Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Hubungan Fiqih dan Etika | rumahfiqih.com

Hubungan Fiqih dan Etika

Sat 29 December 2012 04:37 | Ushul Fiqih | 7.467 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamualaikum ustad

Pertanyaan saya untuk ustad kenapa sebagian perbuatan manusia tidak diikat oleh hukum fikih,misalnya sikap malas, tidak menjaga kebersihan, bersikap tidak ramah, masalah tanggung dan jawab dan persoalan etis yang lain

Terimakasih.

wasssalamualaikum

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebelum masuk kepada jawaban, mari kita bedakan dulu apa yang dimaksud dengan ilmu fiqih dan perbedaanya dengan ilmu syariah.

A. Ilmu Fiqih

Benar bahwa dalam ilmu fiqih, kita tidak bicara tentang hal-hal yang terkait dengan sikap-sikap manusia atau perasaan-perasaannya, seperti sifat malas, kebersihan atau rasa tanggung-jawab. Sebab fiqih itu sebenarnya merupakan ilmu tentang hukum, jadi yang dibicarakan tidak lain adalah perbuatan nyata dan apa hukumnya.

Ibarat aturan berlalu lintas, aturannya sebatas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Misalnya aturan lalu lintas menyebutkan bahwa naik motor tidak pakai helm itu tidak boleh. Aturan lalu lintas tidak bicara tentang sikap malas bangun bagi bagi pengendara sepeda motor. Tentu urusan malas atau tidak malas tidak diatur dalam aturan lalu lintas.

Aturan lalu lintas juga tidak mensyaratkan bahwa orang yang naik motor itu harus bersikap riang gembira atau bersedih. Mau gembira atau sedih, tidak ada urusannya dengan aturan lalu lintas.

Tapi kalau menyerobot jalan, menyalip dari kiri, melebihi batas kecepatan, atau naik motor ke atas trotoar, melawan arus lalu lintas, dan terbukti kejadiannya, barulah aturan lalu lintas berlaku. Kalau baru diniatkan atau baru dibayangkan, sementara pelanggarannya belum dilakukan, polisi tidak bisa melakukan tilang.

B. Ilmu Syariah

Sedangkan kalau kita bicara tentang ilmu syariah, maka ruang lingkupnya jauh lebih luas, batasannya lebih lebar, dan dimensinya lebih dalam, dari ilmu fiqih.

Semua masalah yang terkait dengan segala ketentuan Allah SWT, masuk dalam kajian syariah. Segala kajian dalam bidang aqidah dan pernik-perniknya, semua masuk dalam ruang lingkup syariah. Semua urusan hati, etika, etos, akhlaq, perasaan , estetika dan lainnya juga masuk dalam ruang lingkup syariah juga.

Kesimpulannya, meski urusan malah tidak masuk dalam ruang lingkup fiqih, tetapi masalah itu masuk ke dalam ruang lingkup syariah.

C. Irisan Antara Fiqih dan Syariah

Akan tetapi dalam prakteknya, antara fiqih dan syariah seringkali saling beririsan juga. Jadi bukan berarti keduanya sama sekali terpisah.

1. Sikap Malas

Contohnya sikap malas. Kalau secara ilmu akhlaq, urusan malah ini dibahas, yaitu bahwa seorang muslim tidak boleh bersikap malas. Memang dalam hal ini ilmu fiqih tidak secara langsung membahas 'hukum malas'.

Tetapi ketika seseorang terlambat mengerjakan shalat lima waktu, maka ada hukum fiqih dan kaijannnya. Lepas dari apa yang menjadi dasar keterlambatannya, apakah malas atau karena sesuatu yang lain. Pokoknya, kalau shalat terlambat dilakukan dan waktunya sudah terlewat, maka ilmu fiqih akan membahasnya. Setidaknya dalam hukum fiqih disebutkan bahwa kewajiban shalat itu tidak lantas gugur, tetapi malah orang itu wajib mengqadha' shalatnya dan sebagainya.

2. Menjaga Kebersihan

Memang dalam fiqih yang dibicarakan itu bukan kebersihan tetapi kesucian. Bersih itu lawan dari kotor dan biasanya terkait dengan penampilan pisik, seperti baju yang belepotan tanah. Dalam kajian ilmu fiqih, tanah itu hukumnya suci. Sedangkan dalam bahasa keseharian kita, tanah itu kotor.

