Ust. Ahmad Sarwat, Lc., MA Bagaimana Menghadapi Krisis Ulama di Akhir Zaman | rumahfiqih.com

Bagaimana Menghadapi Krisis Ulama di Akhir Zaman

Fri 8 February 2013 03:03 | Ushul Fiqih | 9.348 views | Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com

Pertanyaan :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ustadz yang dirahmati Allah.

Izinkan saya menyampaikan rasa resah bila melihat semakin hilangnya sosok para ulama sejati di masa kini. Di masa lalu kita masih ditemani oleh para ulama yang benar-benar ulama betulan, luas ilmunya, lapang dadanya, tawadhdhu' sikapnya.

Namun hari ini kita kehilangan sosok-sosok itu, pribadi macam Buya Hamka, Kiyai Nawawi Al-Bantani, Syeikh Yasin Al-Fadani, KH. Abdullah Syafi'i, KH. Noer Ali, Kiyai Hasyim Asyari, Kiyai Kholil Bangkalan dan seterusnya masih banyak lagi.

Yang jadi pertanyaan saya adalah apa yang bisa kita lakukan menghadapi krisis ulama di akhir zaman ini? Apakah kita pasrah kepada taqdir atau kita wajib melakukan sesuatu, misalnya menyiapkan kader ulama yang berkualitas. Mohon pencerahan dari ustadz.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Saya secara pribadi memang ikut merasakan apa yang antum rasakan. Benar bahwa kita hidup di zaman krisis para ulama, dimana kehilangan mereka karena mereka umumnya telah menghadap Allah SWT.

Sebenarnya keadaan ini bukan terjadi tiba-tiba. Rasulullah SAW 14 abad yang lalu memang telah mengisyaratkan bahwa di akhir zaman kita akan mengalami krisis ulama, dalam artinya para ulama dicabut nyawanya, sehingga yang tersisa hanya tokoh-tokoh jahil saja.

Orang jahil disini maksudnya tentu bukan orang bodoh, tetapi maksudnya tokoh agama, tetapi kapasitasnya bukan ahli ilmu agama atau ilmu syariah.

إِنّ الله لا يقْبِضُ العِلْم اِنْتِزاعًا ينْتزِعُهُ مِن العِبادِ ولكِنْ يقْبِضُ العِلْم بِقبْضِ العُلماء حتىّ إِذالم يُبْقِ عالِمًا اِتّخذ النّاسُ رُءُوسًا جُهّالاً فسُئِلُوا فأفْتوْا بِغيْرِ عِلْمٍ فضلُّوا وأضلُّوا

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu secara tiba-tiba dari tengah manusia, tapi Allah mencabut ilmu dengan dicabutnya nyawa para ulama. Hingga ketika tidak tersisa satu pun dari ulama, orang-orang menjadikan orang-orang bodoh untuk menjadi pemimpin. Ketika orang-orang bodoh itu ditanya tentang masalah agama mereka berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat dan menyesatkan (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menceritakan bahwa umat Islam pada akhir masa nanti akan kehilangan para ulama, lantas mereka menjadikan para pemimpin yang bodoh dan tidak punya ilmu sebagai tempat untuk merujuk dan bertanya masalah agama.

Alih-alih mendapat petunjuk, yang terjadi justru mereka semakin jauh dari kebenaran, bahkan sesat dan malah menyesatkan banyak orang. Dan apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW 14 abad yang lalu rasanya sangat tepat kalau kita sebut bahwa hari ini benar-benar sedang terjadi.

Dan lebih tepat lagi kalau kita sebut lokasinya adalah Indonesia, sebuah negeri dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, tetapi sedikit sekali orang yang berkapasitas ulama.

Saya cenderung berpendapat bahwa ketika Rasulullah SAW menceritakan hal ini, bukan dalam posisi ingin melemahkan semangat kita, sehingga kita cuma disuruh pasrah saja. Memang ada sebagian teman yang cenderung begitu, yaitu menyerah kepada keadaan. Kalau Allah sudah mentakdirkan seperti itu, masak kita mau lawan, begitu argumentasi mereka.

Tetapi saya secara pribadi agak berbeda memahaminya. Hadits Rasulullah SAW itu justru merupakan cambukan buat kita, peringatan serta perintah untuk memperbaiki keadaan itu. Bahkan kalau pun besok pagi dipastikan kiamat terjadi, hari ini kita masih wajib menyiapkan kelahiran para ulama generasi berikutnya

Maka kita harus memahami hadits ini dengan cara yang benar, yaitu hadits ini menjadi perintah untuk mendidik dan melahirkan kembali para ulama di masa modern ini.Dan bukan untuk kita mati tanpa berjuang.

