Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Antara Berbekam dan Thaharah | rumahfiqih.com

Antara Berbekam dan Thaharah

Mon 23 April 2007 01:21 | Thaharah | 5.523 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalaamualaikum.

Ustadz, dilihat dari proses mengeluarkan racun melalui bekam bila diamati berarti esensinya mensucikan darah dari racun = thaharah cuma beda objek. Apakah bekam hukumnya bisa wajib?

Ana melihat proses bekam berkembang dilihat dari aspek teknologi yang digunakan (contoh: pakai lanset dan cop). Sebenarnya praktek yang digunakan Nabi Muhammad bagaimana?

Adakah panduan dalam Al-Quran atau Hadits dalam berbekam?

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Secara nash, kita memang menemukan banyak hadits yang menyebutkan tentang hijamah (berbekam) yang mengarah kepada hukum yang mewajibkan. Namun sebenarnya para ulama masih berbeda pendapat tentang hukumnya, bahkan masih juga berbeda pendapat tentang apakah hijamah itu bagian dari syariat atau bukan.

Di antara nash tentang hijamah (berbekam) antara lain:

Dari Jabir bin Abdillah ra bahwa dia berkata kepada orang sakit yang dijenguknya, "Tidak akan sembuh kecuali dengan berbekam. Sungguh aku mendengar Rasulullah SAW berkata bahwa pada berbekam itu ada kesembuhan." (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Salma pelayan Rasulullah SAW berkata bahwa tidak ada seorang pun yang mengadukan penyakitnya kepada Rasulullah SAW di kepala kecuali beliau memerintahkan, "Berbekamlah." (HR Abu Daud dengan isnad hasan)

Dari Abi Hurairah ra berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, "Berbekamlah (pada tanggal) 17, 19 dan 21. Karena itu obat dari segala penyakit. (HR Abu Daud dengan isnad hasan dengan syarat dari Muslim)

Dr. Yusuf Al-Qaradawi dan juga banyak ulama di masa lalu, ketika membahas tentang hukum hijamah ini, berpendapat bahwa hijamah tidak lebih dari sebuah teknologi kesehatan yang sedang berkembang di masa lalu. Kalau pun ada riwayat bahwa nabi Muhammad SAW melakukan hijamah (dibekam), bukan berarti hal itu menjadi bagian dari risalah beliau sebagai nabi.

Menurut beliau, ketika nabi memberi pengarahan tentang berbekam, beliau sedang tidak dalam kapasitas sebagai pembawa risalah, melainkan sebagai orang yang punya pengalaman teknis dengan hijamah. Jadi sekedar ijtihad, bukan syariat yang turun dari langit.

Persis dengan kasus ketika beliau mengatur posisi pasukan dalam perang Badar. Oleh para shahabat yang jauh lebih berpengalaman, petunjuk nabi ini dianggap kurang tepat. Setelah memastikan bahwa ketetapan itu bukan wahyu melainkan hanya ijithad nabi belaka, maka posisi pasukan pun diubah supaya lebih menguntungkan. Dan hal itu sangat dimungkinkan.

Tentang adanya tindakan nabi yang menjadi bagian dari syariah dan bukan syariah, kalau kita telusuri dalam literatur, kita akan bertemu dengan sebuah kitab yang sangat menarik dalam membahas hal ini. Penulisnya adalah Syeikh Ad-Dahlawi.

Dalam kitabnya, Hujjatullah Al-Balighah, beliaumengatakan bahwa sunnah (perkataan dan perbuatan) nabi itu terbagi menjadi dua klasifikasi:

  1. Pertama, bagian yang terkait dengan hukum syariah, di mana hukumnya bisa ditetapkan menjadi 5, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.
  2. Kedua, bagian yang tidak terkait dengan hukum syariah, melainkan sekedar menjadi bagian dari fenomena sosial, teknologi dan hal-hal yang berbau teknis pada zaman dan wilayah tertentu.

Dan praktek hijamah ini dikelompokkan sebagai perbuatan nabi SAW yang bukan termasuk syariah. Sehingga hukumnya tidak terkait dengan hukum wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Hukumnya dikembalikan kepada semata-mata pertimbangan logika dan pengalaman empiris. Kalau ternyata teknologi hijamah itu masih bisa cocok dan sesuai dengan ilmu kesehatan yang berkembang sekarang, maka silahkan dipakai. Tetapi kalau tidak, maka tinggalkan saja.

Maka kalau kita menggunakan logika Ad-Dahlawi, silahkan saja gunakan teknologi hijamah ini bila secara empiris dan ilmu kesehatan dianggap sangat bermanfaat. Tetapi agaknya tidak ada kaitannya dengan hukum wajib atau sunnah. Semua dikembalikan kepada manfaatnya.

Adapun tentang penggunaan beragam peralatan dan perkembangan teknologi hijamah, silahkan saja dikembangkan sebebas-bebasnya, karena masalah ini bukan ritual agama. Misalnya dengan teknologi plester seperti koyo yang bisa menyerap 'darah kotor'. Tentu sangat praktis dan bisa didapat dipinggir jalan serta bisa digunakan kapan saja.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Kenapa Air Liur Anjing Najis?
23 April 2007, 00:49 | Thaharah | 6.566 views
Bintang untuk Melempar Setan?
19 April 2007, 22:48 | Quran | 6.047 views
Olahraga di Tempat Umum Bagi Muslimah
19 April 2007, 21:42 | Wanita | 5.843 views
Cara Mendoakan Orang yang Sudah Meninggal
18 April 2007, 22:53 | Aqidah | 24.690 views
Bingung Pembagian Warisan
18 April 2007, 02:15 | Mawaris | 4.990 views
Bisakah Kita Berbicara dengan Allah
16 April 2007, 23:47 | Aqidah | 6.011 views
Belajar Islam Ikut Jamaah Hijrah
16 April 2007, 22:49 | Aqidah | 6.266 views
Asal Segala Sesuatu Adalah Halal
16 April 2007, 06:09 | Ushul Fiqih | 11.580 views
Haramkah Dapat Pinjaman dari Perusahaan?
13 April 2007, 03:58 | Muamalat | 4.962 views
Lelaki dengan 2 Mantan Isteri
13 April 2007, 02:21 | Mawaris | 5.359 views
Apa Hukumnya Wanita Tidak Khitan
12 April 2007, 00:48 | Wanita | 6.635 views
Bagaimanakah Walimah yang Dicontohkan Nabi
11 April 2007, 04:04 | Nikah | 5.550 views
Benarkah Maulid Nabi Bukan dari Madzhab Syafi'i?
10 April 2007, 05:13 | Kontemporer | 7.330 views
Pulang ke Jakarta, Masihkah Boleh Jama' Qashar?
10 April 2007, 05:01 | Shalat | 5.535 views
Ereksi Saat Shalat
10 April 2007, 02:29 | Shalat | 6.468 views
Ucapan 'amin' dari Mana Asalnya?
9 April 2007, 08:48 | Shalat | 5.629 views
Apakah Kita Harus Mengikuti Mazhab?
4 April 2007, 23:05 | Ushul Fiqih | 6.104 views
Niat Mandi Junub dan Tata Caranya
4 April 2007, 22:09 | Thaharah | 9.140 views
Apakah Kutubussittah Sudah Ditakhrij?
4 April 2007, 02:54 | Hadits | 7.767 views
Sikap Keras kepada Pelaku Bid'ah
3 April 2007, 23:19 | Umum | 6.594 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,716,592 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-8-2019
Subuh 04:41 | Zhuhur 11:57 | Ashar 15:18 | Maghrib 17:58 | Isya 19:06 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img