Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Apakah MTQ Bid'ah? | rumahfiqih.com

Apakah MTQ Bid'ah?

Fri 4 April 2008 00:48 | Quran | 13.037 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalaamu'alaikum Wr.Wb

Ahlan wa sahlan akhi...?

Alhamdulillah, terima kasih akhi atas jawabannya pada bulan lalu dan klo masih boleh, saya ingin bertanya lagi...!!"dah lama neeh ana ga oneline di situs eramuslim, klo boleh tahu, akhi berapa tahun kuliah di cairo, dan mengambil jurusan apa..?

Akhi...ana pernah di ktitik sama seorang ikhwan, katanya MTQ itu Bid'ah dan juga haram..!!

Klo boleh saya bertanya, apakah ada hadist yang mengatakan bahwa MTQ itu bid'ah dan haram...?" klo memang ada siapa yang meriwayatkan dan diambil dari kitab apa..?

Wa billahi taufiq wal hidayah, Wassalaamu'alaikum wr. wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

MTQ adalah kepanjangan Musabaqah Tilawatil Quran. Artinya secara bebas adalah lomba membaca Al-Quran. Lomba seperti ini berlangsung saban tahun yang diikuti oleh para qari' dan qari'ah dari seluruh Indonesia. Dan ada seleksi mulai dari tingkat kabupaten, propinsi dan akhirnya tingkat nasional.

Kalau kita telusuri, ternyata kegiatan MTQ telah ada di Indonesia sejak tahun 1940-an, yaitusejak berdirinya Jam'iyyatul Qurra wal Huffadz, sebuah institusi yang didirikan oleh Nahdlatul Ulama, ormas terbesar di Indonesia.

Namun MTQ yang dilembakan secara resmi di level pemerintahan, baru dimulai sejak tahun 1969 oleh Departemen Agama RI. Saat itu yang menjadi Menteri Agama adalah K.H. Muhammad Dahlan, yang kebetulan juga termasuk salah seorang ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama).

Sejak itulah MTQ dilembagakan secara nasional. MTQ pertama diselenggarakan di Makassar pada bulan Ramadhan tahun 1968. Dan hingga kini MTQsudah berlangsung 23 kali.

Yang Dilombakan

Sangat populer di tengah masyarakat bahwa MTQ hanya melombakan seni membaca Al-Quran (nagham). Seperti Bayati, Syika, Nahwand, Rost, Jiharka, dan lain sebagainya.

Namun sebenarnya kalau didalami, ternyata yang dilombakan bukan hanya lagu, ada jugalomba cerdas cermat, MSQ atau Musabaqah Syarhil Quran, yaitu lomba memberi penjelasan pada ayat Al-Quran, bahkan termasuk juga ada lomba kaligrafi, dan lain sebagainya.

MTQ Bid'ah?

Kalau ditelurusi dalam sirah nabawi, memang nabi Muhammad SAW tidak pernah mengadakan lomba yang terstruktur seperti ini. Dan juga tidak pernah disebut dengan istilah MTQ secara khusus.

Jadi kalau mau dikatakan bid'ah, sebagai istilah secara bahasa memang benar. Karena arti kata bid'ah secara bahasa memang merujuk kepada makna sesuatu yang baru, atau mengadakan dari yang tidak ada sebelumnya sehingga menjadi ada.

Namun kalau yang dimaksud dengan bid'ah adalah bid'ah yang sesat dan menyesatkan, tentu saja tidak bisa diterima. Apakahsekelompok orang yang saling berlomba untuk membaca Al-Quran dengan baik dan indah, lantas jadi masuk neraka?

Kalau memang demikian, harus ada dalil yang qath'i dan eksplisit yang menyebutkan bahwa siapa saja yang melombaka membaca Al-Quran akan dilaknat dan masuk neraka.

Kenapa Tidak ikut Dibid'ahkan Juga?

Kriteria memasukkan segala sesuatu yang tidak ada di zaman Rasulullah SAW sebagai bid'ah sebenarnya agak gegabah. Karena akan melahirkan beberapa konsekuensi yang membingungkan.

Kriteria seperti ini agak lemah dan mematikan langkah. Karena pada akhirnya akan ada begitu banyak tanaqudhat (ketidak-kosekuenan). Sebuah rumus yang kalau diuji masih menimbulkan banyak masalah besar. Dan akan ada begitu banyak bid'ah pada akhirnya kalau demikian, misalnya:

1. Mushaf Al-Quran

Kalau kita buat perbandingan, dahulu di masa Rasulullah SAW masih hidup, beliau tidak pernah memerintahkan untuk membukukan Al-Quran dalam satu bundel (jilid). Mushaf yang kita miliki sekarang ini, kalau mau pakai kriteria di atas, berarti seharusnya juga bid'ah. Sebab di zaman nabi belum ada, bahkan nabi SAW tidak pernah memerintahkannya.