Menjadi Ulama Bukan Faktor Keturunan

Tidak ada seorang pun yang lahir ke dunia tiba-tiba langsung jadi ulama. Bahkan meski lahir dari tujuh keturunan ulama, tetap saja tidak akan jadi ulama kalau tidak dididik, dibina, disiapkan dan sedikit 'dipaksa'. Paling banter cuma bisa bangga bahwa dirinya masih keturunan ulama, tetapi tetap saja dirinya itu sama sekali bukan ulama.

Bukti otentiknya ada dimana-mana, betapa banyak penjahat, preman, koruptor atau tukang narkoba yang ternyata kalau diusut-usut masih keturunan ulama. Sebaliknya, berapa banyak ulama yang ternyata orangtuanya hanya petani miskin di desa, atau buruh yang keberatan beban. Intinya, untuk jadi ulama itu tidak ditentukan dari faktor keturunan, nasab atau garis keluarga.

Yang Menentukan Adalah Kualitas Pendidikan

Tetapi yang menentukan pada akhirnya adalah kualitas pendidikan, sistem pengkaderan, kurikulum yang berkualitas, guru yang ahli serta kemampuan teknis yang terus diasah. Semua itu seharusnya bisa terangkum dalam sebuah sistem yang terpadu, yang merupakan paket pendidikan ulama berstandar mutu baik.

1. Sejak Masih Pendidikan Dasar dan Menengah

Mempersiapkan pendidikan buat para calon ulama tentu harus sejak kecil. Kita tidak boleh pakai ilmu sihir sim salabim kotak televisi, dimana preman, pelawak, artis, dan selebriti, tiba-tiba 'disulap' jadi ulama. Tidak mentang-mentang pinter cuap-cuap di panggung, lucu, menarik, segar, penuh humor, lalu tiba-tiba begitu saja dijadikan ulama. Jangankan jadi ulama, jadi ustadz pun tidak boleh.

Maka langkahnya harus sejak dini, yaitu sejak masih jenjang pendidikan dasar dan menengah, anak-anak kita itu sudah kita sekolahkan di Madrasah atau pesantren. Tetapi mengelola madrasah dan pesantren hari ini harus pintar dan cerdas. Sebab kalau kurang pandai, boleh jadi para santri cuma merasa dipaksa-paksa saja, lantaran peraturan pesantren terlalu kaku dan menyeramkan.

Anak saya saja langsung kabur begitu masuk percobaan pesantren tiga hari. Alasannya menurut dia, pesantren itu kurang sejalan dengan perkembangan zaman, kaku dan mirip barak militer. Apa-apa serba aturan, sedikit-sedikit dianggap pelanggaran, lalu ada hukuman. Jadi kita ini kayak hidup di dalam penjara, semua santri ibarat pesakitan yang cuma tahu satu kata : taat. Itu alasan anak saya ogah balik lagi ke pesantren.

Maka yang perlu dijaga sekali adalah jangan sampai mereka kehilangan motivasi, sehingga menganggap pesantren sebagai penjara yang mengekang kebebasan. Sehingga dengan disabar-sabarkan, mereka pun lulus pesantren, tetapi ada dendam kesumat, yaitu ogah, emoh, tidak mau lagi disekolahkan di sekolah-sekolah yang berbau agama. Sebab sudah terpatri di dalam alam bawah sadar mereka, bahwa sekolah agama itu tidak baik.

Contoh kasusnya terjadi pada salah seorang sepupu saya. Sejak kecil dia sudah masukkan puteranya ke pesantren yang berkualitas. Tentu niatnya mulia sekali, yaitu berharap nanti bisa jadi ulama. Lulus dari pesantren 6 tahun kemudian, niat si ayah ingin membiayai anaknya kuliah ke Al-Azhar Mesir, eh ternyata si anak lebih tertarik masuk ke kuliah yang bukan agama, seperti kuliah teknik, kedokteran, jurnalistik dan sejenisnya.

Pupuslah harapan sang ayah, ingin menjadikan si anak sebagai ulama yang berlimpah dengan ilmu-ilmu syariah. Bukan berarti jadi dokter, insinyur atau wartawan itu tidak mulia, tetapi yang namanya sosok ulama pasti berbeda dengan profesi lain. Setidaknya, itulah cita-cita yang ada dalam tiap hati orang-orang betawi, yaitu ingin anaknya jadi ulama.

