Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Zakat untuk Pembangunan Masjid dan Pesantren | rumahfiqih.com

Zakat untuk Pembangunan Masjid dan Pesantren

Mon 30 July 2007 02:24 | Zakat | 5.704 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum,

Ustadz, saya ingin menanyakan beberapa hal:

1. Apakah sah zakat untuk pembangunan masjid dan pesantren? Saya baca di salah satu fiqih sehari-sehari kalau zakat tersebut tidak sah, apakah hal tersebut benar dan apaka zakat saya harus di ulang? Mohon penjelasannya.

2. Apakah zakat itu harus menunggu 1 tahun ataua setiap bulan (setelah gajian) dikeluarkannya.

3. Bagaimana cara mengitung zakat yang benar, seperti setiap bulan saya harus bayar cicilan rumah atau mobil. Apakah hal itu harus dihitung atau penghitungan zakat diluar itu?

Sekian pertanyaan dari saya, atas bantuannya saya ucapkan terimakasih.

Wassalam,

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya kalau merujuk kepada sistem zakat di masa Rasulullah SAW, zakat-zakat itu tidak diserahkan langsung kepada mustahiq. Tetapi diserahkan kepada para petugas pemungut zakat. Kira-kira mirip dengan petugas pajak di masa sekarang ini.

Dengan demikian, tidak akan terjadi masalah yang anda tanyakan. Tidak akan muncul pertanyaan seperti bolehkah zakat diserahkan kepada si Anu dan si Anu? Atau untuk lembaga ini dan itu?

Karena hak untuk menyerahkan dana zakat ada di tangan para 'amilin (petugas zakat). Dan tentunya para 'amilin ini adalah orang yang ahli di bidang hukum zakat. Mereka bertugas memungut dan mendistribusikan zakat. Tentu ada aturan, acuan, SOP dan petunjuk pelaksanaannya.

Ashnaf Zakat

Kita sudah tahu bahwa para mustahiq zakat ada 8 kelompok (ashnaf), yaitu seperti yang ditetapkan Allah SWT dalam Al-Quran:

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. At-Taubah: 60)

Kalau kita lihat sekilas ayat ini, maka jelas sekali bahwa yang namanya masjid, musholla, pesantrendan sejenisnya, tidak termasuk ke dalam daftar penerima zakat. Apalagi mengingat ayat ini dimulai dengan lafadz innama, yang fungsinya lil hashr, atau untuk mengkhususkan. Jadi di luar dari yang disebutkan, tidak boleh menerima harta zakat.

Penafsiran

Lalu mengapa ada sebagian kalangan yang memasukkan masjid, pesantren dan sejenisnya sebagai penerima zakat?

Barangkali yang dilakukan adalah qiyas atau perluasan makna dari istilah fi sabilillah. Yaitu shinf (kelompok) ketujuh dari delapan penerima harta zakat yang disebutkan di ayat zakat.

Dan ini memang merupakan objek perdebatan panjang sepanjang sejarah di kalangan para ulama. Sebagian ulama cenderung menyempitkan pengertian fi sabilillah hanya pada tentara yang perang di medan perang. Sebab lafadz fi sabilillah di dalam Al-Quran selalu mengacu kepada medan jihad dan peperangan pisik.

Maka mereka menolakbila masjid, pesantren dan lembaga sejenis dikatakan sebagai perluasan makna fi sabilillah.

Namun sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa makna fi sabilillah sangat luas, tidak terbatas pada perang di medan pertempuran semata, melainkan juga pada segala yang berbau perjuangan membela agama Islam.

Maka mendirikan dan mengelola masjid pun dimasukkan ke dalam kriteria fi sabilillah. Demikian juga dengan mengelola pesantren dan seterusnya.

Jalan Tengah

Untuk mendekatkan perbedaan pendapat di atas, maka ada beberapa ulama yang membuat jalan tengah. Lantaran masing-masing pihakmasih mengandung kebenaran.

Salah satu usulan jalan tengah adalah dengan memiliah kriteria fi sabililah. Misalnya masjid yang didirikan di wilayah minoritas Islam, demikian juga dengan pesantren dan lembaga sejenis. Lembaga seperti itu mirip dengan pasukan tentara yang ada di medan perang, berhadapan langsung dengan lawan untuk mempertahankan agama Islam.

