Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Nikah, Main-Main Pun Jadi? | rumahfiqih.com

Nikah, Main-Main Pun Jadi?

Sun 20 April 2008 01:33 | Nikah | 8.996 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamua'alaikum Ustadz,

Saya ingin bertanya tentang sebuah hadis yang bunyinya, " tiga hal yang dilkuakan serius jadi dan dilakukan main-main jadi, yaitu nikah, thalaq dan rujuk" (Hadis shahih menurut Ahmad, Riwayat Empat Imam kecuali Nasa'i)

  1. Apa maksudnya nikah itu jadi walaupun dilakukan main-main?
  2. Ada seorang teman yang berkata "Nikahnya sama aku aja..." apakah itu bisa dikatakan sebagai khitbah? (Padahal ia mengucapkan itu hanya bercanda) Apakah hal ini yang dimaksud dalam hadist tersebut?

Demikian pertanyaan saya. Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Wassalamualaikum

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Yang dimaksud dengan main-main adalah apabila akad nikah dilakukan oleh para pihak yang memang punya wewenang untuk melakukanya.

Para pihak itu yang pertama adalah ayah kandung si gadis. Apabila seorang Ayah dari seorang gadis mengucapkan ijab, walau pun sambil bercanda atau main-main, maka tetap dianggap serius. Ijab itu setidaknya mengandung makna yang intinya menikahkan anak gadis itu dengan orang yang diajak bicara.

Misalnya ucapan sepert ini, "Kamu Aku nikahkan dengan anakku si Jamilah." Atau ungkapan seperti ini, "Kamu saya jadikan suami anak saya si Wardah." Dan ungkapan lain yang sejenis.

Lafadz seperti itu walau pun diucapkan main-main, tetap terhitung serius dan sah dalam hukum Islam sebagai ijab.

Para pihak kedua adalah orang yang diajak bicara oleh Ayah si gadis itu, dengan syarat orang itu muslim, laki-laki, dan menjawab ijba itu dengan lafadz qabul.

Lafadz qabul itu intinya merupakan persetujuan atas lafadz ijab yang sebelumnya diucapkan. Bahkan para ulama mengatakan bahwa satu ucapan yang maknanya berupa bersetujuan sekali pun, sudah dianggap sah sebagai qabul.

Misalnya, si laki-laki itu mengucapkan, "Ya." Atau dia mengatakan, "Oke." Atau dia bilang, "Yes", sambil mengepalkan tangan. Maka ucapan itu sudah dianggap sebagai lafadz qabul yang sah dalam hukum Islam.

Lalu apakah sudah sah akad nikah itu?

Belum, jangan terburu-buru dulu. Selama kedua belah pihak saling berijab dan qabul namun kalau tidak ada saksinya, tetap saja akad itu belum sah.

Untuk itu, keberadaan dua orang saksi menjadi penentu, apakah ijab kabul itu sah atau tidak. Syarat sebagai saksi adalah:

  1. Laki-laki
  2. Muslim
  3. Berakal
  4. Baligh
  5. Adil
  6. Jumlahnya minimal dua orang

Nah, bila semua unsur di atas telah terpenuhi, maka barulah akad nikah itu sah. Walau pun dilakukan tanpa sengaja atau tidak serius. Walau pun dilakukan sambil main-main. Walau pun tidak dilakukan di depan KUA. Walau pun tidak ada lagi orang lain selain empat orang itu saja. Walau pun dilakukan di dalam mobil yang sedang berjalan, atau di atas pesawat yang terbang di langit biru. Walau pun dan walau pun...

Khitbah

Ada pun apakah canda seorang laki-laki kepada seorang wanita untuk menjadi isterinya, apakah terhitung khitbah atau tidak, tentu saja tergantung dari kedua belah pihak.

Sebab khitbah itu bisa kira-kira bisa diibaratkan orang mau beli barang, meski belum terjadi jual beli yang sesungguhnya, cuma sudah memberi uang muka sebagai tanda jadi.

Dengan adanya uang muka atau tanda jadi itu, pemilik barang untuk sementara waktu tidak boleh menjual barang itu kepada pihak lain. Tentu saja waktunya bersifat sementara saja, misalnya seminggu.