2. Rendahnya Kualitas Perguruan Tinggi Islam di Indonesia

Sayang sekali ternyata perguruan tinggi Islam yang ada di negeri kita rata-rata punya kekurangan yang agak fatal, baik secara kualitas atau pun kuantitas.

Sebut saja yang paling sederhana masalah input mahasiswa. Selain yang berminat sangat sedikit dibandingkan perguruan tinggi umum, ternyata tidak ada seleksi yang ketat, sehingga mahasiswa dengan kualifikasi apa saja bisa masuk. Akibatnya, perkuliahan kembali lagi ke level paling dasar, yaitu seperti mahasiswa di perguruan tinggi umum.

Padahal seharusnya kampus menyeleksi hanya mahasiswa yang sudah fasih berbagai Arab dan lancar membaca kitab gundul saja yang boleh ikutan. Tes yang dilakukan setidaknya dari sisi kemampuan bahasa dengan penguasaan yang sempurna.  

Musibah lainnya juga karena kebanyak dosen yang tersedia rata-rata bukan lulusan dari Timur Tengah, tetapi malah dari Barat, yang nota bene tidak punya akar kuat pada validitas ilmu-ilmu keislaman. Akhirnya jangan kaget kalau lulus dari perguruan tinggi Islam, tidak sedikit mahasiswa kita bukannya jadi ulama, tetapi malah jadi penghujat Islam sejati. Naudzubillah

3. Kuliah Berkualitas

Jujur harus diakui bahwa sampai saat ini perguruan tinggi Islam berkualitas yang direkomendasikan masih sebatas yang ada di Timur Tengah saja, seperti Mesir, Saudi, Syria, Sudan, dan lainnya. Selain dosennya adalah para ulama, kitabnya masih kitab-kitab asli baik turats atau muashir, keaslian dan kemurnian ilmunya masih terjaga. Kalau anak mau dijadikan ulama, sebaiknya memang mereka dikuliahkan kesana.

Paket yang agak istimewa adalah Universitas Islam Muhammad Ibnu Suud yang berkdudukan di ibukota Saudi Arabia, Riyadh. Kampus ini membuka cabang di beberapa negara, termasuk di Jakarta. Nama nasionalnya adalah LIPIA. Sistem, kurikulum, kualitas dosen dan mahasiswa, bahasa pengantar, serta literatur, semuanya berstandar Saudi. Dosennya pun orang Arab betulan, lengkap dengan jenggot dan kadang baju gamisnya.

Bahkan juga ada liburan musim panas ('uthlah shaifiyah), walau pun di Jakarta lagi musim duren.  Tetapi semua kegiatan belajar mengajar di Jakarta.

4. Mudah Gugur di Tengah Jalan

Kalau anak sudah kuliah di Mesir, Saudi, Syiria atau LIPIA, bukan berarti masalah sudah selesai dan dijamin akan jadi ulama. Anggapan ini  adalah sebuah kesalahan yang amat fatal. Memang jurusannya sudah benar, tetapi ingat bahwa jalannya jauh, banyak persimpangan, perempatan, parkir liar, warung liar dan sebagainya. Sehingga tidak ada jaminan kalau sudah di kampus seperti itu, langsung otomatis pasti jadi ulama.

Ada sebuah kasus yang dialami salah seorang paman saya. Lulus dengan nilai terbaik dari pesantrennya, si anak langsung diterima di Universitas Al-Azhar Mesir. Awalnya, si anak ragu tetapi setelah dibujuk-bujuk, akhirnya berangkat juga ke Mesir dan mulai rajin kuliah. Sang Ayah puas, anaknya kuliah di Mesir, begitu bangganya kalau cerita tentang anaknya kepada teman dan kolega.

Sayangnya, setelah kepulangan dari Mesir 4 tahun kemudian, si anak sama sekali tidak pernah beraktifitas keagamaan, ceramah atau menulis atau mengisi kajian. Tetapi lebih suka berbisnis jualan paket haji dan umrah. Giliran dipaksa untuk ceramah, si anak mengaku bahwa dirinya tidak siap, karena dulu waktu masih di Mesir, kesibukannya cuma jadi tukang mengantar wisatawan kesana-kemari.

Maka meneteslah sebutir air mata dari kelopak mata sang Ayah, beliau kecewa berat tapi hanya ditahan saja dalam hati.  Cuma ketika bertemu saya dan membahas masalah ini, makin berderailah air matanya. Dalam hatinya, sang Ayah sangat ingin anaknya bisa jadi ulama kharismatik, banyak ilmunya, aktifitasnya mengisi pengajian dengan kitab yang telah dipelajarinya selama belasan tahun ini. Kok ternyata pulang dari Mesir cuma jadi tukang travel, begitu keluh kesah sang Ayah.