Ketika seorang bertayammum menggunakan tanah, memang seolah-olah fiqih tidak memperhatikan kebersihan. Akan tetapi hal ini tidak berlaku secara umum. Sebab dalam banyak kasus, seringkali benda yang kotor itu juga najis. Dan kasus dimana benda kotor itu juga merupakan benda najis, justru jumlahnya jauh lebih banyak.

3. Sikap Tidak Ramah

Yang namanya hukum kadang memang terkesan tidak ramah, atau setidaknya hukum tidak mempermasalahkan apakah harus dilaksanakan dengan ramah atau tidak.

Sebab ramah itu sebenarnya juga relatif, apa yang menurut suatu masyarakat dianggap ramah, belum tentu buat masyarakat lain juga dianggap ramah.

Contohnya adalah masalah etika bertamu di hari lebaran. Di kampung saya, kalau ada tamu apalagi masih keluarga berkunjung saat lebaran, maka wajib dihidangkan makan besar. Kalau sampai tuan rumah tidak mengusahakan makan besar, itu berarti tuan rumah dianggap tidak ramah.

Tetapi di Jakarta, bisa saja standar keramahan seperti itu tidak berlaku. Malah boleh jadi buah tangan atau oleh-oleh yang dibawa oleh tamu malah digelar saat itu juga untuk dimakan bersama. Standar etika dan keramahan di setiap tempat bisa saja berbeda.

Nah, ilmu fiqih tidak meributkan masalah keramahan yang sifatnya memang sangat relatif.

Namun di dalam ilmu fiqih kita mengenal istilah 'al-'adah muhakkamah'. Sesuatu kebiasaan yang sudah menjadi tradisi bisa dijadikan hukum. Contohnya, ketika seorang suami berkata kepada istrinya,"Pulanglah kamu ke rumah orang tuamu". Lafadz ini bisa menjadi lafadz talak bila di tempat itu secara tradisi sudah orang-orang anggap sebagai talak. Tetapi bila tidak ada anggapan seperti itu, maka jatuhnya bukan talak.

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Merry Christmas BUKAN Merry X'Mas
29 December 2012, 03:23 | Aqidah | 11.069 views
Shalat di Majid yang Ada Kuburannya, Bolehkah?
28 December 2012, 03:18 | Shalat | 9.112 views
Bagaimana Cara Merelakan Suami Berpoligami?
27 December 2012, 11:28 | Nikah | 8.923 views
Bagaimana Cara Mandi Junub Jika Terluka
27 December 2012, 11:24 | Thaharah | 9.651 views
Pendanaan Dalam Pilkada
27 December 2012, 11:17 | Muamalat | 6.113 views
Apakah Ikhwanul Muslimin Itu Teroris?
26 December 2012, 04:27 | Negara | 11.132 views
Hukum Memakai Kontak Lens
26 December 2012, 03:45 | Wanita | 12.786 views
Mengadakan Pengajian di Malam Tahun Baru Masehi
26 December 2012, 00:01 | Aqidah | 12.386 views
Memeriahkan Acara Tahun Baru Masehi
25 December 2012, 23:32 | Aqidah | 7.555 views
Hukum Mengucapkan Selamat Natal
25 December 2012, 06:33 | Aqidah | 20.120 views
Bertelepon Mesra Hingga 'Basah'
24 December 2012, 22:59 | Nikah | 10.218 views
Menikah dengan Mantan Kakak Ipar, Bolehkah?
23 December 2012, 07:04 | Nikah | 9.393 views
Tanda Kiamat: Budak Wanita Melahirkan Majikannya, Maksudnya?
21 December 2012, 13:39 | Aqidah | 18.490 views
Saya Anak Zina, Siapa Wali Nikah Saya?
20 December 2012, 12:22 | Nikah | 10.685 views
Air Musta'mal
18 December 2012, 23:45 | Thaharah | 12.712 views
Pembagian Waris Dari Suami Yang Meninggal
18 December 2012, 00:34 | Mawaris | 25.090 views
Mewarnai Rambut
17 December 2012, 23:34 | Umum | 9.437 views
Belajar Agama Lewat Internet
17 December 2012, 21:34 | Dakwah | 7.613 views
Apakah Keringat Pemakan Babi dan Anjing Hukumnya Najis?
17 December 2012, 04:01 | Thaharah | 10.351 views
Talaq Tiga dan Solusi Yang Baik
16 December 2012, 23:24 | Nikah | 36.046 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 36,229,896 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

15-9-2019
Subuh 04:30 | Zhuhur 11:49 | Ashar 15:03 | Maghrib 17:54 | Isya 19:01 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img