Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Wajibkah Kita Tahu Hadits Wajib dan Sunah Dalam Shalat? | rumahfiqih.com

Wajibkah Kita Tahu Hadits Wajib dan Sunah Dalam Shalat?

Sat 12 January 2008 10:50 | Shalat | 6.221 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Maaf ustadz, jika kita shalat, tapitidak tau hadistyg merujuk semua gerakan dan bacaan shalat, apakah akan diterima? Misalkan kita tidak tau: kenapa takbiratul ikhram harus mengangkat tangan ke atas; salam kekanan wajib, kekiri sunah;dll. trus kalau mau tau harus cari dari buku apa?

Makasih ustadz. Maaf jika ada salah kata!

Wassalam.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seseorang tetap dianggap sah ketika melakukan shalat, selama dia mengerjakan semua yang termasuk rukun shalat. Meski dia tidak tahu apakah gerakan shalat yang dilakukannya atau bacaan shalat yang diucapkannya termasuk rukun atau bukan.

Apalagi kalau tidak tidak tahu dasar haditsnya, tentu saja tidak mengapa. Insya Allah SWT shalatnya sah, yang penting dia telah belajar tata cara shalat dari ulama yang ahli. Dia tidak diwajibkan untuk tahu apakah dasarnya yang berupa hadits itu shahih atau tidak shahih. Tidak ada yang mewajibkan kita sebagai orang awam untuk menguasai ilmu hadits, yang wajib menguasainya adalah orang yang berijtihad.

Tata Cara Shalat Tidak Tersedia di Hadits Secara Langsung

Satu hal yang perlu kita ketahui bersama dan harus kita maklumi adalah bahwa ilmu tentang shalat, baik rukun, wajib, syarat dan yang membatalkan tidak akan kita temukan di dalam hadits secara langsung atau secara begitu saja. Bahkan hadits nabi sama sekali tidak bicara apakah suatu gerakan shalat itu termasuk rukun atau bukan.

Sebab pada hakikatnya, hadits nabi barulah merupakan sumber atau bahan baku dari tata cara shalat dan hukum-hukum ibadah. Tetapi hukum itu sendiri baru bisa kita simpulkan manakala telah dilakukan proses istimbath. Tempat untuk mengetahui hukum adalah ilmu fiqih, bukan ilmu hadits.

Sebagai orang awam, kita pasti akan kebingungan kalau mencari tata cara shalat di dalam hadits nabawi. Sebab hadits-hadits itu baru merupakan bahan mentah, atau umpama potongan-potongan keterangan yang masih tidak beraturan, bahkan boleh dibilang seperti serpihan-serpihan yang berceceran di sana sini.

Semua masih harus dikumpulkan jadi satu, lalu dilakukan pemeriksaan kekuatan periwayatannya, kemudian dirangkai sesuai dengan keperluannya, baru hasil akhirnya menjadi sebuah tata cara ibadah shalat. Nah, semua itu bisa kita nikmati saat kita belajar ilmu fiqih.

Ilmu fiqih dikerjakan oleh para ahli fiqih, di mana mereka menguasai metodologi istimbat hukum secara profesional. Meski pun kita juga tahu bahwa hasil tiap ijtihad tidak selalu sama. Akan tetapi manakala sebuah ijtihad dilakukan oleh ahlinya, meski hasilnya tidak selalu sama, namun sudah berhak untuk diikuti.

Kita adalah orang-orang yang berada pada level pengikut, atau disebut juga muttabi'. Bahkan sering juga disebut muqallid, atau orang yang bertaqlid. Hukum wajib bagi kita apabila kita memang bukan seorang ahli fiqih. Dan haram bila melakukan ijtihad sendiri secara independen bila memang bukan ahli di bidang itu.

Suka atau tidak suka, semua orang yang ada hari ini adalah muttabi' atau muqallid, bahkan para ustadz yang 'jenggotan' sekalipun, tidak lebih dari seorang muttabi' atau muqallid. Hari ini tidak ada orang yang punya level mujtahiddalam arti yang sesungguhnya.Apalagi mujtahid mutlak.

Bahkan di kalangan ustadz-ustadz yang orang arab sekalipun, setiap kali bicara hukum, pasti tidak jauh-jauh dari pendapat Ibnu Taimiyah atau Ibnul Qayyim dan ulama lainnya.

