Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Sertifikasi Ulama, Haruskah? | rumahfiqih.com

Sertifikasi Ulama, Haruskah?

Thu 22 February 2018 10:12 | Dakwah | 3.881 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

Bagaimana menurut ustadz, apakah para dai dan para ulama harus disertifikasi untuk boleh mengajarkan ilmu-ilmu agama? Mohon opini dan tanggapannya.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warhmatulalhi wabarakatuh

Dalam pandangan saya, sertifikasi ulama itu tergantung kayak apa bentuknya. Kalau akhirnya malah jadi negatif, tentu kurang baik untuk dilakukan. Tetapi kalau seandainya punya nilai positif, tentu itu yang kita inginkan.

Namun lepas dari perdebatannya, nampkanya kita perlu juga mengenal lebih dalam apa yang dimaksud dengan istilah ulama itu sendiri.

Ulama itu kata dalam bentuk jama'. Bentuk tunggalnya adalah alim (عالم). Kalau disebut ulama, berarti jumlahnya banyak, yaitu orang-orang alim.

Lalu alim itu apa artinya?

Alim itu adalah bentuk isim fail dari alima ya'lamu ilman wa huwa alimun. Intinya adalah ilmu. Jadi alim itu artinya adalah : orang yang berilmu.

Ilmu? Ilmu apa?

Ilmu ada banyak sekali cabang dan disiplinnya, di zaman ini jumlahnya mencapai ribuan. Tapi yang dimaksud ilmunya ulama itu lebih spesifik lagi, yaitu ilmu-ilmu agama atau ilmu syariah.

Tetap saja cabang ilmu agama berjumlah ribuan, dengan semua dahan dan rantingnya.

Pertanyaan #1

Ketika ada orang digelari ulama, kira-kira cabang ilmu keislaman yang manakah yang dikuasainya?

Tafsir? Hadits? Fiqih? Ushul Fiqih? atau sama sekali tidak punya?

Kalau tidak menguasai satu pun cabang ilmu keislaman, kok tetap disebut ulama? Ulama di bidang ilmu apa?

Pertanyaan #2

Apapun cabang ilmu, pasti ada levelnya, pemula, menengah dan ahli.

Maka level masing-masing orang dalam penguasaan masing-masing jenis ilmu itu berbeda-beda.

Ketika sesosok tokoh digelari ulama dalam cabang ilmu tertentu, sebenarnya sudah sampai di level yang manakah derajat penguasaan ilmunya itu?

Pertanyaan #3

Ketika seorang tokoh mengaku dirinya menguasai satu cabang ilmu tertentu dengan level tertinggi, masih ada lagi satu pertanyaan penting :

a. Bagaimana proses belajarnya?
b. Belajar sama siapa dan siapa saja gurunya?
c. Dimana belajarnya? Kampus mana? Jenjangnya apa?
d. Pakai kurikulum yang mana? Kitabnya apa?
e. Lulus nggak? Berapa IPK-nya?

Tidak Perlu Sertifikasi Ulama

Saya melihat, tanpa harus ada sertifikasi ulama, asalkan jamaah pada cerdas, sudah bisa dengan mudah memetakan siapa saja yang masuk katogori ulama dan pada posisi mana.

Minta ke tokoh itu untuk mengisi form biodata yang sedikit lebih lengkap. Hasilnya bisa buat penilaian.

Nanti tersinggung?

Pasti tersinggung kalau isinya kosong semua. Dan bangga kalau ternyata isinya bagus. Asalkan semua majelis taklim selektif dalam mendata para ustadz, insyaallah semua akan terdata dengan rapi.

Yang bikin bermunculan tokoh-tokoh tak berilmu itu ke panggung dakwah sebenarnya ya jamaah majelis taklim sendiri. Seenaknya mendaulat jadi nara sumber cuma berdasarkan rating penonton di tv, wajah camera look, lucu, imut, dan yang begituan lah.

Sementara pertimbangan ilmu agama yang dikuasasi, setinggi apa levelnya, cuma jadi pertimbangan nomor 27.

