk tidak merokok, sungguh sebuah sikap yang sangat baik. Tetapi anda harus sadar bahwa meninggalkan rokok itu tidak sama dengan mengharamkan rokok. Meninggalkan rokok tentu berpahala, asal diniatkan meninggalkan tabzir dan hal-hal yang merusak tubuh. Tetapi kalau sampai mengharamkan, tentu sangat berbeda. Mengharamkan adalah mengeluarkan fatwa keharaman rokok.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sampai hari ini belum pernah mengeluarkan fatwa haramnya rokok. Bukan berarti mereka tidak tahu bahaya rokok, juga bukan karena mereka suka rokok, namun karena berfatwa mengharamkan rokok itu punya banyak konsekuensi. Sangat dimungkinkan para anggota MUI itu tidak merokok, karena mereka sadar akan bahaya rokok. Namun untuk sampai mengharamkan, tentu mereka punya banyak pertimbangan.

Maka sebagai muslim yang baik, kita pun jangan terlalu gegabah untuk berfatwa mengharamkan rokok. Sebaiknya anda tidak merokok, tapi jangan terlalu ringan untuk mengeluarkan fatwa keharamannya. Dan hal itu karena adanya beberapa alasan:

  1. Berfatwa atas haramnya suatu hal adalah hak preogratif para ulama. Bila kita tidak punya kapasitas ulama, sebaiknya kita tidak mengeluarkan fatwa.
  2. Para ulama tidak satu kata tentang haramnya rokok. Sebagian kecil ulama secara terang-terangan mengharamkan rokok, namun umumnya tidak secara mutlak mengharamkan.
  3. Mengharamkan rokok berarti mengharamkan semua hal yang ada sangkut pautnya dengan rokok. Dan akibatnya menjadi sangat berat. Dan karena itu anda jadi bingung sendiri dengan 'fatwa' anda yang sudah terlanjur mengharamkan, sebab orang tua anda sendiri malah jualan rokok, dan anda ikut makan hasilnya. Maka senjata makan tuan jadinya.

Kita sepakat bahwa rokok itu memberikan madharat yang sangat besar, namun untuk mengambil fatwa keharamannya, kita perlu mempertimbangkan banyak hal.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Kamus Al-Munjid
23 March 2007, 03:57 | Kontemporer | 7.431 views
Khilaf Para Ulama
23 March 2007, 03:28 | Hadits | 8.060 views
Arti dan Kedudukan Hadist Shahih terhadap AlQuran
23 March 2007, 02:37 | Hadits | 6.721 views
Ibnu Hajar dan Imam Nawawi Vs Bin Baz Tentang Hukum Isbal
22 March 2007, 14:42 | Hadits | 17.502 views
Menyandang Gelar Haji, Riya' atau Bukan?
22 March 2007, 04:10 | Kontemporer | 6.669 views
Hukum Berniaga di Dalam Masjid
22 March 2007, 03:15 | Muamalat | 6.814 views
Mengapa Rasulullah SAW Tidak Disebut 'almarhum'?
21 March 2007, 21:00 | Umum | 6.807 views
Kartu Kredit, Haramkah?
21 March 2007, 07:53 | Muamalat | 7.316 views
Doa untuk Orang yang Meninggal
21 March 2007, 01:40 | Aqidah | 9.933 views
Pengertian Syubhat dan Perbedaan Dua Hadits
20 March 2007, 02:37 | Hadits | 7.891 views
Nasib Mantan Musyrik
19 March 2007, 22:22 | Aqidah | 5.867 views
Wasiat Ayah yang Meninggal
19 March 2007, 21:52 | Mawaris | 5.646 views
Rukun Jual Beli dan yang Boleh Diperjualbelikan Dalam Syariah
17 March 2007, 06:38 | Muamalat | 13.180 views
Muhadditsin Vs Fuqaha Dalam Hukum Musik
16 March 2007, 09:01 | Ushul Fiqih | 9.312 views
Dalil Berambut Pendek dan Panjang
16 March 2007, 03:13 | Umum | 5.279 views
Jual Jilbab Kecil (Tidak Syar'i) Hukumnya Apa?
16 March 2007, 02:57 | Muamalat | 5.715 views
Hukum Menggarap Sawah Gadai
15 March 2007, 03:39 | Muamalat | 6.143 views
Warisan untuk 3 Anak Laki dan 3 Anak Perempuan
15 March 2007, 02:31 | Mawaris | 5.893 views
Sejauh Mana Sudah Perjalanan Wahabi?!
14 March 2007, 23:45 | Aqidah | 10.805 views
Tes Kesehatan Dironsen Buka Baju, Bagaimana?
14 March 2007, 04:38 | Kontemporer | 6.500 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,363,061 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-9-2019
Subuh 04:27 | Zhuhur 11:47 | Ashar 14:59 | Maghrib 17:52 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img