Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Kewajiban Zakat Hadiah Qiyas Dari Zakat Rikaz, Benarkah? | rumahfiqih.com

Kewajiban Zakat Hadiah Qiyas Dari Zakat Rikaz, Benarkah?

Wed 2 July 2014 07:00 | Zakat | 11.139 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum.

Apa benar hadiah yang kita terima wajib dikeluarkan zakatnya?

Sebab kemarin ada seorang ustadz berceramah bahwa semua pemasukan harta yang kita terima, tidak peduli dengan cara apa kita menerimanya, wajib dikeluarkan zakatnya.

Dan termasuk bila kita menerima hadiah, menurut beliau hadiah itu sama saja dengan harta rikaz, yaitu harta yang secara tidak sengaja kita temukan. Namanya rejeki nomplok, makanya harus dibayarkan zakatnya, kata beliau.

Dalam hati saya agak ragu, masak sih orang dapat hadiah wajib bayar zakat? Apakah qiyas seperti itu bisa dibenarkan, ya ustadz?

Mohon pencerahannya dan terima kasih.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau kita buka literatur kitab-kitab fiqih yang muktamad, sebenarnya para ulama sama sekali tidak pernah bicara tentang kewajiban zakat atas hadiah yang kita terima. Rasulullah SAW sendiri seringkali mendapat hadiah dari orang, tetapi tak sekali pun beliau SAW mengajarkan bahwa hadiah itu harus dizakati.

Sedangkan untuk mengqiyaskan hadiah dengan harta rikaz, maka kita perlu lebih berhati-hati dan jangan terlalu mudah melakukan qiyas. Kita wajib mencari kesamaan alias benang merah, yaitu kesamaan illat antara keduanya.

Mari kita coba urai lebih dalam, apa yang dimaksud dengan zakat rikaz. Dari sana nanti, kita akan tahu kira-kira apa bisa hadiah yang kita terima itu diqiyaskan dengan rikaz.

A. Kriteria Harta Rikaz

Tidak semua benda berharga yang ditemukan begitu saja termasuk harta rikaz, kecuali setelah terpenuhi beberapa kriteria berikut :

1. Harta Yang Ditemukan

Rikaz adalah harta milik pihak lain yang ditemukan, baik secara sengaja atau pun secara tidak sengaja, baik dengan biaya modal atau hanya karena tidak sengaja tersandung dan tiba-tiba menemukannya.

Tetapi yang menjadi prinsip utama adalah bahwa harta itu bukan harta pemberian orang yang diserahkan kepada yang menerimanya. Prinsipnya dalam harta rikaz, tidak ada serah-terima harta dari satu pihak ke pihak lain. Yang ada, seseorang menemukan harta yang sudah tidak lagi menjadi milik suatu pihak.

2. Asalnya Milik Orang Kafir

Para ulama sepakat bahwa harta rikaz itu asalnya milik orang kafir (jahiliyah). Sedangkan harta yang di masa lalu milik umat Islam, atau termasuk peninggalan umat muslim terdahulu, tidak termasuk rikaz.

Maka bila seseorang menemukan harta karun dalam peti, namun kemudian diketahui bahwa harta itu milik peninggalan kerajaan Islam di masa lalu, misalnya dari zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid, maka harta itu bukan termasuk rikaz.

Harta itu dahulu milik umat Islam, maka barang itu menjadi luqathah atau barang temuan, dimana ada ketentuan hukum tersendiri tentang masalah ini dalam syariah Islam. Tetapi intinya, tidak ada ketentuan zakat dalam luqathah atau barang temuan.

3. Pemiliknya Telah Meninggal

Syarat ketiga adalah pemilik asli harta itu sudah meninggal dunia, sehingga hak kepemilikan atas harta itu sebenarnya sudah hilang dengan kematiannya. Demikian juga para ahli warisnya sudah tidak ada lagi.

Sedangkan harta berharga milik orang kafir yang ditemukan seorang muslim, namun diketahui bahwa pemiliknya masih hidup, bukan termasuk rikaz.