Hakikat Sertifikasi Ulama

Sertikat ulama itu sebenarnya bukan sekedar selembar surat yang dikeluarkan oleh lembaga tertentu. Tetapi sebuah profil riwayat belajar yang telah susah payah ditempuh oleh seseorang dalam menimba ilmu agama. Tentu dengan dilengkapi hasil dan darojah (nilai) nya. Bahkan lengkap dengan sanad keilmuannya serta daftar kitab yang telah dia dapatkan ijazahnya dari gurunya.

Ulama kok tidak punya sanad keilmuan, terus dapat ilmunya dari mana? Google? Nongkrong di perpus? Copas-copas?

Wallahu a'lam bishshawab,

Ahmad Sarwat, Lc.,MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Tata Cara Shalat Gerhana dan Berbagai Macam Ketentuannya
30 January 2018, 09:20 | Shalat | 330.630 views
Suami Mentalak Istri Dengan Tegas Tapi Kok Bisa Dibatalkan Oleh Pengadilan Agama?
6 December 2017, 06:20 | Nikah | 5.874 views
Jasa WO 10% dari Biaya Total Tapi Baru Diketahui Pasca Penyelenggaraan.
1 December 2017, 10:30 | Muamalat | 2.397 views
Adakah Shalat Untuk Menjaga Hafalan Al-Quran?
28 November 2017, 04:00 | Quran | 2.900 views
Tilawah Quran Dalam Keadaan Haidh Haram, Kok Ada Yang Bilang Boleh dan Tidak Apa-apa?
6 October 2017, 06:12 | Thaharah | 10.425 views
Apakah Lomba Mancing di Kolam Pancing Saya Termasuk Judi Yang Diharamkan?
4 October 2017, 07:15 | Muamalat | 6.094 views
Benarkah Yahudi Mengimani Rukun Iman Kita Yang Enam?
3 October 2017, 09:35 | Aqidah | 3.708 views
Belajar Ilmu Fiqih Bikin Orang Malas Ibadah, Benarkah?
25 September 2017, 07:01 | Fiqih | 4.372 views
Fiqih Muwazanah VS Fiqih Perbandingan Mazhab, Apa Bedanya?
15 September 2017, 05:02 | Fiqih | 4.288 views
Bisakah Satu Ekor Kambing Untuk Satu Keluarga?
31 August 2017, 05:50 | Qurban Aqiqah | 20.096 views
Bolehkah Tujuh Orang Patungan Sapi Dengan Niat Berbeda-beda?
28 August 2017, 04:50 | Qurban Aqiqah | 6.773 views
Hubungan Iedul Adha dengan Ibadah Haji
25 August 2017, 12:54 | Haji | 7.938 views
Persamaan dan Perbedaan Shalat Idul Fithri dan Idul Adha
23 August 2017, 02:02 | Shalat | 20.451 views
Benarkah Haram Potong Rambut dan Kuku Bila Mau Berqurban?
17 August 2017, 15:01 | Qurban Aqiqah | 33.411 views
Bisakah Kita Menjalankan Haji Hanya Dalam 4 Hari?
16 August 2017, 18:25 | Haji | 1.647 views
Berbagai Keringanan dan Rukhshah Dalam Ibadah Haji
13 August 2017, 15:00 | Haji | 1.747 views
Perbedaan Antara Qurban Dengan Zakat
11 August 2017, 10:45 | Qurban Aqiqah | 12.066 views
10 Penyimpangan Pembagian Waris di Indonesia
8 August 2017, 05:30 | Mawaris | 66.738 views
Iedul Adha Jatuh Hari Jumat, Gugurkah Kewajiban Shalat Jumatnya?
7 August 2017, 17:30 | Shalat | 14.377 views
Kenapa di Indonesia Shubuh Datang Lebih Awal?
4 August 2017, 17:50 | Kontemporer | 3.167 views

TOTAL : 2.300 tanya-jawab | 26,408,937 views