Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Gaji PNS Halalkah? | rumahfiqih.com

Gaji PNS Halalkah?

Sat 20 October 2007 04:55 | Muamalat | 7.042 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Ust. Mau tanya neh....PNS (pegawai negeri sipil) sekarang kan banyak diminati, tapi saya belum yakin apakah gaji rutin perbulan dari PNS itu halal?

Memang gaji PNS didapat mereka karena jasa yang mereka lakukan untuk melayani masyarakat. Masalahnya gaji yang dibayarkan untuk PNS kan berasal dari pendapatan negara, sedangkan pendapatan terbesar negara di dapat dari pajak yang di ambil dari masyarakat.

Masalahnya ga semua pajak datang dari jalan yang halal. Banyak dari pajak itu di ambil dari pajak-pajak tempat hiburan, bar, diskotik dll. jadi menurut ust. Atau ijtihad para ulama yang ust. Ketahui bagaimana seh status kehalalan gaji PNS/ pejabat negara?

Jazakumullah Khair

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seandainya logika yang anda gunakan itu kita jalankan, yaitu kita menganggap bahwa gaji PNS haram lantaran pendapatan negara ada yang bersumber dari yang haram, karena memungut pajak dari yang haram, maka ada banyak masalah yang muncul nantinya.

Kalau uang negara hukumnya haram, maka semua yang dilakukan negara juga haram. Bukankah begitu logikanya?

Nah, kalau semua uang negara haram, maka akan ada begitu banyak kegiatan dan fasilitas yang menjadi haram hukumnya, tidak terbatas pada gaji PNS saja.

Terpikirkah oleh kita bila memang logika itu yang digunakan bahwa listrik itu haram kita gunakan, karena listrik itu dibiayai negara lewat PLN. Artinya, semua lampu di negara ini haram, karena listriknya dibiayai negara.

Dan bukan hanya lampu yang haram, tetapi mesin cuci, setrika, TV, radio, komputer, kulkas, tape, VCD, kamera, telepon, hp, faksimile, microwave, mesin potong rumput, sampai pemanas air juga tidak boleh digunakan. Karena semua hanya bisa hidup kalau pakai listrik. Dan listrik di negeri ini masih disuplai PLN. PadahalPLN disubsidi dari uang negara.

Kita tidak bisa membayangkan sebuah negara tanpa listrik.

Selain listrik, semua kendaraan bermotor, mulai dari sepeda motor, mobil, bus kota, kereta api, pesawat terbang, kapal laut juga haram ditumpangi. Mengapa? Karena semua kendaraan itu menggunakan bahan bakar yang dibiayai atau disubsidi oleh negara.

Kalau semua uang negara haram, jika masih bersikeras menggunakan logika di atas, seharusnya semua kendaraan bermotor haram ditumpangi, bukan?

Bahkan kita pun tidak boleh berjual beli dengan menggunakan uang rupiah, karena uang sebagai alat tukar dibuat oleh negara, dalam hal ini Bank Indonesia dan Peruri. Kesemuanya dibiayai oleh negara. Kalau semua uang negara haram, maka haram pula berjual beli dengan menggunakan uang rupiah.

Intinya, kita mustahil hidup di negeri ini. Karena kita sudah menuduh bahwa negara ini hidup dari uang haram.

Lalu kita mau pindah ke mana?

Ke Arab? Atau ke Afghanistan?

Ternyata di sana sama saja. Negara arab pun banyak berdagang dengan yahudi. Saudi Arabia banyak berkolaborasi dengan Amerika dan Eropa. Bahkan sebagian besar uang orang arab itu malah diparkir di bank-bank Amerika dan Eropa. Tentunya ada bunganya, bukan? Bukankah bunga itu haram?

Sementara negeri arab pun membangun sarana dan prasarana dengan keuangan mereka, tentunya juga dari bunga ribawi.

Maka logikanya, kita pun haram tinggal di negeri arab, karena uang mereka pun haram juga, kalau menggunakan logika di atas. Bukankah begitu?

Maka satu-satunya jalan, kita harus pindah ke bulan. Karena di sana tidak ada uang haram. Tapi masalahnya, di sana juga tidak ada sarana penunjang kehidupan. Setidaknya di sana tidak ada oksigen. Berarti harus beli. Eh, ternyata yang jual juga orang kafir yang duitnya didapat dengan cara yang haram.

