Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Belanja Dengan Cicilan 0 % Termasuk Riba? | rumahfiqih.com

Belanja Dengan Cicilan 0 % Termasuk Riba?

Mon 28 January 2013 03:29 | Muamalat | 18.620 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu'alaikum,

Pak Ustad, apakah belanja secara cicilan dengan bunga 0 % termasuk dalam riba ?

Mohon di jelaskan apa saja yang termasuk dalam kategori riba dalam transaksi jual beli yang ada di masyarakat saat ini.

Semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT. Amin  Terima kasih banyak atas pencerahannya

Wassalamu'alaikum.

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hukum belanja secara cicilan itu bisa saja haram tetapi bisa juga halal. Semua tergantung dari akad dan kesepakatannya. Kalau di dalam kesepakatannya ada unsur riba dan hal-hal lain yang diharamkan, tentu hukumnya haram. Sedangkan bila akad kesepakatan itu steril dari unsur riba dan hal-hal yang diharamkan, maka hukumnya menjadi halal.

Sebuah catatan penting, haram atau halalnya suatu akad, tidak semata-mata ditentukan ada atau tidak adanya bunga. Tetapi ada sekian banyak indikator kehalalan di luar istilah bunga.

Istilah Bunga 0 %

Isitlah bunga 0% itu memang cukup menarik, karena seolah-olah tidak kena bunga. Lalu kalau begitu, apa gunanya kita memakai istilah bunga, padahal nilainya hanya nol alias tidak ada? Apakah istilah bunga 0% itu sama dengan tidak ada bunga, ataukah cuma sebuah kamuflase saja, padahal masih ada bunga?

Kita perlu sedikit lebih teliti dalam masalah ini. Sebab bahasa promosi kalau kurang teliti bisa menyesatkan juga. Mungkin bahasa itu tidak dusta, hanya saja asumsi kita agak bias kalau membacanya. 

Para sales dan orang-orang marketing tentu piawai memainkan bahasa yang penuh dengan kamuflase, dimana kalau kita sebut dengan agak kasar, sebenarnya yang dilakukan adalah jujur tetapi menipu.

1. Trik Berlaku Untuk Jangka Tertentu

Kadang sebuah penawaran menyebutkan adanya fasilitas cicilan tanpa bunga alias 0%. Tetapi coba teliti, kapankah ketentuan dan syaratnya berlaku? Boleh jadi bunga 0% itu hanya berlaku pada waktu tertentu, atau selama cicilan berjalan sesuai dengan jadwal. Kalau ternyata seperti itu, jangan sampai kita berpikir bahwa bunga 0% itu berlaku seterusnya.

Begitu masa promo lewat, kita langsung terkena bunga. Atau begitu kita telat melunasi cicilan, maka otomatis kita kena bunga. Kalau begitu, maka yang salah adalah kita lantaran kurang teliti.

Terus bagaimana hukumnya?

Hukumnya tidak bisa mutlak dibilang haram, walaupun juga tidak mutlak halal. Selama kita mematuhi ketentuan dimana kita tidak terkena bunga, maka selama itu masih selamat tidak kena bunga. Tetapi begitu kita menyalahi ketentuan, maka hukumnya menjadi haram.

Jadi promo itu sama saja dengan kartu kredit, dimana kita boleh berhutang selama masa waktu tertentu. Bila lewat masa waktu itu, kita akan kena bunga.

2. Trik Mengubah Istilah

Ada lagi trik lain yang sering digunakan para sales dan marketing, yaitu mengubah istilah. Memang mereka tidak menerapkan bunga dalam cicilan. Bunganya memang benar-benar 0%.

Tetapi ada istilah-istilah lain yang coba disamarkan seolah-olah bukan bunga. Misalnya uang administrasi, biaya inflasi, dan macam-macam istilah aneh lainnya. Seolah-olah biaya-biaya masuk akal dan wajar.

Padahal kalau kita renungkan lagi, ternyata secara prinsip biaya itu tidak ada bedanya dengan bunga. Cuma istilahnya berbeda, tetapi hakikatnya sama.

Seperti pada kasus koperasi simpan pinjam syariah yang diadakan pada jamaah masjid. Ketentuannya, setiap anggota yang tidak lain adalah jamaah rutin masjid berhak meminjam uang ke koperasi syariah masjid. Ketentuannya, setiap peminjaman harus disertai infaq. Besar infaq itu kecil saja, yaitu 2,5% per bulan. 

Misalnya saya pinjam uang 10 juta, maka selama uang itu masih di tangan saya, tiap bulan saya harus berinfaq sebesar  25 ribu rupiah. Kelihatannya ringan dan mudah, apalagi yang namanya infaq itu kan ibadah juga. Maka seolah-olah cara ini dianggap halal.