Mushaf baru dijilid jadi satu di zaman Abu Bakar atas usulan Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhuma. Awalnya Abu Bakar pun menolak usulan itu, bahkan secara implisit, beliau berpendapat bahwa hal itu merupakan bid'ah.

Barulah setelah Umar memberikan wawasan yang lebih luas dan mendalam tentang mengapa kita perlu membukukan Quran dalam satu jilid, akhirnya Allah SWT melapangkan dada Abu Bakar. Dan jadilah mushaf ada di tangan kita hari ini.

Kalau logika bid'ah yang di atas mau diterapkan, maka seharusnya semua mushaf itu harus dibakar habis, karena membukukan Al-Quran, apalagi mencetaknya besar-besaran, sampai ditambahi harakat dan titik di sana sini, semua itu seharusnya juga bid'ah.

Kenapa mushaf tidak dibid'ahkan?

2. Urutan Surat Quran

Kalau logika kriteria bid'ah di atas mau diterapkan, maka seharusnya urutan surat-surat dalam Al-Quran mulia dari surat Al-Fatihah hingga surat An-Naas juga bid'ah. Karena disusun bukan berdasarkan perintah atau petunjuk nabi Muhammad SAW, melainkan hasil ijma' para shahabat.

Nabi SAW tidak pernah mengurutkannya sedemikian rupa. Yang beliau informasikan hanyalah alamat suatu ayat pada suatu surat. Beliau menjelaskan bila ada satu rangkaian ayat yang turun, bahwa posisi rangkaian ayat ini setelah ayat anu dan sebelum ayat anu.

Adapun urutan surat-surat itu, para ulama mengatakan adalah merupakan ijma' para shahabat saat itu. Dan bukan dari sabda Nabi secara langsung.

Kenapa tidak dibid'ahkan?

3. Penanggalan Hijriyah

Kalau logika kriteria bid'ah di atas mau diterapkan, makaseharusnya sistem penanggalan hijriyah juga termasuk bid'ah adalah sistem penanggalan hjriyah. Sepanjang hayatnya, Rasulullah SAW tidak pernah memberi isyarat apapun apalagi perintah, untuk membuat kalender Islam yang dimulai tahun perhitungannya sejak tahun terjadinya peristiwa hijrah beliau SAW.

Penetapan itu dilakukan setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, bahkan setelah Abu Bakar meninggal juga. Baru di zaman khalifah Umar ditetapkan hal itu.

Aneh sekali, kenapa sistem kalender hijriyah itu tidak ikut dibid'ahkan?

4. Sistem Kritik Hadits

Dan seharusnya yang paling harus dibid'ahkan pertama kali adalah ilu naqd (kritik) hadits, termasuk di dalamnya al-jarhu watta'dil. Sebab isitlah-isitlah yang kita gunakan dalam ilmu itu seperti hadits shahih, hasan, dhaif, mursal, dan lain-lainnya tidak pernah ada di zaman nabi. Bahkan beliau SAW tidak pernah memerintahkan kita untuk menggunakan istilah-isitlah itu tersebut.

Semua orang di zaman nabi mendengar kabar bahwa Rasulullah berkata begini dan begitu, langsung percaya. Tidak ada ceritanya mereka harus mengelompokkan para perawi hadits itu dengan beragam isitlah, seperti tsiqah atau kadzdzab.

Kenapa ilmu al-jarh watta'dil tidak ikut dibid'ahkan?

5. Perguruan Tinggi Islam

Semasa hidupnya Rasulullah SAW belum pernah mendirikan kampus perguruan tinggi. Tidak ada fakultas dan tidak ada cabang ilmu seperti tafsir, hadits, syariah, tarbiyah, adab dan sejenisnya.

Kalau mau pakai kriteria sempit di atas, jelas sekali bahwa perguruan tinggi adalah perbuatan bid'ah. Jelas sekali tidak ada contoh yang dilakukan oleh Rasululah SAW, bahkan tidak juga di zaman para salafunashshalih.

Kampus Islam baru ada sekitar 1.000 tahun yang lalu, salah satunya Al-Jami; Al-Azhar di Mesir, yang didirikan oleh daulat Fathimiyah.

Kenapa perguruan tinggi tidak ikut dibid'ahkan? Bukankah tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW?

