Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Mengapa Tatacara Shalat Begitu Memusingkan? | rumahfiqih.com

Mengapa Tatacara Shalat Begitu Memusingkan?

Sun 6 April 2014 11:26 | Shalat | 13.952 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Ustadz,

Saya adalah orang Islam dan Insya Allah tidak akan mati dalam keadaan bukan Islam. Saya memang awam agama, tapi saya punya keyakinan bahwa Islam adalah Agama yang paling baik dan satu-satunya.

Terus terang, mengenai sholat, saya sholat sebagaimana orang orang yang sholat bersama saat itu (Menyesuaikan lingkungan, asalkan tidak terlalu menyimpang dari ukuran saya sendiri), karena hati yang dalam saya mengatakan, Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Sepengetahuan saya, tata cara (rukun) sholat tidak diatur begitu rinci di Al-Qur'an sebagaimana hukum Warisan (Saya juga tidak tahu mengapa dan apa rahasia di balik itu).

Yang saya ketahui selama ini, hanya terdapat dalam Hadist dan itupun tidak secara rinci langsung diuraikan olehNabi Muhammmad SAW(saya juga tidak tahu mengapa demikian dan apa rahasia di balik itu).

Beliau hanya bersabda kira-kira begini "Sholatlah sebagaimana aku Sholat." Orang-orang yang pernah melihat atau mengalami sholat bersama Nabi, baru menceritakan bagaimana Beliau sholat.

Hal yang terjadi kemudian adalah, bahwa banyak sekali perbedaan yang ada selama ini (mulai gerakan secara pisik maupun bacaan-bacaannya apakah diucapkan atau tidak, dikeraskan atau tidak, dan sebagainya).

Jika Nabi Sholat bersama umatnya hanya sekali atau dua kali saja, mungkin terjadinya perbedaan-perbedaan dapat segera dimaklumi. Tapi nyatanya khan tidak begitu. Yang menjadi lebih aneh lagi adalah kenyataan bahwa Islam dikenal sebagai Agama yang paling lengkap dalam perunutan hukum-hukumnya (Penulisan Hadist dan menjaga kemurnian Al-Qur'an). "Mencontoh sholat yang dikerjakan Nabi sebanyak puluhan ribu kali kok masih ada perbedaannya."

Yang jelas, saya yakin betul bahwa bagaimana Nabi Sholat adalah konsisten.

Bagaimana keterangan Ustazd.

NB. Ini adalah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan saya ke pada Ustazd, yang mana sebagian besar belum terjawab.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kami mohon maaf bilaAndaselama ini telah mengirimkan pertanyaan, namun belum mendapatkan jawaban. Kami tetap merasa bersalah bilabelum dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan para pembaca.

Untuk itu kami sedang memikirkan metode yang sekiranya dapat membantu menyelesaikan masalah seperti ini ke depan. Doakan agar kami menemukan metode itu dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Mengenai apa yang anda tanyakan saat ini, memang kami setuju sekali. Seharusnya tata cara shalat itu simple, praktis dan sederhana. Tidak harus menguras otak, apalagi harus sampai menimbulkan silang sengketa, saling caci maki, bahkan ada yang sampai merasa harus memboikot saudaranya, hanya lantaran urusan beda tempat meletakkan tangan saat shalat.

Beberapa Faktor Penyebab

Kalau coba kita renungkan mengapa seolah shalat itu jadi urusan yang berbelit, barangkali ada benarnya beberapa hal berikut ini:

1. Ada Perbedaan Dari Sumber

Banyak dari kita yang masih berpikir seharusnya shalat nabi SAW itu merupakan sesuatu yang konsisten, termasuk dalam hal ini anda. Dalam bagian akhir pertanyaan anda itu, jelas sekali anda menyebutkan, "Yang jelas, saya yakin betul bahwa bagaimana Nabi Sholat adalah konsisten."

Padahal boleh jadi Rasulullah SAW tidak melakukan apa yang anda katakan sebagai 'kekonsistenan' itu. Dalam kitab Sifat Shalat Nabi tulisan SyeikhAl-Albani, seringkali menyebutkan istilah "kadang-kadang." Kadang-kadang Nabi SAW melakukan ini dan kadang kala lainnya beliau melakukan itu. Itu artinya beliau tidak selalu konsisten seperti yang anda duga.

