Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Mengapa Syariat Sulit Ditegakkan? | rumahfiqih.com

Mengapa Syariat Sulit Ditegakkan?

Mon 20 August 2007 00:05 | Negara | 5.225 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Ust. H. Ahmad Sarwat, Lc. Yang dirahmati oleh Allah swt.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mengapa hukum/syariat sosial Islam sangat sulit ditegakkan di negara ini? Bukankah mayoritas penduduk di Indonesia beragama Islam? Atau jika diibaratkan sebuah perusahaan, Islam adalah pemilik saham yang yang suaranya mutlak!?

Memang... Kita bukan bermaksud ingin mendirikan negara Islam, jika ada pertanyaan seperti itu. Namun tolong diingat, bukankah kita juga bukan negara kapitalis atau liberalis, seperti yang sengaja ataupun tidak sengaja saat ini berlaku di Indonesia.

Jadi selain umat "merapatkan barisan", upaya bijaksana apa lagi yang semestinya dilaksanakan oleh umat untuk menyatakan Kebenaran Islam dan melaksanakan Hukum yang jelas-jelas dibuat oleh Allah Azza wa Jalla Sang MAHA Adil lagi Bijaksana?

Alhamdulillah, terima kasih Ustad,

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Secara historis Islam memang punya saham besar dalam terbentuknya negara ini. Tetapi mau ke mana arah dan sistem kebijakan negara ini, tidak selalu ditentukan oleh pemilik saham mayoritas. Juga bukan ditentukan oleh agama mayoritas penduduknya. Dan tentu saja bukan dengan bentuk negara yang kita katakansebagai negara kapitalis atau bukan kapitalis.

Semua kebijakan ekonomi di negara kita, atau mungkin malah di semua negara lebih ditentukan oleh 'the man behind the gun', yaitu orang yang sedang memerintah saat ini. Istilah mudahnya, ditentukan oleh parapejabat.

Termasuk dalam masalah kebijakan ekonomi, semua ditentukan oleh para pejabat, bukan oleh sejarah masa lalu yang kini nyaris sudah dilupakan orang. Siapa yang menjabat di bidang ekonomi, monenter, perbankan, dan sejenisnya, maka mereka adalah orang-orang yang menentukan arah kebijakan ekonomi negara ini.

Di zaman penguasa orde baru, Soeharto menyebut bahwa ekonomi negara kita adalah ekonomi Pancasila. Lalu ekonomi Pancasila itu apa dan bagaimana? Jawabnya kembali kepada kebijakan subjektif para pejabat yang berkuasa saat itu, tentunya di bawah kemauan Soeharto.

Di zaman pasca reformasi, istilah mungkin bukan ekonomi Pancasila lagi, entah apa namanya. Tetapi seperti apa kebijakannya? Ya tergantung siapa yang sedang jadi penguasa.

Secara agama ritual, para penguasa dan pejabat itumungkin beragama Islam, ikut shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan dan kalau lebaran pakai baju baru ikut makan ketupat. Akan tetapi, pola ekonomi apa yang ditanamkan oleh sekolah atau kampusdi mana mereka belajar dulu? Apakah sistem ekonomi Islam? Apakah hukum-hukum syariah? Rasanya tidak.

Kampus tempat para pejabat ekonomi kita tidak mengajarkan Quran sebagai dasar hidup, apalagi sebagai sistem ekonomi, maka wajar sekali kalau tidak ada sistem Islam di otak mereka. Baik sebagai sistem hidup apalagi sebagai sistem ekonomi.

Sistem hidup dan sistem ekonomi yang ada di kepala mereka, suka atau tidak suka, adalah sistem ekonomi sekuleris kapitalis. Maka apapun kebijakan yang lahir dari mulut mereka, tidak akan jauh-jauh dari induknya. Lalu bagaimana dengan ekonomi syariah? Jawab mereka, "Ah, ke laut aja."

Maka kalau kita ingin melihat syariat Islam ditegakkan di Indonesia, wabil khusus dalam bidang ekonomi, maka kita harus lahirkan dulu seribu orang doktor di bidang ekonomi syariah, yang 'melek' hukum Islam, paham dan mengerti ilmu-ilmu syariah serta cakap dalam memimpin ekonomi sebuah negara. Ini faktor terpenting sebelum segalanya.