Padahal kalau kita teliti lebih dalam dengan melihat realitas bukan istilah, akad ini tidak lain akan yang dilakukan oleh para rentenir, yaitu membungakan uang atau menyewakan uang. Hanya saja, akad ini kemudian dibungkus dengan istilah-istilah yang menipu, bahkan berbau agama.

Bagaimana hukukmnya?

Hukumnya jelas 100% haram. Karena sistem pinjam uang itu  pada dasarnya tidak boleh ada kelebihan dalam pengembalian.

Tetapi niatnya kan berinfaq?

Niat infaqnya tentu berpahala, tetapi berinfaq itu kepada siapa? kalau infaqnya kepada anak yatim, fakir miskin, janda tidak mampu, dan mereka yang membutuhkan, tentu saja boleh. Tetapi kalau kewajiban 2,5% itu harus dibayarkan kepada koperasi, sebagai konsekuensi peminjaman uang, itu adalah bunga. Mau diganti dengan istilah apa pun terserah saja, tetapi hakikatnya adalah bunga dari penyewaan uang.

Lain halnya kalau yang dipinjamkan atau disewakan itu berupa aset barang, seperti tenda, kursi dan lainnya. Maka benda-benda seperti itu memang halal disewakan. Koperasi berhak menyewakan barang-barang itu, dan kita yang meminjam silahkan berinfaq.

Namun catatan penting yang harus digaris-bawahi adalah bahwa uang tidak boleh disewakan, walau pun yang menyelenggarakannya koperasi syariah, yang bernaung di bawah masjid. Bahkan walau pun akadnya bukan bunga tetapi infaq.

Dalam hal ini, istilah bunga disamarkan menjadi infaq. Dan inilah salah satu bentuk kamuflase yang diharamkan.

Kesimpulan

Silahkan antum teliti dan dalami akad dari cicilan berbunga 0% yang antum tanyakan, karena bisa saja mengandung akad-akad yang haram. Yang jelas, kita tidak bisa tiba-tiba memvonis sebuah akad itu halal atau haram, kalau belum kita telanjangi satu per satu detail persyaratannya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Jarak Antar Musholla Berdekatan
28 January 2013, 02:30 | Shalat | 6.223 views
Berbekam Bukan Sunnah Nabi?
27 January 2013, 09:05 | Hadits | 10.134 views
Adakah Kedokteran Nabawi?
26 January 2013, 02:33 | Umum | 4.852 views
Ahli Waris : Istri, Ibu Kandung, Dua Anak Perempuan dan Saudara/i
24 January 2013, 23:51 | Mawaris | 6.711 views
Ambil Keuntungan Dari Bisnis Dari Orang Dalam
24 January 2013, 23:14 | Muamalat | 4.416 views
Hak Waris Saudara Kandung
24 January 2013, 22:04 | Mawaris | 7.118 views
Mohon Saya Dihukum Cambuk 100 Kali Karena Zina
23 January 2013, 18:02 | Jinayat | 8.109 views
Bingung Cari di Google Tentang Pro Kontra Perayaan Maulid
23 January 2013, 01:42 | Aqidah | 9.354 views
Melamar Gadis Yang Ayahnya Bercerai Tinggal Bapak Tiri
22 January 2013, 05:09 | Nikah | 5.037 views
Bukankah Mazhab Itu Membawa Perpecahan?
22 January 2013, 01:19 | Ushul Fiqih | 6.627 views
Cara Melamar Calon Istri Yang Islami
21 January 2013, 03:54 | Nikah | 85.762 views
Manhaj Majelis Tarjih Muhammadiyah
21 January 2013, 01:48 | Ushul Fiqih | 11.521 views
Hak Waris Anak
20 January 2013, 21:31 | Mawaris | 6.587 views
Minuman 0.00% Alkohol dengan Rasa Beer
19 January 2013, 13:20 | Kuliner | 8.639 views
Nikah Gantung
19 January 2013, 12:13 | Nikah | 14.325 views
Cara Bayar Hutang Kepada Almarhum
19 January 2013, 01:55 | Muamalat | 13.711 views
Ternyata Suami Istri Saudara Sesusuan, Bagaimana Nasib Pernikahan Mereka?
19 January 2013, 01:11 | Nikah | 10.484 views
Benarkah Quran Menetapkan Bahwa Matahari Mengelilingi Bumi?
18 January 2013, 21:12 | Quran | 10.432 views
Sampai Kapan Kita Masih Jadi Musafir?
16 January 2013, 20:51 | Shalat | 12.444 views
Minta Dana Pembangunan Masjid di Tengah Jalan Bikin Macet
15 January 2013, 23:17 | Muamalat | 8.146 views

TOTAL : 2.294 tanya-jawab | 22,854,139 views