Keberadaan masjid dan pesantren di wilayah minoritas ini ibarat sepasukan tentara di mana mereka menjadi pioner dan agen keIslaman. Bedanya, kalau tentara menggunakan bedil dan mesiu, sedangkan masjid dan pesantren dengan dakwah dan pendidikan. Tetapi targetnya sama, mempertahankan agama Islam.

Menurut sebagian ulama yang mencetuskan jalan tengah ini, bila demikian kondisinya, masjid dan pesantren boleh dimasukkan ke dalam makna fi sabilillah.

Namun tidak semua masjid menyandang misi itu. Betapa banyak masjid yang didirikan di tengah kemegahan, kenyamanan dan boleh dibilang tidak punya tantangan langsung dengan lawan. Demikian juga pesantren dan lembaga sejenis, sudah cukup banyak yang mampu mandiri dan menarik bayaran dari siswanya.

Maka sebaiknya masjid dan pesantren seperti ini tidak diberikan harta dari sumber zakat. Tetapi tetap harus disumbang dari sumber-sumber selain zakat, seperti infaq, waqaf, shadaqah jariah, hibah, sahamdan seterusnya.

Zakat Gajian

Zakat gajian sebenarnya istilah lain dari zakatul mihan wal kasb. Kami sudah sering mengangkat masalah ini, silahkan anda cari dan telaah.

Tetapi intinya, zakat gajian ini idealnya dibayarkan setiap bulan, agar tidak berat bila dibayarkan setahun. Tetapi kalau mau membayar tiap tahun, tidak apa-apa.

Menghitung Zakat

Yang paling sederhana adalah anda angkat telepon ke salah satu lembaga amil zakat dan minta mereka datang menjemput zakat. Mereka akan dengan suka rela menghitungkan zakat anda, karena memang sudah kewajiban mereka sebagai amil zakat.

Dan memang adanya Lembaga Amil Zakat adalah untuk membantu para muzakki untuk membayar zakat sesuai dengan hitungan yang tepat.

Selamat membayar zakat, semoga rizki anda semakin berlimpah dan barakah, Amien.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Abdullah Bin Saba Hanya Khurofat?
27 July 2007, 03:41 | Umum | 4.905 views
Benarkah Kekuatan Jin Lebih Besar dari Manusia?
25 July 2007, 04:58 | Aqidah | 7.341 views
Perbuatan Nabi yang Tidak Harus Diikuti
25 July 2007, 02:49 | Hadits | 7.535 views
Masa Menjelang Persalinan
23 July 2007, 21:45 | Kontemporer | 5.207 views
Apakah Faksi Fatah Termasuk Munafikin?
23 July 2007, 21:25 | Negara | 4.878 views
Bolehkah Percaya kepada Jin Islam
23 July 2007, 03:07 | Umum | 5.926 views
HAMAS dan Yahudi
19 July 2007, 01:07 | Negara | 5.072 views
Makna Shalat dan Perintahnya Dalam Quran
18 July 2007, 00:25 | Shalat | 5.992 views
Tentang Istihsan dan Pengertiannya
17 July 2007, 04:07 | Ushul Fiqih | 11.520 views
Sumpah Jabatan
16 July 2007, 01:59 | Kontemporer | 5.320 views
Pembagian Harta Sebelum Ayah Meninggal, Bolehkah?
13 July 2007, 02:35 | Mawaris | 5.484 views
Dalil-Dalil Tentang Waktu Shalat
13 July 2007, 02:27 | Shalat | 6.696 views
Hadits Kembali dari Jihad Kecil ke Jihad Besar
11 July 2007, 01:15 | Hadits | 6.283 views
Sutra untuk Laki-Laki
10 July 2007, 06:32 | Kontemporer | 4.708 views
Ternyata Adam Dilahirkan?
10 July 2007, 06:26 | Aqidah | 6.869 views
Khatib Kurang Rukun Khutbah
9 July 2007, 02:16 | Shalat | 6.383 views
Salahkah Menitipkan Anak di Pondok Pesantren?
9 July 2007, 01:09 | Dakwah | 5.297 views
Pemboikotan Produk Amerika dan Israel?
6 July 2007, 01:43 | Kontemporer | 5.873 views
Basmalah Dalam Shalat, Dibaca atau Tidak?
5 July 2007, 01:24 | Shalat | 7.246 views
Hak Waris Isteri
4 July 2007, 01:36 | Mawaris | 5.117 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,142,851 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

24-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img