Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Mengadakan Pengajian di Malam Tahun Baru Masehi | rumahfiqih.com

Mengadakan Pengajian di Malam Tahun Baru Masehi

Wed 26 December 2012 00:01 | Aqidah | 12.171 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum ustadz

Pada pergantian tahun masehi kemarin banyak acara dengan format pengajian, tabligh akbar dan dzikir akbar. Yang saya tahu perayaan tahun baru masehi itu berasal dari orang -orang kristen, lalu bila kita ikut merayakannya bukankah kita termasuk menyerupai suatu kaum.

Nah, tapi sekarang orang Islam banyak yamg merayakan tahun baru dengan mengadakan amalan Islami, apakah itu masih termasuk menyerupai suatu kaum, dan bagaimana hukumnya?

Wassalam

Jawaban :

Assalamu 'aaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pertanyaan Anda ini memang seringkali menjadi sumber perbedaan pendapat di kalangan umat Islam sendiri. Pasalnya bersumber dari kata 'perayaan' itu sendiri. Apa sih sebenarnyayang dimaksud dengan 'merayakan hari besar'? Apa batasannya dan apa kriterianya?

Para ulama dengan berbagai latar belakang kehidupan, tentunya punya niat baik, yaitu sebisa mungkin berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa, agar umat tidak terperosok ke jurang kemungkaran.

Salah satu bentuk polemik tentang masalah perayaan itu adalah ditetapkannya hari libur atau tanggal merah di hari-hari raya agama lain. Yang jadi perdebatan, apakah bila kita meliburkan kegiatan sekolah atau kantor pada tanggal 25 Desember itu, kita sudah dianggap ikut merayakannya?

Sebagian berpendapat bahwa kalau cuma libur tidak bisa dikatakan sebagai ikut merayakan, lha wong pemerintah memang meliburkan, ya kita ikut libur saja. Tapi niat di dalam hati sama sekali tidak untuk merayakannya.

Namun yang lain menolak, kalau pada tanggal 25 Desember itu umat Islam pakai acara ikut-ikutan libur, suka tidak suka, sama saja mereka termasuk ikut merayakan hari raya agama lain. Maka sebagian madrasah dan pesantren memutuskan bahwa pada tanggal itu tidak libur. Pelajaran tetap berlangsung seperti biasa.

Sekarang begitu juga, ketika pada tanggal 1 Januari ditetapkan oleh Pemerintah sebagai hari libur nasional, muncul juga perbedaan pendapat. Bolehkah umat Islam ikut libur di tahun baru? Apakah kalau ikut libur berarti termasuk ikut merayakan hari besar agama lain?

Lalu muncul lagi alternatif, dari pada libur diisi dengan acarahura-hura, mengapa tidak diisi saja dengan kegiatan keagamaan yang bermanfaat, seperti melakukan pengajian, dzikir atau bahkan qiyamullail. Anggap saja memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.

Dan hasilnya sudah bisa diduga dengan pasti, yaitu akan ada kalangan yang menolak mentah-mentah kebolehannya. Mereka mengatakan bahwa pengajian, dzikir atau qiyamullail di malam tahun baru adalah bid'ah yang diada-adakan, tidak ada contoh dari sunnah Rasulullah SAW.

Bahkan ada yang lebih ektrem sampai mengatakan kalau malam tahun baru kita mengadakan pengajian, dzikir, atau qiyamullail, bukan sekedar bid'ah tetapi sudah sesat dan masuk neraka. Wah...

Jadi semua itu nanti akan kembali kepada paradigma kita dalam memandang, apakah kita akan menjadi orang yang sangat mutasyaddid, mutadhayyiq, ketat dan terlalu waspada? Ataukah kita akan menjadi mutasahil, muwassi', longgar dan tidak terlalu meributkan?

Kedua aliran ini akan terus ada sepanjang zaman, sebagaimana dahulu di masa shahabat kita juga mengenal dua karakter ini. Yang mutasyaddid diwakili oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu dan beberapa shahabat lain, sedang yang muwassa' diwakili oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu dan lainnya.

Adakah Jalan Tengah?

