Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Batas Kebolehan Perbedaan Pendapat | rumahfiqih.com

Batas Kebolehan Perbedaan Pendapat

Mon 26 November 2012 05:14 | Ushul Fiqih | 7.700 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Mohon penjelasan pak Kiyai,

Sebagaimana kita tahu di masa sekarang ini, kita menemukan begitu banyak kelompok keislaman. Ada Salafi, ada HTI, Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh dan macam-macam lagi. Kelompok Salafi sangat banyak ragamnya dan masing-masing ternyata tidak saling sefaham. Dan kalau saya hitung jumlahnya bisa mencapai belasan.

Lucunya, masing-masing mereka mengadakan aktifitas rekruitmen, menggelar even, majelis taklim dan menebar paham dan pikiran mereka.

Yang kasihan adalah orang awam seperti saya ini, jadi bingung dan nggak mudheng. Mengaji kesana, dibilang begini. Mengaji kesini, dibilang begitu. Semua isinya berbeda-beda. Dan lebih konyol lagi, semua pada saling menyalahkan antara satu dengan yang lain.

Untuk itu mohon ustadz bisa menjelaskan, seperti apa sebenarnya hakikat perbedaan pendapat di antara mereka, dan bagaimana seharusnya kita dalam berbeda pendapat.

Terima kasih sebelumnya.

Wasalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Raalitas bahwa umat Islam saat in terkotak-kotak dengan kelompok, jamaah, tandzim atau institusi yang saling berbeda adalah fenomena yang sudah ada sejak masa lalu. Nyaris kita tidak mungkin lagi merobohkan semuanya untuk kita bentuk satu tubuh yang kuat. Pemikiran seperti itu memang idealis, tetapi agak kurang menapak ke bumi.

Akan tetapi kita tidak harus bersedih melihat ada begitu banyaknya kelompok dan perbedaan-perbedaan itu. Anggaplah itu semua merupakan sunnatullah. Memang kehendak dan taqdir dari Allah SWT. Tugas kita bukan untuk menjadikan mereka berada dalam satu wadah. Akan menjadi percuma dan sia-sia saja kalau kita memaksakan persatuan yang sifatnya wadah dan institusi.

Dan kalau di dalam satu tubuh juga terjadi perbedaan pendapat, itu pun bukan hal yang perlu disesali. Sebab perbedaan pendapat itu merupakan sebuah kemestian yang tidak dapat dipungkiri, apalagi ditolak. Karena Allah SWT memang menciptakan manusia berbeda-beda. Perbedaan itu sendiri merupakan pemberian Allah SWT, maka kita syukuri saja dan bukan kita ratapi.

Apa Yang Perlu Diperhatikan Dalam Perbedaan Pendapat

Karena perbedaan pendapat itu tidak bisa ditolak lantaran sudah menjadi sunnatullah, maka yang bisa kita lakukan adalah mengatur adab dan etika dalam berbeda pendapat. Bagaimana caranya berbeda, tetapi kita tetap santun, berakhlaq mulia, saling menyayangi dan juga saling menghormati.

Keliru besar kalau kita berpikiran bahwa berbeda pendapat itu sama dengan bermusuhan. Betapa jahilnya kita kalau urusan khilafiyah itu berarti maklumat perang. Berbeda pendapat itu adalah sebuah keniscayaan, dan tentu saja berbeda pendapat itu tidak dosa.

Meski pun berbeda pendapat itu dibolehkan, namun tetap ada batasan dimana kebolehan itu berlaku. Di luar garis yang telah dibolehkan, maka perbedaan pendapat itu menjadi tidak produktif lagi.

1. Masalah Cabang dan Bukan Fundamental

Kita sering membagi tema agama menjadi dua, yaitu hal-hal yang bertema aqidah dan syariah. Di dalam tema aqidah, kita menemukan wilayah dasar dan wilayah cabang, sebagaimana di dalam tema syariah pun kita menemukan ada yang berada di wilayah dasar dan cabang.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama hanya diperbolehkan bila berada di wilayah cabang, baik dalam tema aqidah maupun dalam tema fiqih. Contoh tema aqidah yang merupakan dasar adalah kita beriman bahwa Allah SWT bersifat Esa tidak berbilang dan tidak ada yang menyamai Dirinya.

Sedangkan tema aqidah tapi wilayah cabang adalah apa saja yang termasuk nama dan sifat Allah. Seperti apa yang dimaksud dengan kursi Allah, termasuk juga masalah wajah, tangan, kaki, dan lainnya. Para ulama boleh berbeda pendapat dalam masalah cabang seperti ini dan tidak akan membuat mereka menjadi kafir atau masuk neraka.

