Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Wali Nikah Tidak Setuju, Bagaimana Ini? | rumahfiqih.com

Wali Nikah Tidak Setuju, Bagaimana Ini?

Wed 28 May 2008 01:29 | Nikah | 6.965 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr. wb.

Saya sangat mengagumi sistem Islam, dalam hal ini termasuk juga mengenai hak wali ayah kandung. Tapi yang masih menjadi pertanyaan, semoga dapat dijawab adalah:

1. Salah satu syarat wali adalah adil, bagaimana kita mengukurnya?

2. Calon mertua saya membolehkan kami berpacaran selama 7 tahun, tetapi tidak membolehkan kami menikah, padahal sudah 3 kali sayamencoba melamar.Bagaimana menurut ustadz, karena yang jadi masalah bukan tidak setuju dengan saya sebagai menantu, tetapi tidak membolehkan putrinya yang "baru" berumur 20 tahun untuk menikah, karena "malu dianggap menikah muda"?

3. Adik laki-lakinya (wali kedua langsung yang masih ada) tidak setuju dengan ayahnya dan menyatakan ayahnya tidak berlaku adil, dan bersedia menjadi wali menggantikan ayahnya. Apakah dia sudah berhak?

4. Apakah perlu kami bawa ke pengadilan agama? Dalam hal ini ibu kami kurang setuju, takutnya malah keluar biaya banyak tapi hasilnya belum tentu. Tetapi masalahnya UU perkawinan baru membolehkan kita menunggu 1 tahun lagi untuk menikah tanpa izin orang tua. Apakah kita harus "berpacaran" lagi selama total 8 tahun? Opsi menahan diri sudah di luar pembicaraan.

Mohon penjelasan..

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salah satu kesalahan utama dalam maindset berpikir kita terkait dengan perjodohan adalah tidak pernah dilibatkannya orang tua calon isteri sejak awal perkenalan.

Orang tua kandung biasanya diletakkan di urutan terakhir dalam masalah pertimbangan dalam memilih calon isteri. Setelah puluhan faktor yang dijadikan bahan pertimbangan, misalnya faktor kecantikan, wawasan, kecocokan, kesamaan sifat, dan bla-bla yang lain, baru di urutan terakhir tinggal masalah persetujuan dari orang tuanya.

Seolah-olah posisi orang tua hanya sebagai penghias saja, sama sekali tidak ada kaitanya dengan hak dan wewenang utama dalam memberikan izin menikah kepada anak gadisnya.

Sayangnya, kita sebagai umat Islam pun juga ikut-ikutan latah mengikuti jejak bangsa-bangsa kafir, yang sama sekali tidak memandang urusan menikahi wanita terletak 100% pada kemauan dan kehendak dari orang tuanya.

Sekedar sebuah perbandingan saja, anggaplah misalnya ada seorang penggemar motor antik. Suatu saat kebetulan dia melihat sebuah motor kuno dan jatuh hati ingin memiliki. Tentu saja cara yang benar adalah mencari tahu siapa yang punya.

Kalau sudah ketemu, pasti pembicaraannya adalah apakah sang pemilik bersedia untuk menjualnya. Itu nomor satu. Sebab percuma saja berusaha untuk memilikinya seandainya sanga pemilik bertekad tidak akan menjualnya dengan harga berapa pun.

Anggaplah sang pemilik akhirnya tertarik untuk melepas, maka pembicaraan berikutnya adalah: berapa?

Dan begitulah tawar menawar terjadi antara kedua belah pihak. Baik calon pembeli atau pun sang pemilik, sama-sama berdiri sama tinggi untuk membicarakan sebuah harga. Seandainya harga tidak disepakati, si pembeli tidak bisa bilang apa-apa, alias harus mundur teratur.

Kecuali si pembeli memang dasar perampok, maka yang terlintas dalam benaknya adalah bagaimana dengan segala cara bisa merampas, memalsu tanda-tangan, berkolusi dengan keluarga terdekat, menipu, menyogok dan semua cara haram lainnya. Bahkan kalau perlu membunuh si pemilik. Itu logika perampok.

Pokoknya, bagaimana caranya agar motor itu bisa didapat, apa pun caranya. Masa bodo dengan urusan halal dan haram. Kalau perlu fatwa ulama pun diplintir-plintir ke sana kemari.

Nah, demikian juga dengan sebuah pernikahan, ketika seorang pemuda tertarik pada seorang pemudi, maka prosedur paling awal yang harus dilakukanya adalah menemui 'sang pemilik', yang dalam hal ini adalah ayah kandung.

Kedudukanya disebut-sebut sebagai wali mujbir, yaitu wali dengan hak sangat eksklusif. Dia punya wewenang untuk menetapan secara sepihak, bahkan meski tanpa persetujuan anak gadisnya. Hebat, kan?

Maka kalau calon suaminya punya mental perampok, segala cara akan dilakukan pada saat calon ayah mertuanya tidak setuju. Terkadang dukun ikut bicara, setelah upaya sogok menyogok tidak berhasil.

Kadang juga terlintas untuk memalsu wali, dengan cara orang yang sama sekali bukan wali disulap sebagai wali gadungan. Meski pun si wali gadungan itu masih terbilang keluarganya sendiri. Namanya juga wali gadungan, tetap saja di sisi Allah pernikahan itu tidak sah.

Kalau masih nekat mau dipaksakan terjadinya pernikahan juga, ya jadinya zina. Sangat disayangkan ternyata banyak umat Islam yang terbodohi melewati jalan sesat ini. Anehnya, ada saja kiyai atau pun ustadz yang menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah ini.

Mungkin ustadznya juga ustadz gadungan, alias bukan ustadz. Kalau nanti ada yang disiksa di neraka, maka si ustadz gadungan inilah yang paling banyak digebukin malaikat. Sebab karena fatwa sesat darinya, sebuah perzinaan menjadi halal hukumnya.

