Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Menggerakkan Jari Saat Tahiyat, Mana yang Sunnah? | rumahfiqih.com

Menggerakkan Jari Saat Tahiyat, Mana yang Sunnah?

Fri 1 July 2016 04:35 | Shalat | 16.311 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. Wb.

Ustadz yang dirahmati Allah swt, saya ingin menanyakan hal yang sederhana tetapi mengusik juga karena berkaitan dengan ibadah yang paling penting bagi seorang muslim, yaitu shalat.

Saya ingin menanyakan soal menggerakkan jari telunjuk saat tahiyat dalam shalat. Dalil-dalilnya apa saja? Digerakkan saat membaca syahadat saja atau dari awal sampai akhir? Dan bagaimana cara menggerakkannya, dinaik-turunkan atau diputar?

Selama ini saya hanya menaikkan telunjuk sejenak saat membaca syahadat. Kemudian saya menonton vcd shalat nabi, dan melihat bahwa harus menggerakkan telunjuk. Saya coba membaca buku Sifat Shalat Nabi, tetapi tidak ada penjelasan yang rinci soal kapan dan bagaimana menggerakkan telunjuk ini.

Atas jawaban dari ustadz saya ucapkan terima kasih. Semoga saya bisa menyempurnakan shalat saya.

Wassalamu;alaikum wr. Wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Masalah menggerakkan jari telunjuk saat tahiyat di dalam shalat adalah masalah khilafiyah yang termasuk paling klasik. Kami katakan klasik, karena sejak zaman dahulu, para ulama sudah berbeda pendapat. Perbedaan pendapat di antara mereka tidak kunjung selesai sampai ribuan tahun lamanya, bahkan sampai hari ini.

Masalahnya bukan karena para ulama itu hobi berbeda pendapat, juga bukan karena yang satu lebih shahih dan yang lain kurang shahih. Juga bukan karena yang satu lebih mendekat kepada sunnah dan yang lain kurang dekat. Masalahnya sangat jauh dan tidak ada kaitannya dengan semua itu.

Titik masalahnya hanya kembali kepada cara memahami naskah hadits, di mana ada dalil yang shahih yang disepakati bersama tentang keshahihannya, namun dipahami dengan cara yang berbeda oleh masing-masing ulama.

Sayangnya, teks hadits itu sendiri memang sangat dimungkinkan untuk dipahami dengan cara yang berbeda-beda. Alias tidak secara spesifik menyebutkannya dengan detail dan rinci.

Yang disebutkan hanyalah bahwa Rasulullah SAW menggerakkan jarinya, tetapi apakah dengan teknis terus-terusan dari awal tahiyat hingga selesai, ataukah hanya pada saat mengucapkan 'illallah' saja, tidak ada dalil yang secara tegas menyebutkan hal-hal itu.

Dalil-dalil tentang Menggerakkan Jari

Dari Wail bin Hujr berkata tentang sifat shalat Rasulullah SAW, "Kemudian beliau mengengga dua jarinya dan membentuk lingkaran, kemudian mengangkat tangannya. Aku melihat beliau menggerakkan jarinya itu dan berdoa". (HR Ahmad, An-Nasai, Abu Daud dan lainnya dengan sanad yang shahih)

Dari Abdullah bin Umar ra berkata, "Rasulullah SAW bila duduk dalam shalat meletakkan kedua tangannya pada lututnya, mengangkat jari kanannya (telunjuk) dan berdoa". (HR Muslim)

Dengan adanya kedua dalil ini, para ulama sepakat bahwa menggerakkan jari di dalam shalat saat tasyahhud adalah sunnah. Para ulama yang mengatakan hal itu antara lain adalah Al-Imam Malik, Al-Imam Ahmad bin Hanbal serta satu pendapat di dalam mazhab Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahumullah.

Tinggal yang jadi titik perbedaan adalah cara mengambil pengertian dari kata 'menggerakkan'.