Insya Allah ada jalan tengah yang sekiranya bisa kita pertimbangkan. Misalnya, kalau dasarnya memang tidak ada budaya atau kebiasaan untuk bertahun baru dengan kegiatan semacam pengajian dan sejenisnya, sebaiknya memang tidak usah digagas sejak dari semula. Biar tidak menjadi bid'ah baru.

Akan tetapi kalau kita berada pada masyarakat yang sudah harga mati untuk merayakan tahun baru, suka tidak suka tetap harus ada kegiatan, mungkin akan lain lagi ceritanya. Tugas kita saat itu mungkin boleh saja sedikit berdiplomasi. Misalnya, tidak ada salahnya kalau kita mengusulkan agar acaranya dibuat yang positif seperti pengajian atau apapun yang bernilai positif, bukan sekedar pesta atau hura-hura.

Dari pada kegiatannya dangdutan, begadang semalam suntuk atau konser musik, kan lebih baik kalau digelar saja dalam bentuk pengajian. Anggaplah sebagai proses menuju kepada pemahaman Islam yang lebih baik nantinya, tetapi dengan cara perlahan-lahan.

Kalau kita tidak bisa menghilangkan budaya yang sudah terlanjur mengakar dengan sekali tebang, maka setidaknya arahnya yang dibenarkan secara perlahan-lahan. Kira-kira ide dasarnya demikian.

Tetapi yang kami sebut sebagai jalan tengah ini bukan berarti harga mati. Ini cuma sebuah pandangan, yang mungkin benar dan mungkin juga tidak. Namanya saja sekedar pendapat. Tetap saja menyisakan ruang untuk berbeda pendapat. Dan mungkin suatu ketika kami koreksi ulang.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'aaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Memeriahkan Acara Tahun Baru Masehi
25 December 2012, 23:32 | Aqidah | 7.462 views
Hukum Mengucapkan Selamat Natal
25 December 2012, 06:33 | Aqidah | 19.954 views
Bertelepon Mesra Hingga 'Basah'
24 December 2012, 22:59 | Nikah | 10.033 views
Menikah dengan Mantan Kakak Ipar, Bolehkah?
23 December 2012, 07:04 | Nikah | 8.993 views
Tanda Kiamat: Budak Wanita Melahirkan Majikannya, Maksudnya?
21 December 2012, 13:39 | Aqidah | 17.466 views
Saya Anak Zina, Siapa Wali Nikah Saya?
20 December 2012, 12:22 | Nikah | 10.145 views
Air Musta'mal
18 December 2012, 23:45 | Thaharah | 12.094 views
Pembagian Waris Dari Suami Yang Meninggal
18 December 2012, 00:34 | Mawaris | 24.333 views
Mewarnai Rambut
17 December 2012, 23:34 | Umum | 9.232 views
Belajar Agama Lewat Internet
17 December 2012, 21:34 | Dakwah | 7.457 views
Apakah Keringat Pemakan Babi dan Anjing Hukumnya Najis?
17 December 2012, 04:01 | Thaharah | 10.006 views
Talaq Tiga dan Solusi Yang Baik
16 December 2012, 23:24 | Nikah | 34.228 views
Kuis Boleh dan Judi Haram, Apa Bedanya?
16 December 2012, 21:30 | Muamalat | 8.335 views
Benarkah Ahli Kitab Sekarang Sama dengan di Masa Nabi?
16 December 2012, 16:11 | Aqidah | 8.784 views
Pembatalan Pernikahan
15 December 2012, 00:45 | Nikah | 8.790 views
Nabi Isa 2 Kali Hidup dan 2 Kali Wafat?
14 December 2012, 21:32 | Aqidah | 7.549 views
Mengapa Semua Nabi dari Arab?
14 December 2012, 05:32 | Aqidah | 9.061 views
Isteri Meminta Cerai Pergi Tanpa Ijin Suami
13 December 2012, 21:50 | Nikah | 9.041 views
Penggunaan Kosmetik Mengandung Alkohol dan Najis
13 December 2012, 08:56 | Thaharah | 12.900 views
Ayah Meninggal, Disusul Ibu, Bagaimana Pembagian Warisannya?
13 December 2012, 04:11 | Mawaris | 8.450 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,080,327 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img