Saudara-saudara kita yang ada di Persis atau Muhammadiyah, ketika bicara tentang hukum shalat, biasanya juga tidak akan jauh-jauh dari pendapat A. Hasan atau ulama lainnya. Sedangkan saudara kita di NU biasanya tidak akan jauh-jauh dari pendapat Al-Imam Asy-Syafi'i, Al-Muzani, Ar-Rafi'i, Imam An-Nawawi bahkan Syeikh Nawawi Al-Bantani.

Jadi sebenarnya kita semua ini hanya pengikut dari para ahli fiqih, kita tidak pernah langsung mengambil kesimpulan dari hadits nabawi. Sebab kita memang tidak punya kapasitas untuk itu. Walau selalu bilang bahwa kita hanya merujuk kepada Al-Quran dan As-Sunnah, tapi dalam tataran implementasinya, ketika menyimpulkan kedua sumber hukum itu, kita ujung-ujungnya tetap bertaqlid. Suka atau tidak suka, mengaku atau tidak mengaku.

Begitu juga para aktifis dakwah yang masih muda-muda, setidaknya mereka juga selalu taklid kepada ustadznya atau murabbinya. Sebab memang ke sanalah mereka biasanya merujuk.

Maka menjadi muttabi' atau muqallid itu bukan pekerjaan hina, bahkan malah bisa menjadi wajib. Hanya tinggal masalahnya, kepada siapakah layaknya kita mengikuti fatwa dan ijtihad?

Tentunya kepada orang ahli di bidang ijtihad itu. Sebagaimana perintah Allah SWT:

Maka tanyakanlah kepada ahlu dzikri (orang yang berilmu) apabila kamu tidak mengetahui. (QS. An-Nahl: 43)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Tingkatan dan Jenis Hadits
12 January 2008, 02:07 | Hadits | 50.379 views
Haruskah Memasang Hijab Pada Pesta Walimah?
10 January 2008, 23:54 | Nikah | 9.448 views
Shahihkah Semua Hadits Tentang Akhir Zaman
10 January 2008, 16:16 | Hadits | 9.935 views
Keadaan Ummat Islam Indonesia Saat Ini...
10 January 2008, 05:57 | Umum | 5.362 views
Pantaskah Menyebut Allah dengan ENGKAU atau NYA?
9 January 2008, 03:37 | Quran | 8.640 views
Bingung Ikut Liqo'
8 January 2008, 04:10 | Dakwah | 6.496 views
Manusia Luar Angkasa
4 January 2008, 23:39 | Kontemporer | 7.635 views
Apakah Imam Mahdi Adalah Seorang Nabi?
3 January 2008, 22:59 | Aqidah | 7.963 views
Sisipan Dalam Al-Qur'an
3 January 2008, 22:33 | Quran | 6.697 views
Quran Tidak Mewajibkan Kerudung Hanya Menganjurkan?
2 January 2008, 08:00 | Quran | 9.436 views
Pembagian Harta Waris
31 December 2007, 23:44 | Mawaris | 6.796 views
Bulan Terbelah
31 December 2007, 21:19 | Quran | 6.387 views
Pelajaran dari Perjalanan Nabi Musa dan Khidir
30 December 2007, 22:13 | Umum | 5.887 views
Kelemahan Hukum Islam?
28 December 2007, 23:42 | Jinayat | 6.046 views
Wali Songo, Apakah Memang Ada atau Hanya Khayalan?
27 December 2007, 23:14 | Umum | 9.984 views
Imam 4 Madhzab Apakah Setingkat Wali?
27 December 2007, 15:17 | Ushul Fiqih | 6.162 views
Benarkah Usia Umat Islam Hanya 1500 Tahun
25 December 2007, 23:44 | Hadits | 15.601 views
Amanah Itu Hadir di 666
25 December 2007, 02:42 | Aqidah | 6.020 views
Shalat 'Iedul Adha di Hari yang Tidak Kita Yakini, Bolehkah?
22 December 2007, 23:44 | Shalat | 5.332 views
Salah Satu Rukun Islam Tidak Terlaksana, Masihkah Sah KeIslaman Kita?
22 December 2007, 23:02 | Umum | 7.454 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,336,017 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-9-2019
Subuh 04:28 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:00 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img