Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Pembatalan Pernikahan | rumahfiqih.com

Pembatalan Pernikahan

Sat 15 December 2012 00:45 | Nikah | 8.802 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum Ustadz.

Pak Ustadz, telah terjadi sebuah pernikahan 3 bulan yang lalu antara seorang pria dengan seorang wanita yang telah dizinahinya. Pernikahan ini untuk menutupi aib karena wanita itu mengaku hamil. Namun sehari setelah pernikahan, baru diketahui oleh si pria dan keluarganya bahwa si wanita tidak hamil (dari hasil USG di rumah sakit).

Setelah selesai akad nikah hingga saat ini, mereka tidak pernah serumah dan si pria tidak pernah menggauli wanita itu lagi, juga tidak mau bertemu dengan wanita tersebut.

Pertanyaannya:


1. Apakah pernikahan yang dilakukan oleh mereka sah? karena yang saya tahu, masa iddah untuk perempuan yang dizinahi adalah minimal 1 kali haid.

2. Apakah pernikahan ini bisa diajukan pembatalan karena ternyata perempuan tersebut tidak hamil?

3. Bisakah si pria mengajukan pembatalan pernikahan ke kantor pengadilan agama Islam dengan alasan tersebut? karena mereka tidak pernah serumah atau pun berhubungan suami istri lagi dan si pria tidak ingin meneruskan pernikahan ini lagi.

mohon jawabannya secara fiqh islam, Ustadz. terima kasih,

wassalamu'alaikum.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Seharusnya dalam masalah ini kita membahas hukum menikahi wanita hamil karena zina, namun karena pada kenyataannya wanita itu berzina tidak sampai tidak hamil, maka yang jadi pembicaraan adalah hukum menikahi wanita berzina tanpa kehamilan.

Intinya, para ulama berbeda pendapat antara yang membolehkan dan mengharamkan. Kalau kita pakai pendapat yang membolehkan, maka bila ingin pisah yang bisa dilakukan adalah cerai dan bukan fasakh (pembatalan pernikahan). Sebaliknya, kalau kita pakai pendapat yang mengharamkan nikahi wanita yang berzina, maka bisa dilakukan adalah fasakh atau pembatalan pernikahan.

Sayangnya dalam kasus ini terjadi hal yang tidak konsisten. Karena  suami menikahi wanita yang dia tahu telah hamil atau setidak-tidaknya pernah berzina. Berarti suami menganut paham bahwa menikahi wanita hamil atau berzina itu boleh atau sah. Karena pernikahan itu dianggap sah, maka tidak ada istilah fasakh atau pembatalan.

Sebab faktor yang membolehkan pembatalan itu bukan karena ada kenyataan dianggap hamil padahal tidak. Faktor yang yang membolehkan fasakh itu misalnya adanya aib fatal yang disembunyikan. Padahal sejak menikahi, pihak suami sudah tahu bahwa istrinya itu bukan cuma berzina, tetapi malah sampai hamil. Kalau ternyata tidak hamil dan cuma berzina, maka ini bukan perkara aib yang ditutupi. Sebab justru yang suami itu yang menodai calon istrinya sendiri.

Barangkali faktor kenapa suami mau memisahkan istri disini, karena suami merasa tidak perlu bertanggung-jawab, lantaran setelah diperiksa dengan USG ternyata tidak ada kehamilan bayi. Ini agak lucu, karena seolah-olah kalau ada bayi hasil zina, suami siap bertanggung-jawab, tetapi kalau tidak ada bayi, dipikir boleh-boleh saja suami meninggalkan begitu saja wanita yang dizinainya itu dan tidak perlu ada pertanggung-jawaban.

Dalam hal ini saya memandang tidak layak suami yang sudah menikahi istri dengan sah untuk membatalkan pernikahan atau mentalak. Walau pun dalam pernikahan itu bisa saja terjadi talak, asalkan dengan sebab--sebab yang syar'i dan bisa diterima secara nalar.

Untuk lebih rinci mengenal dan mendalami apa yang secara ringkas disebutkan di atas, silahkan baca kajian berikut ini :

A. Hukum Menikahi Wanita Berzina

Hukum menikahi wanita berzina itu oleh para ulama disikapi dengan beberapa fatwa yang berbeda. Setidaknya ada tiga pendapat yang berbeda dalam masalah ini :

1. Jumhur Ulama : Boleh

Jumhur ulama umumnya sepakat membolehkan wanita yang pernah berzina untuk menikah. Walaupun ada ayat yang secara sekilas seperti mengharamkan nikah dengan wanita yang berzina, namun jumhur ulama punya pandangan tersendiri.


الزَّانِي لا يَنكِحُ إِلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنكِحُهَا إِلاّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu`min. (QS. An-Nur : 3)

Dalam hal ini mereka mengatakan bahwa lafaz hurrima (حُرِّمَ) atau diharamkan di dalam ayat itu bukanlah pengharaman namun tanzih (dibenci).

