Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Masalah Halaqoh dengan Murobbi Lawan Jenis | rumahfiqih.com

Masalah Halaqoh dengan Murobbi Lawan Jenis

Sat 20 October 2007 04:42 | Wanita | 5.792 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Kahal Ustadz? Semoga selalu dalam lindungan dan rahmat Alloh SWT.

Bagaimana menurut pendapat dan solusi ustad Jika sebuah halaqoh akhwat dipegang oleh seorang murobbi ikhwan (status sudah menikah).. apakah ini diperbolehkan? Saya berpikir bahwa kondisi pengajian seperti halaqoh tidak baik, lebih cocok dengan kondisi seperi taklim (lebih dari 20 orang) dengan alasan ketika dengan halaqoh:

  1. tentu bagi seorang akhwat akan sangat malu ketika dalam kondisi haid, kondisinya tersebut diketahui oleh murobbi ikhwan ketika agenda tilawah.
  2. terkadang murobbi ikhwan tersebut ketika ada keperluan dengan mad'unya akhwat langsung telepon bercakap-cakap(tidak melalui SMS) bahkan pernah ketika ada keperluan MR itu telepon berkali-kali dan sengaja memang tidak diangkat agar melalui SMS agar lebih ahsan
  3. rentan peluang tidak adanya ghodul bashor

Jazakalloh atas perhatiannya.

Wassalamu'alaikum Wr Wb

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sesungguhnya pertanyaan anda lebih layak untuk disampaikan kepada departemen kaderisasi, karena biasanya yang punya wewenang atau kebijakan atas apa yang anda tanyakan itu memang mereka.

Kami bukan berada pada posisi sebagai departemen kaderisasi suatu ormas/orsospol yang bertanggung-jawab atas sistem dan managemen sebuah uslub dalam pengkaderan. Kami hanya akan melakukan pendekatan dari sisi syariah saja, dan tidak akan masuk ke dalam wilayah kebijakan atas managemen sebuah halaqah pengkaderan.

Halaqah pengkaderan memang punya karakteristik unik yang berbeda dengan sebuah majelis taklim. Di dalam majelis taklim umumnya, hubungan antara nara sumber atau ustadz dengan murid-muridnya bersifat terbuka, umum dan apa adanya. Tidak melibatkan hal-hal yang spesifik, pribadi dan hubungan khusus yang intens.

Hal itu berbeda dengan hubungan seorang murabbi dalam suatu halaqah pengkaderan dengan para mad'unya. Hubungan yang dibangun lebih intens, unik bahkan melibatkan urusan mendengar dan metaati, setelah sebelumnya dibangun hubungan tsiqah (kepercayaan) antara qiyadah (komandan) dan jundiyah (prajurit).

Dengan demikian, tentunya akan menjadi sulit manakala sang murabbi berbeda jenis kelamin serta bukan mahram terhadap mad'u-nya.

Idealnya memang seperti apa yang anda sampaikan, yaitu seorang murabbi yang memimpin sebuah halaqah para wanita (akhawat) hendaknya beliau juga seorang wanita. Agar tidak terjadi halangan-halangan yang bersifat syar'i. Setidaknya dengan cara itu kita akan terhindar dari fitnah, khususnya dalam hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram.

Dan perlu juga ditekankan, sebenarnya dalam urusan fitnah terhadap wanita, tidak ada beda antara laki-laki yang sudah menikah dengan yang belum menikah. Mereka yang belum menikah tidak selalu lebih berbahaya dari yang sudah menikah. Bahkan dalam banyak kasus, mereka yang sudah menikah pun seringkali mendapat 'kasus' dalam masalah ini.

Namun terkadang apa yang ideal menurut kita, belum tentu bisa didapat pada semua kasus. Di beberapa tempat tertentu, atau pada marhalah (periode) tertentu, mungkin saja tidak terdapat kualifikasi seorang murabbi wanita (akhawat) yang dinilai punya kapasitas yang cukup. Sementara kebutuhan atas adanya halaqah pengkaderan terhadap para akhawat dirasakan cukup besar. Maka dengan pertimbangan tertentu serta mekanisme yang disesuaikan, mungkin saja diambil kebijakan yang jugasedikit disesuaikan. Maksudnya, dimungkinkan adanya halaqah wanita yang dibina oleh seorang ustadz laki-laki.

Tentu yang namanya kebijakan yang tidak sesuai standarnya, maka kebijakan itu harus lahir dari sebuah syura majelis pertimbangan, atau majelis syariah, atau apapun lembaga yang terkait. Bukan ditetapkan secara sepihak oleh orang per orang.

Berbeda dengan fatwa hukum syariah, seorang ahli syariah yang punya kapasitas tertentu, berhak untuk mengeluarkan fatwa pribadinya. Namun apakah fatwa itu mengikat atau tidak, kembali masalahnya kepada kebijakan. Sedangkan yang namanya kebijakan, haruslah merupakan ketetapan yang disepakati bersama(qarar jama'i).

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Shalat Tepat Waktu atau Setelah Jam Kerja?
20 October 2007, 04:40 | Shalat | 7.466 views
Apakah Syetan dan Malaikat Adalah Petugas Allah?
20 October 2007, 04:38 | Aqidah | 6.018 views
Makan Bersama Keluarga Non-Muslim
20 October 2007, 04:37 | Kuliner | 6.260 views
Menyambut Bulan Suci Ramadhan
20 October 2007, 04:36 | Puasa | 9.269 views
Teh Kombucha, Halal atau Haram?
20 October 2007, 04:34 | Kuliner | 17.217 views
Berhutang untuk Pergi Haji
18 October 2007, 21:12 | Haji | 5.648 views
Keluar dari Kelompok Sesat
18 October 2007, 04:53 | Umum | 4.842 views
Menjadikan Ceramah Sebagai Profesi
17 October 2007, 22:30 | Kontemporer | 6.382 views
Ingin Belajar Ilmu Hisab di Dua Kubu yang Berbeda
17 October 2007, 00:01 | Umum | 4.800 views
Memberi Sedekah kepada Pengemis yang Sehat
16 October 2007, 23:28 | Kontemporer | 7.626 views
Mantan Pacar Berzina, Turut Berdosakah Saya?
15 October 2007, 09:26 | Nikah | 6.232 views
Apa Itu Mazi, Mani, atau...?
15 October 2007, 09:25 | Thaharah | 8.072 views
Bagaimana Hukum Takbiran
14 October 2007, 12:41 | Kontemporer | 8.895 views
Arti Ucapan Selamat Lebaran
13 October 2007, 22:42 | Puasa | 7.440 views
Siapa yang Berwenang Menetapkan 1 Syawal?
12 October 2007, 00:12 | Puasa | 5.436 views
Lebaran Hari Ini Tapi Shalat 'Ied Besok?
11 October 2007, 22:53 | Shalat | 5.133 views
Masbuq Shalat 'Ied, Bagaimana Caranya?
11 October 2007, 22:52 | Shalat | 5.944 views
Bacaan Al-Fatihah Makmum Saat Shalat Berjamaah
11 October 2007, 02:36 | Shalat | 7.354 views
Puasa Pada Saat Ada yang Berlebaran Duluan
10 October 2007, 02:32 | Puasa | 5.678 views
Bayar Zakat Fithr Selain Beras
10 October 2007, 00:27 | Zakat | 6.751 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,252,347 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

10-12-2019
Subuh 04:08 | Zhuhur 11:47 | Ashar 15:14 | Maghrib 18:04 | Isya 19:17 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img