Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Ayah Meninggal Dulu, Cucu Tidak Mendapat Warisan? | rumahfiqih.com

Ayah Meninggal Dulu, Cucu Tidak Mendapat Warisan?

Tue 18 November 2014 10:10 | Mawaris | 14.770 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamua'alaikum,

Ustadz, Ayah saya meninggal lebih dulu dari nenek. Setelah nenek meninggal, saudara-saudara ayah mengatakan kami sebagi cucu tidak berhak mendapatkan warisan nenek karena ayah saya meninggal lebih dahulu daripada nenek. (3 anak nenek meninggal lebih dulu dari nenek, menyisakan 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan).

Apakah pernyataan saudara ayah benar? Mohon penjelasannya dan pembagiannya. Terima kasih.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Apa yang dikatakan oleh saudara ayah memang benar sekali. Dalam hukum waris, calon ahli warisyang meninggal lebih dahulu dari orang yang akan memberinya harta warisan, telah ditetapkan tidak akan mendapatkan harta tersebut.

Mengapa demikian?

Karena syarat terjadinya pemberian harta warisan adalah hidupnya ahli waris dan meninggalnya yang memberi warisan. Kebiasaannya, ahli waris adalah anak dan yang memberi warisan adalah orang tua. Karena umumnya yang wafat duluan adalah orang tua.

Namun tidak tertutup kemungkinan kalau yang wafat duluan adalah anaknya. Kalau yang terjadi seperti ini, maka tidak terjadi pembagian harta warisan dari ayah ke anak, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, ayah yang menjadi ahli waris dan anak yang wafat duluan itu menjadi yang memberi warisan.

Hubungan antara orang tua dan anak adalah saling mewarisi. Siapa yang wafat duluan, maka harta miliknya akan menjadi ahli warisnya. Kalau orang tuawafat duluan, maka anaknya menjadi ahli warisnya. Sebaliknya, kalau anak wafat duluan, justru orang tuanya yang menjadi ahli waris dari anaknya itu.

Dalam hal ini, ayah anda wafat duluan, maka nenek anda justru menjadi ahli waris dari anaknya sendiri, selain isteri dan anak-anak alarhum. Harta milik ayah anda sebagiannya (1/6) menjadi hak nenek. Lalu isteri ayah anda mendapat 1/8. Sisanya menjadi hak anak-anak ayah anda, baik yang laki maupun yang perempuan dengan ketentuan tiap anak laki-laki mendapat bagian dua kali lipat lebih besar dari anak perempuan.

Cucu Tidak Mendapat Warisan

Mungkin anda bertanya, seandainya nanti nenek meninggal dunia, mengapa anda sebagai cucu beliau dikatakan tidak mendapat harta warisan?

Jawabnya begini, seorang ayah atau ibu bila meninggal dunia, maka anak-anaknya menjadi ahli waris. Selama masih ada anak-anaknya, maka bila di antara anak-anak ini ada yang sudah berkeluarga dan punya anak (cucu), maka ketentuannya bahwa cucu tidak mendapat warisan.

Karena ada satu jenjang yang memisahkan antara cucu dengan almarhum kakek atau nenek mereka. Selama dalam satu lapis jenjang itu masih ada anak, meski bukan menjadi orang tua langsung dari cucu, maka cucu itu tidak mendapatkan warisan. Kecuali bila di level anak, sudah tidak ada satu pun yang masih hidup, barulah warisan turun ke level kedua, yaitu untuk cucu.

Jadi prinsipnya, harta warisan diberikan kepada level terdekat dulu. Kalau ada seserorang meninggal, maka yang mendapat warisan adalah orang-orang yang ada di level anak.

Kita buat sebuah contoh, misalnya pak Badrun anaknya ada tiga orang, A, B dan C.A sudah menikah dan punya anak yaitu A1, A2 dan A3. B sudah menikah dan punya anak, yaitu B1, B2 dan B3. C belum menikah dan masih bujangan.

Suatu ketika A dan B meninggal dunia, sementara pak Badrun malah masih hidup. Jadi di level anak, pak Barunmasih punya satuorang anak, yaitu C. Selain itu pak Badrun punya 6 orang cucu yang ayah mereka sudah meninggal dunia.

Kalau pak Badrun meninggal dunia, maka yang jadi ahli warisnya adalah anak pak Badrun. Dan karena masih ada satu anak pak Badrun yaitu C, yang menerima warisan hanya C saja. Sedangkan cucu-cucu dari A dan B, tidak mendapat warisan. Karena selama masih ada orang di level anak, maka orang yang ada di level cucu tidak mendapat warisan.

A1, A2, A3, B1, B2 dan B3 baru mendapat warisan seandainya sebelum pak Badrun wafat, C yang jadi paman mereka wafat terlebih dahulu.

Itulah ketentuan pembagian warisan dalam syariat Islam.

Rasa Keadilan

Mungkin sekilas ada yang bertanya, kalau begitu bagaimana dengan rasa keadilan? Seandainya cucu-cucu itu hidup dalam keadaan susah serta serba kekurangan, bagaimana tindakan yang harus diambil?

Jawabnya mudah saja. Toh selain pembagian warisan masih ada cara-cara lain untuk bisa memberi sesuatu kepada para cucu yang miskin.