Secara hukum syariah, harta itu milik yang bersangkutan. Namun apakah boleh dimiliki, tergantung dari keadaannya.

Bila orang kafir pemiliknya termasuk kafir zimmi yang telah terikat perjanjian damai dan hidup berdampingan, maka haram hukumnya bagi seorang muslim untuk mengambil benda milik mereka, walaupun sempat hilang.

Sebaliknya, bila status kekafirannya adalah kafir harbi, yaitu orang kafir yang menghunuskan pedang untuk membunuh kita, maka bukan hanya harta mereka yang halal bagi umat Islam, nyawa mereka pun juga halal. Sebab yang sedang terjadi adalah peperangan yang masyru’, dimana peperangan itu memang menghalalkan darah dan harta.

Kalau harta itu dirampas lewat pertempuran langsung, maka harta itu disebut ghanimah. Sedangkan bila tanpa pertempuran fisik, harta itu disebut fai’.

4. Ditemukan Bukan di Tanah Pribadi

Syarat ketiga adalah harta itu ditemukan di tanah yang bukan aset milik pribadi seorang muslim, misalnya di jalanan umum, atau tanah yang tidak bertuan, atau sebuah desa yang telah ditinggalkan penghuninya.

Bila seorang punya tanah pibadi yang luas, lalu di dalamnya dia menemukan harta peninggalan dari zaman dahulu, maka dalam hal ini bukan termasuk harta rikaz yang wajib dikeluarkan zakatnya.

B. Rikaz Tidak Sama Dengan Zakat Hadiah

Sebagian kalangan ada yang terlalu bersemangat untuk menarik dana umat lewat zakat yang dibuat-buat, seperti zakat atas hadiah yang diterima, baik hadiah karena menang arisan, undian, atau hadiah atas tercapainya prestasi tertentu.

Seorang yang mendapat bonus uang sebagai tunjangan hari raya (THR)dari perusahaan, tiba-tiba diwajibkan untuk membayar zakat, dengan alasan itu termasuk zakat rikaz.

Seorang yang berhasil menang dalam lomba makan kerupuk ketika tujuh-belasan di kampungnya dan menggondol uang hadiah, tiba-tiba juga ditagih untuk bayar zakat. Alasannya hadiah itu sama saja dengan seseorang yang menemukan harta karun, alias harta rikaz.

Seorang ibu yang menang arisan dan dapat rejeki nomplok pun sering dianggap wajib membayar zakat, hanya karena dianggap punya rejeki.

Padahal antara hadiah dengan rikaz sama sekali tidak identik, sehingga terlalu kalau mau diqiyaskan antara keduanya, kelihatan sekali bahwa hal itu terlalu dipaksakan. Dan tentunya akan menjadi sangat tidak proporsional.

1. Hadiah : Diserahkan Bukan Ditemukan

Berbeda dengan harta rikaz yang didapat dengan cara ditemukan, sebuah hadiah itu pada hakikatnya adalah sesuatu yang diserahkan oleh satu pihak ke pihak lain. Artinya, dalam hadiah, ada dua pihak yang saling memberi dan menerima.

Sedangkan dalam harta rikaz, tidak ada yang memberi dan tidak ada yang menerima. Harta itu hanya ditemukan saja. Tentu antara serah terima dan ditemukan adalah dua hal yang jauh berbeda.

Sehingga mengqiyaskan rikaz dengan hadiah adalah sebuah tindakan qiyas yang terlalu memaksakan diri dan kurang tepat dalam mengambil istimbath hukum.

2. Sumber Hadiah Belum Tentu Milik Orang Kafir

Hadiah yang biasa kita terima, seringkali bukan berasal dari harta orang kafir. Misalnya, karyawan yang berprestasi ketika mendapat hadiah dari perusahaannya, atau siswa berprestasi yang mendapat hadiah dari gurunya. Belum tentu kantor atau pihak sekolah itu adalah orang kafir.

Sementara dalam kriteria harta rikaz di atas, jelas sekali bahwa sumber harta rikaz itu adalah milik orang-orang kafir di masa lalu.