Bila dalam waktu seminggu, si calon pembeli tidak segera melunasi sisa pembayarannya, maka uang mukanya hangus, ikatan untuk jual beli putus, dan barang bisa dijual kepada pihak lain.

Demikian juga dengan khitbah, tidak asal becanda tiba-tiba dianggap sudah khitbah. Harus ada titik kesepaktan antara calon suami dengan orang yang paling berhak atas diri seorang gadis, yaitu Ayah kandungnya.

Kalau seorang calon suami ingin menikahi seorang gadis, maka khitbah itu harus disampaikan kepada Ayahnya langsung, bukan kepada si gadis. Si gadis tidak tahu apa-apa dan tidak punya hak secara hukum untuk menerima pinangan orang begitu saja.

Yang namanya melamar atau khitbah adalah menyampaikan keinginan untuk menikahi. Tentu saja keinginan itu bisa diterima atau ditolak. Selama belum ada ungkapan yang menyatakan bahwa lamaran itu diterima, maka status wanita itu belum makhtubah, artinya dia belum sah dilamar orang.

Sehingga bisa saja siapa pun mengajukan lamaran yang sama. Toh kalau semua lamaran itu masih baru ditampung, belum ada satu pun yang disetujui, maka masih selalu terbuka peluang untuk laki-laki mana saja untuk mengajukan lamaran.

Tapi kalau salah satu lamaran itu sudah diterima, maka barulah status gadis itu menjadi makhtubah. Siapapun tidak boleh mengajukan lamaran baru, kecuali bila lamaran yang sudah ada itu kemudian batal karena suatu sebab.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum waramatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Kekhalifahan JAI VS Kekhalifahan Rasullullah
20 April 2008, 00:31 | Negara | 6.109 views
Bingung Menyikapi Perbedaan
19 April 2008, 01:16 | Ushul Fiqih | 6.574 views
Rindu Teori dan Sistem Pendidikan Islam
19 April 2008, 00:57 | Negara | 5.424 views
Kekuatan Asing di Belakang Ahmadiyah?
18 April 2008, 00:00 | Aqidah | 6.302 views
Mengulang Shalat Karena Kurang Khusyu'
17 April 2008, 01:06 | Shalat | 25.027 views
Adegan Lesbianisme di Video Klip PADI
16 April 2008, 21:41 | Kontemporer | 6.449 views
Apakah Perbedaan Itu Rahmat Ataukah Adzab?
15 April 2008, 23:04 | Ushul Fiqih | 7.661 views
Ahmad Heriyawan, Ustadz yang Jadi Gubernur
15 April 2008, 00:38 | Negara | 6.225 views
Mengapa Manusia Berbeda-Beda?
14 April 2008, 19:44 | Umum | 20.321 views
Mama Lauren Bukan Dukun?
14 April 2008, 01:58 | Aqidah | 7.547 views
Zakat Mobil
14 April 2008, 01:53 | Zakat | 6.230 views
Kehalalan Alkohol?
11 April 2008, 23:18 | Kuliner | 8.186 views
Fatwa Dr. Yusuf Qordhowi Tentang Halalnya 0.5% Alkohol
11 April 2008, 02:57 | Kuliner | 10.507 views
Haramkah Uang Rupiah Kita?
11 April 2008, 01:31 | Muamalat | 6.557 views
Harta Pemberian Orang Tua
10 April 2008, 23:15 | Mawaris | 5.528 views
Hadits Pejabat yang Menerima Hadiah
10 April 2008, 01:48 | Hadits | 8.950 views
Film Islami yang Sesuai Syariat Islam
8 April 2008, 22:51 | Umum | 7.368 views
Warisan-Anak Meninggal Duluan
8 April 2008, 22:50 | Mawaris | 5.709 views
Menolak Ijab Kabul Pacar yang Dinikahkan dengan Orang Lain
8 April 2008, 21:47 | Nikah | 5.868 views
Apa yang Harus Kita Lakukan dengan Film Fitna?
7 April 2008, 20:04 | Umum | 5.138 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 34,999,607 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-7-2019
Subuh 04:44 | Zhuhur 12:00 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:56 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img