Memang jalan menuju kepada kualitas ulama ini bukan jalan yang pendek, dan masa yang dibutuhkan tidak sebentar. Jenjang demi jenjang pendidikan harus mereka lalui dengan tertatih-tatih.   

Tindakan Nyata

Tindakan nyata yang bisa dilakukan adalah menambal lubang-lubang yang menganga di atas. Katakanlah misalnya kita sudah punya banyak mahasiswa syariah, baik lulusan Al-Azhar atau yang lainnya. Sekarang apa yang bisa kita siapkan buat mereka agar tetap istiqamah di jalur tersebut, yaitu jalur yang telah dipilihnya.

Jangan sampai mahasiwa yang sudah kuliah di tempat yang benar itu malah kehilangan motivasi, apalagi jatidiri. Sehingga begitu lulus, tidak tahu harus melakukan apa dan menciptakan apa. Sayangnya, justru hal inilah yang paling sering terjadi, tidak usah jauh-jauh, saya ini adalah salah satu orang yang mengalaminya.

Begitu lulus LIPIA lebih dari 10 tahun yang lalu, yang terbersit di benak saya cuma satu, cari nakfah buat makan anak bini. Maka kita pada berebutan kerja di lembaga-lembaga yang mau mempekerjakan kita, baik itu kedutaan Saudi Arabia, atau yayasan-yayasan bentukan Saudi dan sejenisnya.

Sebagian teman coba-coba melamar ke PJTKI, bukan untuk jadi pembantu, tetapi jadi pegawai. Mentang-mentang kerjaannya mengirim TKI/TKW ke Arab, dan lulusan dari Timur Tengah kan bisa bahasa Arab.

Sebagian teman yang lain sibuk mengurusi travel haji dan umrah, yang lain mengurus pengobatan bekam ala Rasulullah SAW. Alhamdulillah, semua bisa kerja dan dapat nafkah. Tetapi yang jadi pertanyaan, lalu bagaimana dengan nasib ilmu yang dituntut puluhan tahun itu? Tersimpan dalam kitab yang dipajang di lemari pajangan saja kah?

Sebagian teman yang saya tanya, ada yang langsung tertawa terbahak-bahak, karena merasa 'ditinju' dengan pertanyaan menohok dan tidak bisa menjawab, sebagian lain ada yang tersenyum kecut, bahkan ada yang berlinang air mata. Semua sadar bahwa jalan yang mereka ambil memang agak berbelok jauh dari tujuan semula. Cuma karena tuntutan hidup, akhirnya mereka menyerah pasrah bekerja bukan pada bidangnya.
 
Kasus ini tentu perlu dipikirkan dan dicarikan jalan keluarnya secara cerdas. Yang jelas motivasi kenapa kuliah di fakultas syariah perlu lebih ditekankan kembali. Begitu juga tentang peran apa yang harus diambil setelah lulus nanti, juga perlu diperjelas. Sehingga begitu lulus, tidak perlu lagi kebingungan cari-cari pekerjaan. Sebab sejak masih kuliah sudah mulai terjun langsung bekerja di bidang yang memang sesuai dengan apa yang dipelajari di kampus.

Ibarat seorang dokter, meski belum lulus resmi tetapi sudah jelas dan mengerti apa yang harus dikerjakan setelah lulus, yaitu jadi dokter. Dan profesi jadi dokter itu insya Allah sudah jelas dari sisi nafkah dan maisyahnya, meski tetap masih harus diawali kehidupan sederhana dulu.

Dan saya juga suka mengibaratkan dengan mahasiswa saya yang ada di Sekolah Tinggi Ilmu Akuntansi Negara (STAN). 
Mereka sekolah dengan sistem kedinasan, sehingga begitu lulus umumnya sudah langsung tahu apa tugasnya, dan memang biasanya sudah langsung ditugaskan. Jadi tidak ada istilah lulusannya pada keleleran cari kerja kesana kemari, yang membuat ilmunya jadi tidak berguna.

Namun kalau kedokteran atau STAN memang sudah ada yang memikirkan, yaitu negara. Tetapi kalau lulusan Al-Azhar, LIPIA dan sejenisnya, siapa yang memikirkannya? Siapa yang ditugaskan untuk menjaga motivasi mereka, lalu membekali mereka dengan ilmu-ilmu teknis di lapangan, dan memberikan jaminan maisyah pada mereka? Itu yang harus kita pikirkan bersama.