  • Sebagian ulama seperti kalangan mazhab As-Syafi'i mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menggerakan hanyalah sekali saja, yaitu pada kata 'illallah'. Setelah gerakan sekali itu, jari itu tetap dijulurkan dan tidak dilipat lagi. Demikian sampai usai shalat.
  • Sebagian lainnya malah sebaliknya. Seperti kalangan mazhab Al-Hanafiyah yang mengatakan bahwa gerakan menjulurkan jari itudilakukan saat mengucapkan kalimat nafi (Laa illaha), begitu masuk ke kalimat isbat (illallaah) maka jari itu dilipat kembali. Jadi menjulurkan jari adalah isyarat dari nafi dan melipatnya kembali adalah isyarat kalimat itsbat.
  • Sebagian lainnya mengerakkan jarinya hanya pada setiap menyebut lafadz Allah di dalam tasyahhud. Seperti yang menjadi pendapat kalangan mazhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal.
  • Dan sebagian lainnya mengatakan bahwa tidak ada ketentuannya, sehingga dilakukan gerakan jari itu sepanjang membaca tasyahhud. Yang terakhir itu juga merupakan pendapat Syeikh Al-Albani. (Lihat kitab Sifat Shalat Nabi halaman 140). Sehingga beliau cenderung mengambil pendapat bahwa menggerakkan jari dilakukan sepanjang membaca lafadz tasyahhud.

Akan tetapi, sekali lagi kami katakan itu adalah ijtihad karena tidak adanya dalil yang secara tegas menyebutkan hal itu. Sehingga antara satu ulama dengan ulama lainnya sangat mungkin berbeda pandangan. Selama dalil yang sangat teknis tidak atau belum secara spesifik menegaskannya, maka pintu ijtihad lengkap dengan perbedaannya masih sangat terbuka luas.

Dan tidak ada orang yang berhak menyalahkan pendapat orang lain, selama masih di dalam wilayah ijtihad. Pendeknya, yang mana saja yang ingin kita ikuti dari ijtihad itu, semua boleh hukumnya. Dan semuanya sesuai dengan sunnah nabi Muhammad SAW.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Sesama Pendukung Zakat Profesi Masih Beda Pendapat
28 June 2016, 08:00 | Zakat | 9.653 views
Puasa Sudah Batal, Apakah Masih Wajib Berimasak Menahan Diri Dari Makan dan Minum?
22 June 2016, 13:21 | Puasa | 7.578 views
Tukar Uang Receh Menjelang Lebaran, Ribakah?
21 June 2016, 02:34 | Muamalat | 14.292 views
Puasalah Kamu Akan Sehat, Ternyata Hadits Palsu?
16 June 2016, 02:19 | Hadits | 17.766 views
Zakat untuk Janin
14 June 2016, 15:22 | Zakat | 5.799 views
Junub dalam Keadaan Puasa Dapat Membatalkan Puasa?
8 June 2016, 02:00 | Puasa | 8.046 views
Menikahi Wanita Hamil, Haruskah Nikah Ulang Pasca Kelahiran?
7 June 2016, 02:47 | Nikah | 83.955 views
Doa Buka Puasa Allahumma Laka Shumtu Bukan Hadits Shahih?
6 June 2016, 08:45 | Hadits | 13.289 views
Amalan Nisfu Syaban
22 May 2016, 02:20 | Puasa | 27.612 views
Hadits Tentang Nisfu Sya'ban dan Dalil-Dalilnya
21 May 2016, 05:05 | Hadits | 303.045 views
Hukum Hadiah dari Suatu Perlombaan yang Berasal dari Uang Pendaftaran
18 May 2016, 05:00 | Muamalat | 26.436 views
Benarkah Hukum Imunisasi Mutlak Haram?
14 May 2016, 04:50 | Kontemporer | 55.444 views
Metode Hisab Untuk Penetapan Ramadhan & Syawwal
11 May 2016, 06:15 | Puasa | 8.374 views
Haruskah Kita Berobat Dengan Pengobatan Nabawi?
9 May 2016, 07:00 | Kontemporer | 10.531 views
Bolehkah Menjamak Shalat Tanpa Sebab Safar, Takut atau Hujan
7 May 2016, 08:45 | Shalat | 15.492 views
SMS Berhadiah PILDACIL, Haramkah?
29 April 2016, 16:36 | Muamalat | 5.695 views
Mengapa Zakat Hadiah Tidak Bisa Diqiyas Dengan Zakat Rikaz
28 April 2016, 18:00 | Zakat | 5.717 views
Mereka Yang Diharamkan Berfatwa
24 April 2016, 20:22 | Ushul Fiqih | 8.509 views
Memanggil 'Mama' untuk Isteri Termasuk Zhihar?
23 April 2016, 08:01 | Nikah | 11.393 views
Benarkah Zakat Profesi Itu Cuma Hasil Ijtihad?
22 April 2016, 06:41 | Zakat | 18.196 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,870,694 views