Dan masih banyak lagi paradoksi lainnya bahkan tidak terhingga jumlahnya, seandainya kita asal comot dalam membuat kriteria bid'ah. Sebuah kriteria yang juga hanya merupakan hasil imaginasi selintas, tapi tidak teruji di dalam alam nyata.

Kritik Atas Kriteria Bid'ah

Maka yang seharusnya dikaji ulang adalah acuan dalam membuat kriteria perbuatan bid'ah. Apakah benar bid'ah yang sesat itu hanya mengacu kepada makna bahasa? Apakah benar bahwa bid'ah adalah segala yang tidak ada di zaman Rasulullah SAW?

Jadi kalau begitu, 1, 5 milyar umat Islam sedunia hari ini juga merupakan barang bid'ah. Sebab kita semua ini belum pernah ada di zaman nabi, bukan?

Lalu apakah seluruh umat Islam sedunia ini pasti sesat dan masuk neraka, hanya karena mereka tidak pernah ada di zaman beliau SAW?

Lahir di Mesir

Kami tidak pernah kuliah di Mesir, kami kuliah S-1 di LIPIA, sebagaimana yang kami ceritakan kemarin di rubrik ini juga. Sedangkan hubungannya dengan Mesir, kebetulan kedua orang tua kami dahulu sama-sama kuliah di Mesir, dan akhirnya mereka menikah di sana, lalu kami lahir di Cairo pada tahun 1969. Setelah itu kami sekeluarga pulang ke tanah air.

Namun hubungan dengan Mesir kembali tersambung ketika kuliah di LIPIA, karena saat itu hampir semua dosen senior berkebangsaan Mesir. Ada Doktor Atha Sya'ban dan Doktor Salim Salamah, keduanya dosen mata kuliah fiqih. Juga ada Doktor Abdullathif Al-Asymawi yang mengajar hadits hukum. Ada Doktor Syihab An-Namir dan Doktor Abdullah Yusuf yang mengajar Nahwu.

Saat duduk di bangku i'dad lughawi dan takmili, kami juga diajar langsung oleh pakar bahasa Arab berkebangsaan Mesir, seperti Al-Ustadz Abdul Halim, Syeikh Abdussattar, Doktor Abdurrahim dan lainnya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Mau Belajar di LIPIA Jakarta
3 April 2008, 02:45 | Dakwah | 21.729 views
Penebus untuk Siksa Kubur
2 April 2008, 22:34 | Aqidah | 8.289 views
Fenomena Bencong di Teve
2 April 2008, 00:02 | Kontemporer | 6.375 views
Berdakwah Melalui Parpol Tidak Syar'i?
31 March 2008, 23:03 | Negara | 5.485 views
Shalat Jumat Bagi Wanita
31 March 2008, 00:39 | Shalat | 7.192 views
Baru Ketahuan Sudah Hamil Duluan Setelah Dinikahkan
28 March 2008, 00:32 | Nikah | 9.407 views
Apa yang Harus Dilakukan Kalau Nanti Saya Sudah Masuk Islam?
27 March 2008, 22:58 | Aqidah | 7.833 views
Tanpa Nabi Muhammad Dunia Tidak Tercipta?
27 March 2008, 02:14 | Hadits | 14.748 views
Zakat untuk Pembangunan Masjid
26 March 2008, 21:39 | Zakat | 6.884 views
Haramkah Menikah dengan Orang Ahmadiyah
26 March 2008, 02:02 | Aqidah | 6.887 views
Dapat Fee dari Penjual
26 March 2008, 02:01 | Muamalat | 5.343 views
Madzhab Hanafi Mengakui Ada Nabi Setelah Muhammad?
23 March 2008, 22:39 | Aqidah | 7.906 views
Pembagian Waris Berdasarkan Perasaan dan Kekeluargaan
23 March 2008, 21:52 | Mawaris | 10.628 views
Siapakah yang Disalib?
23 March 2008, 01:38 | Aqidah | 12.877 views
Membaca Amin Setelah Imam Selesai Fatihah
23 March 2008, 00:23 | Shalat | 12.295 views
Shalat Witir Hukumnya Wajib?
22 March 2008, 01:45 | Shalat | 8.275 views
Ingin Membuat Buku Digital dan Online
20 March 2008, 02:04 | Umum | 4.989 views
Bagaimana Menghadapi Tukang Santet
19 March 2008, 23:50 | Aqidah | 17.775 views
Wali Hakim Wanita
18 March 2008, 00:32 | Nikah | 5.087 views
Ka'bah Itu Apa Isinya?
18 March 2008, 00:01 | Haji | 7.196 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 33,805,371 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

23-5-2018 :
Subuh 04:35 | Zhuhur 11:51 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:47 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img