Contoh tema syariah yang menjadi bagian dasar misalnya bahwa shalat lima waktu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim. Sedangkan contoh tema syariah yang menjadi bagian furu' adalah apakah qunut pada shahat shubuh itu hukumnya sunnah atau bid'ah. Para ulama dibolehkan berbeda pendapat dalam hukum qunut shubuh ini, tetapi tidak boleh berbeda pendapat tentang disyariatkan lima waktu shalat yang wajib. Tema Aqidah Tema Syariah Dasar Allah itu Esa Shalat 5 waktu wajib Cabang Kursi Allah, wajah, tangan, kaki Qunut shalat shubuh

Sayangnya dalam alam nyata, orang seringkali terbolak-balik dalam berbeda pendapat. Kadang masalah yang fundmental masih saja diperdebatkan bahkan dipermasalahkan, padahal bila hal itu dilakukan, justru sendi agama yang paling dasar akan dirusak. Kalangan orientalis dan liberalis biasanya menyerang pada bagian dasar ini, teetapi dengan kamuflase seolah-olah kita masih boleh berdebat dan berbeda pendapat.

2. Beda Pendapat Bukan Perpecahan

Yang juga seringkali kurang dipahami oleh banyak orang adalah kesan bahwa perbedaan pendapat pada tingkat cabang berarti perpecahan. Padahal antara perbedaan pendapat dengan perpecahan masih ada jarak yang sangat jauh, bagi mereka yang tahu aturan main. Memang terkadang orang-orang yang kurang ilmunya memandang bahwa perbedaan pendapat itu harus bermakna perpecahan. Karena berbeda pendapat dalam batas-batas tertentu dibenarkan, tetapi berpecah-belah itu diharamkan. Dan haramkan berpecah-belah itu ditegaskan di dalam Al-Quran.

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (QS. Ali Imran : 103)

Perpecahan di dalam masalah fundamental agama pernah dialami oleh umat sebelum kita, yaitu para ahli kitab, baik yahudi maupun nasrani. Mereka adalah contoh yang tidak baik dan tidak boleh ditiru. Oleh karena itu Allah SWT telah berpesan agar kita jangan terperosok sebagaimana mereka terperosok.

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَـئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali Imran : 105)

Tugas para ulama adalah menegakkan agama Islam, oleh karena itu diharamkan bagi mereka berpecah-belah. Dan ini merupakan wasiat tiap nabi yang pernah turun, sebagaimana firman Allah SWT :

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (QS. Asy-Syura : 13)

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

Dan mereka tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka. (QS. Asy-Syura : 14)

3. Beda Pendapat Bukan Permusuhan

Perbedaan pendapat yang diharamkan adalah yang melahirkan permusuhan dengan sesama muslim, apalagi sesama para ulama dan juru dakwah. Kalau pun secara lahiriyah terpaksa umat ini berpisah, tidak berada dalam satu kelompok atau jamaah, minimal mereka tidak boleh bermusuhan. Sebab permusuhan itu akan sangat melemahkan umat, sebaliknya lawan akan nampak semakin tangguh.

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al-Fath : 29)

Maka sepanas apapun berbedaan pendapat di antara sesama umat Islam, tidak boleh sampai terjadi permusuhan, dendam, atau pun tindakan-tindakan anarkis.

Ketika Nabi Musa menarik rambut dan jenggot saudaranya, Nabi Harun, alaihimassalam, beliau pun diingatkan untuk tidak melakukannya.

قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

Harun menjawab,"Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata,"Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku".(QS. Thaha : 94)

4. Adab dan Akhlaq Berbeda Pendapat

Dan biasanya permusuhan itu akan semakin berkobar, manakala perbedaan pendapat itu diwarnai pula dengan tindakan dan ucapan yang tidak terpuji. Maka kalau pun terpaksa harus berbeda pendapat, haram hukumnya untuk saling melempar cacian, hinaan, cemoohan, bahkan mendoakan keburukan dan tindakan-tindakan negatif lainnya.

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِن صَوْتِكَ إِنَّ أَنكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. (QS. Luqman : 19)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka , karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat : 12)

a. Tidak Mencaci

Perilaku tidak terpuji dari mereka yang berbeda pendapat adalah melontarkan makian, hinaan dan cemoohan kepada pihak yang pendapatnya tidak sejalan dengan pendapat mereka.

Sayangnya, kita masih sering membaca atau mendengar ungkapan-ungkapan yang kurang simpatik dari mereka yang berbeda pendapat, seperti ungkapan berikut :

Pendapat ini tidak keluar kecuali dari mulut orang-orang yang bodoh, dungu dan tidak berilmu Mereka yang berpendapat seperti ini tidak lain hanyalah sekumpulan orang-orang bodoh, dungu, sesat, tidak punya akal dan ideot. Pendapat ini tidak keluar kecuali dari orang-orang yang lemah iman, tidak punya keteguhan hati, serta orang-orang yang jiwana mudah terbawa nafsu duniawi.

