Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Minta Dana Pembangunan Masjid di Tengah Jalan Bikin Macet | rumahfiqih.com

Minta Dana Pembangunan Masjid di Tengah Jalan Bikin Macet

Tue 15 January 2013 23:17 | Kontemporer | 11.195 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :

 

Assalamu'alaikum,
Sudah sejak dulu, dan sekarang menjadi sangat nge-trend umat Islam dalam membangun masjid atau mushala salah satu cara mencari dananya dengan membuat pos-pos di tepi atau kadang di tengah jalan raya, ada yang dengan manambahkan jaring yang diacungkan melintang ke arah pengendara di jalanan.

Menurut saya hal ini sangat menggangu, dan bahkan di saat jam-jam sibuk pagi berangkat kerja atau sore pulang kerja sering kali menjadi salah satu penyebab kemacetan. Saya kurang setuju dengan cara seperti ini, bahkan kesannya malah merugikan umat Islam sendiri di mata umat agama lain, karena mau membangun tempat ibadah tapi dengan cara mengganggu ketertiban umum.

Bagaimana menurut padangan ustadz jika dilihat dari sisi hukum Islam?

Jika menurut ustadz, hal ini wajar dan dibolehkan, ya berarti cara pandang saya yang harus saya ubah. Tapi kalau sekiranya hal ini dipandang sesuatu yang kurang baik, bagaimana mengatasi fenomena yang semakin menjadi trend yang mengganggu ini? Terima kasih atas pencerahannya.

Wassalamu'alaikum.

 

Jawaban :

 

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Fenomena yang antum sebutkan itu memang sudah lama menjadi keprihatinan umat Islam. Banyak pihak yang keberatan sebagaimana antum keberatan. Alasannya karena mengganggu pemandangan atau setidaknya menimbulkan kesan buruk terhadap masjid dan mushalla. Selain itu juga seringkali aksi-aksi seperti bikin jalan semakin macet dan tidak tertib. Bahkan yang dikhawatirkan selain itu adalah dijadikannya cara-cara seperti ini sebagai lahan cari uang dan tidak jelas pertanggung-jawabannya.

Mengganggu Pemandangan

Mengganggu pemandangan yang dimaksud tidak lain adalah merusak citra umat Islam yang terkesan jadi umat pengemis dan peminta-minta di jalan. Seolah-olah ada kesan, cuma ingin membangun masjid saja sampai harus mengemis-ngemis di pinggir jalan begitu. Inilah kesan yang pertama kali biasa terbersit di benak kita kalau melihat pemandangan seperti ini.

Dan saya yakin sekali, para pelakunya sendiri pun pasti awalnya merasa risih dan malu. Sebab biar bagaimana pun tiap orang pasti punya rasa harga diri, dan tidak ingin diejek sebagai tukang minta-minta.

Namun entah bagaimana, lama kelamaan rasa itu barangkali hilang dengan sendirinya. Sehingga akhirnya hilang sama sekali dan sudah tidak ada lagi urat malu yang mencegah mereka melakukannya. Malah bisa jadi rasa malu itusudah  berubah jadi rasa kewajiban.

Bikin Macet Jalan

Kerugian kedua dari cara meminta-minta di pinggir jalan (atau malah di tengah-tengah jalan) adalah munculnya kemacetan dan keserawutan di jalan. Para pengemudi di jalur pantai utama (Pantura) pulau Jawa seringkali kali harus mengerem mendadak, lantaran jalan ditutup oleh warga setempat. Ternyata mereka meminta sumbangan untuk masjid, yang konon sedang dalam proses pembangunan.

Karuan saja jalan yang seharusnya lancar, karena kendaraan harus berhenti atau setidaknya menurunkan kecepatannya, terjadilah antrian panjang, yang penyebab utamanya sederhana sekali, yaitu permintaan sumbangan yang dilakukan secara massal. Konyolnya, kejadian itu terjadi dalam 24 jam, tidak kenal pagi, siang, sore atau malam.

Memutar Bacaan Al-Quran

Entah ide siapa, kadang pos-pos pemungutan sumbangan ini juga dilengkap dengan pengeras suara. Kadang digunakan untuk pidato atau sekedar menyapa para pengguna jalan. Kadang kalau sudah capek, diputar ceramah KH. Zainuddin MZ almarhum. Malah tidak jarang juga diputar tilawah Al-Quran.

Seandainya diputarnya bacaan Al-Quran itu dengan tujuan untuk didengarkan, mungkin kita bisa maklum. Yang jadi masalah, suara bacaan tilawah itu sama sekali tidak didengarkan, cuma yang penting berisik dan tidak terasa sepi.

Seolah-olah bacaan Al-Quran itu sekedar suara-suara untuk bikin keramaian saja, sejajar kedudukannya dengan lagu-lagu yang juga sering diputar untuk bikin keramaian.

Siapakah Mereka Sebenarnya?

Kita tidak tahu pasti siapa sebenarnya gerangan mereka. Entah apakah mereka memang penduduk setempat yang benar-benar berniat tulus ingin membangun masjid, atau jangan-jangan mereka itu cuma pasukan yang dibayar dan didatangkan entah dari daerah mana.

Kalau mereka benar-benar orang yang jujur, bekerja untuk kepentingan pembangunan masjid, tentu kita sedikit bisa memberi toleransi, tinggal bagaimana mengarahkan mereka saja dengan cara yang baik.

Yang merepotkan adalah kalau mereka cuma segerombolan orang yang memanfaatkan situasi keawaman para pengguna jalan. Mirip dengan kasus serbuan pengemis di Jakarta yang sudah terjadi sejak awal abad ini pun begitu juga. Tiba-tiba di berbagai perempatan jalan, bermunculan ribuan pengemis yang kita tidak tahu datang dari mana. Sebagai warga asli yang tinggi di kawasan Jakarta, ternyata tidak ada satu pun warga asli yang melakukannya. Ternyata pasukan pengemis itu adalah pasukan khusus yang didatangkan dari entah dari mana. Hanya para mafia saja yang tahu.

Lucunya, menutup jalan seperti ini sudah terjadi sejak 30 tahun yang lalu, kenapa masih meminta-minta terus? Memangnya masjidnya sampai sekarang belum jadi juga atau bagaimana? Atau jangan-jangan tiap hari muncul lagi masjid-masjid baru?

Kalau begitu kejadiannya, tentu tidak akan ada habisnya pembangunan masjid itu. Karena begitu satu masjid selesai dibangun, akan ada lagi masjid lainnya yang akan dibangun.

Penipuan

Maka dengan menggunakan modus-modus seperti di atas kadang ada juga yang memanfaatkan untuk kepentingan mereka. Boleh jadi masjid yang katanya lagi mau dibangun hanya fiktif belaka. Atau kalau memang ada, kita juga tidak tahu apa benar dana yang mereka kumpulkan itu 100% untuk masjid. Atau jangan-jangan masjid hanya dijadikan sebagai tameng saja. Ngakunya untuk masjid, ternyata masjid cuma kebagian jatah secuil saja, sementara justru jatah untuk mereka jauh lebih besar.

Keajaiban Uang Coin atau Uang Receh

Namun lepas dari keprihatinan kita, ada satu catatan yang bisa kita garis-bawahi, yaitu tentang betapa ajaibnya uang coin atau uang receh ini. Kalau dilihat dari segi nilai, namanya uang coin atau uang receh, tentu sangat rendah sekali. Sebagian orang membuang uang-uang receh, karena gengsi atau juga karena tidak bisa untuk membeli apa-apa.

Tetapi kalau uang-uang receh ini dikumpulkan dalam jumlah yang banyak, ternyata yang dibuang-buang itu justru bermanfaat karena nilai bisa jadi sangat besar. Meskipun uang logam lima ratusan atau cuma seribuan, tapi kalau jumlahnya sampai sejuta keping, maka jadi bernilai besar juga.

Seribu kali sejuta sama dengan semilyar. Padahal koin itu cuma dilempar alias dibuang, tapi kalau yang melempar ada sejuta orang, tentu saja hasilnya jadi banyak. Ingat kisah sukses mengumpulan koin Prita dan Darsem.

Dengan logika seperti inilah sebenarnya kotak-kotak amal di berbagai masjid dimanage. Kotak amal itu identik dengan uang receh atau koin, yang nilainya tidak ada artinya. Cuma yang jadi masalah, meski kita punya banyak masjid, sayangnya yang datang ke masjid untuk shalat tidak terlalu banyak. Apalagi yang mau memasukkan uang receh ke kotak amal.

Oleh karena itulah maka ada semacam inisiatif untuk meletakkan kotak amal bukan di masjid, tetapi di tengah jalan. Tujuannya biar banyak orang yang lewat dan bertemu dengan si kotak amal. Dan biar orang-orang yang lewat itu bisa 'dipaksa' untuk mengisi kotak amal, makanya kemudian ditunggui oleh sekelompok orang. Mereka duduk-duduk bergerombol di seputar kotak amal, sambil menggunakan pengeras suara berorasi, atau memutar rekaman pengajian atau tilawah.

Dan biar mudah menangkap uang receh yang dilempar, maka digunakan jaring-jaring atau serokan ikan.

Kalau pengurus masjidnya itu jujur, memang hasilnya akan lumayan besar. Pembangunan masjid yang terhenti karena kasus lagu qasidah ya dana ya dana dana dananya ya kagak ada, bisa segera diatasi dengan kebijakan mengemis di jalanan. Suka atau tidak suka, ternyata sudah banyak pengurus masjid melakukannya. Dan kebanyakan dari mereka mengaku, keuangan masjid kembali jad segar ketika aksi turun ke jalan mengemis itu dilakukan.

Larangan Resmi Pemerintah

Pemerintah sebenarnya sudah secara tegas melarang tindakan seperti ini. Ada begitu banyak perda dan ketentuan yang melarang. Tetapi entah bagaimana, ternyata semua masih berjalan tanpa ada aral melintang.

Padahal kalau semua pengendara dan pengguna jalan sepakat untuk tidak akan pernah memberi, pasti usaha-usaha seperti ini sudah tutup. Sayangnya, gaya hidup orang Indonesia ini aneh bin ajaib. Mereka sudah sekali memberi, walau pun tidak jelas apakah cara memberi seperti itu dibenarkan atau tidak. Mungkin memberi uang receh ini dianggap hiburan, seperti kita suka kasih makan ikan di kolam, ada semacam kepuasan tersendiri atau bagaimana, wallahu a'lam.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

 

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Bolehkah Menabung di Bank Tanpa Ambil Bunga?
15 January 2013, 21:31 | Muamalat | 16.108 views
Mana Sajakah Bacaan Rukun dan Sunah Dalam Shalat
15 January 2013, 02:58 | Shalat | 48.280 views
HP Terinstal Quran Dibawa Masuk WC, Bolehkah?
15 January 2013, 02:20 | Quran | 31.979 views
Beberapa Contoh Judi Terselubung
15 January 2013, 01:51 | Muamalat | 36.828 views
Bolehkah Nyicil Bayar Padi
14 January 2013, 04:19 | Muamalat | 7.386 views
Apakah Takhrij Hadits Termasuk Hasil Ijtihad
14 January 2013, 03:46 | Hadits | 10.461 views
Adakah Tanda Bahwa Taubat Kita Diterima Allah
13 January 2013, 22:06 | Aqidah | 77.474 views
Anggota Keluarga Murtad, Kita Menanggung Dosa Tujuh Turunan?
12 January 2013, 21:55 | Aqidah | 26.883 views
Membasuh Kepala Tapi Tak Sehelai Rambut Pun Basah
12 January 2013, 07:00 | Thaharah | 16.747 views
Rumah Kebanjiran Quran Terandam
12 January 2013, 00:19 | Quran | 7.046 views
Anak Saya Bertanya Kenapa Daging Babi Haram?
11 January 2013, 01:00 | Kuliner | 9.944 views
Daun Ganja untuk Masakan
11 January 2013, 01:00 | Umum | 8.993 views
Mengundang Makan Orang Non-Muslim
11 January 2013, 00:00 | Kuliner | 7.784 views
Berdoa Dalam Shalat Pakai Bahasa Indonesia
10 January 2013, 01:25 | Shalat | 19.043 views
Shalat Sembari Membaca Mushaf Al-Quran
9 January 2013, 23:30 | Quran | 11.797 views
Adakah Mazhab Salaf?
9 January 2013, 01:37 | Ushul Fiqih | 59.105 views
Hak Waris untuk Anak Perempuan Tunggal
8 January 2013, 10:01 | Mawaris | 10.054 views
Poligami dalam Pandangan Syariah
7 January 2013, 22:57 | Nikah | 16.236 views
Menikah dalam Kondisi Hamil
7 January 2013, 22:12 | Nikah | 13.453 views
Imam Membaca Surat Pendek Makmum Membaca Al-Fatihah
6 January 2013, 22:23 | Shalat | 82.708 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 39,333,068 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

12-12-2019
Subuh 04:08 | Zhuhur 11:48 | Ashar 15:15 | Maghrib 18:05 | Isya 19:18 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio | Jadwal
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img