Jadi boleh dibilang bahwa beliau SAW sendiri sebagai sumber rujukan shalat tidak selalu konsisten dengan gerakan atau bacaan tertentu. Sebaliknya, beliau seringkali bergonta-ganti gerakan dan juga bacaan. Dan nyatanya memang tidak ada dalil dari beliau SAWsendiri, yang menegaskan keharusan untuk konsisten dalam gerakan dan bacaan shalat.

Sekedar untuk perbandingan saja, dahulu di masa khalifah Utsman bin Al-Affan radhiyallahu 'anhu, pernah terjadi perselisihan antara beberapa qari' atau pembaca Al-Quran.Titik pangkal masalahnya adalah karenamasing-masing merasa bacaannya adalah bacaan yang benar dan bersikeras untuk menyalahkan bacaan saudaranya, yang dianggapnya salah dan bid'ah (mengada-ada).

Setelah dikumpulkan oleh para shahat yang senior, menjadi jelaslah titik pangkalnya. Ternyata Al-Quran itu sendiri dahulu turun dengan lughah (dialek) yang berbeda. Bahkan kita mengenal ada qiraah sab'ah. Di mana bacaan yang satu boleh jadi sangat berbeda dengan bacaan yang lain. Padahal semuanya adalah ayat Al-Quran, semua turun dari Malaikat Jibril 'alaihissalam serta diriwayatkan secara mutawatir kepada kita.

Maka kalau dalam shalat Rasulullah SW ada'ketidak-konsistenan', sangat logis dan masuk akal. Memang jarang di antara kita yang pernah mendengar qiraat yang berbeda. Cobalah sesekali belajar qiraat dengan metode talaqgi kepada ustadz atau qari' yang punya sanad sampai ke Rasulullah SAW, maka kita akan tahu bahwa ternyata bacaan Quran itu begitu banyak versinya.

2. Perbedaan Interpretasi Shahabat Yang Melihat Rasulullah SAW Shalat

Ada beberapa riwayat yang kelihatan sepintas berbeda, namun ternyata kejadiannya sama. Kenapa jadi berbeda? Ternyata beberapa shahabat memiliki interpratasi atau penafsiran yang berbeda atas suatu kejadian.

Ambil contoh yang paling sering kali sebutkan, tentang shalat Ashar di Perkampungan Bani Quraidhazh. Rasulullah SAW berpesan kepada para shahabat untuk tidak shalat Ashar kecuali di perkampungan yang berisi orang yahudi itu.

Namun ketika matahari hampir tenggelam dan mereka belum shalat Ashar, sebagian dari mereka turun dari kuda dan melakukan shalat Ashar di jalan, tanpa mempedulikan pesan nabi untuk tidak shalat Ashar kecuali setelah sampai.

Sementara kelompok shahabat yang lainnya, meneruskan perjalanan tanpa shalat Ashar, meski sudah masuk waktu Maghrib. Maka pendapat para shahabat nabi yang mendengar langsung pesan itu tetap terpecah dua.

Ketika akhirnya dikonfrontir kepada Rasulullah SAW, hasilnya ajaib!!!. Ternyata beliau SAW tidak menyalahkan salah satu pihak. Keduanya dianggap benar dan tidak ada yang salah.

Danketika ada riwayat menyebutkan bahwa ketika duduk tasyahhud Rasulullah SAW menggerakkan jarinya, ada yang menilainya itu merupakan bagian dari ritual ibadah shalat. Tapi ada juga yang mengatakan gerakan jari itu semata-mata karena suasana sangat dingin, sehingga telunjuk nabi sampai bergetar.

Perbedaan itu pasti terjadi, bahkan sejak dari level shahabat ketika meriwayatkan sudah muncul perbedaan.

3. Faktor Perbedaan Logika

Masih ingat hadits tentang mana duluan yang harus menyentuh tanah ketika sujud, apakah tangan dulu atau lutut lebih dahulu?

Di dalam masalah itu para ulama berbeda pendapat tanpa ada habisnya. Yang satu bilang tangan dulu. Yang lain bilang lutut dulu. Dan ternyata keduanya punya dalil masing-masing. Dan anehnya, kedua belah pihak memakai hadits yang itu-itu juga.

