Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Menolak Ijab Kabul Pacar yang Dinikahkan dengan Orang Lain | rumahfiqih.com

Menolak Ijab Kabul Pacar yang Dinikahkan dengan Orang Lain

Tue 8 April 2008 21:47 | Nikah | 5.748 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Dear Ustad,

Begini pak ustad, saya dan calon saya merencanakan akan menikah akan tetapi ada suatu permasalahan hingga calon saya akan dinikahkan dengan orang lain (dijodohkan dengan orang lain) yang saya mau tanyakan apabila mereka (calon saya dan pasangannya) pada saat melakukan ijab kabul saya menyatakan tidak setuju atas pernikahannya di depan penghulu bagaimana hukumnya pak?

Terima Kasih

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Satu hal yang perlu diketahui bahwa dalam pandangan syariah Islam, yang namanya Ijab kabul itu tidak ditetapkan oleh penghulu atau pun pengadilan. Namun ijab kabul itu adalah akad atau kesepakatan antara dua belah pihak. Sehingga proses ijab kabul pernikahan itu lebih dekat dengan proses ijab kabul antara penjual dan pembeli.

Misalnya sebagai ilustrasi, seorang yang punya barang tentu punya hak untuk menjual barangnya. Dan seorang yang punya uang tentu juga berhak membeli barang dengan uang itu. Dan ketika keduanya bersepakat melakukan jual beli, tidak ada seorang pun yang berhak untuk menyatakan setuju atau tidak setuju. Bahkan dalam hal ini tidak dibutuhkan persetujuan dari pihak ketiga.

Maka demikian pula halnya dengan akad nikah atau ijab kabul. Kalau ada seorang laki-laki yang memiliki anak gadis dan dia berkehendak menikahkan puterinya itu dengan seorang laki-laki, maka 100% adalah sesuatu yang merupakan hak sepenuhnya. Dan bila laki-laki itu menyatakan persetujuannya, tidak ada satu pun pihak yang bisa mengatakan tidak setuju.

Kecuali yang mereka butuhkan hanya 2 orang saksi laki-laki yang beragama Islam, sudah baligh, berakal, dan adil. Itu saja dan cukup. Dan para prinsip dasarnya, seorang penghulu atau petugas KUA bahkan sama sekali tidak diperlukan untuk urusan sah ijab kabul secara syar'i.

Pak KUA itu hanya petugas yang batas maksimal perannya hanya mencatat sebuah akad nikah, itu saja dan tidak lebih. Jadi hanya urusan administrasi. Maka seandainya seorang petugas KUA tidak datang, atau terlambat dalam ijab kabul, tidak perlu ditunggu kedatangannya. Akad nikah bisa tetap sah dan si penghulu itu bisa ditinggal saja, karena kehadirannya sama sekali tidak ada pengaruhnya atas ijab kabul secara syar'i.

Sebab sebuah ijab kabul itu adalah sebuah kesepakatan yang dilafadzkan antara seorang ayah dengan calon menantunya. Kapan pun dan di mana pun ijab kabul itu dilakukan, hukumnya sah.

Kalau pak penghulu saja tidak punya peran apa-apa, maka apalagi pacarnya. Bila si pacar itu tidak setuju, yang bisa dilakukan memang hanya gigit jari saja. karena dia tidak punya kedudukan apa pun secara hukum. Apalagi pakai urusan bilang tidak setuju segala. Jelas tidak ada artinya.

Posisi ini harus dipahami benar oleh setiap laki-laki yang berkeinginan untuk menikahi seorang gadis. Langkah paling dasar adalah mendapat persetujuan dari calon ayah mertua. Kalau itu tidak didapatnya, berarti batalkan saja niat untuk menikahi gadis itu.

Mencintai seorang gadis tanpa dapat restu ayahnya, akan sama kasusnya dengan membeli mobil tapi tidak pakai mesin. Buat apa beli mobil hanya bodynya saja, apa mau digenjot pakai kaki? Mendingan jalan kaki.

Peran Ayah Sebagai Wali adalah Mutlak

Dalam hukum Islam tidak dikenal kawin lari, juga tidak dikenal istilah wali hakim. Kawin lari yang dimaksud adalah seorang gadis nekad dibawa lari oleh pacarnya untuk dinikahi tanpa izin dari ayahnya. Ini jelas dosa dan zina sekaligus. Dosa karena pergi membawa gadis orang dan zina karena apapun yang dilakukan, tetap saja kawin lari itu tidak sah, karena Ayah sang gadis sebagai wali tidak mengizinkan.

Biasanya, kawin lari itu menggunakan wali hakim. Padahal istilah itu hanya berlaku manakala seorang wanita hidup sebatang kara, tidak punya keluarga yang masih hidup dan memenuhi syarat untuk menjadi wali baginya. Maka saat itu, pemerintah yang sah adalah wali baginya. Pemerintah yang sah adalah Presiden, Menteri Agama, Kepala Kanwil Departemen Agama, Kepada Kantor Urusan Agama dan pejabat yang berwenang.

Barulah pak penghulu dari KUA punya peran saat itu.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Apa yang Harus Kita Lakukan dengan Film Fitna?
7 April 2008, 20:04 | Umum | 5.045 views
Foto Syur Artis Indonesia di Kolam Renang
7 April 2008, 19:26 | Kontemporer | 11.780 views
Keutamaan Shalat Jama'ah
4 April 2008, 01:02 | Shalat | 6.606 views
Apakah MTQ Bid'ah?
4 April 2008, 00:48 | Quran | 13.044 views
Mau Belajar di LIPIA Jakarta
3 April 2008, 02:45 | Dakwah | 21.761 views
Penebus untuk Siksa Kubur
2 April 2008, 22:34 | Aqidah | 8.294 views
Fenomena Bencong di Teve
2 April 2008, 00:02 | Kontemporer | 6.376 views
Berdakwah Melalui Parpol Tidak Syar'i?
31 March 2008, 23:03 | Negara | 5.487 views
Shalat Jumat Bagi Wanita
31 March 2008, 00:39 | Shalat | 7.196 views
Baru Ketahuan Sudah Hamil Duluan Setelah Dinikahkan
28 March 2008, 00:32 | Nikah | 9.415 views
Apa yang Harus Dilakukan Kalau Nanti Saya Sudah Masuk Islam?
27 March 2008, 22:58 | Aqidah | 7.841 views
Tanpa Nabi Muhammad Dunia Tidak Tercipta?
27 March 2008, 02:14 | Hadits | 14.790 views
Zakat untuk Pembangunan Masjid
26 March 2008, 21:39 | Zakat | 6.887 views
Haramkah Menikah dengan Orang Ahmadiyah
26 March 2008, 02:02 | Aqidah | 6.893 views
Dapat Fee dari Penjual
26 March 2008, 02:01 | Muamalat | 5.348 views
Madzhab Hanafi Mengakui Ada Nabi Setelah Muhammad?
23 March 2008, 22:39 | Aqidah | 7.909 views
Pembagian Waris Berdasarkan Perasaan dan Kekeluargaan
23 March 2008, 21:52 | Mawaris | 10.639 views
Siapakah yang Disalib?
23 March 2008, 01:38 | Aqidah | 12.908 views
Membaca Amin Setelah Imam Selesai Fatihah
23 March 2008, 00:23 | Shalat | 12.321 views
Shalat Witir Hukumnya Wajib?
22 March 2008, 01:45 | Shalat | 8.290 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 33,853,687 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

25-5-2018 :
Subuh 04:35 | Zhuhur 11:51 | Ashar 15:13 | Maghrib 17:47 | Isya 18:59 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img