Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Mengulang Shalat Karena Kurang Khusyu' | rumahfiqih.com

Mengulang Shalat Karena Kurang Khusyu'

Thu 17 April 2008 01:06 | Shalat | 13.661 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu 'alaykum, ustadz

Jika kita sedang sholat dan berusaha untuk khusyu, tetapi masih saja kepikiran hal-hal lain (duniawi), sehingga sholat tersebut diulang-ulang kembali meski belum merasa khusyu juga,

Apakah hal tersebut diperbolehkan? Bagaimana caranya supaya sholat khusyu' sementara kita dikejar-kejar pekerjaan dan waktu yang sangat singkat (misal, sholat ashar pada waktu jam kerja)?

Jazakumullah..

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mengejar kekhusyuan dalam shalat adalah perbuatan yang sangat mulia. Tentunya shalat yang lebih utama adalah shalat yang khusyu'. Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran, bahwa ciri orang yang beriman adalah yang khusyu' ketika shalat.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya (QS. Al-Mukminun: 1-2)

Sayangnya, tidak pernah ada standar dari shalat khusyu' dari sisi ilmu fiqih dan hukum. Karena pada hakikatnya khusyu' itu sendiri adalah sebuah sikap hati, bukan sikap fisik atau ucapan. Sehingga apa yang terasa di dalam hati memang tidak ada ukurannya.

Namun yang kita sepakati adalah bahwa orang yang paling khusyu' shalatnya adalah Rasulullah SAW. Tidak ada seorang pun yang kekhusyuan shalatnya melebihi kekhusyuan beliau.

Dan kalau melihat tata cara shalat Rasulullah SAW, nampaknya kekhusyuan shalat beliau tidak seperti yang seringkali kita bayangkan. Kita sering membayangkan bahwa orang shalat yang khusyu' itu tidak mengingat apa-apa, terlepas dari dunia luar, keluar dari alam kesadaran, lupa segala-galanya, karena sibuk asyik masyuk berkhalwat dengan Allah SWT.

Namun ternyata gambaran yang kita terima dari shalat Rasulullah SAW tidak demikian. Kalau jadi imam dan mendengar ada bayi menangis pada shaf di belakangnya, beliau malah mempercepat shalatnya.

Kalau dibilang shalat khusyu' itu tidak ingat apa-apa dan terlepas dari dunia luar, apakah berarti shalat beliau tidak khusyu'?

Bahkan beliau memerintahkan kita yang sedang untuk mencegah bila ada orang lain mau lewat di depan kita. Kalau khusyu' adalah hanya mengingat Allah dan tidak tahu situasi di lapangan, maka apakah beliau tidak khusyu' dalam shalatnya?

Bahkan beliau SAW memerintahkan kita yang sedang shalat untuk membunuh ular atau kalajengking. Bayangkan, shalat sambil membunuh ular, apakah berarti beliau mengajarkan shalat yang tidak khusyu'.

Kalau nabi Muhammad SAW melakukan itu semua di dalam shalat, lalu kita katakan bahwa perbuatan itu menunjukkan ketidak-khusyuan, siapa lagi yang kita jadikan panutan dalam shalat?

Bukankah Rasulullah SAW adalah satu-satunya sumber petunjuk kita dalam melakukan beragam ibadah ritual, termasuk juga shalat?

Kesimpulan Para Ulama tentang Khusyu'

Para ulama ahli fiqh dalam semua kitab mereka telah mengklasifikasi tiap gerakan dan bacaan shalat. Ada yang merupakan rukun, ada yang merupakan wajib, sunnah dan lainnya.

Ternyata kalau kita perhatikan, meski tetap menjadi kesempurnaan shalat, nakum kekhusyuan tidak pernah menjadi rukun shalat, bahkan tidak juga menjadi kewajiban.

Yang menjadi rukun malah thuma'ninah, yaitu tenang. Dan tentu saja thuma'ninah bukan khusyu'. Lain thuma'ninah dan lain lagi khusyu'.

Maka seorang yang kebetulan ketika shalat tidak mengalami ciri khusyu', tapi memenuhi semua rukun dan wajib shalat, shalatnya tetap sah. Dan kalau sudah sah, tentu sudah gugur kewajiban untuk melakukan shalat.

Intinya kami ingin mengatakan bahwa pada dasarnya tidak ada kewajiban untuk mengulang shalat itu.

Walau pun juga perlu diketahui bahwa mengulang shalat wajib memang ada dalil yang membolehkannya. Namun penyebabnya bukan semata-mata karena keyakinan bahwa shalat yang pertama itu tidak syah.

Mengulangi shalat boleh dilakukan karena memang ada riwayat yang menyebtkan hal itu. Salah satu penyebabnya karena memang ingin mendapatkan pahala berjamaah.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc


Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Adegan Lesbianisme di Video Klip PADI
16 April 2008, 21:41 | Wanita | 5.011 views
Apakah Perbedaan Itu Rahmat Ataukah Adzab?
15 April 2008, 23:04 | Ushul Fiqih | 5.524 views
Ahmad Heriyawan, Ustadz yang Jadi Gubernur
15 April 2008, 00:38 | Negara | 4.792 views
Mengapa Manusia Berbeda-Beda?
14 April 2008, 19:44 | Umum | 12.365 views
Mama Lauren Bukan Dukun?
14 April 2008, 01:58 | Aqidah | 5.849 views
Zakat Mobil
14 April 2008, 01:53 | Zakat | 4.916 views
Kehalalan Alkohol?
11 April 2008, 23:18 | Kuliner | 6.132 views
Fatwa Dr. Yusuf Qordhowi Tentang Halalnya 0.5% Alkohol
11 April 2008, 02:57 | Kuliner | 7.340 views
Haramkah Uang Rupiah Kita?
11 April 2008, 01:31 | Muamalat | 4.980 views
Harta Pemberian Orang Tua
10 April 2008, 23:15 | Mawaris | 4.159 views
Hadits Pejabat yang Menerima Hadiah
10 April 2008, 01:48 | Hadits | 6.118 views
Film Islami yang Sesuai Syariat Islam
8 April 2008, 22:51 | Umum | 4.878 views
Warisan-Anak Meninggal Duluan
8 April 2008, 22:50 | Mawaris | 4.121 views
Menolak Ijab Kabul Pacar yang Dinikahkan dengan Orang Lain
8 April 2008, 21:47 | Nikah | 4.401 views
Apa yang Harus Kita Lakukan dengan Film Fitna?
7 April 2008, 20:04 | Umum | 3.903 views
Foto Syur Artis Indonesia di Kolam Renang
7 April 2008, 19:26 | Wanita | 9.851 views
Keutamaan Shalat Jama'ah
4 April 2008, 01:02 | Shalat | 4.986 views
Apakah MTQ Bid'ah?
4 April 2008, 00:48 | Quran | 9.527 views
Mau Belajar di LIPIA Jakarta
3 April 2008, 02:45 | Dakwah | 10.501 views
Penebus untuk Siksa Kubur
2 April 2008, 22:34 | Aqidah | 6.734 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,870,517 views