Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hubungan Kakak Ipar dan Sepupu Dalam | rumahfiqih.com

Hubungan Kakak Ipar dan Sepupu Dalam

Thu 31 January 2008 05:14 | Nikah | 7.856 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalammu'alaikum wr. wb

Ustad, sepengetahuan saya seseorang itu dinyatakan mahram dengan 3 sebab, karena pernikahan, karena sesusuan, dan karena hubungan darah. Jika demikian, status ipar apakah mahram bagi saya? Karena hal ini menyangkut kebolehan membuka sebagian aurat bagi mahramnya.

Bagaimana dengan saudara sepupu, di dalam istilah jawa di kenal, saudara sepupu luar dan saudara sepupu dalam. hal ini mengacu pada jenis kelamin saudara kandung. semisal, ayah dengan adiknya yang laki-laki kemudian memiliki anak wanita. maka anak wanita ini adalah sesusuan dalam bagi saya (laki-laki ). dan termasuk mahram. Apakah benar?

Mohon di jawab.

Jazzakumulloh khoiron

Wassalammu'alaikum wr.wb

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Tiga sebab kemahraman itu sebenarnya kemahraman yang termasuk kategori mahram muabbad, maksudnya mahram yang bersifat selama-lamamnya. Dengan istilah itu, maka efek hukumnya selain haram terjadinya pernikahan, juga dibolehkan terlihatnya sebagian aurat, berkhalwat, sentuhan kulit, berpergiandan lainnya.

Di luar istilah mahram muabbad, ada istilah lain lagi, yaitu mahram muaqqat. Mahram jenis ini punya konsekuensi hukumterbatas, yaitu sekedar tidak boleh terjadinya pernikahan. Sedangkan kebolehan terlihat sebagian aurat, berkhalwat, sentuhan dan bepergian, tetap terlarang, haram dan tidak boleh.

Nah, saudara ipar termasuk kelompok yang kedua ini, yaitu haram dinikahi sementara, dan tetap haram berduaan dan seterusnya.

Saudara ipar termasuk orang yang haram dinikahi dengan dalil firman Allah SWT:

Dan menghimpunkan dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. (QS An-Nisa: 23)

Ayat ini menjelaskan haramnya seorang laki-laki menikahi dua orang wanita kakak beradik dalam satu kurun waktu yang sama. Bila sudah menikahi kakaknya, maka haram menikahi lagi adiknya. Begitu juga sebaliknya, bila sudah menikahi adiknya, maka haram disaat yang sama menikahi kakaknya.

Dan kemahraman ipar itu tetap berkonsekuensi haramnya berduaan (khalwat), tetap mewajibkan untuk menutup aurat (satrul 'aurah). Bahkan Rasulullah SAW lebih mengharamkan terjadinya hubungan 'khusus' antara seorang laki-laki dengan saudara iparnya dengan sebutan "kematian."

"Jangan kamu sekalian masuk ke dalam (ruang) wanita. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah bagaimana dengan saudara ipar?”. Rasulullah menjawab, “Saudara ipar adalah kematian” (HR Ahmad, Tirmidzi, Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir no. 2677).

Jadi saudara ipar itu termasuk mahram muaqqat (sementara), yaitu haram dinikahi selama saudarinya masih berstatus isteri. Bila saudarinya itu sudah bukan lagi menjadi isteri, mungkin karena meninggal atau cerai, maka mantan ipar itu baru boleh jadi isteri.

Selama masih jadi ipar, maka hubungannya adalah wanita ajnabi, yaitu wanita asing yang haram terlihat auratnya, haram untuk berduaan dan sentuhan kulit.

Kalau mau dikelompokkan, maka ipar ini adalah wanita yang haram dinikahi karena pernikahan, tapi hukumnya bukan sebagaimana wanita mahram lainnya yang boleh terlihat aurat dan seterusnya.

Sepupu Bukan Mahram

Hubungan seorang laki-laki dengan saudara sepupunya yang perempuan, baik statusnya sepupu dalam maupun sepupu luar, semua tidak mengharamkan terjadinya pernikahan di antara mereka.

Dalilnya ada di dalam ayat Al-Quran Al-Kariem:

Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu .... (QS. Al-Ahzab: 50)

Semua bentuk hubungan saudara sepupu di dalam ayat ini dihalalkan, yaitu:

  1. Seorang laki-laki dibolehkan menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki bapaknya
  2. Seorang laki-laki dibolehkan menikahi anak perempuan dari saudara perempuan bapaknya
  3. Seorang laki-laki dibolehkan menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya
  4. Seorang laki-laki dibolehkan menikahi anak perempuan dari saudara perempuan ibunya

Adapun istilah sepupu dalam dan sepupu luar, tidak dikenal dalam sistem keluarga dalam syariat Islam. Kesimpulannya, semua jenis sepupuhalal untuk dinikahi. Kalau yang anda tanyakan pandangan hukum syariah terhadap sepupu, maka itulah jawabannya.

Tapi kalau anda ingin tetap berpegang pada hukum adat Jawa, terserah anda. Yang jelas, Allah SWT yang Maha Menetapkan hukum itu tidak pernah mengharamkan saudara sepupu untuk dinikahi.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Cara Mengetahui Keshohihan Hadits
30 January 2008, 09:37 | Hadits | 16.853 views
Sikap terhadap Pemimpin yang Zalim
30 January 2008, 01:32 | Negara | 7.909 views
Hukum Menguburkan Jenazah Berikut Peti Matinya
29 January 2008, 01:31 | Umum | 12.593 views
Karangan Bunga Buat Almarhum Pak Harto
29 January 2008, 00:36 | Umum | 5.293 views
Dakwah Manhaj Salaf
27 January 2008, 22:30 | Kontemporer | 11.019 views
Masalah Kilafiyah dengan Bid'ah
26 January 2008, 01:21 | Ushul Fiqih | 9.379 views
Apa yang Dimaksud dengan Syirkah Mudharabah
25 January 2008, 23:17 | Muamalat | 28.917 views
Kelompok Mana yang Ustadz Rekomendasikan?
25 January 2008, 01:26 | Kontemporer | 7.146 views
Hadis Qudsi
24 January 2008, 23:29 | Hadits | 8.089 views
Bagaimana Hukumnya Punya Hutang kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal?
24 January 2008, 01:28 | Mawaris | 17.241 views
Kapasitas untuk Mendhoifkan Hadits
24 January 2008, 00:18 | Hadits | 6.161 views
Zakat Sebagai Penerimaan Negara...
23 January 2008, 02:54 | Zakat | 6.850 views
Jaminan Masuk Surga
23 January 2008, 01:41 | Aqidah | 9.166 views
Shalat Ghoib untuk Isteri Ustad Hidayat NW
22 January 2008, 04:11 | Shalat | 6.215 views
Memakan Daging atau Darah Ular untuk Obat
22 January 2008, 03:02 | Kontemporer | 22.402 views
Keheranan Tentang Kristenisasi
21 January 2008, 01:16 | Aqidah | 6.591 views
Hukum Asuransi Dalam Al-Quran
20 January 2008, 15:16 | Muamalat | 15.961 views
Puasa Hari Jumat
18 January 2008, 06:39 | Puasa | 6.878 views
Prosentase Biaya Titipan Barang yang Digadai dan Waktu Gadai
18 January 2008, 06:38 | Muamalat | 7.104 views
Islam Vs Ahmadiyah
17 January 2008, 12:52 | Aqidah | 6.343 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,296,960 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

18-9-2019
Subuh 04:29 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:01 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img