Jawaban Atas Pertanyaan

1. Istilah adil seringkali dilawakan dengan istilah fasik. Orang yang adil adalah orang yang tidak fasik. Dan banyak ulama mengatakan bahwa orang yang banyak melanggar dosa besar adalah orang yang fasik.

Misalnya sering meninggalkan shalat lima waktu, atau sering tidak puasa Ramadhan, atau sering minum khamar, berzina, mencuri, merampok dan lainnya.

Maka orang yang adil itu adalah sosok seorang muslim yang realtif tidak pernah melakukan dosa-dosa besar yang nyata. Kalau dosa kecil, siapa sih yang merasa dirinya steril dari dosa kecil?

2. Anda boleh tetap berpacaran, tidak mengapa kok. Asalkan dalam pacaran itu anda tidak pernah lupa mengajak serta sang calon mertua. Jadi Anda harus selalu dalam formasi bertiga.

Mau makan, maka jalan bertiga. Mau tamasya, silahkan jalan bertiga. Mau kondangan, jalanlah bertiga. Mau menjemput, jangan lupa bertiga. Mau nonton pentas seni, ya juga bertiga.

Pokoknya selama anda masih bertiga, yaitu Anda, calon isteri dan calon mertua laki-laki, posisi masih aman.

Satu lagi, jangan sekali-kali mencoba menitipkan calon mertua di pintu masuk atau kepada satpam, lalu anda berduaan saja. Itu haram dan melanggar syariah Islam.

Maka bilang pada calon mertua anda, bahwa anda bersedia tetap pacaran dulu, tapi Bapak harus selalu mengawal kami terus sampai akhirnya nanti menikah dengan resmi.

3. Pertanyaan nnomor tiga ini sebenarnya sudah terjawab di mukaddimah. Intinya, haram dan tidak sah kalau adik calon isteri Anda jadi wali, selama dia tidak mendapat wewenang dari ayahnya.

4. Opsinya masih banyak, dan tentunya bukan sekedar sabar. Pacaran terus sampai 20 tahun kalau perlu, tapi dengan syarat ke mana-mana selalu bertiga.

Opsi kedua, ajaklah sang Ayah pergi ngaji ke ustadz yang tahu urusan syariah. Mungkin kalau anda sendiri yang menjelaskan masalah pentingnya pernikahan dan tidak baik kalau menunda-nundanya, kurang punya wibawa.

Mungkin lewat ustadz itu, beliau sadar bahwa tidak ada gunanya menunda-nunda pernikahan anaknya. Kenapa opsi ini tidak dijalankan?

Atau... kalau ke sana mentok, ke sini mentok, lalu anda sendiri tidak mau sabar... ya cari saja calon isteri yang lain, yang ayah kandungnya bisa langsung deal.

Gitu aja kok repot (mohon maaf kepada Gusdur yang dikutip jargonnya).

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Fenomena Kubah Terbang di Ambon, Bolehkah Dipercaya?
27 May 2008, 01:13 | Aqidah | 8.092 views
Perbedaan Tentang Batasan Bid'ah
26 May 2008, 23:49 | Umum | 14.059 views
Berapa Hak Waris Seorang Isteri?
25 May 2008, 21:20 | Mawaris | 99.667 views
Makan di Standing Party
25 May 2008, 20:37 | Kuliner | 10.439 views
Ibadah dan Amalan Apa Saja yang Bisa Ditransfer Pahalanya ke Orang Lain
24 May 2008, 03:28 | Aqidah | 15.884 views
Mohon Semua "Ustad Menjawab" Dibukukan
23 May 2008, 00:17 | Kontemporer | 6.803 views
Apa yang Dibaca Imam Ketika Diam Sebentar Setelah Membaca Fatihah?
22 May 2008, 23:36 | Shalat | 10.333 views
Bacaan Basmallah di Timur Tengah Ada yang Dikeraskan dan Ada Juga yang Tidak
22 May 2008, 03:09 | Shalat | 7.368 views
Apakah yang Dimaksud Golongan Ingkarsunnah?
22 May 2008, 00:37 | Hadits | 5.816 views
Memahami Sifat Shalat Nabi
21 May 2008, 00:42 | Shalat | 10.180 views
Gusdur Vs FPI
20 May 2008, 23:46 | Negara | 7.761 views
Mengapa Partai Islam Melegalkan Tahlil, Yasinan dan Maulid Nabi?
19 May 2008, 23:49 | Negara | 12.924 views
Khilafah Islam, Haruskah Ditegakkan (lagi)?
19 May 2008, 10:56 | Negara | 9.611 views
Sistem Demokrasi: Apakah Sesuai Syariah?
19 May 2008, 03:11 | Negara | 7.596 views
Menjadi TKI Ilegal, Halalkah Rejeki Saya?
15 May 2008, 22:41 | Muamalat | 9.558 views
Bayar Riba dengan Uang Riba, Bolehkah?
14 May 2008, 23:57 | Muamalat | 7.800 views
Isteri Sudah Bersih Tapi Belum Mandi Wajib
14 May 2008, 01:33 | Thaharah | 7.937 views
Benarkah PKS Dapat Dana dari AS?
13 May 2008, 01:49 | Negara | 7.689 views
Menjama Maghrib dan Isya Saat Summer di Austria
13 May 2008, 01:07 | Shalat | 6.156 views
Dakwah Tauhid Tidak Up To Date Lagi?
12 May 2008, 01:23 | Dakwah | 7.429 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 38,480,257 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

21-11-2019
Subuh 04:04 | Zhuhur 11:40 | Ashar 15:04 | Maghrib 17:55 | Isya 19:07 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img