Yang satu bilang bahwa hadits itu mengatakan jangan seperti unta mau duduk. Dan disebutkan bahwa kalau unta mau duduk, ternyata yang menyentuh tanah kaki belakangnya terlebih dahulu.

Yang satu tidak mau kalah, mereka bilang bahwa pendapat itu tidak benar. Yang benar adalahkalau unta mau duduk, yang lebih dahulu menyentuh tanah adalah kedua kaki depannya terlebih dahulu.

Maka perbedaan pendapat itu bukan pada haditsnya, tapi pada cara kita memahaminya. Ada yang mengira bahwa kalau unta mau duduk, yang menyentuh tanah terlebih dahulu adalah kedua kaki belakangnya, dan ada yang berpendapat sebaliknya.

Jadi mana yang benar?

Yah, mari kita tanya kepada si unta yang tidak berdosa itu."Pak Unta, mohon maaf nih, kami mau tanya. Ente kalau duduk, duluan mana kaki depan apa kaki belakang?" Untanya bingung ditanya begitu, terus dia jawab, "Emang gue pikirin."

4. Faktor Mental

Tapi yang paling mengenaskan dari apa yang anda alami sebagai kecemasan, sebenarnya bukan karena faktor-faktor di atas, melainkan justru faktornya ada pada diri kita sendiri sebagai umat Islam. Banyak dari kita sering memaksakan kehendak dan pendapatnya sendiri dalam masalah furu'iyah dan ritual shalat.

Faktor ini kami rasakan merupakan faktor yang paling dominan untuk membuat umat semakin bingung. Mohon maaf kalau kami katakan banyak ustadz yang sambil mengajar, sambil memenangkan satu pendapat saja. Dan sayangnya beliau-beliau yang terhormat dan jadi panutan umat itu terjebak untuk melecehkan pendapat yang lain. Sengaja atau tidak sengaja.

Terkadang kita harus mengurut dada, karena yang kita saksikan bukan sekedar melecehkan, tapi sampai menuduh sesat, bid'ah, khurafat bahkan sampai di bilang tidak akan masuk surga. Laa haula wala quwwaa illa billah.

Kayaknya surga itu milik bapak moyangnya sendiri, orang lain tidak boleh masuk kecuali bila jadi muridnya dulu.

Padahal urusannya cuma antara jari telunjuk bergoyang atau tidak bergoyang. Bayangkan, urusan goyang-goyang bisa jadi masuk neraka. Pantas saja umat pada bingung, sudah mereka jarang ngaji, eh begitu ngaji, langsung diberi kisah-kisah 'horor' yang menakutkan. Akhirnya, muncul pertanyaan prihatin kayak anda ini, kok mau shalat saja susah sekali ya, sampai pakai masuk neraka segala?

Mungkin kalau kami kutipkan bahwa ada ulama yang tega-teganya memvonis orang yang shalat tarawih lebih dari 11 rakaat sebagai pelaku bid'ah dan masuk neraka, boleh jadi rambut anda akan berdiri semua, saking kagetnya. Iki piye tho, lha wong tidak shalat tarawih saja tidak apa-apa, kok orang sudah shalat malah dibilang masuk neraka? Aneh bin ajaib.

Padahal kalau kita pinjam argumentasi teman-teman yang shalat tarawihnya 20 rakaat, mereka akan bilang, "Justrudi zaman shahabat, belum pernah ada yang shalat tarawih hanya 11 rakaat, semua shalat tarawih 20 rakaat."

Atau ada yang nyeletuk, "Opo sampeyan mau bilang kanjeng sayyidina Umar, Utsman dan Ali serta semua shahabat nabi SAW itu ahli bid'ah dan semuanya masuk neraka? Kesahalahannya hanya karena mereka shalat tarawih 20 rakaat?

Dan akhirnya semua ribut lagi, masing-masing datang dengan argumentasinya, dan tidak selesai-selesai.

Padahal sebenarnya kalau setiap perbedaan pendapat itu kalau disikapi dengan elegan, dewasa, wawasan luas dan beretika santun, tidak harus menimbulkan kecemasan seperti yang anda alami.