Di antara adab mulia yang wajib dilakukan oleh mereka yang berbeda pendapat adalah bukan dengan langsung mengeluarkan vonis yang menjatuhkan, apalagi menghina. Masih ada begitu banyak ungkapan yang lebih sopan dan halus, seperti ungkapan : meski tidak menolak, namun saya lebih cenderung pada pendapat yang berbeda.

Pendapat ini tidak sepenuhnya salah, namun menurut hemat saya agak kurang sesuai dengan situasinya. dalam masalah ini para ulama memang berbeda pendapat, ada yang berpendapat A, B atau C. Tanpa mengurangi rasa hormat pada pendapat lain, saya agak cenderung sependapat dengan pendapat C.

Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada beliau, namun rasanya pendapat beliau ini kurang tepat, wallahua'lam.

b. Mengutip Dengan Lengkap

Salah satu adab dalam berbeda pendapat adalah tidak langsung menyalahkan pendapat orang lain, tetapi etikanya harus dikutipkan dulu apa yang menjadi pendapat orang, serta dilengkapi dengan alasan dan argumentasinya.

Dan yang lebih tepat lagi adalah mencoba membenarkan pendapat itu sebagai hasil sebuah ijtihad, lalu menampilkan pendapat yang berbeda, juga lengkap dengan dalil dan argumentasinya.

Dua pendapat yang berbeda ini harus secara jujur dikemukakan dengan adil dan seimbang, tanpa harus menambahi atau mengurangi. Disini wajib ada amanah ilmiyah, yang harus dipertanggung-jawabkan.

Sehingga para dasarnya kita tidak asal melakukan tuduhan atau melempar kesalahan orang lain. Yang kita lakukan sekedar memberikan penilaian, yang kita upayakan seobjektif mungkin, tanpa diiringi dengan fanatisme buta.

c. Tidak Mendominasi Kebenaran

Terakhir, barulah kita boleh memberikan penilaian yang bersifat subjektif, serta dilengkapi dengan ungkapan yang sopan dan beretika. Juga akan menjadi lebih baik bila kita sampaikan juga bahwa pendapat yang kita pilih ini bukan kebenaran yang bersifat mutlak, tetapi bisa saja salah. Sementara pendapat yang ditolak, bukan berarti pendapat itu salah atau menyesatkan. Pendapat itu bisa saja menjadi benar.

Dan kebenaran hanya milik Allah, atau dengan ungkapan wallahua'lam. 

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Shalat Khusyu' Sesuai Rasulullah SAW
25 November 2012, 02:18 | Shalat | 74.822 views
Berdoa Agar PSSI Menang, Kok Nggak Menang-menang Juga?
24 November 2012, 09:46 | Kontemporer | 7.608 views
Bersalaman Seusai Shalat
22 November 2012, 17:01 | Shalat | 9.586 views
Bolehkah Merevisi Mahar Setelah Akad?
20 November 2012, 17:00 | Nikah | 21.230 views
Bolehkah Orang Kafir Masuk Masjid?
18 November 2012, 17:00 | Shalat | 12.306 views
Demokrasi Soal Aqidah atau Muamalah?
17 November 2012, 17:00 | Kontemporer | 8.789 views
Shalat Hadiah untuk Orang Tua Meninggal
16 November 2012, 00:45 | Shalat | 11.282 views
Operasi Selaput Dara
15 November 2012, 17:00 | Wanita | 7.456 views
Dzikir Ratib Al Haddad
14 November 2012, 17:00 | Umum | 46.739 views
Hukum Wanita Haid Masuk Masjid
12 November 2012, 03:25 | Thaharah | 33.278 views
Wanita Haram Menjadi Imam Buat Laki-laki
7 March 2012, 17:00 | Shalat | 8.986 views
Benarkah Wanita Boleh Jadi Imam Shalat Buat Laki-laki?
6 March 2012, 17:00 | Shalat | 6.220 views
Mengulang-ulang Tayammum
4 March 2012, 17:00 | Thaharah | 5.637 views
Benarkah Wanita Haid Boleh Tetap Puasa?
6 September 2008, 22:45 | Puasa | 8.022 views
Mimpi Basah Saat Ramadhan
6 September 2008, 22:44 | Puasa | 6.691 views
Perlukah Bersyahadat Lagi?
6 September 2008, 12:20 | Aqidah | 8.539 views
Kafirkah Orang Tua Rasullulloh?
6 September 2008, 12:18 | Aqidah | 12.008 views
Nabi Isa Disebutkan 25 Kali Dalam Al-Quran
6 September 2008, 11:53 | Aqidah | 6.797 views
Taqdir, Bisakah Diubah?
6 September 2008, 11:51 | Aqidah | 9.951 views
Cara Menyadarkan Teman yang Inkar-Sunnah
6 September 2008, 11:50 | Hadits | 9.887 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,346,008 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

20-9-2019
Subuh 04:28 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:00 | Maghrib 17:53 | Isya 19:00 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img