Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Menyentuh Wanita Setelah Wudhu | rumahfiqih.com

Menyentuh Wanita Setelah Wudhu

Fri 10 August 2007 02:43 | Thaharah | 6.549 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Apakah menyentuh wanita setelah wudhu dapat menyebabkan wudhu kita batal? Terima kasih atas jawabanya.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Dalam masalah hukum wudhu', hukum menyentuh wanita bagi seorang laki-laki menjadi maalah yang diperdebatkan. Sebagian ulama mengatakan sentuhan kulit langsung itu membatalkan wudhu'. Sebagian lainnya mengatakan bahwa yang membatalkan hanyalah bila sentuhan itu diiringi dengan syahwat. Sebagian lagi mengatakan bahwa yang batal hanyalah pihak yang menyentuh, sedangkan yang disentuh tidak batal.

Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa sentuhan yang dimaksud bukan sentuhan kulit, melainkan sebuah bahasa ungkapan halus dari hubungan seksual.

Padahal ayat yang mereka gunakan sama, yaitu ayat 23 surat An-Nisa':

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik; sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. (QS. An-Nisa: 23)

Perhatikan terjemahan yang kami tebalkan, kamu telah menyentuh perempuan. Inilah kata yang oleh para ulama diperselisihkan. Uraiannya berikut ini:

a. Pendapat Yang Membatalkan
Sebagian ulama mengartikan kata MENYENTUH sebagai kiasan yang maksudnya adalah jima` (hubungan seksual). Sehingga bila hanya sekedar bersentuhan kulit, tidak membatalkan wuhu`. Ulama kalangan As-Syafi`iyah cenderung mengartikan kata MENYENTUH secara harfiyah, sehingga menurut mereka sentuhan kulit antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram itu membatalkan wudhu`.

Menurut mereka, bila ada kata yang mengandung dua makna antara makna hakiki dengan makna kiasan, maka yang harus didahulukan adalah makna hakikinya. Kecuali ada dalil lain yang menunjukkan perlunya menggunakan penafsiran secara kiasan.

Dan Imam Asy-Syafi`i nampaknya tidak menerima hadits Ma`bad bin Nabatah dalam masalah mencium.

Namun bila ditinjau lebih dalam pendapat-pendapat di kalangan ulama Syafi`iyah, maka kita juga menemukan beberapa perbedaan. Misalnya, sebagian mereka mengatakan bahwa yang batal wudhu`nya adalah yang sengaja menyentuh, sedangkan yang tersentuh tapi tidak sengaja menyentuh, maka tidak batal wudhu`nya.

Juga ada pendapat yang membedakan antara sentuhan dengan lawan jenis non mahram dengan pasangan (suami isteri). Menurut sebagian mereka, bila sentuhan itu antara suami isteri tidak membatalkan wudhu`.

b. Pendapat Yang Tidak Membatalkan
Dan sebagian ulama lainnya lagi memaknainya secara harfiyah, sehingga menyentuh atau bersentuhan kulit dalam arti pisik adalah termasuk hal yang membatalkan wudhu`. Pendapat ini didukung oleh Al-Hanafiyah dan juga semua salaf dari kalangan shahabat.

Sedangkan Al-Malikiyah dan jumhur pendukungnya mengatakan hal sama kecuali bila sentuhan itu dibarengi dengan syahwat (lazzah), maka barulah sentuhan itu membatalkan wudhu`.

Pendapat mereka dikuatkan dengan adanya hadits yang memberikan keterangan bahwa Rasulullah SAW pernah menyentuh para isterinya dan langsung mengerjakan shalat tanpa berwudhu` lagi.

Dari Habib bin Abi Tsabit dari Urwah dari Aisyah ra dari Nabi SAW bahwa Rasulullah SAW mencium sebagian isterinya kemudian keluar untuk shalat tanpa berwudhu`”. Lalu ditanya kepada Aisyah, ”Siapakah isteri yang dimaksud kecuali anda?”. Lalu Aisyah tertawa.(HR Turmuzi Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

Jadi kita tetap akan menemukan sepanjang masa, umat Islam yang berpendapat sesuai dengan pendapat pertama dan kedua. Sebenarnya masing-masing tidak bisa disalahkan, karena kedua pendapat itu lahir dari hasil ijtihad para ulama yang punya kompetensi tingkat tinggi. Jadi silahkan pilih pendapat yang mana saja yang menurut anda lebih kuat.

Namun jangan sekali-kali menyalahkan pendapat orang lain, sekiranya tidak senada dengan pendapat kita. Setidaknya, tidak perlu harus mencaci maki, menjelekkan, mencemooh, apalagi sampai harus menuduhnya sebagai ahli bid'ah atau pun calon penghuni neraka. Cara berbeda pendapat seperti itu kurang mencerminkan kedewasaan dalam etika berilmu. Sebaiknya kita hindari.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Kehidupan Seks Pelaut dan Musafir
7 August 2007, 09:40 | Umum | 9.032 views
Perbedaan Islam Suni dan Islam Syi'ah
7 August 2007, 04:25 | Aqidah | 8.544 views
Situs Penghinaan terhadap Islam
1 August 2007, 08:48 | Umum | 4.504 views
Menikah di Waktu yang Berdekatan dengan Meninggalnya Orang Tua
1 August 2007, 08:00 | Nikah | 4.918 views
Apakah Termasuk yang Mengurangi Timbangan?
1 August 2007, 07:44 | Hadits | 5.135 views
Harta Warisan Harus Segera Dibagikan
31 July 2007, 02:27 | Mawaris | 6.071 views
Bagaimana Hukum Berwudhu Tidak Menghadap ke Arah Kiblat?
31 July 2007, 02:01 | Thaharah | 6.539 views
Zakat untuk Pembangunan Masjid dan Pesantren
30 July 2007, 02:24 | Zakat | 5.565 views
Abdullah Bin Saba Hanya Khurofat?
27 July 2007, 03:41 | Umum | 4.815 views
Benarkah Kekuatan Jin Lebih Besar dari Manusia?
25 July 2007, 04:58 | Aqidah | 7.143 views
Perbuatan Nabi yang Tidak Harus Diikuti
25 July 2007, 02:49 | Hadits | 7.341 views
Masa Menjelang Persalinan
23 July 2007, 21:45 | Kontemporer | 5.115 views
Apakah Faksi Fatah Termasuk Munafikin?
23 July 2007, 21:25 | Negara | 4.790 views
Bolehkah Percaya kepada Jin Islam
23 July 2007, 03:07 | Umum | 5.729 views
HAMAS dan Yahudi
19 July 2007, 01:07 | Negara | 4.985 views
Makna Shalat dan Perintahnya Dalam Quran
18 July 2007, 00:25 | Shalat | 5.809 views
Tentang Istihsan dan Pengertiannya
17 July 2007, 04:07 | Ushul Fiqih | 10.903 views
Sumpah Jabatan
16 July 2007, 01:59 | Kontemporer | 5.226 views
Pembagian Harta Sebelum Ayah Meninggal, Bolehkah?
13 July 2007, 02:35 | Mawaris | 5.357 views
Dalil-Dalil Tentang Waktu Shalat
13 July 2007, 02:27 | Shalat | 6.365 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 33,853,727 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

25-5-2018 :
Subuh 04:35 | Zhuhur 11:51 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:47 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img