Langkah berikutnya, mereka harus bisa kita antarkan untuk bisa duduk menjadi menteri keuangan, gubernur BI, dan jabatan-jabatan yang terkait dengan kebijakan ekonomi moneter. Sehingga kekuasaan dan wewenang memang berada di tangan orang yang tepat. "The right man on the right place."

Sayangnya, sekarang ini umatkita miskin dari orang-orang berilmu di bidangnya secara profesional. Jangankan doktor di bidang ekonomi syariah, sekedar doktor di bidang syariah secara umum pun kita masih tidak punya dalam jumlah yang cukup. Kita miskin sarjana, miskin kiyai, miskin orang pandai, miskin di bidang SDM. Kalau pun kita punya orang pintar, ternyata 'pintar menyantet, pintar meramal kode buntut, pintar jadi dukun', bukan pintar di bidang keilmuan.

Para pejabat negara di bidang ekonomi itu memang muslim, tetapi ilmu yang bersarang di kepala mereka bukan ilmu Islam, melainkan ilmu kapitalis. Jadinya sama saja. Solusi-solusi dari mereka, nyaris tidak sesuai dengan syariah. Jasadnya muslim tetapi fikrahnya buatan luar. Inilah ironi kita sebagai muslim.

Wallahu a'lam bishshawbab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Tentang Larangan Kencing Berdiri
20 August 2007, 00:03 | Thaharah | 7.184 views
Dasar Rujukan Adanya 25 Orang Nabi
20 August 2007, 00:01 | Aqidah | 8.896 views
Jamaah Tabligh Pakai Hadits Dhaif?
16 August 2007, 03:34 | Dakwah | 8.270 views
Pengajian Tarbiyah Vs Pengajian Habaib
16 August 2007, 03:34 | Kontemporer | 9.963 views
Hadits "Islam yang Asing" Vs "Yahudi Dikalahkan"
15 August 2007, 04:08 | Hadits | 6.427 views
Pelatihan Mawaris
14 August 2007, 04:44 | Mawaris | 5.363 views
Fenomena PKS & Kemiripannya dengan Ikhwanul Muslimun
12 August 2007, 22:59 | Negara | 7.004 views
Menyentuh Wanita Setelah Wudhu
10 August 2007, 02:43 | Thaharah | 7.066 views
Kehidupan Seks Pelaut dan Musafir
7 August 2007, 09:40 | Umum | 10.359 views
Perbedaan Islam Suni dan Islam Syi'ah
7 August 2007, 04:25 | Aqidah | 10.238 views
Situs Penghinaan terhadap Islam
1 August 2007, 08:48 | Umum | 4.763 views
Menikah di Waktu yang Berdekatan dengan Meninggalnya Orang Tua
1 August 2007, 08:00 | Nikah | 5.185 views
Apakah Termasuk yang Mengurangi Timbangan?
1 August 2007, 07:44 | Hadits | 5.532 views
Harta Warisan Harus Segera Dibagikan
31 July 2007, 02:27 | Mawaris | 6.551 views
Bagaimana Hukum Berwudhu Tidak Menghadap ke Arah Kiblat?
31 July 2007, 02:01 | Thaharah | 7.104 views
Zakat untuk Pembangunan Masjid dan Pesantren
30 July 2007, 02:24 | Zakat | 5.952 views
Abdullah Bin Saba Hanya Khurofat?
27 July 2007, 03:41 | Umum | 5.114 views
Benarkah Kekuatan Jin Lebih Besar dari Manusia?
25 July 2007, 04:58 | Aqidah | 7.794 views
Perbuatan Nabi yang Tidak Harus Diikuti
25 July 2007, 02:49 | Hadits | 7.900 views
Masa Menjelang Persalinan
23 July 2007, 21:45 | Kontemporer | 5.394 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,107,943 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

7-12-2019
Subuh 04:07 | Zhuhur 11:46 | Ashar 15:12 | Maghrib 18:02 | Isya 19:16 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img