Apakah Tabungan Perlu Dikeluarkan Zakatnya? | rumahfiqih.com

Apakah Tabungan Perlu Dikeluarkan Zakatnya?

Tue 6 November 2007 22:19 | Zakat > Zakat Uang Harta Emas | 7.189 views

Pertanyaan :

Assalamu'laikum wr. Wb,

Ust. Saya ingin tanya isteri saya tiap bulan mengeluarkan zakat penghasilan, dan dari penghasilan tersebut disisakan untuk menabung di salah satu bank syariah di indonesia, yang saya tanyakan apakah tabungan isteri saya tersebut wajib dikeluarkan zakatnya lagi?

Soalnya isteri pernah bertanya kepada 2 lembaga amil zakat dan jawabnya berbeda 1 amil mengatakan tidak perlu, dan 1 amil mengatakan perlu? Saya dan isteri saya jadi ragu, jadi saya ingin penjelasan dari ust. Kalau perlu dasar apa, dan tidak dasarnya apa?

Wassalamu'alaikum wr. Wb,

Jawaban :

Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya perbedaan pendapat ini tidak perlu ada, apabila tidak ada ijtihad tentang zakat penghasilan.

Sebagaimana kita ketahui, zakat penghasilan seperti gaji, honor, upah dan sejenisnya merupakan bentuk zakat yang di masa lalu belum ditetapkan. Zakat penghasilan baru ditetapkan di masa sekarang ini melalui ijtihad para ulama besar di abad ini.

Sebagai sebuah ijtihad, tentu saja melahirkan pro dan kontra. Yang tidak setuju dengan adanya zakat penghasilan berprinsip bahwa zakat itu bagian dari ibadah ritual, sehingga harus didasari dengan dalil-dalil yang qath'i dan tegas. Dan kitab-kitab hadits atau pun fiqih klasik sama sekali tidak pernah menyinggung tentang kewajiban zakat penghasilan ini.

Lalu apa hubungannya dengan jawaban 2 lembaga zakat yang berbeda?

Begini, lembaga zakat yang mengatakan tidak ada lagi zakat untuk uang tabungan melandaskan ijtihadnya dengan logika bahwa zakat tidak perlu dibayarkan dua kali untuk harta yang sama. Karena pemilik uang sudah bayar zakat penghasilan, maka uang itu tidak perlu lagi dibayarkan zakatnya sebagai zakat tabungan.

Sedangkan lembaga amil yang mewajibkan zakat lagi, berprinsip bahwa semua jenis dan bentu harta ada zakatnya. Ketika menerima sebagai gaji, wajib dikeluarkan zakatnya. Dan ketika disimpan menjadi tabungan lalu terkumpul hinngga mencapai nishab dan haul, wajib lagi dizakatkan.

Nah, seandainya tidak ada zakat penghasilan, tentu tidak perlu ada perbedaan pendapat ini. Karena yang dizakatkan tinggal satu saja, yaitu zakat uang tabungan.

Jadi Mana Yang Benar?

Dalam hal ini kita tidak bisa menyalahkan salah satu pendapat. Keduanya berangkat dari ijtihad yang kuat.

Yang mengatakan harus ada zakat tabungan lagi di luar zakat penghasilan berangkat dari logika bahwa tiap jenis harta zakat ada ketentuan zakatnya. Misalnya seseorang bertani dan mendapatkan panen yang melebihi nisab. Maka dia harus berzakat sesuai dengan ketentuan.

Lalu dari hasil panen yang dijualnya itu, dia membeli beberapa ekor sapi untuk diternakkan. Apabila telah memenuhi nishab dan haulnya, petani yang kini punya profesi sampingan sebagai peternak itu tetap wajib berzakat atas harta ternaknya.

Mengapa demikian?

Karena ternak miliknya itu telah memenuhi syarat baginya untuk wajib mengeluarkan zakat. Meski sumber permodalannya dari hasil panen yang sudah dikurangi untuk berzakat.

Kesimpulan:

Kedua pendapat di atas lagi-lagi adalah hadsil ijtihad yang didapat dari berbagai dalil. Terkadang hasil ijtihad bisa sama dengan sesama para ahli ijtihad yang lain, tetapi tidak jarang hasilnya berbeda-beda.