Ini salah satu pe-er besar umat Islam yang perlu diangkat bersama, jangan sampai kita pura-pura tidak tahu masalah ini. Secara nalar, mereka ini adalah calon para ulama masa depan, setidaknya kalau kita lihat dari sisi posisi dan jalurnya sudah benar, tinggal bagaimana mengawal mereka agar tidak rontok di tengah jalan.

Wallahua'lam bishshwab, Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc., MA

Kirim Pertanyaan : tanya@rumahfiqih.com


Baca Lainnya :

Apakah Kitab Barzanji Syirik dan Bidah?
7 February 2013, 07:34 | Aqidah | 56.024 views
Tata Cara dan Bacaan Sujud Sahwi
6 February 2013, 00:16 | Shalat | 67.824 views
Benarkah Menuduh Orang Berzina Dicambuk 80 Kali?
5 February 2013, 01:00 | Jinayat | 21.643 views
Kafirkah Indonesia Tidak Berhukum Dengan Hukum Allah?
4 February 2013, 11:35 | Negara | 11.792 views
Tertangkap Tangan Sedang Berduaan Dengan Wanita di Hotel
3 February 2013, 23:01 | Negara | 13.588 views
Hukuman Buat Orang Yang Mengkonsumsi Khamar
3 February 2013, 14:03 | Jinayat | 13.574 views
Adakah Nikah Jarak Jauh?
3 February 2013, 00:19 | Nikah | 8.369 views
Mau Tobat karena Mencuri dan Memakan Haram, Bagaimana Caranya?
2 February 2013, 11:56 | Umum | 10.378 views
Utang Piutang Dengan Standar Dinar
1 February 2013, 10:10 | Umum | 5.877 views
Apakah Korupsi Dosa Besar?
31 January 2013, 22:51 | Kontemporer | 7.795 views
Bolehkah Umrah dengan Berhutang
30 January 2013, 22:46 | Haji | 15.821 views
Haruskah Menikah Dengan Ikhwan?
30 January 2013, 08:56 | Dakwah | 9.899 views
Mendirikan Televisi Khusus Konsumsi Umat Islam
30 January 2013, 01:07 | Dakwah | 6.790 views
Hukum Main Drama, Teater, Sinetron dan Film
29 January 2013, 00:22 | Umum | 13.946 views
Bingung Baca Terjemah Quran dan Kitab Hadits
28 January 2013, 23:39 | Quran | 12.855 views
Belanja Dengan Cicilan 0 % Termasuk Riba?
28 January 2013, 03:29 | Muamalat | 40.672 views
Jarak Antar Musholla Berdekatan
28 January 2013, 02:30 | Kontemporer | 8.696 views
Berbekam Bukan Sunnah Nabi?
27 January 2013, 09:05 | Hadits | 12.865 views
Adakah Kedokteran Nabawi?
26 January 2013, 02:33 | Umum | 5.959 views
Ahli Waris : Istri, Ibu Kandung, Dua Anak Perempuan dan Saudara/i
24 January 2013, 23:51 | Mawaris | 23.618 views

TOTAL : 2.302 tanya-jawab | 34,978,133 views

KATEGORI
1. Aqidah 25 subtema
2. Quran 8 subtema
3. Hadits 11 subtema
4. Ushul Fiqih 7 subtema
5. Thaharah 9 subtema
6. Shalat 28 subtema
7. Zakat 11 subtema
8. Puasa 15 subtema
9. Haji 12 subtema
10. Muamalat 17 subtema
11. Nikah 20 subtema
12. Mawaris 9 subtema
13. Kuliner 7 subtema
14. Qurban Aqiqah 3 subtema
15. Negara 11 subtema
16. Kontemporer 7 subtema
17. Wanita 8 subtema
18. Dakwah 5 subtema
19. Jinayat 7 subtema
20. Umum 23 subtema

Jadwal Shalat DKI Jakarta

17-7-2019
Subuh 04:44 | Zhuhur 12:00 | Ashar 15:23 | Maghrib 17:56 | Isya 19:08 | [Lengkap]

Rumah Fiqih Indonesia

www.rumahfiqih.com
Jl. Karet Pedurenan no. 53 Kuningan Setiabudi Jakarta Selatan 12940
Copyright © by Rumah Fiqih Indonesia
Visi Misi | Karakter | Konsultasi | Pelatihan | Jadwal | Materi | Buku | PDF | Ustadz | Mawaris | Video | Quran | Radio
Link Terkait :
Sekolah Fiqih | Perbandingan Mazhab | img