Selain itu mereka beralasan bahwa kalaulah memang diharamkan, maka lebih kepada kasus yang khusus saat ayat itu diturunkan, yaitu seorang yang bernama Mirtsad Al-Ghanawi yang menikahi wanita pezina.

Mereka mengatakan bahwa ayat itu telah dibatalkan ketentuan hukumnya (dinasakh) dengan ayat lainnya yaitu :

وَأَنكِحُوا الأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur : 32)

Pendapat ini juga merupakan pendapat Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhuma dan fuqaha umumnya. Mereka membolehkan seseorang untuk menikahi wanita pezina. Dan bahwa seseorang pernah berzina tidaklah mengharamkan dirinya dari menikah secara syah.

Pendapat mereka ini dikuatkan dengan hadits berikut :

Dari Aisyah radhiyallahuanha berkata,`Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berzina dengan seorang wanita dan berniat untuk menikahinya, lalu beliau bersabda,`Awalnya perbuatan kotor dan akhirnya nikah. Sesuatu yang haram tidak bisa mengharamkan yang halal`. (HR. Tabarany dan Daruquthuny).

Juga dengan hadits berikut ini :

Seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Istriku ini seorang yang suka berzina`. Beliau menjawab,`Ceraikan dia`. `Tapi aku takut memberatkan diriku`. `Kalau begitu mut`ahilah dia`. (HR. Abu Daud dan An-Nasa`i)

لاَ تُوطَأ امْرَأة حَتىَّ تَضَع

Nabi SAW bersabda,"Janganlah disetubuhi (dikawini) seorang wanita hamil (karena zina) hingga melahirkan. (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Al-Hakim).

لاَ يَحِلُّ لاِمْرِئٍ مُسْلِمٍ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ

"Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman orang lain. (HR. Abu Daud dan Tirmizy).

2. Haram

Sedangkan sebagian ulama lain mengharamkan nikah dengan wanita yang pernah berzina. Di antara yang mengharamkan adalah Aisyah ra, Ali bin Abi Thalib, Al-Barra` dan Ibnu Mas`ud. Mereka mengatakan bahwa seorang laki-laki yang menzinai wanita, maka dia diharamkan untuk menikahinya. Begitu juga seorang wanita yang pernah berzina dengan laki-laki lain, maka dia diharamkan untuk dinikahi oleh laki-laki yang baik (bukan pezina).

Bahkan Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa bila seorang istri berzina, maka wajiblah pasangan itu diceraikan. Begitu juga bila yang berzina adalah pihak suami.

Dalil mereka adalah ayat Al-Quran yang secara lahiriyah nampak seperti mengharamkan :

الزَّانِي لا يَنكِحُ إِلاَّ زَانِيَةً أَوْ مُشْرِكَةً وَالزَّانِيَةُ لاَ يَنكِحُهَا إِلاّ زَانٍ أَوْ مُشْرِكٌ وَحُرِّمَ ذَلِكَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mu`min. (QS. An-Nur : 3)

Selain itu mereka juga berdalil dengan hadits dayyuts, yaitu orang yang tidak punya rasa cemburu bila istrinya serong dan tetap menjadikannya sebagai istri.

Dari Ammar bin Yasir bahwa Rasulullah SAW bersbda,`Tidak akan masuk surga suami yang dayyuts`. (HR. Abu Daud)

Masa Iddah Wanita Berzina

Kalau kita bicara masa iddah, para ulama sepakat bahwa zina itu perbuatan dosa besar, yang tidak akan diampuni dosanya kecuali dengan bertaubat. Namun kalau kita lihat dari sisi hukum pernikahan, yang namanya iddah itu terjadi manakala seorang wanita bersuami, lalu suaminya meninggalkan dunia atau menceraikannya.

Sedangkan dalam kasus zina, kita tidak mengenal masa iddah. Tetapi kita mengenal istilah istibra', yaitu kepastian tidak adanya janin dalam rahim seorang wanita.

Dan salah satu bentuk istibra' itu adalah dengan cara mendapatkan haidh, walau pun hanya satu kali. Asumsinya, wanita yang haidh tentu tidak mungkin hamil. Oleh karena itu untuk memastikan wanita itu tidak sedang dalam keadaan hamil, maka perlu ada istibra', yaitu menunggu sekali haidh.

B. Cerai atau Faskah (Pembatalan Nikah) ?

Perlu diperhatikan bahwa pisahnya pasangan nikah nikah itu bisa terjadi dengan berbagai cara. Ada dengan cara cerai (talak) dan ada juga dengan cara pembatalan, atau sering disebut dengan istilah fasakh. 

Lalu apa beda antara cerai dan fasakh ini?

Sekilas seperti tidak ada bedanya, namun kalau kita perhatikan lebih dalam, ada beberapa konsekuensi hukum yang ikut terkait.