Misalnya dengan sedekah dari ahli waris. C bersedekah kepada para keponakannya. Meski tidak ada ketentuan berapa besarnya, namun dalam paket pembagian warisan, ada perintah untuk memberi sebagian harta warisan itu kepada ulul qurba (keluarga yang bukan ahli waris), yatama (anak yatim) dan orang miskin.

Seandainya para cucu itu bukan anak yatim karena mereka dianggap sudah dewasa, dan juga dianggap bukan orang miskin karena mereka punya penghasilan cukup, maka mereka tetap berhak dalam status ulul qurba.

Siapakah ulul qurba?

Para ulama sebagiannya mengatakan bahwa mereka adalah keluarga atau famili yang dalam hal pembagian warisan tidak mendapat warisan. Baik karena terhijab atau karena sebab lain.

Jadi cucu tetap bisa menikmati sebagian harta dari kakek mereka, bukan sebagai warisan tetap sebagai 'uang dengar'.

Namun karena sifatnya anjuran, perintah ini tidak mengikat dan juga tidak ditetapkan besarannya. Jadi seandainya si C ini pelit tidak mau berbagi, memang nasib keponakannya akan menjadi kurang baik.

Tapi,

Tetap masih ada jalan tengah, yang dalam hal ini di Suriah dan Mesir sudah diantisipasi. Di sana, pemerintah akan turun tangan bila ada kasus anak meninggal duluan seperti yang sedang kita bicarakan.

Tindakan itu adalah washiyah wajibah yang diperintahkan kepada si C. Jadi begitu mendengar ada anak pak Badrun yangwafat, yaitu A dan B, sementara mereka berdua punya anak, maka pemerintah turun tangan mendatangi pak Badrun.

Pak Badrun diperintahkan untuk membuat washiyat, yang isinya apabila nanti pak Badrun wafat, maka sebagian dari hartanya itu akan diwashiyatkan kepada cucu-cucunya, yaitu anak A dan anak B. Washiyat ini diperintahkan untuk dibuat dan memerintahkannya adalah negara. Sifatnya wajib dan oleh karena itu disebut dengan washiyat wajibah.

Jadi nasib cucu-cucu tidak tergantung kebaikan hati si C, tetapi sejak awal sudha dijamin oleh negara bahwa mereka pasti akan dapat bagian. Besarnya berapa?

Yah, namanya washiyat, tentu besarnya bebas boleh berapa pun, asalkan tidak lebih dari 1/3 dari total harta milik pak Badrun. Maksimal 1/3 bagian, sebab sisanya yang 2/3 bagian menjadi hak ahli waris pak Badrun, yaitu hak si C sebagai anak.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Benarkah Jumatan di Kantor Tidak Sah Karena Bukan Penduduk Setempat?
17 November 2014, 06:30 | Shalat | 23.887 views
Hukum Menutup Jalan Untuk Pengajian dan Tabligh Akbar
16 November 2014, 05:20 | Umum | 18.889 views
Bagaimana Menentukan Arah Kiblat?
14 November 2014, 08:50 | Shalat | 9.873 views
Bolehkah Menunda Shalat Berjamaah Menunggu Jamaah Kumpul Semua?
13 November 2014, 11:20 | Shalat | 24.325 views
Benarkah Olahraga Renang Sunnah Nabi?
12 November 2014, 08:45 | Kontemporer | 76.038 views
Menggelar Resepsi Pernikahan Dengan Menutup Jalan
10 November 2014, 17:33 | Nikah | 19.784 views
Pembagian Waris Suami Istri
8 November 2014, 10:55 | Mawaris | 15.220 views
Sujud Syukur dengan Sujud Tilawah, Apa Bedanya?
7 November 2014, 06:15 | Shalat | 18.352 views
Seorang Wanita Naik Haji tanpa Suami
6 November 2014, 03:19 | Haji | 10.270 views
Hanya Menggunakan Al-Quran karena Menganggap Hadits Banyak yang Palsu
5 November 2014, 03:37 | Hadits | 11.229 views
Menolak Jadi Istri Kedua
4 November 2014, 02:28 | Nikah | 11.134 views
Bolehkah Isteri Merahasiakan Gajinya kepada Suami?
3 November 2014, 03:31 | Nikah | 15.287 views
Punggung Tangan Terbuka Ketika Sholat
2 November 2014, 03:27 | Shalat | 14.616 views
Foto Mesra dalam Undangan Pernikahan
1 November 2014, 00:36 | Nikah | 11.273 views
Minum Dari Bekas Minum Orang Kafir, Najiskah?
31 October 2014, 04:23 | Thaharah | 10.409 views
Cium Tangan Orang Tua dan Ustadz, Adakah Dianjurkan?
30 October 2014, 07:24 | Umum | 17.646 views
Hukum Merayakan Ulang Tahun
29 October 2014, 07:06 | Kontemporer | 25.934 views
Kewajiban Menyebarkan SMS
28 October 2014, 03:31 | Kontemporer | 9.108 views
Apakah Organisasi Sosial Wajib Mengeluarkan Zakat?
27 October 2014, 03:02 | Zakat | 8.440 views
Benarkah Menurut Al-Quran Matahari Mengelilingi Bumi?
26 October 2014, 09:05 | Kontemporer | 168.695 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 38,283,282 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

15-11-2019
Subuh 04:05 | Zhuhur 11:39 | Ashar 15:01 | Maghrib 17:53 | Isya 19:04 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img