Apabila yang harta yang ditemukan itu milik orang-orang Islam di masa lalu, maka harta itu bukan termasuk harta rikaz, melainkan menjadi luqathah atau barang temuan milik umat Islam. Harta luqathah tentu ada ketentuan hukumnya tersendiri, di luar urusan zakat.

3. Pemberi Hadiah Belum Tentu Sudah Meninggal

Yang juga membedakan zakat rikaz dengan hadiah adalah fakta bahwa biasanya orang yang memberikan hadiah itu masih hidup. Kalau dia sudah meninggal, bagaimana caranya memberikan hadiah.

Padahal kriteria zakat rikaz di atas jelas menyebutkan bahwa pemilik harta itu sudah meninggal dunia, keberadaannya sudah tidak ada lagi di dunia. Sehingga oleh karena itulah maka harta miliknya ditemukan, bukan diterima sebagai pemberian.

Adapun hadiah, biasanya didapat dengan jalan diterima dari yang memberi hadiah, yang tentu sang pemberi hadiah itu masih hidup. Ketika seseorang mennemukan harta berharga di dalam tanah yang terkubur, tentu tidak kita katakan bahwa dia menerima pemberian hadiah dari pemiliknya yang sudah mati.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Tujuh Perbedaan Antara Zakat dan Pajak
1 July 2014, 05:00 | Zakat | 12.166 views
Ziarah Kubur Sebelum Puasa Ramadhan
29 June 2014, 13:11 | Puasa | 13.566 views
Posisi Tangan Ketika Beri'tidal Bersedekap atau Tidak?
28 June 2014, 06:35 | Shalat | 22.996 views
Disebut Tarawih Berarti Istirahat, Apa Hubungannya?
27 June 2014, 07:00 | Shalat | 24.630 views
Banyak Pilihan Pendapat, Mana Yang Paling Benar?
26 June 2014, 07:07 | Ushul Fiqih | 9.343 views
Puasa Sunnah Menjelang Ramadhan, Tidak Bolehkah?
22 June 2014, 07:11 | Puasa | 31.360 views
Ziarah Kubur Menjelang Ramadhan, Bid'ahkah?
21 June 2014, 06:00 | Puasa | 62.917 views
Lafadz Ulama Dalam Al-Quran dan Hadits
20 June 2014, 06:00 | Quran | 19.447 views
Apakah Jilbab Itu Harus Berupa Gamis Lebar dan Cadar?
19 June 2014, 05:30 | Wanita | 25.286 views
Wajibkah Rejeki Dari Hadiah, Bonus dan THR Dizakatkan?
18 June 2014, 06:00 | Zakat | 25.592 views
Ramadhan Belum Sempat Mandi Janabah Terlajur Shubuh
17 June 2014, 05:40 | Puasa | 12.281 views
Hafal Quran Tapi Tidak Tahu Hukum Agama
16 June 2014, 06:34 | Quran | 17.725 views
Bolehkah Aqiqah Kambing Diganti Sapi?
15 June 2014, 07:07 | Qurban Aqiqah | 113.599 views
Hukum Menshalati Jenazah Yang Sudah Dikubur
14 June 2014, 05:00 | Shalat | 12.007 views
Bagian Mana Dari Tubuh Calon Istri Yang Boleh Dipandang?
13 June 2014, 05:00 | Nikah | 50.211 views
Benarkah Keledai Itu Hewan Yang Haram Dimakan?
12 June 2014, 07:00 | Kuliner | 44.713 views
Perbedaan Antara Khitbah Dan Pertunangan
11 June 2014, 06:00 | Nikah | 19.580 views
Mati Bunuh Diri, Apakah Jenazahnya Dishalatkan?
10 June 2014, 06:01 | Shalat | 20.853 views
Rumah Cicilan Ini Milik Ayah Atau Milik Ibu?
9 June 2014, 05:05 | Mawaris | 8.345 views
Zakat Profesi dan Zakat Maal
6 June 2014, 05:48 | Zakat | 54.549 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,282,555 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-9-2019
Subuh 04:29 | Zhuhur 11:49 | Ashar 15:02 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img