Mungkin meninggal adalah salah satu cara terakhir yang paling mudah. Tapi kain kafan dan mobil jenazahnya buatan orang kafir.

Bayangkan, kalau logika yang anda sampaikan di atas mau secara konsekuen dijalankan, jangankan hidup, mati saja susah.

Maka dari semua hal di atas, rasa-rasanya yang perlu diperbaiki adalah logika berpikirnya. Bahwa sesuatu yang haram sebenarnya tidak bersifat menular. Dan dalam Islam tidak ada dosa turunan, sebagaimana juga tidak ada istilah haram turunan.

Kalau pemerintah negeri ini memungut pajak dari dunia hiburan dan maksiat, kita tidak bisa mengatakan bahwa semua uang milik negara ini 'tertular' keharamannya. Yang haram adalah sikap mengizinkan tindakan haram dan maksiat, bukan uangnya. Uang tidak pernah berstatus haram. Yang ada hanya istilah uang yang didapat dengan jalan haram. Yang haram adalah jalannya, bukan bendanya.

Seandainya ada maling membeli bensin di sebuah pom bensin, apakah semua uang yang dimiliki oleh pom bensin itu lantas menjadi haram? Dan apakah keharaman menular ke semua bensin sehingga akhirnya keluar vonis bahwa haram hukumnya membeli bensin di pom bensin itu?

Maka kesimpulan sederhananya, sebelum membuat logika fiqih, sebaiknya kita belajar dulu ilmu ushul fiqih, agar kita tidak menjadi pembuat fatwa dadakan. Kalau mendadak menjadi penyanyi dangdut, mungkin orang maklum. Tetapi bikin fatwa tidak bisa mendadak.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Hadits Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Cina, Adakah?
20 October 2007, 04:52 | Hadits | 7.622 views
Hadits Pahala yang Hilang Karena Diambil Orang
20 October 2007, 04:51 | Hadits | 7.980 views
Mengapa Penetapan 1 Syawal Berbeda
20 October 2007, 04:50 | Puasa | 8.570 views
Bolehkah Kartu Langganan Kereta Dipakai Oleh Orang Lain?
20 October 2007, 04:45 | Muamalat | 4.946 views
Apakah Memancing Ikan Termasuk Menyiksa Hewan
20 October 2007, 04:44 | Umum | 7.229 views
Korupsi Waktu Sama Berdosanya dengan Korupsi Uang
20 October 2007, 04:43 | Kontemporer | 6.268 views
Masalah Halaqoh dengan Murobbi Lawan Jenis
20 October 2007, 04:42 | Wanita | 5.544 views
Shalat Tepat Waktu atau Setelah Jam Kerja?
20 October 2007, 04:40 | Shalat | 6.604 views
Apakah Syetan dan Malaikat Adalah Petugas Allah?
20 October 2007, 04:38 | Aqidah | 5.753 views
Makan Bersama Keluarga Non-Muslim
20 October 2007, 04:37 | Kuliner | 5.987 views
Menyambut Bulan Suci Ramadhan
20 October 2007, 04:36 | Puasa | 9.046 views
Teh Kombucha, Halal atau Haram?
20 October 2007, 04:34 | Kuliner | 15.472 views
Berhutang untuk Pergi Haji
18 October 2007, 21:12 | Haji | 5.358 views
Keluar dari Kelompok Sesat
18 October 2007, 04:53 | Umum | 4.653 views
Menjadikan Ceramah Sebagai Profesi
17 October 2007, 22:30 | Kontemporer | 6.137 views
Ingin Belajar Ilmu Hisab di Dua Kubu yang Berbeda
17 October 2007, 00:01 | Umum | 4.614 views
Memberi Sedekah kepada Pengemis yang Sehat
16 October 2007, 23:28 | Kontemporer | 7.081 views
Mantan Pacar Berzina, Turut Berdosakah Saya?
15 October 2007, 09:26 | Nikah | 5.892 views
Apa Itu Mazi, Mani, atau...?
15 October 2007, 09:25 | Thaharah | 7.607 views
Bagaimana Hukum Takbiran
14 October 2007, 12:41 | Kontemporer | 8.315 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,036,632 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

19-7-2019
Subuh 04:44 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img