Intinya, alangkah indahnya kalau para ustadz yang selalu dijadikan sebagai sumber rujukan agama itu tidak terlalu mudah mengeluarkan vonis mematikan. Sehingga terkesan muncul anggapan bahwa beliaumau menangnya sendiri. Kenapa tidak dikatakan bahwa ada begitu banyak pendapat dalam suatu masalah, silahkan pilih yang mana, asalkan masih ada jejak ijtihad yag dilakukan oleh seorang yang punya kapasitas sebagai mutahid.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz ketika mengetahui bahwa para shahabat nabi radhiyallahu 'anhum banyak berbeda pendapat, justru beliau bersyukur dan berterima kasih. Bukannya malah sempit hati dan marah-marah. Karena dengan begitu banyaknya pendapat, agama ini menjadi luas sekaligus luwes. Mana saja yang mau kita pakai, ada rujukannya dari para shahabat nabi SAW yang telah Allah SWT ridhai.

Terakhir, mari kita belajar agama ini dari berbagai sumber, sekiranya bisa dari berbagai kalangan ulama, maka akan semakin baik, karena wawasan kita akan semakin kaya. Dan tidak mudah menyalahkan orang lain.

Tapi kalau tidak mampu belajar perbandingan mazhab, bisanya cuma dari satu ustadz saja, tidak apa-apa juga. Asalkan jangan mudah menyalahkan ijtihad orang lain. Sebab pendapat yang kita pakai itu sebenarnya juga hanya ijtihad, tidak lebih.

Maka sesama ijtihad dilarang saling mendahului, pinjam istilah bus kota.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Warisan Dibagi Sama Rata, Bolehkah?
4 April 2014, 11:10 | Mawaris | 11.069 views
Bolehkah Menggunakan Uang Masjid untuk Urusan Partai?
3 April 2014, 10:07 | Zakat | 6.305 views
Bolehkah Bekerja di Perusahaan Milik Orang Kafir?
2 April 2014, 06:07 | Muamalat | 35.105 views
Kesederhanaan Gaya Hidup Pejabat
1 April 2014, 06:51 | Negara | 8.373 views
Hukum Foto Pre Wedding di Kartu Undangan
31 March 2014, 03:03 | Nikah | 16.779 views
Rumah Sudah Dihibahkan Apa Masih Dibagi Waris?
28 March 2014, 10:11 | Mawaris | 14.723 views
Hukum Main Game Monopoli dan Ular Tangga, Haramkah?
27 March 2014, 06:17 | Muamalat | 25.064 views
Bingung Halal Haram Asuransi Syariah
24 March 2014, 08:32 | Muamalat | 17.605 views
Bisakah Kita Masuk Surga Tanpa ke Neraka?
22 March 2014, 07:18 | Aqidah | 24.085 views
Terkait Kehamilan dan Pasca Kelahiran
21 March 2014, 09:04 | Wanita | 23.805 views
Zakat Dagangan Modal Patungan, Bagaimana Menghitungnya?
20 March 2014, 07:30 | Zakat | 6.604 views
Hukum Makan Daging Kuda, Halal Atau Haram?
19 March 2014, 05:30 | Kuliner | 78.992 views
Apakah Setiap Hadits Mutawatir Sudah Pasti Shahih?
18 March 2014, 05:00 | Hadits | 23.662 views
Sudah Melepaskan Hak Waris Ternyata Masih Minta Lagi
17 March 2014, 10:20 | Mawaris | 6.716 views
Berwudhu dengan Air Banjir
16 March 2014, 18:44 | Thaharah | 7.926 views
Kenapa Harus Ada Khilafiyah?
15 March 2014, 12:01 | Ushul Fiqih | 10.186 views
Uang Belanja Jika Isteri Lebih dari Satu
14 March 2014, 08:30 | Nikah | 6.725 views
Bagaimana Shalatnya Nelayan Seminggu di Atas Perahu
12 March 2014, 06:00 | Shalat | 7.509 views
Adegan Sujud Syukur Dalam Film 99 Cahaya di Langit Eropa
11 March 2014, 06:10 | Shalat | 11.139 views
Istri Hamil Dengan Laki-laki Lain, Dicerai Lalu Menikah Dengan Yang Menghamilinya
10 March 2014, 08:30 | Nikah | 15.558 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,841,040 views