Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Warisan-Anak Meninggal Duluan | rumahfiqih.com

Warisan-Anak Meninggal Duluan

Tue 8 April 2008 22:50 | Mawaris | 6.105 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaikum wr.wb

Maaf pak ustad, saya ingin memperjelas kembali mengenai anak yang meninggal terlebih dahulu dari ayahnya, maka si anak tidak dapat hak waris dari ayahnya, apakah benar?

Padahal bukan keinginan si anak untuk meninggal duluan, mengenai kematian kan Allah yang mengatur.

Mohon konfirmasinya dan terima kasih

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Urusan membagi warisan pada hakikatnya adalah ketentuan dari Allah SWT tentang bagaimana cara menentukan siapa yang menjadi pemilik atas suatu harta yang telah ditinggal mati oleh pemiliknya.

Dan di antara prinsip yang paling dasar dari ilmu faraidh adalah memastikan bahwa orang yang menjadi ahli waris (penerima harta waris) masih hidup. Karena hal untuk memiliki ada di tangan manusia yang masih hidup.

Seorang yang sudah meninggal dunia, secara hukum tidak punya taklif atau beban untuk melakukan ibadah lagi. Dia tidak lagi diwajibkan shalat, puasa, zakat, haji atau melakukan amal shalih. Sebab ajal (time limit) nya sudah dilewati. Dan salah satu konsekuensi dari kematian, dia sudah tidak punya lagi hak untuk memiliki atas suatu harta.

Itulah kepana bila seorang yang punya harta wafat, harus dibagi waris. Karena orang mati tidak punya hak kepemilikan, terhitung sejak dia mati. Dia sudah tidak punya hak apa-apa lagi terhadap harta yang dia miliki, apalagi dengan harta orang lain.

Prinsip ini adalah dasar ilmu faraidh. Perbandingannya kalau dalam ilu silat, pemahaman ini ibarat kuda-kuda dan latihan dasar pernafasan. Tidak ada jago silat yang tidak menguasai teknik kuda-kuda dan pernafasan. Sebelum diajari dengan berbagai jurus dari Cimande, Cingkrig, dan berbagai Ci yang lainnya, jurus dasar adalah kuda-kuda dan pernafasan.

Maka jurus kuda-kuda di dalam ilmu faraidh adalah penguasaan doktrin dasar bahwa kita hanya mengurus harta orang buat orang yang masih hidup, bukan mengurus harta buat orang yang sudah mati. Kalau dia sudah mati, justru kita urus hartanya agar ahli warisnya yang masih hidup bisa memilikinya.

Kententuan Dasar

Ketentuannya begini, seorang akan menerima harta warisan dari orang lain apabila saat orang lain itu meninggal, dirinya masih hidup. Sebaliknya, bila dirinya telah meninggal duluan, sedangkan pemilik harta yang mau dibagi warisanya malah masih hidup, maka tidak ada cerita orang hidup memberi harta kepada orang mati.

Bedakan dengan kapan pembagian warisan dilakukan. Titik perhitungannya bukan kapan pembagian warisan itu dilakukan, tetapi perhitungannya adalah kapan yang punya harta dan mau dibagi waris harta itu meninggal.

Kalau pada saat dia meninggal ada ahli waris yang sudah meninggal duluna, jelas ahli waris tidak akan mendapatkan warisan. Tapi kalau ahli waris itu masih hidup saat orang yang hartanya mau dibagi waris, maka ahli waris itu akan dapat harta warisan. Meskipun saat itu belum lagi dilakukan pembagian.

Bab pertama dari ilmu faraidh adalah masalah syarat pembagian waris. Di sana disebutkan bahwa syarat pembagian waris ada tiga hal utama, yaitu:

  1. Telah Meninggalnya Pemilik Harta Warisan
  2. Masih Hidupnya Ahli Waris
  3. Tidak Adanya Mawani (pencegah)

Setiap anak Madrasah Ibtidaiyah yang belajar ilmu waris pasti akan tahu tiga syarat mutlak itu. Sehingga masalah seperti ini tidak perlu diperdebatkan lagi.

Kematian Allah Yang Atur

Tidak ada yang salah dalam ungkapan bahwa kematian itu hanya Allah yang atur. Dan yang namanya aturan Allah SWT itu tidak ada seorang pun yang bisa protes. Kita sepakat dalam masalah ini, bukan?

Nah, demikian juga dengan ilmu faraidh, segala ketentuannya adalah aturan dari Allah SWT juga. Sama sekali bukan buatan manusia, bukan buatan ulama atau ustadz, tetapi semata-mata buatan Allah.

Jadi kalau Allah SWT sudah mengatur bahwa anak yang meninggal duluan tidak akan mendapat harta warisan dari ayahnya, apakah kita mau melawan ketentuan dari Allah SWT?

Ilmu waris adalah ilmu yang Allah SWT turunkan dari langit, jadi hormatlah sedikit aturan yang Allah buat itu. Jangan dianggap ilmu itu bisa diotak-atik, apalagi diakal-akali. Nanti kualat sama Allah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Menolak Ijab Kabul Pacar yang Dinikahkan dengan Orang Lain
8 April 2008, 21:47 | Nikah | 6.245 views
Apa yang Harus Kita Lakukan dengan Film Fitna?
7 April 2008, 20:04 | Umum | 5.386 views
Foto Syur Artis Indonesia di Kolam Renang
7 April 2008, 19:26 | Kontemporer | 12.226 views
Keutamaan Shalat Jama'ah
4 April 2008, 01:02 | Shalat | 7.083 views
Apakah MTQ Bid'ah?
4 April 2008, 00:48 | Quran | 14.224 views
Mau Belajar di LIPIA Jakarta
3 April 2008, 02:45 | Dakwah | 26.156 views
Penebus untuk Siksa Kubur
2 April 2008, 22:34 | Aqidah | 8.746 views
Fenomena Bencong di Teve
2 April 2008, 00:02 | Kontemporer | 6.887 views
Berdakwah Melalui Parpol Tidak Syar'i?
31 March 2008, 23:03 | Negara | 6.046 views
Shalat Jumat Bagi Wanita
31 March 2008, 00:39 | Shalat | 8.081 views
Baru Ketahuan Sudah Hamil Duluan Setelah Dinikahkan
28 March 2008, 00:32 | Nikah | 10.659 views
Apa yang Harus Dilakukan Kalau Nanti Saya Sudah Masuk Islam?
27 March 2008, 22:58 | Aqidah | 8.864 views
Tanpa Nabi Muhammad Dunia Tidak Tercipta?
27 March 2008, 02:14 | Hadits | 29.098 views
Zakat untuk Pembangunan Masjid
26 March 2008, 21:39 | Zakat | 7.263 views
Haramkah Menikah dengan Orang Ahmadiyah
26 March 2008, 02:02 | Aqidah | 7.460 views
Dapat Fee dari Penjual
26 March 2008, 02:01 | Muamalat | 5.648 views
Madzhab Hanafi Mengakui Ada Nabi Setelah Muhammad?
23 March 2008, 22:39 | Aqidah | 8.593 views
Pembagian Waris Berdasarkan Perasaan dan Kekeluargaan
23 March 2008, 21:52 | Mawaris | 11.774 views
Siapakah yang Disalib?
23 March 2008, 01:38 | Aqidah | 15.680 views
Membaca Amin Setelah Imam Selesai Fatihah
23 March 2008, 00:23 | Shalat | 14.505 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,145,703 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

8-12-2019
Subuh 04:07 | Zhuhur 11:46 | Ashar 15:13 | Maghrib 18:03 | Isya 19:16 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img