1. Mengalami Masa Iddah

Cerai : Kalau seorang wanita dicerai oleh suaminya, maka berlaku masa iddah. Dan wanita yang sedang mengalami masa iddah harus menjalani beberapa ketentuan, seperti harus menetap di dalam rumah suaminya dan tida boleh keluar rumah meski diizinkan oleh suami, juga boleh menerima pinangan dari laki-laki lain, dan tentunya juga tidak boleh menikah. Semua itu setidaknya dilakukan selama masa iddah, yang durasinya kurang lebih tiga kali masa haidh atau masa suci dari haidh (quru').

Fasakh : Kalau yang terjadi bukan cerai tetapi fasakh atau pembatalan, maka tidak berlaku hukum iddah. Maka begitu terjadi fasakh, wanita itu langsung bisa menikah dengan siapa pun tanpa harus ada masa menunggu. Sebab dalam kasus fasakh, seolah-olah tidak pernah terjadi pernikahan.

2. Rujuk

Cerai : Dalam kasus cerai, kita mengenal istilah rujuk, setidaknya untuk kasus talak bainunah shughra. Dan masa rujuk itu berlaku selama masa iddah belum selesai. Cukup dengan lafadz rujuk, maka ikatan suami istri kembali tersambung.

Fasakh : Sedangkan dalam kasus fasakh, karena intinya adalah pembatalan pernikahan, maka kita tidak mengenal istilah rujuk. Karena status hukum sama persis dengan sama sekali belum pernah terjadi pernikahan.

3. Mas Kawin (Mahar)

Cerai :
Dalam kasus cerai, mahar atau mas kawin yang sudah terlanjur diberikan sudah tidak bisa dikembalikan lagi, karena sepenuhnya sudah menjadi hak istri.

Namun dalam hal ini bila akad nikah sudah berlangsung namun belum sempat terjadi dukhul atau hubungan suami istri, maka para ulama sepakat bahwa mahar itu menjadi gugur separuhnya. Bila mahar belum diserahkan, maka yang wajib diserahkan hanya separuhnya saja. Dan kalau sudah terlanjur diserahkan, maka dikembalikan separuhnya. Tentu bila kedua belah pihak sepakat untuk saling merelakan, tentu tidak mengapa.

Fasakh : Sedangkan dalam kasus faskah, karena pada hakikatnya pernikahan itu tidak terjadi, maka semua hal yang terkait dengan pemberian dan sebagainya harus dikembalikan lagi.

Dan masih banyak lagi perbedaan antara keduanya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Nabi Isa 2 Kali Hidup dan 2 Kali Wafat?
14 December 2012, 21:32 | Aqidah | 7.565 views
Mengapa Semua Nabi dari Arab?
14 December 2012, 05:32 | Aqidah | 9.072 views
Isteri Meminta Cerai Pergi Tanpa Ijin Suami
13 December 2012, 21:50 | Nikah | 9.048 views
Penggunaan Kosmetik Mengandung Alkohol dan Najis
13 December 2012, 08:56 | Thaharah | 12.921 views
Ayah Meninggal, Disusul Ibu, Bagaimana Pembagian Warisannya?
13 December 2012, 04:11 | Mawaris | 8.474 views
Pandangan Islam tentang Budak Wanita
11 December 2012, 23:53 | Wanita | 9.441 views
Yahudi Dikutuk Jadi Kera : Betulan Atau Kiasan?
10 December 2012, 23:00 | Quran | 9.425 views
Perbedaan Penafsiran Wafatnya Nabi Isa dalam Al-Qur'an
10 December 2012, 22:54 | Quran | 9.733 views
Bentuk Hukum Islam Seperti Apa?
10 December 2012, 12:12 | Jinayat | 12.402 views
Hukum Muslim Masuk Gereja
10 December 2012, 10:24 | Umum | 46.786 views
Orang Tua Mewasiatkan Harta Buat Anak-anaknya
7 December 2012, 22:45 | Mawaris | 12.492 views
Bertahun-tahun Tidak Shalat, Apa Harus Diganti?
6 December 2012, 06:50 | Shalat | 21.941 views
Bolehkah Aqiqah Selain Kambing
6 December 2012, 06:12 | Qurban Aqiqah | 15.383 views
Berapa Nilai Nominal Nafkah Yang Wajib Diberikan Suami Kepada Istri?
5 December 2012, 03:23 | Nikah | 198.738 views
Berdosakah Poligami Tanpa Izin Istri Pertama?
4 December 2012, 20:36 | Nikah | 29.941 views
Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW
4 December 2012, 06:12 | Umum | 21.474 views
Memakai Kalung Sebagai Obat
2 December 2012, 16:45 | Aqidah | 8.475 views
Sejarah Islam Penuh Darah?
1 December 2012, 18:59 | Umum | 6.803 views
Batasan Bermuamalah Dengan Non Muslim
30 November 2012, 08:24 | Muamalat | 16.119 views
Apa Alasannya Semua Sahabat Dihukumi Adil dalam Hadits?
29 November 2012, 07:23 | Hadits | 11.624 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 35,133,599 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

23-7-2019
Subuh 04:45 | Zhuhur 12:01 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:57 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img