Perbedaan pandangan itu biasanya lahir karena berbagai sebab. Yang utama di antaranya karena perbedaan sudut pandang, juga karena perbedaan metodologi pengambilan kesimpulan hukum, bahkan tidak jarang perbedaan itu terjadi karena perbedaan dalam menetapkan keshahihan suatu hadits, juga ketika menetapkan kekhususan dan keumumannya.

Buat kita yang awam, hasil ijtihad yang mana saja boleh kita pilih dan suatu ketika boleh saja kita tinggalkan. Sebab boleh jadi ulama yang mengeluarkan hasil ijtihad itu sendiri suatu ketika akan mengoreksi kembali pendapatnya.

Dan hal itu hukumnya sah-sah saja.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc


Baca Lainnya :

Hadits Tidak Boleh Menikahi Sepupu, Shahihkah?
6 November 2007, 22:11 | Hadits > Status Hadits | 6.683 views
Aliran Aliran Sesat di Indonesia
6 November 2007, 09:07 | Aqidah > Aliran-aliran | 11.301 views
Mengapa Palestina Kelihatan Lemah?
6 November 2007, 01:19 | Negara > Polemik | 8.410 views
Tawar Menawar Kewajiban Shalat 5 Waktu
5 November 2007, 00:12 | Hadits > Status Hadits | 7.031 views
Iklan Berwisata ke Israel, Bolehkah?
4 November 2007, 22:19 | Negara > Hukum Islam | 5.338 views
Jumlah Ayat Quran Bukan 6666 Ayat?
4 November 2007, 02:19 | Al-Quran > Mushaf | 7.617 views
Melangkahi Kakak Perempuan Menikah
2 November 2007, 21:23 | Pernikahan > Nikah berbagai keadaan | 16.722 views
Tentang Shalat Qobliyah Jumat
2 November 2007, 00:42 | Shalat > Shalat Jumat | 10.959 views
Menukil Hadist Nabi Tanpa Perawi
1 November 2007, 22:02 | Hadits > Status Hadits | 5.916 views
Majelis Dzikir, Bid'ahkah?
1 November 2007, 08:45 | Kontemporer > Bidah | 9.056 views
Benarkah di Setiap Ayat Alquran Ada Khodam (Jin)?
1 November 2007, 01:10 | Al-Quran > Khazanah | 16.395 views
Pernikahan Rasulullah Saw dengan Aisyah Ra
31 October 2007, 02:48 | Pernikahan > Akad | 8.652 views
Menikah Jarak Jauh
30 October 2007, 01:20 | Pernikahan > Nikah berbagai keadaan | 6.215 views
Pil Penunda Haidh untuk Jamaah Haji Wanita
30 October 2007, 00:58 | Haji > Haji Berbagai Keadaan | 6.792 views
Larangan Nuzulul Qur'an, Maulud Nabi dan Isra Miraj
29 October 2007, 01:02 | Hadits > Penerapan hadits | 9.405 views
Ciri Utama Seorang Ahlusunnah Wal Jamaah
28 October 2007, 11:13 | Aqidah > Aliran-aliran | 10.064 views
Syahadat Haruskah Diulang Seorang Muslim?
27 October 2007, 15:23 | Aqidah > Syahadat | 7.557 views
Antara Hibah dan Waris
24 October 2007, 22:39 | Mawaris > Masalah terkait waris | 8.618 views
Kehidupan Baru Alam Kubur: Dapat Isteri Baru?
23 October 2007, 22:53 | Aqidah > Alam Barzakh | 8.205 views
Ibu Tidak Membagi Warisan Kecuali untuk Dua Anak
23 October 2007, 21:50 | Mawaris > Bagi waris berbagai keadaan | 6.177 views

TOTAL : 2.296 tanya-jawab | 45,538,058 views

KATEGORI

Jadwal Shalat DKI Jakarta

22-10-2021
Subuh 04:11 | Zhuhur 11:39 | Ashar 14:49 | Maghrib 17:49 | Isya 18:58 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Pustaka | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih