Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bolehkah Dalam Syariat Seorang Suami Menikah Lagi Tanpa Izin Isteri Pertama? | rumahfiqih.com

Bolehkah Dalam Syariat Seorang Suami Menikah Lagi Tanpa Izin Isteri Pertama?

Tue 12 April 2016 11:01 | Nikah | 15.349 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pak ustadz, jikalau ada perempuan yang bersedia menjadi isteri kedua dan juga diizinkan/direstui oleh orang tuanya bolehkah dinikahi? Tetapi tanpa sepengetahuan isteri pertama dan tanpa minta izin dari isteri pertama

Wassalam,

Rief

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau dilihat secara hukum hitam putih, pada dasarnya seorang laki-laki tidak perlu mendapat izin dari siapa pun untuk boleh menikah. Baik untuk menikah yang pertama, kedua, ketiga atau pun yang keempat.

Izin dalam arti dari pihak lain hanya berlaku buat seorang wanita. Yaitu izin dari pihak wali yang dalam hal ini adalah ayah kandungnya sebagai wali mujbir. Sedangkan seorang laki-laki tidak membutuhkan wali atau izin dari pihak mana pun dalam menentukan pernikahannya.

Namun lain urusan izin lain pula urusan musyawarah. Akan lebih baik bila setiap melakukan tindakan hukum, seseorang bermusyawarah terlebih dahulu. Meski pada hakikatnya kalau dilihat dari urusan hak, seseorang berhak untuk kawin lagi, kapan saja dan di mana saja, namun segala sesuatu harus dipertimbangkan masak-masak. Dan musyawarah untuk mempertimbangkan segala resiko dari dampak poligami sangat penting dan fatal.

Apalagi mengingat kultur bangsa Indonesia yang boleh dibilang 'anti poligami', baik secara sadar atau tidak sadar. Namun begitulah kira-kira gambaran masyarakat kita, kalau urusan dzikir, hadir di majelis taklidan meramaikan ibadah ritual, mungkin cukup jempolan. Tetapi giliran bicara poligami, tetap saja mayoritas tidak setuju.

Bukti yang paling sederhana adalah yang baru saja menimpa teman kita, Abdullah Gymnastiar. Setelah sebelumnya dielu-elukan di semua tempat, bahkan wajahnya setiap hari menghiasi media, baik cetak maupun elektronik, lebih populer dari bintang film dan artis, tiba-tiba begitu beliau memutuskan untuk berpoligami yang halal hukumnya, semua seolah menyalahkan dirinya. Sayang sekali, termasuk begitu banyak anak perusahaannya pun harus ikut-ikutan merumahkan para karyawannya. Berat benar ujian yang Allah berikan kepada saudara kita itu.

Pelajaran yang boleh kita ambil, rupanya poligami di negeri ini masih 'diharamkan' oleh publik. Meski dihalalkan oleh syariah Islam. Publik tidak rela, kalau ada tokoh pujaan hati, meski seorang ustadz sekali pun, yang melakukan poligami. Padahal poligami itu halal baginya, tidak melanggar undang-undang apa pun, karena beliau bukan pegawai negeri sipil yang terkena PP sekian dan sekian.

Maka urusan poligami nampaknya bukan urusan hukum semata, bukan juga urusan halal dan haram dari kitabullah dan sunnah rasululullah SAW. Tetapi lebih dari itu, adalah urusan perasaan hati publik yang kira-kira juga menggambarkan urusan hati seorang wanita isteri pertama yang dikecewakan. Setidaknya, dikecewakan menurut publik, meski Teh Ninik sendiri tidak merasa kecewa barangkali. Namun itulah sebuah potret reaksi negatif atas sebuah tindakanhalal poligami.

Maka bila anda berniat untuk menikah lagi, tidak usah khawatir dari sisi hukum syariah, karena hukumnya 100% halal dan sama sekali tidak syarat untuk minta izin kepada isteri pertama atau izin dari siapapun. Tetapi di luar urusan halal dan haram, ada banyak pertimbangan yang perlu anda pertimbangakan dan anda timbang-timbang dengan timbangan yang seimbang. Karena itulah Allah SWT menghalalkan poligamidengan syarat keseimbangan (adil).

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. An-Nisa': 3)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Empat Kriteria Judi Yang Diharamkan
11 April 2016, 11:10 | Muamalat | 4.416 views
Menikahkan Wanita Hamil, Ayahnya Tidak Merestui
9 April 2016, 01:45 | Nikah | 9.257 views
Jual Beli Online Haramkah?
8 April 2016, 04:09 | Muamalat | 11.154 views
Hukum Menjual Dropshipping, Apakah Halal?
6 April 2016, 05:04 | Muamalat | 157.135 views
Islam Dituduh Haus Darah, Bagaimana Menjawabnya?
2 April 2016, 14:42 | Aqidah | 10.129 views
Shalat Belum Dikerjakan Terlanjur Haidh
24 March 2016, 17:00 | Wanita | 12.577 views
Apakah Anak Hasil Zina Dapat Warisan?
23 March 2016, 02:56 | Mawaris | 10.531 views
Benarkah Yang Dimakan Nabi Adam adalah Buah Khuldi?
22 March 2016, 06:01 | Aqidah | 16.040 views
Habis Wudhu, Mana Lebih Utama Dilap Atau Dibiarkan?
18 March 2016, 11:55 | Thaharah | 63.948 views
Mau Belanja Online Bolehkah Pinjam Kartu Kredit Milik Teman?
16 March 2016, 11:30 | Muamalat | 5.335 views
Catatan 8 Kali Gerhana di Masa Nabi SAW
10 March 2016, 00:01 | Umum | 4.677 views
Jakarta Mengalami Gerhana Cuma 88% Persen, Masihkah Disyariatkan Shalat Gerhana?
7 March 2016, 11:30 | Shalat | 9.080 views
Istilah Quran Yang Beda Antara Makna Harfiyah dan Maksudnya
1 March 2016, 11:00 | Quran | 6.592 views
LGBT : Operasi Ganti Kelamin, Haramkah?
15 February 2016, 10:23 | Kontemporer | 13.485 views
Bolehkah Uang Zakat Untuk Membangun Masjid dan Membiayai Dakwah?
13 February 2016, 06:10 | Zakat | 7.289 views
Mazhab Cuma Pendapat Manusia, Buang Saja Cukup Quran dan Sunnah
10 February 2016, 09:20 | Ushul Fiqih | 22.890 views
Bingung, Ini Hibah atau Wasiat?
15 December 2015, 04:52 | Mawaris | 10.857 views
Lima Sisi Kekuatan Pribadi Ulama Yang Dinantikan
14 December 2015, 08:52 | Ushul Fiqih | 9.862 views
Air Bekas Diminum Kucing, Najiskah?
11 December 2015, 10:44 | Thaharah | 12.131 views
Kedudukan Hadits Perpecahan Umat Jadi 73 Golongan
9 December 2015, 23:43 | Hadits | 15.906 views

TOTAL : 2.301 tanya-jawab | 27,666,692 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema