Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Anggota Keluarga Murtad, Kita Menanggung Dosa Tujuh Turunan? | rumahfiqih.com

Anggota Keluarga Murtad, Kita Menanggung Dosa Tujuh Turunan?

Sat 12 January 2013 21:55 | Aqidah | 10.951 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum ustadz......

Apakah benar apabila salah satu anggota keluarga kita ada yang murtad,  misal kakak, adik, atau keponakan, maka imbas dosanya sampai pada anggota keluarga yang lain. Bahkan nggak tanggung-tanggung,  sampai 7 turunan dosanya.

Apa benar atau tidak? Mohon penjelasannya, terima kasih.

Wassalamu'alaikum wr.wb.

Jawaban :

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau keluarga kita ada yang murtad, lantas kita sebagai sesama anggota keluarga dikatakan secara otomatis ikut menanggung dosa, tentu saja tidak benar. Pernyataan itu mungkin kita pahami maksudnya, tetapi cara mengungkapkannya keliru, sehingga maknanya menjadi keliru juga.

Barangkali maunya begini, kita sebagai satu keluarga, sama-sama bertanggung-jawab untuk menjaga keimanan kita, jangan sampai ada di antara keluarga kita yang keluar dari agama Islam. Kalau sampai ada yang keluar, maka kita memang bertanggung-jawab. Namun yang namanya tanggung-jawab itu tidak sama dengan menanggung dosa.

Tanggung-jawab itu bentuknya adalah upaya menjaga iman, atau berdialog untuk mempertahankan iman. Anggota keluarga yang murtad itu harus diupayakan agar dia tersadarkan dan tercerahkan kembali. Dan upaya itu wajib hukumnya, sejak dari sebelum murtad, hingga katakanlah setelah keluar dari agama Islam.

Tetapi yang namanya usaha, kadang berhasil kadang tidak. Bahkan orang sekaliber Rasulullah SAW yang berhasil mengislamkan Madinah dan Mekkah, ternyata beliau justru tidak berhasil mengislamkan paman beliau sendiri. Namun kita tahu persis bagaimana tanggung-jawab beliau SAW dalam rangka mengupayakan keislaman Abu Thalib.

Rasulullah SAW terus menerus mentalqinkan lafadz Laa Ilaaha Illallah di telinga Abu Thalib, pamanda beliau, itu salah satu bentuk tanggung-jawab sebagai anak keponakan yang sejak kecil dipelihara oleh sang paman. Namun ketika Abu Thalib tidak juga kunjung beriman, Allah SWT tidak membebankan kekafiran Abu Thalib ke pundak Rasulullah SAW.
إنك لا تهدي من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء وهو أعلم بالمهتدين

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
(QS. Al-Qashash : 56)

Jadi harus dibedakan antara tanggung-jawab dengan menanggung dosa. Karena urusan mendapatkan hidayah itu bukan wewenang kita. Tugas kita berhenti sampai mengajak dan mengajak saja, kita tidak bisa memaksakan hidayah. Jelas sekali Allah SWT memastikan bahwa tugas memberi hidayah itu bukan area kita, melainkan area Allah SWT sendiri secara langsung.
ليس عليك هداهم ولكن الله يهدي من يشاء

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. Al-Baqarah : 272)

Oleh karena itu sekal lagi perlu dijelaskan bahwa kalau ada keluarga kita murtad, lantas kita dianggap ikut berdosa juga, bahkan sampai tujuh turunan, pernyataan seperti kurang tepat alias keliru.  Yang benar adalah kita semua ikut bertanggung-jawab di dunia maupun di akhirat. Dan batas tanggung-jawabnya adalah upaya maksimal yang bisa kita lakukan, dengan segala kekuatan yang kita usahakan, termasuk juga doa dan harapan.

Lewat dari batas maksimal, ternyata yang bersangkutan masih murtad juga, maka kita lepas tanggung-jawab di sisi Allah SWT. Bahkan di dalam ayat lain Allah SWT menyebutkan bahwa kebanyakan manusia tidak mau beriman, walau kita ingin sekali mereka beriman.

وما أكثر الناس ولو حرصت بمؤمنين

 Kebanyakan manusia meski kamu menginginkannya, tidak mau beriman. (QS.  Yusuf : 103)

Semoga jawaban ini dapat sedikit memberikan pencerahan, Amin.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Membasuh Kepala Tapi Tak Sehelai Rambut Pun Basah
12 January 2013, 07:00 | Thaharah | 8.729 views
Rumah Kebanjiran Quran Terandam
12 January 2013, 00:19 | Quran | 5.680 views
Anak Saya Bertanya Kenapa Daging Babi Haram?
11 January 2013, 01:00 | Kuliner | 7.321 views
Daun Ganja untuk Masakan
11 January 2013, 01:00 | Umum | 6.527 views
Mengundang Makan Orang Non-Muslim
11 January 2013, 00:00 | Kuliner | 6.127 views
Berdoa Dalam Shalat Pakai Bahasa Indonesia
10 January 2013, 01:25 | Shalat | 14.616 views
Shalat Sembari Membaca Mushaf Al-Quran
9 January 2013, 23:30 | Quran | 8.827 views
Adakah Mazhab Salaf?
9 January 2013, 01:37 | Ushul Fiqih | 42.921 views
Hak Waris untuk Anak Perempuan Tunggal
8 January 2013, 10:01 | Mawaris | 6.274 views
Poligami dalam Pandangan Syariah
7 January 2013, 22:57 | Nikah | 9.255 views
Menikah dalam Kondisi Hamil
7 January 2013, 22:12 | Nikah | 9.087 views
Imam Membaca Surat Pendek Makmum Membaca Al-Fatihah
6 January 2013, 22:23 | Shalat | 54.801 views
Harta Istri dan Suami Apabila Cerai
6 January 2013, 20:47 | Muamalat | 17.936 views
Kalung Emas Tidak Dizakati Selama 20 Tahun
5 January 2013, 21:23 | Zakat | 7.057 views
Keluar dari Suatu Jamaah, Murtadkah Saya?
4 January 2013, 15:08 | Dakwah | 7.745 views
Benarkah Pemeluk Madzhab Syafi'i Ahli Bid'ah?
4 January 2013, 02:00 | Ushul Fiqih | 14.807 views
Talfiq Antar Mazhab, Apa Maksud dan Pengertiannya
4 January 2013, 01:22 | Ushul Fiqih | 16.626 views
Istri Menikah Lagi Sebelum Habis Masa 'Iddah
4 January 2013, 00:47 | Nikah | 6.634 views
Perbedaan Antara Syariah dan Fiqih
3 January 2013, 02:50 | Ushul Fiqih | 28.625 views
Jawaban Shalat Istikharah Apakah Harus Mimpi?
3 January 2013, 01:05 | Shalat | 17.008 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,840,932 views